JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
TAMU HARI MINGGU


__ADS_3

Ini adalah hari minggu, cahaya surya sudah sedari tadi menelisik masuk ke dalam kamar Elin melalui jendela kaca yang dibiarkan terbuka.


"Elin kau sedang apa? " Ujar Arga setelah Elin mengangkat telpon nya di pagi menjelang siang itu.


"Aku baru saja dari kamar mandi, Ga. " Jawab Elin sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk.


"Aku sudah di depan rumah mu sekarang. Temui aku. " Ucap Arga.


"Hah. yang benar saja?!! " kaget Elin setengah tak percaya. Lalu ia berlari ke balkon kamar nya.


Benar saja. Di luar pagar sana terparkir mobil milik Arga. Sementara Arga berdiri di samping mobil tersebut. Arga melambaikan tangan. Elin tertawa kecil dan membalas lambaian Arga.


"Kau tunggu aku di sana. Aku akan mengganti pakaian sebentar." Ujar Elin yang memang masih memakai jubah mandi nya.


Lalu ia memutuskan panggilan, dan bergegas memakai pakaian. Memakai riasan tipis, lalu membiarkan rambut nya yang setengah lembab tergerai begitu saja setelah disisir.


Elin setengah berlari menuruni anak tangga. membuka pintu rumah, kemudian bergegas menuju pagar. Lalu membuka nya.


Mama Elin yang kebetulan tidak ke mana-mana hari itu, menoleh sambil terus membantu Bi minah menyiapkan makan siang. Namun ia tidak sempat menegur dan bertanya karna Elin sudah terlanjur sampai di perkarangan.


" Arga, kenapa kau bisa si sini?! " Tanya Elin pada Arga yang tersenyum pada nya.


"Aku hanya ingin bertamu saja. sekaligus aku ingin mengenal calon mertuaku hari ini. " jawab Arga ringan


"Ya tapi.... "


Elin tidak sempat melanjutkan kata-kata nya. karna telunjuk Arga sudah mendarat di bibir Elin. Elin membulatkan mata.


"Elin... Aku tau rencana kemarin sedikit berlebihan jika aku tidak berusaha terlebih dahulu mendekati orang tuamu." Ujar Arga mengingat rencana tempo hari.


"Kita harus memberi tahu mereka tentang hubungan kita. Semoga dengan ini, mereka bisa berpikir ulang untuk menjodohkan mu dengan laki-laki itu. " Sambung Arga lagi setengah berbisik.


"Tidak akan bisa Ga. " Bantah Elin frustasi.


" Lalu apa ada cara lain? atau apa kau memang menyukai perjodohan itu? " Desak Arga


"Arga. "


"Elin. aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan kita. Aku janji. percayalah. Untuk sekarang ayo kita hadapi ini sama-sama " Ujar Arga sambil memegang kedua bahu Elin seperti ingin meyakinkan.


Pandangan mereka beradu. Saling tatap. Elin mencari kesungguhan itu pada sorot mata Arga. Lalu ia kemudian mengangguk menyetujui.


Elin membawa Arga masuk. Kedua nya berjalan penuh harap dan cemas hingga mereka sampai ke dalam rumah.


"Elin?! "


Ucap Mama Elin. Ia menghentikan langkah nya saat hendak berlalu ke lantai atas. wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke ruang tamu. Di sana Elin dan Arga berdiri sedikit gugup.


" Mama... " Ucap Elin ragu-ragu ketika mama nya telah berada tepat di hadapan mereka.

__ADS_1


"Tante.. " Sapa Arga penuh hormat dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.


Mama Elin membalas senyum Arga, namun mata nya menatap Elin penuh tanya.


" Elin...ini teman kuliah mu? " tanya nya kemudian


"ini... "


"Saya Arga tante, pacar Elin. Kebetulan saya dan Elin juga satu kampus."


Arga berucap santai tanpa basa basi. Sontak saja itu membuat Elin salah tingkah. Namun itu juga cukup mengejutkan Mama Elin.


"Ah... Arga. Ayo duduk dulu. Mama ayo duduk. kenapa berdiri saja?" ujar Elin mencairkan ketegangan yang baru saja ia rasakan.


Semua nya pun duduk di sofa ruang tamu itu.


" Ehem...maaf, tante sedikit terkejut mendengar pengakuan mu, Arga. Tapi apa benar yang baru saja kau ucapkan itu? " Ujar Mama Elin kembali membuka kata.


" Iya Ma, Arga pacar Elin" sekarang Elin yang menjawab.


Mama Elin menarik nafas dalam. Ia menatap sebentar pada Elin.


"Arga, sebelum nya tante minta maaf. Tante tidak tau sejauh mana kau mencintai Elin...."


Wanita paruh baya itu menggantung kalimat nya. Elin dan Arga menunggu dengan harap dan cemas.


Arga dan Elin terkesiap. Terdiam beberapa saat. Menatap wajah wanita paruh baya itu dengan tatapan tak percaya.


"Mama... " Ucap Elin dengan suara bergetar.


"Elin. Mama sudah tak ingin lagi memperdebatkan masalah ini denganmu. kau tentu paham maksud mama. "


Elin menggeleng tak percaya.


"Sebagai mana tante meminta maaf, saya juga ingin meminta maaf pada tante. Apa pun alasan tante untuk meminta saya memutuskan hubungan dengan Elin, saya tidak akan pernah melakukan itu. "


Ujar Arga tanpa gentar.


"Arga, jika suatu saat kau menjadi orang tua, kau akan paham apa yang tante lakukan ini.Sekarang pulanglah. " Balas Mama Elin seraya berdiri dari tempat duduk nya. kemudian ia berlalu tanpa sepatah kata lagi. Meninggalkan Elin dan Arga dalam kegusaran di ruang tamu itu.


Elin kemudian menarik tangan Arga untuk mengikuti nya ke taman samping rumah nya. di sana berdiri sebuah gazebo yang di bawah nya terdapat kolam ikan mini.


Elin mengajak Arga duduk di sana.


"Mama berubah semenjak menikah dengan bedebah itu" geram Elin saat mereka telah duduk perdampingan.


Elin melemparkan beberapa makanan ikan ke dalam kolam, sambil menyapu sesekali air mata nya.


"Maksud mu? " Tanya Arga tak mengerti

__ADS_1


"Dua tahun setelah ayah meninggal, Mama menikah lagi dengan mantan asisten ayah. Mama tak punya keahlian untuk meneruskan perusahaan, sedangkan aku masih belum cukup umur saat itu. " Elin menghela.


"Kemudian laki-laki itu mendekati mama, menawarkan jaminan untuk kehidupan kami, mengelola perusahaan ayah sampai aku dikatakan layak memimpin perusahaan itu. " ujar Elin menjelaskan.


"Arti nya, laki-laki itu ayah tirimu? " Ujar Arga.


"Apa kau pernah bertemu dengan nya? " tanya Elin menatap.


"Aku pernah melihat nya saat habis mengantar mu" jawab Arga.


Elin menatap tak percaya. Apa itu arti nya Arga pernah memantau rumah ini? batin Elin. Dasar Arga.


" Lalu bukan kah ia benar-benar baik pada kalian? " sambung Arga lagi.


Elin menghela. menunduduk, lalu menggelengkan kepala nya.


"kenapa?" tanya Arga lagi.


"Sulit aku menceritakan pada mu. Yang jelas, sampai saat ini trauma itu masih menyiksaku. " Jawab Elin dengan suara datar


Arga menatap Elin. berusaha mencerna apa yang baru saja Elin katakan.


"Mama tidak pernah tahu soal ini. yang mama tau hanya ketulusan pria itu. Mama merasa sangat berhutang pada nya. Dan semua rencana perjodohan ini juga Laki-laki itu lah otak nya. Aku belum mengerti apa maksud dari rencana nya ini. tapi aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan." Lanjut Elin.


"Elin, kau jangan khawatir. Aku akan selalu bersamamu. kau tidak sendiri. Aku sangat menyayangi kamu. Aku lah yang akan menikahimu nanti. Tidak ada yang lain." ujar Arga menenangkan sambil membawa tubuh Elin kepelukan nya.


"Aku menyayangi mu, Arga" Bisik Elin dalam pelukan Arga.


"Aku lebih menyayangi mu." Balas Arga.


" Sekarang kau harus pulang, Ga. Aku tidak mau nanti terjadi keributan jika kau masih di sini. " Pinta Elin.


"Baik lah. Aku akan pulang sekarang. " balas Arga, kemudian mengecup puncak kepala Elin.


Elin mengantar Arga hingga sampai ke depan pagar. Karna mobil Arga tadi ia tinggalkan di sana.


Arga melambaikan tangan saat ia hendak menjalankan mobil . Elin tersenyum membalas. Arga pun berlalu meninggalkan Elin.


Hingga mobil itu menghilang di ujung jalan, baru lah Elin kembali masuk dengan hati yang masih saja gundah mengingat tanggapan mama nya tadi....


šŸšŸšŸšŸšŸ


Jangan lupa setelah membaca, tinggalkan jejak ya.


Like, komen, vote, dan hadiah nya.


terimakasih


happy reading :-)

__ADS_1


__ADS_2