JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
BERITA TENTANG ARGA.


__ADS_3

Acara malam itu berlangsung dengan lancar dan juga tenang. para tamu dan kerabat kini tengah mencicipi hidangan yang telah di sediakan. para orang tua tampak sedang berbincang-bincang bahagia. sementara Rey dan Willy tampak tengah asyik berseloroh dengan minuman di tangan mereka. sedangkan tak jauh dari tempat itu, Elin dan Risa tampak sedang berbaur dengan beberapa tamu yang hadir.


Lalu tiba-tiba ponsel Elin berdering. kemudian ia tampak sedikit menjauh untuk menghindari kebisingan. setelah menjauh beberapa meter dari tempat ia tadi berdiri, Elin mengangkat telfon nya. sementara di sudut sana, Rey terus memperhatikan Elin dari jauh.


"Hallo, iya Dit. Ada apa? " ujar Elin setelah menekan tombol jawab dari panggilan Adit.


"Elin, kamu di mana sekarang? "


"Aku di rumah, Dit. kenapa? "


"Arga Lin, Arga udah sadar. sekarang dia sedang di tangani dokter di dalam. "


mendengar penuturan Adit, tiba-tiba ponsel Elin terlepas dari genggaman nya. ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar nya. mata nya berkunang, pandangan nya kabur seketika oleh air mata yang menggenang. tubuh nya mendadak seakan melayang, lalu ia pun ambruk dan jatuh di lantai tak sadarkan diri.


semua tamu menjerit melihat tubuh Elin yang terjatuh. Rey yang melihat hal itu langsung berlari mendekati Elin. kemudian disusul oleh para orang tua mereka yang diselimuti kepanikan.


"Elin... kamu kenapa nak? Rey tolong bawa Elin ke kamar. Mas, telfon dokter Mas... " pekik mama Elin dengan histeris.


Rey membopong tubuh Elin menaiki tangga untuk membawa nya ke kamar. susana yang tadi nya bahagia tiba-tiba berubah menjadi kacau. semua nya diliputi kepanikan.


sesampai nya di kamar Elin, Rey meletakan tubuh Elin yang tak sadarkan diri di atas ranjang. Risa yang tak kalah panik mencoba menyapukan minyak kayu putih di dekat hidung Elin agar ia tersadar. dan benar saja, tidak lama kemudian Elin pun membuka mata nya. dengan perasaan lega, mama Elin mendekap tubuh putri nya.


"Elin, syukurlah kamu sudah sadar Nak. mama sangat khawatir sekali. " Ujar Wanita itu sambil memeluk tubuh Elin.


Elin masih merasakan pusing di kepala nya. tubuhnya masih terasa lemas.


Sejurus kemudian, Dokter keluarga yang tadi di telfon pak Bimo kini sudah berada di sana. Ia kemudian memeriksa kondisi Elin.


"Bagai mana kondisi nya dokter? " Tanya mama Elin setelah dokter itu selesai memeriksa anak nya.


"Nona Elin baik-baik saja, Bu. ia hanya kelelahan saja. " Jawab dokter itu.


"Oh, syukurlah. " Ucap bu Anita lega


"Ini vitamin untuk Nona Elin. jangan lupa untuk meminum nya, dan istirahat yang cukup" Ucap dokter itu lagi sambil menyerahkan beberapa macam vitamin ke tangan bu Anita.


"Terimakasih, dokter"

__ADS_1


"Sama-sama, Bu. kalau begitu saya pamit pulang dulu. " Ucap dokter lagi. kemudian berlalu meninggalkan kamar itu.


Sekarang tinggal lah Rey, Risa, Willy, mama Elin dan mama Rey di sana. pak Bimo sedang mengantar dokter tadi ke luar, sedangkan para tamu sudah pulang sejak tadi.


Elin masih terbaring lemas di atas ranjang nya, ia kembali teringat ucapan Adit di telfon tadi. hati nya kian gelisah. sementara Rey masih setia mendampingi nya di sana.


"Elin... tante dan mama mu sangat khawatir. sekarang apa yang kamu rasakan sayang? " Ujar bu Dewi sambil mengusap lembut puncak kepala Elin.


"Aku hanya sedikit pusing tante. " Jawab Elin lirih.


"Elin, apa kamu mau mama ambilkan sesuatu nak? atau kamu mau makan sesuatu? " Tanya mama nya.


"Tidak Ma, Aku hanya capek saja. Aku mau istrirahat. " Jawab Elin berusaha tegar. menahan air mata nya agar tidak terjatuh.


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja,nak.Tante turun dulu ya." ujar Bu Dewi. lalu meraih tangan mama Elin mengajak nya keluar dari kamar itu.


"Aku juga harus pulang sekarang Rey. kasihan Shandy sendirian di rumah. lagi pula ini sudah malam. " Ujar Willy berpamitan pada Rey.


"Baik lah.Hati-hati di jalan. salam untuk istrimu, dan juga calon jagoan mu " ucap Rey sambil menepuk bahu Willy. lalu Willy pun berpamitan pada Elin dan Risa, kemudian ia berjalan meninggalkan kamar itu.


Rey berjalan mendekati ranjang Elin. sementara Risa yang dari tadi duduk di samping Elin, berniat akan beranjak dari sana. namun, dengan cepat Elin menahan nya.


"Arga? Maksud kamu? " Ujar Risa tidak mengerti.


"Tadi Adit menelfonku... ia mengabarkan kalau Arga udah sadar dari koma, Ris... " Ucap Elin dengan tangis nya yang sudah pecah.


"Apa? " Ucap Risa terkejut mendengar hal itu.


Tidak terkecuali dengan Rey.


'Arga?? jadi ini yang menyebabkan Elin tak sadarkan diri setelah menerima telfon itu? Rupa nya kabar ini yang ia dapat kan. Ya Tuhan.


...' Batin Rey pula. lalu ia mengusap wajah kebas nya.


"Elin... apa kamu ingin melihat nya. Besok aku akan mengantarmu ke sana. " Ujar Rey kemudian.


Elin menatap wajah itu sesaat. Lalu kemudian gadis itu memalingkan wajah nya ke tempat lain. air mata nya masih saja bercucuran bagai rangkaian manik putus tali pengikat.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengunjungi nya. aku terlalu takut untuk menghadapi semua ini. " Ujar Elin di sela isak nya.


"Tapi bukankah cepat atau lambat ia akan tau soal ini" Ujar Rey lagi.


"Lalu apa yang kamu inginkan? memberi tahu nya saat ia baru saja sadar dari koma? di mana hati nurani mu?! " ujar Elin dengan intonasi sedikit meninggi.


Risa yang melihat hal itu mencoba menenangkan Elin.


"Elin... mungkin maksud mas Rey bukan begitu. kamu tenang dulu... " Ujar Risa berhati-hati.


"Sekarang lebih baik kamu keluar dari kamarku." Ujar Elin pada Rey.


Risa mengangguk mengisyaratkan pada Rey agar Rey sebaiknya keluar saja dari kamar itu.


Rey menarik nafas panjang. lalu mengusap wajah nya.


"Baiklah. sekalian aku pamit pulang ya. jangan lupa minun vitamin mu. " Ucap Rey. lalu bangkit dari duduk nya, kemudian mengusap lembut rambut Elin, setelah itu ia benar-benar berjalan menuju pintu untuk kemudian punggung nya menghilang di balik daun pintu kamar itu.


Elin masih tersedu di sana. wajah putih nya kini telah basah oleh air mata. ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjut nya jika Arga mengetahui tentang ini.


"Risa... aku harus gimana? hiks.. hiks.. hiks.. "


ujar nya sambil tersedu.


Risa yang tidak sampai hati melihat kondisi sahabat nya itu hanya bisa merangkul nya. ia pun bingung dengan keadaan ini.. ia juga tidak menemukan jalan keluar selain dari nenghadapi nya saja.


"Aku takut Arga akan membenci ku, Ris. " lirih Elin lagi.


"Elin... kamu nggak boleh berpikiran begitu. kamu harus ingat, Arga itu laki-laki yang sangat baik. ia tidak mungkin membenci mu. apa lagi dia juga tau, ini bukan kemauan mu." ujar Risa menenangkan.


Elin mencoba untuk meyakini kata-kata Risa. mencoba berpikir bahwa semua nya akan berjalan dengan baik, mencoba berdamai dengan kenyataan, dan juga mulai mencoba memikirkan hal baik meskipun itu sangat lah sulit.


Sementara malam semakin pekat membungkus kota, tidak ada yang tau apa yang akan mereka hadapi di balik hilang nya pekat ini, saat mereka membuka mata ketika surya kembali menyapa. Dan bukan kah itu bagian dari teka-teki yang selalu Tuhan persiapkan bagi yang bernyawa? ya,,, teka-teki itu lah yang kini juga menghampiri Elin, bukan menuntut nya mencari jawaban itu, melainkan menciptakan jawaban itu sendiri....


🍁🍁🍁🍁🍁


HAI READERS... TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA SAMPAI DI EPISODE INI, TIDAK BOSAN-BOSAN NYA AUTHOR MINTA AGAR KALIAN MENINGGALKAN KOMENTAR, LIKE, VOTE, DAN KALAU BISA HADIAH JUGA YA..

__ADS_1


KARENA ITU ADALAH VITAMIN BAGI AUTHOR UNTUK MEMBANGUN SEMANGAT MENULIS DAN MELANJUTKAN KISAH INI.


HAPPY READINGπŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2