JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
SEBULAN BERLALU


__ADS_3

Waktu berlalu terlalu cepat. Satu bulan sudah berjalan tanpa terasa. Meski begitu, telah banyak janji dan kisah yang tertorehkan antara Arga dan Elin. Tidak lupa juga mimpi untuk hidup bersama telah berani untuk mereka sematkan. Meski ditentang mama Elin, hubungan mereka terus berlanjut tanpa sedikitpun mereka pikirkan tentang pertentangan itu.


Sore ini, mendung di atas sana tampak semakin berat, pertanda sebentar lagi mungkin hujan akan turun mengguyur kota ini, membasuh jalanan berdebu yang sudah satu minggu ini tak tersentuh air. Semoga saja.


Elin melangkah masuk ke dalam rumah. Namun sesaat langkah nya terhenti saat mendengar mama nya sedang berbicara dengan seseorang di telfon.


Suara mama nya berasal dari ruang keluarga. Elin mendekat tanpa bersuara. Mendengarkan dengan teliti obrolan mama nya dengan orang di sebrang telfon itu.


Elin bukan lah tipe yang ingin tau banyak hal urusan orang lain, meskipun itu mama nya sendiri. Namun kali ini entah angin apa yang membawa nya ingin tau apa yang sedang dibicarakan mama nya. mungkin karna tadi sempat ia dengar mama nya menyebut nama nya.


"Iya mas, nanti aku sampaikan pada Elin."


Sekarang Elin dapat mendengar dengan baik apa yang dibicarakan mama nya.


"Baiklah, Aku akan suruh Bi Minah menyiapkan makanan untuk menjamu tamu kita malam ini"


"Iya mas... sampaikan salamku pada Mbak Dewi. oke mas.. bye"


Mama menutup telfon nya. Elin bergegas ingin pergi dari tempat itu. Namun sial nya, belum sempat Elin melangkah,...


"Elin... !"


Mama Elin memanggil nya. Tampak nya ia tau Elin menguping pembicaraan nya.


Elin berbalik.


Mama Elin berjalan mendekati nya. Elin berdiri mematung di sana. Ia hanya menunggu dan menerka-nerka apa yang akan dibicarakan mama nya. Namun sayang nya ia tak bisa menerka kali ini.


Kini mama Elin telah berdiri satu meter tepat di hadapan Elin. Tersenyum hangat, menampilkan kehangatan yang selama ini Elin anggap hilang dari sosok mama nya. Namun tetap saja Elin tak memberi respon apapun meski hati nya bertanya.


"Elin... tante Dewi akan datang malam ini ke rumah kita. kau tau ia akan datang dengan siapa??? " Ucap Mama Elin dengan mata berbinar.


"Siapa?" tanya Elin datar.


"Rey" jawab mama nya mantap.


Degg..


Jantung Elin langsung berdegub lebih cepat dari biasa nya. mungkinkah ini waktu nya? tidak... tidak bisa. Ini tidak seharus nya terjadi. Elin membatin. lalu ia berjalan dengan gusar menuju sebuah sofa di ruang keluarga itu. ia mendudukan tubuh nya di sana.


"Ma... aku sudah bilang berapa kali sama mama? dan harus bilang berapa kali lagi biar mama mengerti? " ucap Elin gusar.


Mama Elin berjalan mendekati Elin. wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu duduk di sofa tepat di depan Elin.

__ADS_1


"Elin...Mama tidak mau berdebat dengan mu kali ini. Dan urusan ini, percayakan semua sama mama. " ujar mama nya meyakinkan


"Tapi ma, Mama sudah tau sendiri kan, aku sudah punya Arga, Ma. Aku menyayangi Arga. "


"Elin... Rey itu anak baik-baik. Sementara Arga, apa yang bisa kamu percaya dari nya? cinta dengan omongan saja itu tidak cukup Elin... apa kau pernah di ajak ketemu keluarga nya? atau dia datang ke sini dengan keluarga nya untuk memperjelas hubungan kalian? tidak ada kan?"


"Arga masih kuliah ma. Dan satu lagi, ini soal menikah ma. bukan soal main-main. Lagi pula waktu itu Arga telah datang menemui Mama. Mamalah yang menolak nya." Suara Elin serak.


"Rey itu sudah lebih dewasa untuk membina rumah tangga, Elin. Dia sudah siap dari segi apapun. " pungkas mama Elin meyakinkan.


"Jadi ini soal pangkat dan usia?" sinis Elin.


"Elin... bukan begitu. Rey sudah lebih dewasa, dan kamu tau Arga masih akan menempuh jalan panjang untuk merintis kehidupan kalian jika kalian nekat melanjutkan hubungan itu"


ujar mama memberi penjelasan.


Elin mendengus. Ia fikir tak ada guna nya meneruskan perdebatan ini. Ia bangkit dari sofa dengan gusar. ia betul-betul kecewa pada mama nya.


"Setelah Papa pergi, mama dirampas dari ku, bahkan sekarang aku sendiri seperti tak berhak memiliki diriku sendiri" gumam Elin berlalu dari ruangan itu... air mata nya mengalir.


"Elin... "


Elin tak lagi bergeming. Ia berlari menaiki anak tangga untuk mencapai kamar nya. Dada nya terasa sesak. Kehidupan macam apakah yang tengah ia jalani saat ini?.


Andai saja mama tau...tapi sayang nya Elin harus menghadapi ini sendiri.


Elin langsung masuk dan mengunci pintu kamar nya. kecawa, sedih, sakit hati. setidak nya itulah yang tengah ia rasakan saat ini. Ia mengutuk kesendirian nya. ia mengutuk semua yang tidak bisa ia hadapi.


Dalam perasaan yang berkecamuk. ia mengambil ponsel dari dalam tas nya. menekan tombol panggil pada kontak Whatsapp Argga. namun sayang nya setelah berkali-kali ia coba, tak ada jawaban dari Arga. Elin makin terisak.


"Arga... kau kemana? " lirih nya.


Ia butuh tempat untuk menumpahkan sesak ini.


lalu ia teringat dua sahabat nya. Ia menelpon dengan panggilan group.


sempat tak ada jawaban. namun saat Elin mencoba lagi. Dua sahabat nya itu kini telah menjawab panggilan nya.


"Ya, Elin...?" ucap Risa dan Echa hampir bersamaan


Sesaat hanya isakan Elin yang Echa dan Risa dengar.


"Hallo? Elin.. kau kenapa? " tanya Risa dengan nada selidik.

__ADS_1


"Aku sedang tidak baik-baik saja sekarang " jawab Elin terisak


"kita tau kau sedang tidak baik-baik aja Elin... tapi kenapa? " tanya Echa.


"Iya Lin, coba kau cerita dulu. pelan-pelan saja" tambah Risa khawatir.


"Aku minta maaf karna tidak pernah menceritakan ini pada kalian, tapi aku benar-benar tidak menyangka ini akan seserius ini." Ucap Elin mulai bercerita. Tak ada jawaban dari Echa dan Risa. Mereka lebih memilih mendengarkan dengan seksama apa yang akan diceritakan Elin.


"Aku dijodohkan..." sambung Elin memperjelas.


sontak itu membuat Echa dan Risa terkejut, bingung, dan masih belum terlalu mengerti dengan apa yang baru saja Elin katakan.


"Maksud mu? " cuma kata itu yang berhasil keluar dari mulut Echa dan Risa hampir bersamaan lagi di sebrang telfon.


"Mama menjodohkan aku dengan anak tante Dewi , Ris. dan malam ini mereka akan datang ke rumah ini."


"Maksud mu tante Dewi sepupu ayah tiri mu itu? " tanya Risa memperjelas.


"Iya. Cha, Ris. Aku benar-benar tidak mau seperti ini. Aku harus bagaimana sekarang? Arga juga tidak mengangkat telfonku dari tadi."


"Oke. oke. Lin, kau tenang dulu. Jangan gegabah. Kau harus tenang. Malam ini, sambut saja kedatangan mereka dengan baik. Agar besok kau bisa datang ke kampus seperti biasa. Besok kita diskusikan ini di kampus. " Usul Risa.


"Iya aku setuju. Kita tidak bisa gegabah dalam urusan ini. jika kau terang-terangan menolak, tentu saja mereka akan memaksa dan bukan tidak mungkin mereka akan mengurung mu di rumah,Lin. itu akan menyulitkan." Timpal Echa sependapat dengan Risa.


"Jadi aku harus berpura-pura untuk menyetujui rencana mama? " tanya Elin belum yakin.


"Tepat nya begitu." ujar Risa menegaskan.


Elin berpikir sejenak. seperti nya usulan Risa dan Echa ini tidak ada salah nya untuk dicoba. Setidak nya itu bisa menyelamatkan nya untuk malam ini saja, agar besok pagi ia bisa ke kampus seperti biasa tanpa ada nya drama dilarang ke kampus karna dianggap menyinggung tamu yang akan datang itu.


"Baiklah. Aku setuju. teramakasih. kalian memang sahabat terbaik ku. " ujar Elin dengan senyum yang ia ciptakan di sela-sela mata nya yang basah.


"Kalau begitu, berhentilah menangis. Sekarang lebih baik kau istirahat. Persiapkan senyuman mu untuk menyambut tamu istimewa itu." Ujar Risa dengan terkekeh.


"iya, Lin. Tapi kalau laki-laki itu tampan, jangan buang ke mana-mana. Siapa tau saja bisa jadi ganti Bram yang sudah mulai bersikap dingin sekarang. " ujar Echa menimpali.


"Ya. ya. ya. aku mulai mencium aroma jail kalian dari sini. Baik lah, aku akan istirahat. Sekali lagi Terimakasih. Aku sayang kalian." Ujar Elin menyudahi panggilan itu.


Ia merebahkan diri di ranjang. Menatap langit-langit kamar, memanjatkan rasa syukur karna memiliki sahabat seperti Echa dan Risa. Berkat mereka, pikiran nya yang tadi penuh sesak, sekarang jadi lebih tenang.


Elin tertidur saat hujan mulai turun satu persatu. Hujan mengguyur sore itu seperti menumpahkan air yang tertahan selama satu minggu ini. Begitu deras. Hawa sejuk membuat Elin tertidur dengan lelap hingga surya tenggelam di ufuk barat....


šŸšŸšŸšŸšŸ

__ADS_1


__ADS_2