
Rey berjalan tergesa menuju ruang rawat inap tempat mama Elin di rawat. Rey mengetahui kabar itu dari mama nya yang dikabarkan langsung oleh pak Bimo.
Setelah melewati beberapa koridor, ia melihat sosok gadis dengan sweater berwarna maroon sedang duduk di depan sana. Rey dapat melihat dari jarak 15 meter bahwa gadis itu adalah Elin.
Rey tanpa pikir panjang langsung bergegas menghampiri Elin. Saat mendekat, Elin mengangkat wajah nya pada sosok pria yang berdiri tepat di hadapan nya.
Elin mengusap sisa air mata nya, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Sabar..." ujar Rey yang tidak dijawab oleh Elin selain air mata nya saja yang terus mengalir.
Rey dengan ragu mengulurkan tangan kanan nya ke pundak Elin, lalu menepuk nya perlahan.
"Ayo antar aku ke dalam. " tambah Rey
Namun sejurus Elin menggeleng. Rey menatap tak mengerti.
"Mama sakit karna aku, Rey. Aku tidak ingin mama kenapa-kenapa jika aku masuk ke dalam. Mama pasti sangat kecewa padaku. " ujar Elin terisak.
"Ah. itu tidak benar. ayo masuk" Ujar Rey membujuk.
Kemudian dengan ragu, akhir nya ia pun masuk ke dalam ruangan itu. Pak Bimo sedang mengupaskan buah jeruk yang akan ia berikan pada istri nya. Ketika ia menyadari Rey dan juga Elin telah berada di sana, wajah nya seketika berubah dingin, namun ia masih menyembunyikan nya meskipun usaha itu tidak terlalu bisa dikatakan berhasil.
Bu Anita, mama nya Elin masih berusaha tersenyum pada anak gadis nya itu. Jelas sekali ia tak ingin membuat anak nya merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Aku minta maaf ma. " lirih Elin ketika mendekap jari mama nya setelah duduk di sebuah bangku di samping brangkar.
"Kamu tidak perlu minta maaf, mama mengerti situasi mu. Dan sekarang mama sudah menyerahkan semua nya padamu. mama tidak akan memaksa mu, Elin. " jawab Bu Anita dengan suara pelan.
Mendengar penuturan itu, wajah pak Bimo semakin kesal. Ia melempar pandangan pada Rey yang berada di samping nya. Rey paham apa yang sedang dipikirkan Om nya itu. Lalu ia mengangguk mengisyaratkan supaya pak Bimo bersikap tenang saja.
"Tidak ma, aku sudah memikirkan nya. Aku akan menerima lamaran itu, dan menikah dengan Rey. " Ucap Elin yang diiringi air mata nya.
"Elin... apa kamu serius, nak??? " Tanya mama nya untuk memastikan.
__ADS_1
Elin mengangguk, lalu memeluk tubuh mama nya yang terbaring di brangkar itu.
Wajah bu Anita tampak berseri, seakan lepas dari sebuah belenggu yang mengikat pikiran nya. Pak Bimo menarik nafas lega serta puas. ia merasa sebuah kemenangan telah berada di tangan nya.
Sedangkan Rey yang mendengar itu secara langsung dari mulut Elin, tersenyum bahagia. Akhir nya ia akan menikahi Elin, gadis yang tidak sengaja telah ia cintai. Dari niat hanya ingin membantu dan membalas budi, tapi siapa yang menyangka ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu sekarang?
Sementara Echa, Adit, Dan Risa yang baru saja membuka pintu dan berniat masuk ke ruangan itu, hanya saling bertatap satu sama lain.
Adit yang kebetulan tidak tau pangkal cerita nya adalah yang paling tidak mengerti kenapa Elin sampai membicarakan soal lamaran? dan itu dengan Rey, bukan Arga. Ada apa?
Namun alih-alih menjelaskan, Risa melangkah masuk ke dalam ruangan itu, dan di ikuti oleh Echa, tentu nya Adit menyusul meskipun masih dalam pikiran nya penuh tanda tanya dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Elin.
"Terimakasih sudah menjenguk tante ke sini... " Ujar Mama Elin pada sahabat-sahabat dari anak nya.
"Sama-sama tante." jawab Risa dan Echa dengan senyum nya. Risa baru saja meletakan buah di atas nakas, lalu ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Elin.
"Ma, aku keluar sebentar ya. " pamit Elin
Bu Anita mengangguk memberi izin.
Rey hanya melirik sepintas, lalu kembali bercengkrama dengan Pak Bimo dan Bu Anita.
Elin dan teman-teman nya berjalan menuju taman rumah sakit tersebut. Ketika sampai di taman, mereka duduk di sebuah bangku panjang, sementara Adit satu-satu nya laki-laki di antara mereka memelih duduk di bangku lain nya, namun masih berdampingan dengan para gadis itu.
"Elin, apa kau baik-baik saja? " Ujar Risa sambil menepuk-nepuk pelan pundak Elin.
Elin menghela panjang, berusaha untuk terlihat baik-baik saja, lalu memasang senyuman semanis mungkin pada teman-teman nya itu.
"Yah... aku baik-baik saja, dan kalian tau aku telah menghianati nya." jawab Elin berat dan tersenyum simpul seolah mengisyaratkan ia sedang menertawakan diri nya sendiri.
Risa menundukan kepala, ia mengerti dengan sangat apa yang dirasakan oleh Elin saat ini.
"Elin, tadi kami sempat mendengar soal lamaran, kau menerima nya. " Ujar Adit berhati-hati.
__ADS_1
Elin mengerti bahwa Adit tidak paham perihal rencana orang tua nya, pasti ingin mendengar penjelasan dari nya. Dan pasti juga Arga belum sempat menceritakan persoalan ini pada nya.
Elin menoleh pada Risa dan Echa, kedua nya tak bisa memberi respon apa-apa selain dari tersenyum kecut saja, lalu menganggukan kepala mengisyaratkan Elin untuk menjelaskan semua nya ke Adit. Karena walau bagaimana pun juga, Adit adalah sahabat Arga, dan sudah pasti Adit berhak tau soal ini agar laki-laki beralis tebal itu tidak salah memahami nya.
Namun Elin tidak bisa, tenaga nya seolah terkuras habis setelah semua ini menimpa nya. Ia menatap Adit yang masih menunggu apa yang akan dijelaskan Elin.
"Elin dipaksa menikah dengan laki-laki yang tadi di dalam sana, Dit. Nama nya Rey. " Pungkas Echa yang memang lebih cenderung tidak suka berbasa-basi di antara mereka.
Mendengar itu Adit tampak sedikit tak percaya.
"La... lalu bagai mana dengan Arga? " tanya Adit sedikit terbata.
"Kita semua tau, ini pasti pilihan yang sulit. tapi jika di tanya balik jika Elin tetap bersama Arga, bagaimana dengan mama nya? " Ujar Risa, dann itu jelas menuntut Adit mempertimbangkan kebaikan di antara pilihan yang tidak seharus nya ada itu.
Adit terdiam. menghela nafas panjang dan menghembuskan nya.
"Elin, kamu harus kuat. Semoga pilihan ini adalah yang paling baik. " Ujar nya kemudian.
Elin hanya terdiam. Ia begitu lelah dan ingin melupakan ini, tapi apa yang bisa ia perbuat selain menerima semua nya jika itu yang akan menyelamatkan orang tua nya.
"Elin, jangan khawatir. Kami akan selalu ada di belakang mu." Tukas Risa memberi semangat.
"iya, Lin. Jangan pikirkan yang macam-macam. soal Arga, aku yakin jika suatu hari ia bangun dari koma, ia pasti mengerti. Bukan kah kita tau Arga adalah laki-laki baik? " tambah Echa yang entah mengapa mendadak bijak.
"Aku sangat berharap begitu. terimakasih, karna kalian sudah jadi sahabat ku. " Ucap Elin sambil menengadahkan air mata yang menggenang.
Para gadis itu pun berpelukan, sementara Adit hanya menatap dengan senyum dan berharap semua nya memang akan baik-baik saja.
πππ
**HAI SEMUA NYA, TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR, LIKE DAN VOTE NYA YA. AGA AUTHOT LEBIH BERSEMANGAT LAGI UNTUK UP CERITA NYA.
LOVE YOU ALL
__ADS_1
HAPPY READINGπππ**