JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
JANJI


__ADS_3

"Iya, Mbak. Kami akan datang...."


"iya, Mbak Dewi tenang saja. Elin pasti datang bersama kami."


"Oke mbak, sampai nanti... bye. .. "


Mama Elin memutus sambungan telpon, mengakhiri percakapan nya dengan orang di sebrang telfon itu. Elin yang baru masuk ke dalam rumah sempat mendengar potongan pembicaraan itu, berusaha mengabaikan. ia memilih untuk acuh dan berpura-pura tidak melihat mama nya.


Namun mama Elin yang menyadari kedatangan Elin, langsung mencegat Elin yang hendak menapakan kaki nya menaiki anak tangga.


"Elin, tunggu sebentar sayang." Ucap wanita paruh baya itu sambil berjalan mendekati Elin.


Elin yang mendengar panggilan mama nya, terpaksa menghentikan langkah. ia menarik kembali kaki nya yang sempat menyentuh anak tangga.


"Nanti malam, ikut Mama dan Om Bimo ya. Kita diundang makan malam oleh tante Dewi di rumah nya. " Tersenyum manis.


Elin memutar mata malas.


"Baik lah" jawab nya singkat.


Apa lagi jawaban lain yang harus ia berikan pada mama nya? Saat ini mengiyakan mama nya adalah salah satu cara untuk menghindari keributan di rumah ini. Jika ia menolak pun, mama nya dengan seribu satu alasan akan tetap membuat nya berkata iya.


Mama Elin tersenyum mendengar jawaban singkat dari Elin. Ia menatap punggung Elin yang berjalan menaiki satu persatu anak tangga pualam menuju kamar nya.


Setidak nya, sore ini Elin bermurah hati untuk tidak merusak janji nya. Begitu batin Nyonya Nita kala itu.


Di kamar nya, Elin menghempaskan tubuh nya diatas kasur. Lelah seharian di kampus rasa nya tidak sebanding dengan lelah hati menghadapi permintaan mama nya ini.


Ia menatap langit-langit kamar.


Mengusap wajah nya yang lelah. Ditambah lagi kejadian dikampus tadi. Yang sebenarnya tidak ingin dipikirkan Elin, namun peristiwa tadi siang itu dengan nakal nya tetap mengusik ke dalam pikiran nya.


Elin menghembusakan nafas kasar.


Kemudian membuka layar ponsel nya. ia menekan tombol panggil pada kontak Arga.


beberapa detik panggilan itu langsung tersambung.


"Ya, sayang." jawab Arga.


"Kau sedang apa? "


"Aku baru saja dari kamar mandi. Ada apa sayang? "


"Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan mu. "


"Benarkah? "


"Hmm"


"Kau telah pandai menggodaku sekarang. "


Arga terkikik.


"Apa aku terkesan sedang menggodamu?"


Elin mengulum senyum nya.


"Aku akan senang jika kau terus menggodaku." Ucap Arga di seberang telfon.


Elin tersenyum mendengar itu.


"Elin... "

__ADS_1


"Iya? "


"Apa kau bersedia jika aku membawamu pergi? " Ada kesungguhan di kalimat itu.


Elin menautkan kening nya.


"Ke mana? "


"Ke mana saja. Aku ingin kita hidup bahagia tanpa ada yang ingin memisahkan kita."


Elin terdiam mendengar penuturan Arga. Hati nya menghangat oleh kalimat itu.


"Elin... " Suara Arga kembali menyentakan nya.


"Arga, aku..."


"Tidak perlu menjawab nya sekarang. Aku tau kau harus memikirkan nya. Ini keputusan yang berat. Aku tau, kau perlu waktu."


"Arga..."


"iya, sayang."


" Aku bangga padamu. Aku mencintaimu." Ujar Elin penuh haru.


"Aku juga sangat, sangat, sangat mencintaimu. " Balas Arga.


Elin menyapu sesuatu yang mulai turun di ujung mata nya. Lalu menarik nafas dalam, untuk kemudian membuang nya perlahan.


"Arga, sebenar nya aku ingin memberi tahu mu sesuatu. " Ujar Elin kemudian.


"Apa? "


"Nanti malam aku akan pergj ke rumah laki-laki itu." Ucap Elin berhati-hati.


"Orang tua nya mengundang mama makan malam. Dan dia meminta mama untuk mengajak ku."


"Apa dia juga ada di sana? "


Nada suara Arga berubah. Elin dapat menangkap dengan jelas bahwa Arga mulai cemburu.


"Tidak. Hanya orang tua nya. " Terang Elin.


Hembusan nafas Arga terdengar jelas oleh Elin. Hening sesaat...


"Baik lah, aku tidak keberatan. "


Elin tersenyum kecil mendengar itu.


"Arga."


"Hmm"


"Kamu... apa kamu benar-benar telah melupakan Rora?" Suara Elin terdengar sangat serius


"Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu? apa kau mulai cemburu pada nya.?" Arga tersenyum di seberang telfon.


"Bukan. Aku hanya ingin memastikan saja." jawab Elin.


"Kamu tidak perlu khawatir tentang aku, Elin. Justru akulah yang khawatir tentang rencana orang tuamu. Aku sangat berharap itu tidak akan terjadi." Sekarang giliran Arga yang terdengar gelisah.


Sejenak Elin terdiam. Mencerna dengan baik apa yang baru saja diucapkan Arga. Ia juga sangat mencintai Arga. Dan tentu saja ia sangat mengharapkan rencana mama nya itu tidak akan pernah terjadi.


"Aku telah memilihmu, Arga. tidak akan ada yang bisa mengambilku dari mu." Ucap Elin kemudian.

__ADS_1


"Aku senang mendengar nya, sayang. Berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku. Berjanjilah untuk hidup bersamaku." Suara Arga terdengar parau di sebrang sana.


Elin tersenyum simpul.


"Apa kau begitu takut kehilanganku? " Mulai menggoda.


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku takut kehilanganmu." Arga menaikan nada nya.


"Tenanglah... aku hanya ingin kau mengucapkan itu. " Ujar Elin menahan tawa nya.


"Kau senang mendengar nya? "


"Tentu saja. Tidak pernah ada yang mengucapkan itu padaku selama ini. "


"Jadi, aku yang pertama? " Senyum Arga merekah.


"Apa aku punya pacar sebelum bersamamu? " Elin balik bertanya.


"Baik lah. Karna aku orang yang pertama dalam hati mu, sekarang berjanjilah kau akan menjadikan aku yang terakhir juga." Ucap Arga setelah menghembuskan nafas nya.


" Apa itu permintaan? "


"Tidak, kau harus mengatakan nya dengan tulus dari lubuk hatimu."


" Iya. Aku berjanji. " Balas Elin sungguh-sungguh


"Terimakasih sayang, aku juga berjanji untuk selalu mencintaimu sampai kapanpun"...


Elin benar-benar bahagia mendengar itu. Bukan. Bukan Elin saja. Tapi di seberang sana Arga juga merasakan kebahagiaan itu menjalar ke setiap nadi nya.


"Elin, aku ingin kau memikirkan tentang ucapanku tadi."


Elin mengingat sejenak, memutar bola mata nya. Dan ia mengingat itu.


"Iya. Aku akan memikirkan nya." Ucap Elin kemudian.


"Jangan terlalu lama. "


"Arga, kalau begitu aku tidak akan berpir lagi. Aku akan memutuskan sekarang juga untuk pergi bersamamu. Malam ini jemput aku di pertigaan. "


"Tidak, tidak. Aku juga tak ingin kau memutuskan secepat itu, aku tidak ingin nanti kau menyesal. " Sanggah Arga memotong kalimat Elin.


"Apa menurutmu aku akan menyesal.? "


"Sesal tidak pernah datang di awal, jadi tidak ada yang tau kau akan menyesal atau tidak. Maka dari itu aku ingin kau memikirkan nya terlebih dahulu. "


"Baik lah tuan Arga, kau selalu jadi pemenang nya. "


Arga terkekeh.


Obrolan lewat telfon itu berlanjut hingga kedua nya sama-sama menutup panggilan.


Elin menghela nafas nya dalam-dalam. Setidak nya hati nya sedikit membaik sekarang untuk ikut makan malam bersama keluarga nya di rumah tante Dewi.


Ia meletakan ponsel nya di atas kasur, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Karna tidak lama lagi gelap akan menaungi kota ini. ia harus bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah orang tua Rey yang di bangga-banggakan ayah tiri nya itu.


šŸšŸšŸšŸšŸ


Dukung author ya readers...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah nya.


Terimakasih.. :-)

__ADS_1


__ADS_2