
Gelap telah menyelimuti kota yang dingin saat itu. Dua keluarga itu kini telah duduk dalam satu meja makan. menikmati makan malam dengan sup daging buatan Bi Minah. suasana tercipta begitu hangat saat para orang tua itu sesekali melempar candaan untuk Rey dan Elin.
Elin sesekali menatap senyum lepas dari mama nya. Senyum itu begitu jelas memancarkan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan melalui kata-kata. Dan ia merasa tidak sampai hati untuk melunturkan senyum di wajah yang kian menua itu.
"Elin, besok kamu dan Rey pergilah untuk fitting baju pengantin, soal nya waktu kita sudah tidak banyak." Ujar Pak Bimo sambil melirik istri nya.
"Iya Elin. Benar apa kata Om Bimo." tambah Mama Elin setuju.
"Soal cincin tunangan, kalian bisa pergi ke toko perhiasan setelah pulang dari sana." ujar Bu Dewi pula tak kalah antusias.
Elin menatap Rey. lalu beralih menatap mama nya, Elin kemudian meletakan sendok dan garpu di atas piring, lalu meraih air putih di depan nya dan meminum nya beberapa teguk.
"Baik lah. pulang dari kampus ya, Ma. " Jawab Elin kemudian.
"Tentu saja. " jawab Bu Dewi pula, dan mama Elin mengangguk setuju.
Lalu mereka lanjut melahap makanan dari piring masing-masing. suara denting sendok dan garpu mengudara di ruang makan itu, hingga makan malam itu selesai. kemudian setelah berbincang-bincang ringan beberapa saat, Rey dan mama nya pun pamit untuk pulang.
πππ
Pagi datang dengan suasana sejuk karna sisa hujan kemarin sore. bunga-bunga di taman samping rumah Elin tampak menari dengan sisa air hujan yang masih menempel di daun dan bunga nya, berkilau bagai permata di terpa cahaya surya pagi.
Hari ini mega tampak cerah, tidak ada tanda akan turun hujan, bahkan awan yang menggantung di atas sana tampak seperti kapas putih tampa noda. Ditambah lagi dengan
kicau burung bagai alunan paduan suara yang merdu.
Masih terlalu pagi. Namun Elin sudah terbangun bahkan sebelum pagi membungkus kota itu. Elin tak bisa tidur dengan nyanyak tadi malam. meskipun ia memaksakan netra nya untuk terpejam, tetap saja pikiran nya tidak bisa lepas dari pernikahan itu.
Pagi ini iya enggan turun ke meja makan untuk sarapan bersama mama nya. Mama Elin yang sudah mengerti dengan sifat Elin, sudah meminta Bi Minah mengantarkan sarapan untuk Elin ke kamar nya. Kini Elin tampak menikmati sarapan itu di balkon kamar nya seorang diri.
"Aku benar-benar tidak berselera. " gumam nya, dan meletakan kembali roti yang sempat ia makan sedikit ke atas tatakan. kemudian ia meminum coklat hangat untuk sekedar mengganjal perut nya sebelum berangkat ke kampus.
"Ah. belum menikah saja semua nya terasa sulit begini, bagai mana jika aku benar-benar sudah menikah dengan pria itu? ya Tuhan... apakan aku akan sanggup, atau aku akan berakhir di rumah sakit jiwa? aaaggghhh... " gumam Elin lagi seorang diri sambil mengusap wajah nya berkali-kali.
Kemudian dengan langkah gontai ia mengambil tas nya, dan melangkah keluar dari kamar itu.
"Elin... " ujar Mama Elin dari meja makan saat melihat Elin menuruni tangga.
Elin menghentikan langkah nya saat sampai di lantai dasar.
"Elin.. ke marilah sebentar. " ujar mama Elin dengan tersenyum dari meja makan tersebut.
Elin menuruti tanpa menjawab dan mendekat pada dua orang tua yang tengah menikmati sarapan itu.
"Elin, pukul berapa kamu selesai kuliah hari ini? " Tanya mama Elin saat Elin telah berdiri di samping nya.
"Sebentar saja ma, paling dua jam aja. " jawab Elin.
"Baiklah kalau begitu. mama hanya mengingatkan saja soal fitting baju. " Ujar mama Elin.
"iya, ma. aku ingat. kalau begitu aku berangkat sekarang. " ujar Elin.
"Kamu sudah sarapan Elin? " ujar pak Bimo berbasa-basi.
__ADS_1
Elin memutar mata malas. membuang muka.
"Sudah. " Jawab Elin seperlu nya.
"jangan sampai telat makan ya, Elin. calon pengantin tidak boleh sakit. lihat mama mu, Ia sengaja menambah porsi nya agar tidak jatuh sakit di hari pernikahan putri nya. " Ujar Pak Bimo lagi. Sedangkan Mama Elin tersenyum lebar mendengar hal itu.
Andai saja ucapan itu bukanlah dari tua bangka bermuka dua seperti ayah sambung nya ini, maka itu akan terdengar sangat manis sekali. Namun sayang nya, kenyataan lebih sadis menerjang kehidupan Elin dan Mama nya.
"kalau sudah tidak ada apa-apa lagi, aku berangkat sekarang. takut telat sampai di kampus" ujar Elin tanpa merespon ucapan pak Bimo.
Mama Elin sedikit tidak enak hati pada suami nya. Namun apa boleh buat, memang begitulah hubungan anak dan suami nya itu dari dulu, khusus nya Elin yang selalu memberi jarak dalam hubungan itu.
"Ah, baiklah. hati-hati di jalan. " ujar Mama Elin yang masih tersenyum canggung.
Elin melangkah meninggalkan meja makan itu, berjalan keluar dari rumah nya dan masuk ke dalam kendaraan online yang tadi sudah dipesan nya. karna hari ini ia sengaja tidak membawa mobil nya sendiri.
sedangkan Pak Bimo meneguk secangkir kopi yang ada di hadapan nya, menyembunyikan kekesalan pada anak sambung nya itu, lalu kembali tersenyum ramah pada bu Anita seolah ia baik-baik saja dan menerima sikap dingin dari putri almarhum Gunawan hadi kusumo. mantan atasan nya, sekaligus orang yang secara diam-diam ia benci dalam hidup nya.
πππ
Elin sudah tiba di gerbang kampus nya, turun dari jendaran kendaraan olnline itu, lalu memberikan selembar uang merah pada pengemudi nya.
"Ambil saja kembalian nya. " ucap Elin, lalu berlalu dari mobil tersebut, dan berjalan menuju ke halaman kampus itu untuk segera sampai di aula kesenian.
"Elin... " ucap Risa dan Echa yang sudah terlebih dahulu sampai di aula itu.
"Echa...? " ujar Elin menghampiri dua sahabat nya itu.
"Nggak apa-apa Elin. kita ngerti kok. dasar Echa aja nih. bisa-bisa nya bikin kita khawatir. " Ujar Risa sebelum Elin menyelesaikan kalimat nya.
"Memang nya kemarin kamu kemana sih, Cha? " Tanya Elin
Echa hanya tersenyum nyengir, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Asyik pacaran dia sama yang nama nya Bram itu tuh. " celetuk Risa masih dengan mimik kesal nya atas kelakuan Echa kemarin.
"Maaf.. maaf. jangan marah dong. " ujar Echa dengan rasa bersalah nya yang telah membuat dua sahabat nya itu khawatir.
"Ya sudah. yang penting sekarang Echa baik-baik aja. lain kali jangan gitu, Cha. bisa-bisa nya nggak ngabarin kita berdua. " ujar Elin pula.
"Iya janji nggak lagi. " jawab Echa sambil mengacungkan dua jari nya ke udara.
Lalu mereka mulai memainkan biola masing-masing. memang hari ini tak perlu menunggh dosen untuk memulai, karna kegiatan hari ini hanya mempersiapkan penampilan mereka saat di panggung penyambutan mahasiswa baru yang tidak sempat di selenggarakan beberapa minggu lalalu karna satu hal.
"Elin, gimana soal pernikahan itu? " tanya Risa tiba-tiba,menyadari dari wajah Elin yang tampak jelas sedang banyak masalah.
Elin berhenti dari permaian biola yang memang sejak tadi terkesan asal itu.
lalu meletakan alat itu di atas sebuah meja di samping nya. ia menghembuskan nafas nya, lalu melipat tangan nya di dada.
"Pernikahan itu dipercepat. besok Rey akan melamarku secara resmi, dan dua minggu setelah nya, pernikahan itu akan di selenggarakan. " ujar Elin dengan nada pasrah nya.
"Apa??? secepat itu? " ujar Risa dan Echa hampir bersamaan karna sedikit terkejut dengan kabar itu.
__ADS_1
"Iya, memang mengejutkan sekali bukan? tapi ini lah hidup ku. aku tidak tau kehidupan seperti apakah ini. bahkan aku tidak punya sedikit pun hak untuk berkata tunggu." Kesal Elin.
"Kita mengerti perasaan kamu Elin. kamu yang kuat ya. lagi pula ini semua demi Mama mu juga kan? aku rasa kamu sudah memilih jalan yang baik. " ujar Risa merangkul tubuh Elin.
Echa pun ikut memeluk dua sahabat nya itu, air mata nya mengalir tanpa perintah.
"Wah... wah.. wah.. ada pertunjukan apa ini? apa di acara penyambutan itu akan ada penampilan sandiwara juga?" Ujar Rora yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu bersama Lily, dan Mita.
Elin, Echa dan Risa melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke arah Rora yang menatap dengan ejekan.
"Aku tau, pasti kalian akan membawakan cerita telletubbies...hahaha... Berpeluuukaaan" ujar Rora lagi dan di susul tawa oleh Lily dan Mita.
"Dasar lampir... seperti nya sesekali kamu memang perlu diajari untuk tidak mengganggu orang lain ya " Ujar Echa yang geram dan dengan cepat menjambak rambut panjang Rora.
"aaauuu.. lepaskan aku sialan.!!!!" pekik Rora dan berusaha melepaskan rambut nya dari cengkraman Echa. dua sahabat nya, yaitu Lily dan Mita berusaha melerai.
Elin dan Risa hanya membiarkan saja, menurut mereka Rora memang perlu sesekali diberi pelajaran agar tau dengan batasan nya.
Dengan sekuat tenaga Echa kemudian mendorong tubuh Rora, dan tanpa ampun Rora terhuyung ke tembok.
"Sialan kau Echa. dasar jalang!!! apa kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan kemarin di hotel Itu? " Pekik Rora sambil meringis.
Echa terdiam. dari mana Rora tau? apa kemarin Rora melihat nya? Elin dan Risa berubah bingung.
Melihat wajah tak mengerti dari Risa dan Elin, Rora terkekeh.
"Hah, aku pikir dua sahabatmu ini tidak mengerti apa yang sedang kita bicarakan, Echa. apa aku harus memberi tahu mereka? bahwa sahabat mereka ini adalah seorang.... "
"CUKUP!!!" teriak laki-laki yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu, lalu berjalan menyusuri para gadis yang terlibat percekcokan itu.
"Rora. pergi dari sini sekarang juga.!!! " ucap Adit dengan datar.
"Adit!!! " Rora masih ingin menberontak.
"Pergi sekarang juga, kau tidak ada urusan apa-apa di ruangan ini. kami ingin fokus untuk latihan. " Ujar Adit sekali lagi. lalu dengan kesal, Rora meninggalkan ruangan itu bersama dua sahabat nya.
Risa dan Elin mendekati Echa yang terdiam sambil tertunduk. tanpa bertanya apa-apa mereka memilih menenangkan Echa. Elin dan Risa tidak mau terburu-buru dan mendesak Echa untuk mengatakan maksud dari ucapan Rora tadi, mereka yakin ini bukan hal mudah untuk Echa. Sementara Adit dengan wajah prihatin, menatap Echa dari kejauhan...
sambil jari nya memetik senar gitar di tangan nya.
πππππ
**LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
LOVE YOU ALLπππ
HAPPY READINGπππ**
__ADS_1