JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
MAKAN MALAM


__ADS_3

"Elin, kamu cantik sekali nak... " Ujar seorang perempuan yang hampir sebaya dengan mama nya. itu lah tante Dewi yang tidak lain adalah kerabat dekat ayah sambung nya.


"Terimakasih tante." Balas Elin berusaha mengimbangi basa-basi tuan rumah itu.


Sejenak ia menyapukan pandangan ke seluruh penjuru rumah. Rumah itu tak kalah mewah dengan rumah Elin. Rumah bergaya Eropa klasik, dengan warna abu-abu muda dan putih tulang yang mendominasi.


"Ayo silahkan..silahkan. " Ujar wanita itu lagi mempersilahkan tamu nya untuk langsung duduk di meja makan.


Di atas meja telah terhidang beberapa menu ala western yang di tata sedemikian rupa.


Elin mengambil tempat duduk tepat di sebelah tante Dewi. Sedangkan Mama dan juga Pak Bimo duduk di hadapan nya berdampingan.


"Wah, sudah cukup lama ya kita tidak bertemu dan duduk satu meja seperti ini." Ucap tante Dewi dengan senyum sumringah nya.


"Iya mbak. Kalau tidak salah waktu acara nikahan sekretaris kantor itu bukan? " jawab mama Elin tak kalah beramah tamah


"Iya. Mau bagai mana lagi, kita semua disibukan dengan urusan masing-masing sampai lupa untuk berkumpul dengan kerabat sendiri. " Imbuh tante Dewi


"Itu tak akan terjadi lagi ketika putra-putri kita nanti benar-benar menikah. " Seru pak Bimo melirik dengan tatapan intimidasi pada Elin


Elin membuang muka. Muak. Itulah salah satu kata yang tepat untuk perwakilan perasaan nya terhadap laki-laki ini.


"Kau benar, Bim. Aku sangat berharap sekali hal itu bisa segera terwujud. " Tambah tente Dewi dengan melempar senyum nya pada Elin. Elim tersenyum kikuk.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang kita sudah bertemu. Dan seperti nya hidangan ini sudah memanggil-manggil untuk di makan" sela Pak Bimo pula.


Mama Elin dan tante Dewi terkekeh. sementara Elin yang berada di tengah obrolan basa-basi itu memilih untuk acuh dan tidak berminat untuk menimpali satu atau dua kata pun.


"Ayo silahkan dimakan." Ujar Tante Dewi sambil memotong-motong steak yang ada di piring nya dengan pisau.


Semua mulai menyantap makanan nya masing-masing. termasuk Elin. Berbagai candaan dan obral basa-basi lain nya masih memenuhi suasana meja makan itu.


Sesekali Elin tampak memaksakan bibir nya tersenyum saat tante Dewi mencoba melempar candaan pada nya. Hingga makan malam itu selesai dengan menikmati hidangan penutup.

__ADS_1


"Elin, tante senang sekali kamu bisa datang ke sini. " Ucap bu Dewi setelah menyapu bibir nya dengan sehelai tisu.


Elin yang merasa diri nya di ajak bicara, hanya melempar senyum simpul.


"Tadi tante sudah menelfon Rey dan mengabari kamu akan datang malam ini. Rey sangat senang. Ia menitip salam untuk mu." Sambung wanita itu lagi.


Benarkah tante? lalu reaksi seperti apa yang tante harapkan dari ku sekarang? apa penting nya ini bagiku?


"Salam kembali, tante. "


Ya ampun, apa yang baru saja aku katakan? apa? salam kembali? Hei Elin, apa yang sedang kau lakukan? apa kau baru saja menitip salam pada laki-laki itu? .


Elin merutuki diri nya sendiri.


"Seperti nya Rey sudah tidak sabar menunggu hari kepulangan nya, mbak" Ujar Pak Bimo.


"Tentu saja. Rey sangat tidak sabar ingin bertemu dan segera mengenal Elin. Namun ia belum bisa meninggalkan perusahaan saat ini. karna ada beberapa proyek yang harus ia selesaikan sendiri."


"Iya. Tapi mengapa tidak suruh mereka berkomunikasi lewat telepon dulu? Bukan kah sekarang jaman sudah secanggih ini?" Imbuh Mama Elin.


"Wah, seperti nya Rey suka kejutan ya, Elin?" ujar mama Elin sengaja melirik Elin yang tampak tak tertarik dengan pembicaraan itu.


Elin hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.


"Elin, satu hal yang harus kamu tau, Rey sangat terkesan saat tante bilang kamu jago main biola." Mata tente Dewi berbinar.


"oh ya? " ucap Elin membuat nada suara seolah ia tertarik dengan kabar itu.


"Ya... Rey sangat menyukai alat musik apa saja. termasuk biola. Jadi saat tante bilang kamu ahli bermain biola, dia begitu terkasan." tambah Dewi bersemangat.


Apa membuat nya terkesan itu penting bagi ku, tante? aku bahkan tidak perduli jika ia tak terkesan padaku. Aku malah akan berterimakasih pada nya jia ia tak terkesan padaku.


"Itu bagus sekali. nanti Rey akan mendengarkan permainan biola Elin setiap hari. bukan begitu Elin? " Celetuk pak Bimo pula melirik ke arah Elin.

__ADS_1


Mendengar itu Elin hanya menanggapinya dengan senyum simpul dan anggukan kecil.


Hati nya begitu mengutuk sikap sok malaikat Bimo di depan Mama nya.


Sementara itu, malam semakin beranjak. obralan-obrolan di meja makan itu sangat membuat Elin ingin cepat-cepat lenyap dari sana.


Tentu nya tidak ada yang menarik dari pembicaraan itu.Yang ada hanya ia begitu muak jika berlama-lama duduk satu meja dengan Bimo.


Hingga akhir nya, waktu yang ditunggu-tunggu Elin datang juga. Mama nya berpamitan kepada tante Dewi.


"Ma, Aku ada urusan dulu sebentar. mama duluan aja. Nanti aku bisa naik Taxi." Ujar Elin pada mama nya saat mereka ke luar dari rumah tante Dewi.


"Kau tidak apa-apa naik taxi sendiri? " Mama nya ingin memastikan.


Elin mengangguk.


"Baik lah. Tapi kamu hati-hati ya." Balas mama nya setelah sempat berpikir sejenak.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Elin menjauh dari tempat itu menuju sebuah mini market yang ada di sebrang jalan.


Sesungguh nya ia tidak ada keperluan apa pun ke mini market itu. Tidak ada sama sekali.


Hanya saja, ia ingin menghindari untuk kembali berada satu mobil dengan Bimo. Berlama-lama duduk satu meja tadi saja cukup membuat ia merasa jengah.


Setelah memastikan mobil yang di kendarai Bimo dan mama nya menjauh, Elin bergegas masuk ke dalam taxi yang baru saja berhenti di depan nya.


Elin duduk di kursi belakang sopir, menatap jalanan dengan lampu yang berkelip dari kendaraan-kendaraan lain, juga dari lampu-lampu jalan yang berjajar bagai ribuan rembulan yang berbaris.


Taksi itu terus melaju membawa Elin menuju rumah nya. Memecah jalan raya kota metropolitan ini dengan kebisingan yang selalu menggerus didinding telinga tanpa henti.


Elin menyandarkan tubuh nya. Mencoba untuk berdamai dengan berjuta sengketa dalam benak nya. Elin memejamkan netra nya, mencari kedamaian dalam hati nya. Yang terang saja itu begitu sulit untuk ia temukan.


Suara klakson dari pengendara lain begitu gencar memekakan telinga. Taxi itu tersu melaju, beserta pikiran Elin yang melayang jauh entah kemana.

__ADS_1


šŸšŸšŸšŸšŸ


Maafkan jika masih belepotan tulisan nya, banyak typo, dan sebagai nya. Author akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat tulisan ini menjadi baik dan enak dibaca. Mohon dukungan nya, like, komen, vote, dan hadiah.


__ADS_2