JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
VILLA 2


__ADS_3

Dua insan yang baru beberapa hari menikah itu masih menikmati santapan siang mereka di meja makan. Beberapa saat hanya denting sendok dan garpu yang mengudara di sana, kedua nya larut dalam pikiran masing-masing.


"Eum... bagaimana selanjut nya? " Elin mendahului membuka suara ketika ia selesai dengan makanan nya.


"Soal apa? " Rey bertanya untuk kemudian menyapu bibir nya dengan selembar tisu.


"Apa laki-laki itu sudah menginformasikan rencana nya padamu? "


"Oh itu," Rey tampak baru mengerti arah pertanyaan Elin.


"Yah, Om Bimo telah menelfonku. Mungkin untu sementara aku akan masuk ke perusahaan milik Papamu setelah aku menyelesaikan sedikit urusan di Paris. "


"Maksudmu? " Elin menyipitkan netra nya, tampak sedang menelaah keterangan Rey.


"Om Bimo tidak akan bisa menguasai perusahaan itu tanpa ada nya keterlibatanmu sebagai ahli waris. Sesuai surat wasiat papamu yang menyatakan bahwa perusahaan itu akan di serahkan padamu jika kau telah menikah, maka dari itu Om Bimo mengajakku masuk ke perusahaan itu untuk diam-diam mengambil alih nama nya atas nama ku, tentu saja ia meminta aku membujuk mu untuk itu. " Rey mencoba menjelaskan.


"Aku masih belum mengerti, " Elin menggeleng kan kepala nya, ini benar-benar sulit untuk ditelaah.


Rey menarik nafas dalam, lalu mencondongkan tubuh nya ke atas meja, serta kedua tangan nya saling ia rapatkan di sana, kemudian menatap lekat pada wajah Elin.


"Dalam kata lain, Om Bimo juga ingin memanfaatkan ku. Setelah kau mengizinkan perusahaan itu beralih ke tanganku, maka ia meminta aku segera mengalihkan perusahaan tersebut pada nya. Tapi tenang saja, masalah perusahaan, tidak perlu kamu khawatirkan. Kau bisa percaya padaku, aku sudah punya rencana lain untuk membuat semua nya kembali membaik, lalu Om Bimo akan mendapat ganjaran atas niat buruk nya."


Elin menarik nafas, baik lah... mungkin mamang semesti nya ia tak usah memikirkan soal perusahaan itu sekarang. Rey akan mengurus semua nya.


"Terimakasih sebelum nya. " Akhir nya hanya itu yang keluar dari bibir Elin, tampak senyum kecil terukir di bibir manis itu.


"Berterimakasih setelah semua nya benar-benar membaik, aku pastikan aku akan melindungi mu dari bahaya apapun itu. " Ucap Rey dengan senyum tak kalah menawan.


"Aku akan mencuci ini. " Ucap Elin segera bangkit dari duduk nya, lalu meraih piring-piring kotor dari meja itu. Entah lah, ia tampak menghindari berlama-lama menatap pria di hadapan nya itu. Rey seperti tak ingin jauh-jauh dari istri nya itu, ia tetap menemani Elin mencuci piring dan gelas kotor, meskipun ia tak ikut membantu, tapi ia masih setia berdiri menyandarkan punggung nya di pintu dapur, dengan melipat tangan di dada bidang nya.


"Apa kau tak punya kesibukan lain selain memandangi ku di situ? " tanya Elin tanpa menoleh sambil mengeringkan piring yang telah ia cuci.


Rey terkekeh, lalu melepas lipatan tangan nya, kemudian ia berjalan ke arah Elin.

__ADS_1


"Kesibukan apa? bukan kah sekarang kita sedang liburan? atau anggap saja ini honey moon kita. Jadi lupakan tentang kesibukan." Ucap nya sambil mengambil lap dari tangan Elin, lalu menggantikan nya mengeringkan piring.


"Honey moon? " Sekarang Elin yang gantian terkekeh.


"Ya"


"Setau ku, orang yang baru menikah akan pergi honey moon ke tempat-tempat special seperti Paris, Jepang, atau kemanapun itu, tapi ini.... " Elin berbicara di sela tawa nya, ia tak sadar saat ini Rey tengah memperhatikan tawa renyah itu.


"Apa itu tempat impianmu?" Rey membuat Elin sadar akan apa yang baru saja keluar dari bibir nya. Gadis itu kini tampak salah tingkah, lalu tanpa permisi ia berlalu dari tempat itu.


"Elin... " Panggil Rey sambil menyusul langkah Elin yang bergegas menuju taman di samping villa.


Elin tampak duduk di sebuah bangku panjang, menatap bunga serta sepasang kupu-kupu yang berterbangan di atas nya.


Rey berjalan santai mendekati Elin.


"Ehem... seperti nya Paris memang cocok untuk honey moon. Baik lah, aku akan mengatur nya, jika kau mau, aku akan..."


Elin tiba-tiba memotong pembicaraan Rey, kali ini wajah nya tampak benar-benar tidak secerah saat berada di dapur tadi.


Rey mengerutkan dahi nya, ia juga mengerti Elin pasti punya impian dalam hidup nya, mungkin honey moon ke tempat-tempat itu adalah sebagian nya, tapi bukan bersama nya, melainkan dengan laki-laki yang memang di cintai gadis itu.


"Baiklah, lupakan tentang honey moon." Ucap Rey akhir nya setelah menarik nafas panjang.


Drrrrt....


Drrrrt...


Drrrrt...


Ketika Rey akan melangkahkan kaki nya lebih dekat, ponsel yang ada dalam saku celana nya bergetar gegas ia mengeluarkan ponsel tersebut, lalu sekilas membaca nama yang tertera.


Rey mengerutkan kening nya, seperti menduga sesuatu.

__ADS_1


"Hallo" Rey akhir nya menjawab panggilan itu.


"Hallo Rey, kamu ke mana saja? aku mencarimu ke kantor, Rama bilang kamu sedang ada misi penting, misi apa? "


Suara seseorang di sebrang sana dengan segala pertanyaan nya.


"Bukan apa-apa, Ra. Aku sekarang masih ada di Indonesia, mungkin beberapa hari lagi akan kembali ke Paris. " jawab Rey santai, sambil melirik Elin yang kelihatan nya tetap tenang di sana tanpa menghiraukan nya.


"Indonsesia? kenapa tidak mengabariku kamu akan ke Indonesia? kalau tau begitu aku akan ikut dengan mu, aku sudah lama sekali tidak pulang ke tanah air. "


"Eum... Laura, aku sedang sibuk sekarang, aku tutup dulu telfon nya. " Tanpa menunggu persetujuan, Rey langsung mengakhiri pembicaraan dengan seseorang bernama Laura itu. Kemudian ia tampak mengaktifkan mode silent di ponsel nya.


Sementara Elin memilih untuk pura-pura tidak perduli dengan siapa Rey berbicara di telfon itu,tampak datar, dan pandangan nya masih menikmati indah nya taman itu.


"Bisakah kita pulang sore ini? " Tiba-tiba tanpa menoleh Elin melontarkan pertanyaan itu.


"Kenapa buru-buru sekali? " Rey balik bertanya sambil mengambil tempat duduk di sisi Elin, dan itu membuat Elin sedikit menggeser posisi duduk nya.


"Aku harus ke kampus besok, kamu tidak lupa kan tentang penyambutan mahasiswa baru? "


"Oh, iya. Aku ingat. Tapi apa acara nya besok? "


"Yah, lebih tepat nya dipercepat beberapa hari. "


"Eumm... baik lah, sore ini kita pulang. " Ucap Rey sedikit tampak lesu.


"Terima kasih" Jawab Elin, lalu ia beranjak dari duduk nya. Kemudian ia berjalan kembali ke dalam rumah meninggalkan Rey sendiri di bangku taman itu.


Beberapa saat Rey memperhatikan punggung Elin sampai menghilang masuk ke dalam rumah. Ia tampak memghembuskan nafas, lalu mengusap wajah nya denga telapak tangan kanan nya.


"Elin... aku tau kau masih memikirkan laki-laki itu. Tapi sekali lagi aku mengucap maaf padamu, aku telah jatuh cinta pada mu, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku, apa lagi kembali pada nya..." Lirih Rey pada diri nya sendiri, kemudian pandangan nya kini jauh pada pucuk pinus di ujung sana, menikmati angin yang bertiup lembut di siang yang tidak terlalu terik itu...


šŸšŸšŸšŸšŸ

__ADS_1


__ADS_2