
Malam berlalu semakin pekat, dari luar jendela terdengar gemercik gerimis yang beradu lembut dengan dedaunan.
Elin terbangun dari tidur nya. Entah berapa lama ia menangis. Tanpa sadar, rupa nya tadi ia tertidur di ujung tempat tidur itu. Sejenak ia mengedip-ngedipkan netra nya yang terasa sembab dan sedikit perih. tenggorokan nya terasa kering. Lalu ia beranjak menuju meja kecil dalam kamar itu, di sana terdapat segelas air putih. Elin meraih gelas itu lalu meneguk nya beberapa. Kemudian mengusap bibir nya yang basah.
Ia baru teringat, belum mengecek ponsel nya dari tadi. saat ia buka, ternyata ada banyak panggilan yang terlewatkan, dan juga beberapa pesan yang belum di baca.
Mata nya tertuju pada pesan dari Arga. Lalu segera ia buka pesan itu.
'kamu sedang apa? '
'Elin, apa kau baik-baik aja? '
'Sayang... ada apa?, kenapa belum mengabari ku? '
Begitu pesan Arga yang tertera di layar ponsel itu. Elin melirik jam weker di atas nakas. sudah menunjukan pukul 23.30 WIB.
Apa sekarang ia sudah tertidur? haruskah aku menceritakan ini semua sekarang pada nya? Tidak. Aku belum siap menerina reaksi nya.
Elin berkutat dalam pikiran nya sendiri. Ia merasa dilema sekarang. Jika memberi tau Arga soal ini, Elin takut akan tanggapan Arga yang mungkin saja nanti nya tidak sesuai perkiraan nya. Namun jika tidak memberi tau Arga, Elin takut nanti nya Arga mendengar berita ini dari orang lain. Siapapun itu. Inti nya Elin belum siap bercerita sekarang. Mungkin menunggu waktu yang tepat dulu. Mungkin.
Ia menarik nafas panjang, untuk kemudian membuang nya perlahan. Lalu menekan tombol panggil di layar ponsel nya.
Menunggu...
Beberapa detik kemudian, terdengar jawaban dari sebrang sana.
"akhir nya .." Suara Arga terdengar lega di sana..
"Maafkan aku, Ga. Tadi sampai di rumah aku langsung tertidur. " Tentu saja berbohong. Ia tidak akan memberi tahu Arga sekarang.
"Iya sayang, aku lega kau sudah mengabari ku sekarang. Aku mengkhawatirkan mu. " jawab Arga dengan suara bass nya di sebrang sana.
" Sekali lagi aku minta maaf . Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Kau sedang apa? selarut ini kenapa belum tidur? " tanya Elin
"Aku tidak bisa tidur dari tadi. Aku menunggu kabar darimu. " jawab Arga lembut.
"Lagi pula besok kita tidak ada kuliah pagi, bukan? jadi bisa tidur sedikit larut malam ini." Sambung nya lagi dari sebrang telfon itu.
__ADS_1
Elin terdiam beberapa saat. Mengingat Arga yang begitu mengkhawatirkan nya. Ia kembali teringat soal permintaan Mama nya tadi sore.
Permintaan itu sungguh memberatkan sekali. Mama nya tidak tau saja bahwa ada laki-laki yang harus ia kenal, laki-laki penuh kehangatan yang telah merubah hidup nya menjadi lebih berwarna akhir-akhir ini.
Dada nya kembali sesak, apa yang akan terjadi jika Arga mengetahui rencana Mama nya ini. Sungguh tidak bisa dibayangkan. Lagi pula ia juga sudah merasa sangat jatuh cinta pada Arga. Elin telah jatuh cinta pada kelembutan dan kenyamanan yang tercipta setiap kali ia berada di samping laki-laki itu. Ah... kenapa rasa nya menjadi sesulit dan rumit ini.
"Elin... "
Suara Arga kembali terdengar di sebrang telfon, dan itu menyentakan lamunan sesaat Elin.
"I.. iya Ga. " jawab Elin sedikit terbata.
"Apa yang kau pikirkan? " Seperti nya Arga sukses membaca situasi Elin.
" Ah. Bukan apa-apa. Aku hanya terharu karna kau begitu mengkhawatirkan ku." Sungguh jawaban yang manis sekali.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan mu. Kau kekasihku. Bukan kah itu hal yang wajar? " Arga tersenyum lembut.
"Iya. Kau selalu benar tuan Arga. " Cicit Elin mengulum senyum nya.
"Aku merindukan mu. " ucap nya kemudian.
"Kita baru bertemu tadi sore. Sekarang kau sudah merindukanku? " Decak Elin. Sebenar nya ia menyukai kata-kata itu.
"Memang nya aku perlu waktu khusus untuk merindukan mu? "
"Sudahlah. Aku tidak pernah bisa menang melawanmu. " Elin memajukan bibir nya.
Arga terkekeh di seberang telfon.
"Arga, besok kamu tidak perlu menjemputku."
"Kenapa? " Arga menautkan kening nya.
" Tidak apa-apa. Hanya saja aku sudah berjanji akan menemani sahabatku ke toko buku besok sebelum ke kampus"
"Begitu ya? " Arga berpikir sesaat.
__ADS_1
"Baik lah. Kalau begitu kita ketemu di kampus saja" Putus Arga
"Ya sudah, sekarang kamu tidur ya. Aku juga akan sambung tidur lagi. Sudah malam." ucap Elin sembil melirik sekali lagi jam weker di atas nakas itu.
"Baiklah sayang, aku tidur akan tidur sekarang. Sampai ketemu besok. "
"Iya. "
"Bye, sayang... "
"Bye, Arga"
Lalu kedua nya sama-sama memutuskan panggilan.
Sejenak Elin kembali menarik nafas panjang. ia kembali berbaring di ranjang, meluruskan kaki dan menyilangkan nya satu sama lain.
Ia masih mendekap telpon genggam di dada nya. Mata nya menatap langit-langit kamar,sejujur nya ia tak dapat meneruskan tidur nya kembali, mata nya tak lagi mengantuk.
Pikiran nya kembali pada pembicaraan dengan mama nya tadi sore.
Kenapa mama tiba-tiba ingin menjodohkan ku dengan anak tante Dewi? Mama bilang tante Dewi lah yang ingin sekali berbesan dengan mama. Apa itu arti nya tante Dewi lah yang punya ide ini? Tidak, ini pasti ada kaitan nya dengan tua bangka itu. Secara tante Dewi itu adalah sepupu nya. Ah! aku bisa gila dengan semua ini.
Elin memukul pelan sisi kepala nya. Menghembuskan nafas nya yang gusar. Kemudian ia meraih sebuah pigura yang ada di meja samping tempat tidur nya.
Sebuah foto seorang laki-laki dengan memangku anak perempuan berambut coklat yang sedang memegang biola di tangan nya. kedua nya tampak tersenyum lepas. laki-laki dalam foto itu adalah papa nya, sementara Anak kecil itu sudah tak lain adalah Elin sendiri.
Elin menatap foto itu lama sekali. air mata nya kembali menetes di kedua pipi nya. Segala kata "andai" Menari-nari di kepala nya.
Jari nya mengusap lembut wajah teduh dan penuh kasih sayang sosok dalam pigura itu. Air mata nya tak bisa ia bendung. Mengalir begitu bebas di pipi nya.
"Papa..."
Hanya itu kata yang keluar dari bibir Elin. Ia terisak.
Malam kian pekat, gerimis yang tadi tersisa di luar sena telah berhenti. Hanya menyisakan basah di atas dedaunan, dan juga dingin yang menyusup menjamah pori-pori.
Malam itu terasa dingin dan basah. Suasana hening, rumah Elin pun senyap. semua mata mungkin telah terpejam, hanya menyisakan Elin yang masih meratapi duka nya, mengiringi malam yang basah itu....
__ADS_1