
Elin terbangun dari tidur nya, berusaha mengumpulkan kesadaran, mengerjapkan netra nya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya di kamar itu, entah pukul berapa listrik kembali menyala, ia benar-benar tidak tau.
Elin merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang nya, lalu yang satu nya lagi tepat berada di bawah kepala nya, ya... ia menjadikan tangan kekar itu sebagai bantal, lalu Elin menoleh kebelakang dan...
"Aaaa!! " Elin sempurna terkejut saat melihat Rey tidur di samping nya, Ia refleks menjauh. menatap wajah tampan yang masih tampak tertidur pulas itu.
Elin langsung teringat sesuatu, pelan-pelan ia membuka selimut nya, melihat kedalam, dan...
"Hufff...."
Elin menghembuskan nafas lega nya karna melihat pakaian yang ia pakai sebelum tidur tadi malam masih utuh melekat di badan nya.
Elin menoleh lagi pada Rey di samping nya.
"Padahal aku berharap ini semua hanya mimpi, tapi lihat lah, dia benar-benar menjadi suami ku sekarang, dan tiap pagi aku harus terbiasa dengan wajah ini di sampingku."
Elin bergumam sambil terus memperhatikan wajah Rey.
Lalu ia menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, membenamkan wajah itu untuk beberapa saat, lalu mengusap nya.
Kemudian terdengar lagi ia menghembuskan nafas dengan kasar.
Elin turun dari ranjang, lalu berjalan ke arah nakas tepat di samping Rey. Elin melirik jam weker di atas nya, masih menunjukan pukul 06.00. WIB.
Elin berjalan menuju lemari besar yang ada di kamar itu, membuka nya, lalu tampak mengambil handuk dan beberapa pakaian dari dalam lemari itu, kemudian ia berjalan ke kamar mandi.
Rey membuka mata nya setelah terdengar bunyi pintu kamar mandi di tutup oleh Elin. Ia sebenar nya sudah terbangun sejak Elin berteriak tadi, namun ia memilih untuk berpura-pura tidur dan tidak mendengar nya. Ia memperhatikan gerak-gerik Elin dari mata yang sedikit ia buka untuk mengintip.
Drrrt...
Drrrrt...
Drrrrt...
Getaran ponsel di atas nakas memaksa Rey untuk menyingkap selimut nya, ia bangun dan segera meraih ponsel yang rupanya berada di ujung nakas, hampir saja ponsel itu jatuh kalau ia tak segera menangkap nya.
Rey menatap layar ponsel itu beberapa detik sebelum ia menjawab nya.
"Yang benar saja, pagi-pagi buta orang tua ini sudah menelfonku," dengus Rey ketika melihat nama pemanggil yang tertera di layar telfon genggam nya.
"Halo Om... " Mengangkat telfon genggam itu ke samping telinga nya.
"Selamat pagi keponakanku, apa malam pertamamu menyenangkan?. " Ucap suara berat di seberang telfon sedikit terkekeh.
"Apa Om menelfonku sepagi ini hanya untuk menanyakan itu? " Kesal Rey.
"Hahaha,"
Suara tawa lepas dari pak Bimo membuat Rey sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinga nya.
"Silahkan nikmati masa pengantin barumu keponakanku, tapi ingat... kau jangan sampai terlena oleh gadis itu. Ingat tujuan awal kita. " Ucap pak Bimo dengan peringatan nya.
"Om tenang saja, aku tidak akan lupa," jawab Rey sedikit menekan suara nya.
"Apa rencana Om selanjut nya? " tanya Rey kemudian.
__ADS_1
"Hahaha"
lagi-lagi tua licik ini ...
apa dia sengaja membuat telingaku sakit?
Rey sejenak kembali menjauhkan ponsel itu dari telinga nya.
"Nanti kau akan tau sendiri, sekarang nikmati saja apa yang ada di dekatmu, bukankah ia sangat menggoda?" sambung pak Bimo, Rey mendengus.
"Baik lah Om, kalau begitu aku tunggu rencana berikut nya." Memutar mata malas.
"Ingat pesanku, jangan sampai kau jatuh cinta pada nya. Itu akan menyulitkan ku. " Tegas pak Bimo di sebrang sana, lalu memutuskan sambungan telpon nya tanpa permisi.
"Apa-apaan... tua bangka ini seenak nya saja mengaturku! memang nya aku budakmu?! " ujar Rey setengah berteriak pada ponsel nya.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Rey lantas menoleh. Elin menatap nya sebentar, lalu membuang pandangan nya. Ia masih merasa malu atas kejadian tadi malam, Elin masih ingat dengan jelas Rey mendekap nya , dan ia sampai tertidur di pelukan pria itu.
"Elin..."
Elin yang telah duduk di meja rias, menoleh.
"Hmmm," menjawab tanpa menoleh.
"Apa kau akan tetap ke kampus hari ini? "
"Iya, aku perlu menemui dosen pembimbingku"
Elin dapat melihat dari cermin bahwa saat ini wajah Rey sedikit tertunduk.
"Kenapa? " tanya Elin kemudian.
"Bukan apa-apa. Baik lah, aku akan bersih-bersih dulu, kau tunggu lah di meja makan, setelah sarapan aku akan mengantarmu, "
jawab Rey setelah menghembuskan nafas nya, lalu ia turun dari ranjang.
Elin terdiam sejenak, lalu...
"Tidak bisakah aku pergi sendiri saja? " Elin mencoba bernegosiasi.
"Tidak. " Rey menjawab singkat sebelum ia melangkahkan kaki nya ke kamar mandi, lalu setelah itu barulah ia masuk, dan menutup pintu nya.
"Huffff.... baiklah tuan Rey, aku sudah menduga jawabanmu akan begitu," gumam Elin sambil memajukan bibir nya.
ššš
Setelah menyantap makanan yang di sediakan pelayan di meja makan, Rey mengantar Elin ke kampus nya.
45 menit habis di perjalanan...
Kini mobil itu sudah berada tepat di depan gerbang kampus Elin.
"Hati-hati ya, " ucap Rey saat Elin akan melepas seetbelt nya.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Elin dengan senyum tipis nya
"Elin... " Ucap Rey tiba-tiba saat Elin telah membuka pintu mobil, dan akan melangkah keluar.
Elin pun menoleh.
"Iya? "
Rey mengulurkan tangan kanan nya, Elin mengerut kan kening dengan tatapan tanya.
"Cium tangan." Ucap nya masih mengulurkan tangan nya.
"Kamu kenapa? " tanya Elin tak mengerti
"Memang nya kenapa? aku kan suami mu." jawab Rey sedikit berlagak angkuh.
"Dasar! " decak Elin kesal sambil meraih kasar tangan Rey ke kening nya,
Rey terkekeh.
"Apa aku boleh turun sekarang tuan Rey?" ucap Elin dengan menahan geram nya.
"Baik lah istriku, semoga harimu menyenangkan," ujar Rey dengan nada suara sedikit ia naikan.
Elin hanya melotot heran melihat tingkah Rey seperti itu, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia pun turun dari mobil.
Elin tidak tau bahwa ada seseorang yang memperhatikan mereka saat mobil memasuki gerbang tadi, dan orang itu berdiri menatap dari jarak yang tidak begitu jauh, sehingga di pastikan ia dapat mendengar serta melihat Elin dan Rey.
Rey mengetahui nya, maka dari itu ia sengaja memanas-manasi orang itu dengan bersikap harmonis layak nya suami istri. Dan apa kalian tau siapa dia? yap betul, orang itu adalah Arga.
Rey memperhatikan Arga sejenak setelah Elin turun dari mobil lalu berjalan masuk semakin dalam ke area gedung fakultas nya.
Setelah itu Rey menutup kaca mobil nya, lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Arga tak bisa menahan keinginan nya untuk menghampiri Elin, ia setengah berlari nenyusul gadis itu.
"Elin...! " setengah berteriak karna jarak nya dan Elin masih sedikit jauh.
Elin menoleh, ia melihat Arga berjalan di belakang nya. Elin berbalik badan, lalu mempercepat langkah nya, ia tak ingin berbicara dengan Arga saat ini, pikir nya ia telah menghancurkan perasaan Arga, ia tidak ingin Arga bertambah luka bila melihat nya lagi.
"Elin, tunggu aku" Ujar Arga yang kini telah berada tepat di belakang Elin.
Elin terus berjalan, dan berusaha untuk tidak memperdulikan Arga.
"Elin! " Kali ini Arga berhasil meraih tangan Elin, dan itu sukses membuat Elin berbalik.
"Lepaskan aku, Ga!" bentak Elin, namun suara nya bergetar, ia tak bisa membendung air mata nya.....
ššššš
Hai readers, jangan lupa dukung author ya, kasih like, komen, vote, hadiah, rate 5. sebanyak banyak nya.
terimakasih...
happy reading.
__ADS_1