JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
KAU LUKA AKU JUGA


__ADS_3

Elin melempar kan tubuh nya ke atas ranjang. menelungkupkan wajah nya di sana dan menangis sejadi-jadi nya. seluet-seluet kenangan saat bersama Arga terus melintas di ruang mata nya.


"Elin.. jangan takut. aku akan terus bersamamu"


"Elin, kamu nggak sendiri. kita akan sama-sama mengehadapi ini. "


"Aku sangat menyayangi mu. percayalah. "


"Berjanjilah kita akan selalu bersama apapun yang terjadi. "


Suara Arga bergema di telingan Elin, ucapan-ucapan Arga saat meyakinkan nya, ucapan Arga saat menenangkan nya saat ia sedih. semua itu bagai berdengung mengelilingi kepala Elin.


Elin makin terisak. Malam itu terasa berjalan begitu lambat bagi nya. suara mama nya yang memanggil nama nya sambil mengetuk pintu dari luar tidak ia hiraukan.


Gadis itu tak pernah membayangkan kisah cinta yang baru ia mulai akan terasa menyakitkan seperti ini. bahkan ini harus ia rasakan ketika ia mulai mencintai orang lain dalam hidup nya. Arga cinta pertama nya, bersama laki-laki itu ia menemukan arti lain dibalik kehidupan, bersama laki-laki itu juga ia mulai berani menatap dunia di luar sana semenjak kematian ayah nya. Elin sama sekali tidak pernah siap untuk merasakan perih ini, bahkan tragis nya ia terpaksa harus melepaskan cinta nya di saat ia baru saja akan memulai.


"Arga... maafkan aku. jika saja aku punya daya untuk menolak ini, tentu sudah aku lakukan tanpa kau minta. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain, Aku hanya punya mama, Ga. aku tidak ingin kehilangan mama seperti aku kehilangan papa dulu...." rintih Elin sambil menggenggam ujung bantal yang telah basah oleh air mata nya.


šŸšŸšŸ


"Arga, kamu dari mana saja nak? " Tanya mama Arga ketika Arga masuk ke dalam ruang rawat inap nya. wajah nya benar-benar kusut, selama di perjalanan tadi ia terus saja bergumam dan menangisi Elin. Adit sampai tak tega melihat kondisi Arga yang memprihatinkan itu. karna ingin bertemu dan memastikan Elin baik-baik saja, ia memaksakan diri untuk melihat sendiri keadaan kekasih nya itu tanpa menghiraukan kondisi nya yang masih lemah.


Arga terjerambab tepat satu langkah setelah memasuki pintu ruang rawat inap itu. Ia sudah tak kuat menopang tubuh nya, kaki nya seakan melemah, seolah tenaga yang ia paksakan untuk bertemu Elin tadi telah sirna.


"Arga!!! " Teriak Mama, papa Arga, dan Adit Melihat Arga yang jatuh dan tersungkur di lantai. ketiga orang yang menyayangi arga itu berhamburan untuk menyambut tubuh Arga.


"Adit, apa yang terjadi? kenapa Arga sampai begini? " Teriak Papa Arga panik sambil membopong tubuh anak nya itu ke brangkar.


"Dokter... suster.. tolong" Jerit mama Arga memanggil siapa saja dokter yang bisa mendengar suara nya. Lalu datang lah seorang Dokter bersama suster yang kebetulan lewat di depan kamar itu, lalu Dokterpun memeriksa kondisi Arga.

__ADS_1


Mama Arga menyandarkan kepala nya pada suami nya. ia terus menangis sambil menatap ke arah Arga yang terbaring lemah tengah diperiksa dokter di brangkar itu.


Adit tampak mengusap wajah nya beberapa kali sambil terus menatap Arga khawatir.


"Bagai mana keadaan anak saya, Dok? " Tanya papa Arga mendekat ketika tampak Dokter tersebut sudah selesai memeriksa putra nya.


"jangan khawatir, pak. Bu. Ia hanya kelelahan. seharus nya ia tidak boleh banyak gerak dulu, dan harus istirahat total, serta jauhkan dia dari hal yang bisa membuat nya tertekan." Ujar Dokter tersebut menerangkan.


Mama dan papa Arga menarik nafas lega, begitu juga dengan Adit. lalu dokter itu pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan itu.


Kedua orang tua itu mendekati sisi brangkar Arga, Mama Arga mengusap lembut rambut anak nya dengan tatapan iba.


"Kalian habis dari mana? kenapa Arga bisa seperti ini? " Ucap mama Arga lirih bertanya pada Adit tanpa menoleh.


"m.. maafkan aku tante, Om. Tadi Arga terus memaksaku untuk mengantarnya bertemu Elin. maafkan aku tante, seharus nya aku bisa menolak permintaan Arga, tapi aku malah menuruti keinginan nya." Sesal Adit


"Ya Tuhan... " lirih mama Arga


"perempuan yang sering diceritakan Arga, Pa."


jawab wanita paruh baya itu.


Memang benar, Arga selalu menceritakan perihal Elin lewat telfon pada mama nya ketika mama nya di luar negeri. setiap kali Arga menelfon atau ditelfon mama nya itu, Arga tak akan melewatkan nya tanpa menceritakan tentang betapa cantik nya Elin, betapa lembut nya gadis itu, tentang Elin yang berbakat memainkan alat musik biola, dan semua itu tak luput dari kekaguman dan cinta nya pada gadis itu.


Mama Arga menatap lelah yang tergurat dari wajah Arga yang kini tengah tertidur itu. ia tak tau apa yang terjadi antara Arga dengan gadis itu, tapi sebagai seorang ibu yang telah membesarkan Arga dari bayi, meskipun ia bukan ibu kandung nya, jelas saja ia tau bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja yang menimpa anak nya itu.


šŸšŸšŸ


Sementara lain hal nya dengan pemuda yang kini sedang telentang di atas ranjang dan menatap nanar langit-langit kamar.

__ADS_1


nafas nya tampak teratur naik turun, akan tetapi ia tetap saja manusia yang masih punya empati dan emosi.


Ia kembali mengabsen setiap detail kejadian hari ini yang membuat nya cukup lelah. "Apa aku sudah jadi pribadi yang egois sekarang?" Rey bergumam pada diri nya sendiri. Lalu kemudian ia juga menampik pertanyaan nya itu.


"Tidak, aku bahkan ingin membantu nya.berarti aku tidak egois. aaahhh. ini semua gara-gara Om Bimo! " gusar nya sambil mengangkat tubuh nya dengan kasar dan hingga posisi nya kini berganti duduk.


Bersamaan dengan itu ponsel nya berdering. ia merogoh saku jeans nya, kemudian mengeluarkan ponsel nya dari sana.


"Iya, Rama. ada apa? " ujar nya ketika telah mengangkat ponsel tersebut ke samping telinganya.


"Bagai mana kabar mu Rey? kapan kau akan kembali ke sini. apa kau sengaja membuatku tak bisa menghabiskan masa lajangku dengan baik, hingga kau biarkan aku dengan begitu banyak pekerjaan di sini.? " Ujar Rama yang tak lain adalah asisten serta sahabat Rey.


"Apa kamu mulai bosan membantuku? " goda Rey.


"Bukan begitu, Rey. pacarku Oliv entah sudah berapa kali ngambek nih. karna hampir setiap weekend aku tak pernah mengajak nya jalan-jalan dengan alasan sibuk terus " protes Rama.


"Baiklah... baik lah. Setelah selesai semua urusanku di sini, aku akan segera kembali. setelah itu kau boleh menikmati weekend mu dengan santai bersama gadis bulemu itu. " Balas Rey sambil terkekeh.


"Memang nya masih belum selesai juga? " tanya Rama dari sebrang telfon.


"Paling dua minggu lagi aku akan kembali, tentu nya setelah aku menikmati malam pertamaku di sini. " Kelakar Rey yang membuat nyengir Rama di ujung telfon.


"Bagus kalau begitu. apa kau akab sekalian mengajak istrimu ke sini?"


" Sepertinya belum, ia masih harus menyelesaikan semester akhir kuliah nya di sini. baru lah setelah itu, jika ia mau dan bersedia aku akan membawa nya tinggal di Paris. " terang Rey.


"Ya harus mau lah. masa udah nikah nggak mau diajak tinggal serumah. rugi. " seru Rama lagi dengan kelakar nya. Rey hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


Tentu saja ia mengatakan begitu, karna ia tau Elin tidak dari hati menikah dengan nya. Elin hanya terpaksa oleh keadaan nya. dan itu tidak ia sampaikan pada Rama. ia hanya berucap dan menekan itu di hati nya sendiri. Dan akhir nya beberapa saat setelah ngobrol ngalor ngidul, Rey mengakhiri panggilan nya. lalu ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya sebelum ia beranjak tidur....

__ADS_1


šŸšŸšŸšŸšŸ


Tekan like, komen dan vote nya ya buat semangatin author. terimakasih :-)


__ADS_2