
"penampilanmu tadi begitu memukau"
ujar Arga sambil menyendok pasta ke mulut nya.
"terimakasih Arga, aku juga mungkin tidak sePeDe itu tanpa dukungan mu"
"Tidak, kamu benar-benar pemain biola berbakat di kampus kita, Elin. aku sangat bangga. permainan mu beda dari yang lain, alunan biola itu rasa nya begitu masuk ke dalam dada siapa saja yang mendengar nya. "
Elin tersenyum tipis lalu meraih apple juice dan meminum nya pelan.
"Entahlah... bermain biola sudah seperti detak jantung bagiku, terlebih setelah kepergian Papa, rasa nya saat aku bermain biola, Papa sedang berada di sampingku, rindu ku pada papa rasa nya sedikit terobati saat memainkan nya"
"Apa beliau yang mengajarimu bermain biola? "
"ya, sekaligus inspirasiku dalam bermain biola. "
Arga mengangguk angguk mendengar penuturan Elin...
"kamu, dari kapan suka musik? " tanya Elin
Arga yang mendapat pertanyaan itu kini kembali tampak gugup...
"aku??? hmmm... dari SMA mungkin" jawab nya kemudian sekenanya.
Elin mengerutkan dahi...
"Mungkin? "
"iya,,,, mungkin. ada yang salah? " Arga berlagak polos.
"nggak... tapi kenapa harus mungkin... berarti kamu nggak yakin kamu suka menyukai nya. "
"ya... ya... pasti ...pasti dari SMA" jawab Arga gugup.
Elin tak bisa menahan tawa melihat tingkah Arga, ia tahu ada sesuatu yang Arga sembunyikan, tapi itu pasti sangat privasi bagi Arga, ia tak ingin mendesak Arga, dan membuat nya makin gugup lagi...
Semantara Arga, berusaha tersenyum meski jelas terlihat kikuk.
Temeram lampu kota di luar sana tampak jelas dari kafe ini, kendaraan masih sibuk berlalu lalang, pengunjung kafe pun keluar masuk silih berganti. lagu Asmara milik Setia band melantun merdu di telinga setiap pengunjung Kafe. Meski sound itu kurang cocok untuk mengiringi asmara antara dua muda-mudi itu, tapi cukup untuk menghanyutkan mereka sejenak dalam pikiran dan kegugupan yang disembunyikan masing-masing.
Makanan yang dipesan sudah habis sedari tadi, minuman juga tinggal alas di bawah permukaan gelas saja... arti nya, sudah cukup lama mereka duduk di kafe ini..apakah sekarang sudah waktu nya pulang? tapi rasa nya Arga masih belum puas menikmati waktu bersama Elin berdua seperti ini... biasa nya juga rusuh kalau ada Risa dan Echa.
'Arga... kenapa kamu kehabisan kata-kata begini sih.???arghhhh" Arga menggerutu dalam hati memaki diri sendiri.
'Lin...kamu mau ngomong apa lagi sama Arga... ayo, ' Elin pun membatin.
"Elin... besok aku jemput ya. kita... berangkat kuliah bareng"...
__ADS_1
yes!!! akhirnya ada bahan juga.
"emmm... aku mau. tapi... "
"tapi kenapa Lin? "
"kamu nunggu di pertinggaan jalan Cempaka aja... kita bareng dari sana aja"
ucap Elin yang kemudian menekukan wajah nya.
Arga merasa aneh, tapi ia tak begitu menggubris nya. mungkin saja Elin tak ingin jadi omongan para tetangga ,karna menurut info yang ia dapat dari Risa, di komplek tempat Elin tinggal begitu banyak "wartawan dadakan" yang tak bisa melewatkan satu berita pun. mungkin itu sebab nya..
Tak terasa malam semakin larut, kafe sepertinya sebentar lagi akan tutup, hanya beberapa orang pengunjung saja yang masih terlihat, itu pun tampak akan meninggalkan kafe juga. arti nya, sekarang Arga dan Elin bener-bener harus pulang.
"Elin, aku antar pulang ya"
"nggak usah Ga, aku naik Taxi aja" tolak Elin
"nggak Lin, kamu boleh nggak mau aku antar sebelum nya, tapi ini udah malam, aku khawatir kamu pulang sendiri naik Taxi. " ujar Arga sedikit memaksa penuh khawatir.
"Aku nggak apa-apa Ga... benar. aku pulang naik taxi aja. lagi pula belum terlalu larut kok" ujar Elin tetap menolak sambil melihat jam tangan nya.
"Elin... " sekarang Arga menatap manik mata Elin, ada kesungguhan dalam nada suara nya.
Dan akhir nya Elin benar-benar harus menurut sekarang. Arga mengusap rambut Elin. Dalam hati masih ada yang mengganjal, tapi entah lah. Mungkin memang Elin tidak biasa di antar jemput laki-laki, maka nya ia bersikap seperti itu. memurut Risa lagi, Elin memang tak perna punya pacar dari SMP, ia tau banyak tentang Elin, karna sudah bersahabat dari kecil dengan Elin.
setelah berhasil keluar dari parkiran, mobil sport berwarna merah itu lambat-lambat meninggalkan gedung Universitas dan memecah jalanan malam ibu kota yang tak pernah sepi itu.
"Kau senang hari ini? " Suara Arga mencairkan suasana hening dalam mobil itu.
"Emmm" Elin mengangguk.
"Terimakasih. " Ucap nya kemudian.
"Terimakasih untuk? "
"Cintamu". Menjawab singkat serta membuang pandangan ke luar kaca mobil. Menyembunyikan rona merah di pipi nya.
Arga meraih jemari tangan Elin dengan tanga. kiri nya. sementara mata nya terus awas memperhatikan jalanan di depan sana.
"Aku bahagia bisa mencintai dan dicintai kamu. jadi jangan berterimakasih. Cukup cintai saja aku sampai kita menikah, dan menua bersama. "
Elin menatap pria di sebelah nya itu dengan hati yang menghangat.
"Apa kita akan menikah? "
"Pertanyaan apa itu? Tentu saja kita akan menikah. kau gadis ku, dan aku telah yakin memilih mu. "
__ADS_1
"Secepat itu kau meyakini nya.?"
Arga menepikan mobil nya di bahu jalan. Ia menarik nafas dalam. Lalu manatap gadis di sebelah nya itu penuh kesungguhan.
"Aku tidak pernah main-main soal mencintai. Ketika aku mengatakan aku mencintai nya, itu arti nya aku telah yakin untuk memulai hubungan yang serius dengan nya."
Ucap Arga dengan bersungguh-sungguh.
Lalu ia meraih kembali jemari Elin, menggenggam nya, lalu mengecup nya.
"Sekarang aku ingin bertanya pada mu. " Ucap nya kemudian.
"Apa? " tanya Elin lembut.
"Apa kau meyakini kesungguhanku? "
Elin menghembuskan nafas nya dengan berat. Menunduk, lalu kembali menatap mata Arga.
"Kamu tentu sudah tau jawabanku. "
"Aku ingin mendengar nya darimu. "
"Aku telah melalui pergolakan yang panjang dengan hatiku sendiri sebelum memutuskan untuk memulai hubungan ini denganmu. Jadi kau tak perlu meragukan keyakinan ku padamu. " Ada getar dalam suara Elin.
"Arti nya? " Arga mengangkat alis nya.
"iya, aku yakin telah memilihmu. Dan aku yakin pada kesungguhanmu. "
Arga tersenyum puas dengan mata yang berbinar.
"Kau tak ingin mengatakan kau mencitaiku sekarang? "
"Apa itu perlu? "
" Menurutmu? "
"Baiklah. Arga, aku mencintaimu... sangat mencintai mu. "
"Aku juga mencintai mu, Elin. "
Kedua nya saling menatap dengan senyuman yang tak pernah luntur menghiasi bibir mereka dari tadi. Pancaran cinta dari bola mata kedua nya begitu nyata.
"Aku ingin mencium mu sekarang." Suara Arga sukses membuat mata Elin membola.
"Ini tempat umum, jika kau ingin ditangkap oleh mereka, kau boleh melakukan nya. " Ujar Elin mengulum senyum nya sambil melirik petugas patroli berdiri tidak jauh dari mereka.
"Aiiishhh. " Arga mengusap wajah nya. lalu terkekeh.
__ADS_1
Detik kemudian, Arga kembali menjalankan mobil nya ke badan jalan untuk melanjutkan perjalanan mengantar gadis nya itu pulang.