JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
BIMBANG


__ADS_3

Di rumah sakit...


"Arga...Mama senang sekali kamu udah sadar, nak... " Ujar Mama Arga yang duduk di samping brangkar Arga sambil menangis haru.


Arga hanya menjawab Mama nya dengan tersenyum. kondisi nya masih lemah. Dan setelah di periksa oleh dokter tadi, ia telah dipindahkan ke ruang rawat inap ini.


Arga menatap ke seluruh ruangan. tidak ada siapapun di sana kecuali mama nya dan juga Adit sahabat nya. Arga menautkan kening, sejenak ia berpikir bahwa ada sosok yang harus nya hadir di sana, namun ia tak menemukan sosok itu.


"Arga, kamu pasti nyari Papa ya? Papa masih di Jepang sayang. tapi tadi mama sudah mengabari nya. mungkin besok papa akan terbang ke indonesia." Ujar Mama Arga yang dari tadi memperhatikan wajah Arga yang seperti sedang mencari seseorang itu.


"Ga, kamu baru saja melewati masa sulitmu, sekarang lebih baik kamu istirahat aja dulu. kondisi kamu masih belum stabil. " Nasehat Adit yang berdiri tepat di samping brangkar itu.


"Dit... Elin? " Akhir nya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Arga.


Adit mengusap rambut nya. akhir nya pertanyaan itu...pertanyaan yang Adit harap tidak terlontar saat ini, baru saja menggema di ruang rawat VIP itu. Tapi bagai mana mungkin hal itu tidak akan keluar dari mulut Arga? Elin adalah orang yang berarti dalam hidup nya, tentu saja setelah sekian lama terbaring di rumah sakit itu, membuat Arga ingin sekali menatap wajah gadis itu.


Bagai mana Adit akan menjawab nya? sedangkan baru saja ia menerima kabar dari Risa bahwa malam ini Elin telah resmi bertunangan dengan orang lain. apa yang harus dikatakan nya pada Arga?


Arga masih menatap lekat wajah sahabat nya itu. ia masih menunggu jawaban.


Namun mama Arga yang seolah mengerti ada sesuatu yang sedang Adit sembunyikan tentang Elin, mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Arga.


"Arga, Adit mungkin belum mengabari Elin. ini sudah larut malam, Elin mungkin saja sudah tidur. Biarkan besok Adit mengabari nya." Ujar Mama Arga memberi alasan.


Ah.. Adit merasa terselematkan. ia menghembuskan nafas lega. setidak nya untuk saat ini ia tidak perlu menjawab pertanyaan itu. tapi mungkin kah besok Elin akan benar datang untuk menemui Arga? 'Elin...setidak nya kamu jangan membiarkan aku menjelaskan ini sendiri pada Arga. ' batin Adit dengan tersenyum kikuk pada Arga yang menatap nya curiga.

__ADS_1


"Selama aku koma, apakah Elin sering datang ke sini? " Tanya Arga


"Ya tentu saja. ya kan tante? " Jawab Adit sambil tersenyum pada mama Arga.


"Iya, Mama juga rasa nya sudah dekat sekali dengan gadis itu. Elin memang gadis yang baik. Cocok sekali dengan mu. mama setuju kamu segera menikahi nya setelah lulus kuliah nanti." Ujar mama Arga dengan senyum yang tidak lepas dari bibir nya.


Mendengar itu, Arga mengulas senyum di bibir nya. dalam hati ia tidak sabar menunggu hari esok. menunggu Elin datang menjenguk nya. ia sangat merindukan wajah teduh itu, ia merindukan senyum gadis itu, juga merindukan saat-saat bersama Elin.


Wajah Arga terlihat berseri meski sejati nya tubuh itu masih sangat lemah.


Berbeda dengan Arga dan Mama nya yang memikirkan kebahagiaan...Adit malah berkecamuk dengan berbagai macam bentuk kemungkinan yang akan terjadi apa bila Arga kelak mengetahui kebenaran nya. Namun demi sahabat nya itu, ia masih menyuguhkan senyum lebar agar suasana bahagia yang di rasakan orang di sekitar nya itu tidak luntur.


🍁🍁🍁


Pagi itu, Elin masih belum membuka selimut nya, ia masih membenamkan dirinya di sana. sendiri. Padahal larik mentari pagi telah menyeruak ingin masuk dan menerangi kamar itu, namun yang punya kamar tidak berniat sedikitpun untuk membuka gorden jendela nya.


Air mata kembali mengalir dari kedua kelopak mata nya. ia merasakan sakit yang sulit untuk digambarkan mendera hati nya.


'Papa, aku tidak bermaksud mengganggu ketenangan papa di sisi Tuhan, aku takut, Pa. ternyata sampai detik ini aku belum siap mengarungi dunia ini tanpa kehadiran mu. nyata nya aku masih saja berharap dan berandai...Jika saja Tuhan tidak terlalu cepat menjemputmu, tentu saja semua tidak akan sulit dan sesakit ini.' Lirih Elin seiring air mata nya yang membuncah.


Ia menatap nanar pada cincin yang melingkari jari manis nya. ia makin terisak. Bagai mana ia bisa menghadapi Arga setelah semua ini terjadi. bagai mana ia sanggup menjelaskan semua nya pada laki-laki yang sangat dicintai nya itu. bahkan saat ini ia tak punya keberanian untuk sekedar menjenguk Arga di rumah sakit, padahal ia sangat merindukan laki-laki itu.


Detik kemudian, Elin tersentak karna suara ponsel yang berdering dari atas nakas. denga. malas ia menyibakan selimut nya, lalu bangun dan duduk di sisi tempat tidur. ia meraih ponsel dari atas nakas, lalu melihat kontak yang menelfon nya.


"Iya, Dit. " Sahut Elin mengangkat telfon yang tak lain itu adalah Adit.

__ADS_1


"Elin, kamu lagi di mana.?" Suara adit bertanya dari seberang telfon.


"Aku... di rumah, Dit. " Jawab Elin terbata.


"Kapan kamu akan ke sini?. Arga nanyain terus tuh. aku udah nggak tau lagi harus jawab apa Lin."


Elin terdiam.. dada nya terasa sesak mendengar hal itu. ia menggigit sudut bibir nya menahan getir. ia memandang langit-langit kamar, mengerjapkan mata nya berkali-kali. berusaha menelan tangis nya dalam diam.


"Elin, kamu masih di sana kan? " suara Adit kembali terdengar.


"Ah. Iya. Aku masih bingung Dit. aku masih belum siap untuk menemui nya.. " lirih Elin kemudian.


"Elin... untuk saat ini yang terpenting bagi Arga adalah kehadiranmu. masalah itu biarlah nanti kita hadapi sama-sama. please Lin. aku udah nggak bisa lagi nyari alasan setiap kali dia nanyain kamu. " Ujar Adit terdengar serius.


Elin kembali menarik nafas dalam-dalam. lalu membuang nya perlahan.


"Aku akan coba memikirkan nya kembali, Dit."


"Baik lah. tapi aku sangat berharap kamu datang untuk Arga, Lin. " Ujar Arga dengan nada penuh harapan.


Tuuutt.


lalu panggilan itu pun kini sudah terputus. Elin meletakan kembali ponsel itu di atas nakas. lalu ia menundukan wajah nya. resah tampak jelas menjalar di seluruh bagian wajah jelita itu. Detik kemudian dengan gontai ia bangkit dari duduk nya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Entah ia akan pergi atau tidak, mungkin setelah mandi ia akan mendapatkan jawaban nya....


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa **LIKE, KOMEN**, dan **VOTE** ya readers. terimakasihπŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2