JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
LAKI-LAKI ANEH


__ADS_3

Hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu. Malam itu, Elin memakai gaun selutut berwarna krem kesukaan nya. Rambut nya yang coklat ikal menggantung ia biarkan tergerai indah.


Seperti yang diucapkan Risa dan Echa, ia akan berusaha tidak mengacaukan rencana mama nya malam ini. Bersikap biasa akan lebih mempermudah semua nya. Begitu batin Elin.


Elin membuka ponsel nya. Belum ada kabar dari Arga. 'kemana dia' ucap Elin dalam hati.


tok.. tok.. tok


Terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Elin berjalan membukakan pintu.


"Mama sangat senang melihat kamu seperti ini, Lin. " Ujar Mama Elin ketika melihat Elin sudah siap menyambut tamu yang akan datang itu.


Elin memaksakan untuk tersenyum semanis mungkin. Meski itu tak berhasil. Karna sebagai ibu, Mama Elin cukup mengerti Elin sangat memaksakan untuk berbesar hati malam ini.


"Ayo kita ke bawah. kita tunggu mereka di bawah saja" Ajak mama Elin.


Elin mengangguk.


Ibu dan anak itu beriringan menuruni anak tangga.


"kita langsung menunggu di ruang tamu saja" ujar Mama Elin lagi. Elin hanya mengikuti tanpa bersuara.


"Wah... seperti nya putri kita akan membuat mata Rey tak berkedip malam ini, sayang." ujar pak Bimo pada mama Elin setelah mereka duduk bersama di ruang tamu.


"Tentu saja. lihat dulu siapa mama nya" Balas mama Elin.


Sementara Elin memilih tak terlibat pada percakapan omong kosong itu. Menurut nya ia tak perlu berbasa -basi dengan laki-laki ini. bukan kah biasanya ia juga bersikap dingin pada ayah sambung nya itu?.


Tidak lama mereka berbincang di ruang tamu itu, bukan mereka. Lebih tepat nya dua orang tua itu saja. Karna Elin tak terlibat sedikitpun dengan obrolan itu. Sebuah mobil berhenti di perkarangan rumah besar yang seperti istana itu.


"Ah. itu sepertinya mereka sudah sampai" ucap Pak Bimo pada istri nya.


"Iya. ayo sambut mereka." Ujar Mama Elin.


Mereka bergegas menuju pintu utama. Sementara Elin mengikuti dengan langkah malas.


"Hallo, apa kabar?"


"Baik mbak."


"Wah... ini Rey? " Ujar mama Elin pada sosok tubuh jangkung yang datang bersama tante Dewi.


"Apa kabar tante? " laki-laki itu menyalami dan mencium punggung tangan Mama Elin,


"Halo, Om" Ujar nya pula mencium punggung tangan Pak Bimo.


"Tampan sekali" Ujar mama Elin.


"Siapa dulu mama nya." Balas tante Dewi.

__ADS_1


"Dan halo sayang." Sapa tante dewi memeluk Elin yang berdiri canggung di sana.


"Rey... kau tentu sudah bisa menebak siapa gadis cantik ini. " ujar tante Dewi tersenyum sumringah pada anak laki-laki nya itu.


Laki-laki bernama Rey tersenyum. Senyum nya sangat manis. Sorot mata nya tajam, ada sepasang alis yang tebal di atas nya. Hidung nya mancung, kulit nya putih bersih. Ada lesung pipi yang terlihat saat ia tersenyum.


"Hai Elin" ujar Rey mengulurkan tangan nya pada Elin.


Sungguh sok akrab sekali pikir Elin. Ia membalas uluran tangan itu meskipun enggan.


"Ah.. ayo kita masuk dulu. Mbok Minah sudah menyiapkan makanan spesial malam ini" Ujar mama Elin bersemengat.


Lalu semua nya berjalan menuju meja makan. Entah kebetulan atau memang sengaja diatur oleh siapa itu, Elin duduk berdekatan dengan Rey. Namun Elin memilih untuk tetap tenang di sana.


Denting sendok dan garpu mengudara di meja makan itu. Sesekali ada candaan yang membuat mereka terkekeh. suasana yang begitu hangat jika saja bukan Rey yang duduk di sana, tapi Arga. Begitu batin Elin.


"Elin...Kamu tidak ingin mengajak Rey ke taman? hitung-hitung biar kalian bisa akrab" ujar Mama Elin.


"Betul. Kalian perlu waktu untuk saling mengenal bukan?" Tambah tante Dewi.


"Aaa.. " Elin terbata.


"Elin. ayo." Ujar Rey.


Elin menatap, ingin menolak. Tapi laki-laki ini dengan tanpa canggung telah berdiri menarik tangan Elin beranjak dari kursi nya. Berani sekali. Terpaksa ia menuruti saja.


Sampai di taman sebelah rumah itu, Elin menarik kasar tangan nya dari genggaman Rey. Rey menatap. Namun sesaat kemudian ia tersenyum. Elin tak mengerti apa yang sebenarnya dalam pikiran laki-laki itu.


Rey masih tersenyum. Lalu ia berjalan menuju Gazebo, duduk di sana dengan santai. Elin tak habis pikir melihat itu.


Rey menepuk-nepuk tempat kosong di sebelah nya. Mengisyaratkan agar Elin duduk di sebelah nya.


Elin mendengus. Apa-apaan ini? ia mengibas rambut nya. Seperti nya Elin mulai terpancing amarah nya melihat tingkah aneh laki-laki ini.


Namun tanpa ia berkata kata lagi, kini Rey telah menarik tangan nya dan mendudukan tubuh Elin di gazebo itu.


"Au... " Ringis Elin saat pantat nya terhenyak kasar di sana.


"Ada apa denganmu? sakit tau!!! " Hardik Elin.


"Kau terlihat menggemaskan bila berteriak seperti itu" Ujar Rey terkekeh.


"Dasar laki-laki aneh. Kau mah apa huh??!! " Ujar Elin kesal.


"Menikah dengan mu." Jawab Rey singkat dan santai.


Elin terbeliak. Bisa-bisa nya laki-laki ini menjawab segampang itu.


"Apa begini cara kau mendekati gadis yang baru kau kenal? " Unar Elin mengalihkan wajah nya.

__ADS_1


"Lalu bagai mana? ajari aku cara untuk memendekati mu" jawab Rey.


"Jangan harap itu akan terjadi. selama nya kau tidak akan bisa. Dan satu lagi, perjodohan yang di rencanakan oleh orang tua kita, sebaik nya kau lupakan saja. Sebab aku sudah mencintai orang lain." Tegas Elin berdiri dari duduk nya.


Rey terkesiap mendengar penuturan Elin. Namun itu tidak berlangsung lama. Lihat saja sekarang. Ia malah kembali memasang senyum di wajah nya. lalu ikut berdiri di samping Elin.


" Aku mengerti maksud mu. Tapi maaf, aku tidak bisa menolak perjodohan itu." Ujar Rey bersungguh -sungguh.


"Kenapa? kau tinggal bilang tidak menyukaiku. mudah bukan? " Ucap Elin tak mengerti.


"Maaf Elin. Ini adalah keinginan orang tuaku. mungkin kalau hal lain aku bisa membantahnya, tapi tidak dengan keinginan mama"


Elin tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. ia menatap wajah Rey tak percaya.


"Tapi aku tidak cinta pada mu" ujar Elin kemudian penuh penekanan.


Rey tersenyum. Lalu menatap wajah Elin .


"Aku akan berusaha membuat kau jatuh cinta" ujar nya yakin.


Elin tak habis pikir dengan apa yang sedang Rey katakan. Omong kosong apa yang baru saja laki-laki aneh ini katakan?, lalu apa yang harus ia katakan pada laki-laki ini agar membatalkan perjodohon itu? .


Elin menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


mengatur kata-kata yang kira-kira bisa dipahami oleh laki-laki ini.


"Rey...aku sudah punya kekasih. Kami saling mencintai. Dan jika kita meneruskan perjodohan in, lalu kita benar-benar menikah, dia akan kecewa, Rey. Dan aku tidak akan bahagia hidup dengan orang yang tidak aku cintai. Aku yakin masih banyak perempuan di luar sana yang akan berebut untuk jadi pendamping mu. Tapi maaf, bukan aku Rey. aku mencintai nya. Jadi tolong batalkan rencana ini." Ujar Elin lemah-lembut untuk meminta pengertian dari Rey.


Rey terdiam. menatap mata Elin yang penuh harap.


"Sekali lagi aku minta maaf Elin. Aku sudah bertekat akan menikahi mu. Dia satu kampus denganmu kan? kalau begitu besok aku akan datang ke sana. aku akan menemui pacarmu untuk meminta maaf pada nya. "


"Kau gila Rey! tak punya hati! " sinis Elin mendengar penuturan Rey. Ia bergegas akan meninggalkan tempat itu. Namun Rey menahan tangan Elin.


"Bersikaplah seperti biasa. kalau kau tidak ingin orang tua kita menanyakan hal macam-macam saat kita sampai di dalam sana" ujar Rey mengingat kan.


Elin sangat kesal. Ia tidak tau harus bagai mana menyikapi laki-laki ini. Mata nya kini mulai berkaca-kaca. Lalu tanpa terbendung lagi, air mata nya jatuh juga.


Ia benci laki-laki di hadapan nya ini. Tangan nya yang mungil memukul dada bidang Rey. Rey membiarkan itu. Rey tau Elin harus menumpahkan kekesalan nya. Beberapa saat mereka berdiri di sana. menunggu Elin meluapkan semua sesak nya.


Setelah Rey merasa Elin sudah lebih baikan. Ia menyodorkan selembar sapu tangan pada Elin.


"Jika sudah lega, hapuslah air matamu. ayo masuk, dan bersikaplah seperti biasa di hadapan mereka." pinta Rey.


Elin mengambil sapu tangan itu dan mengusap air mata nya. Rey tersenyum. Lalu mereka kembali ke dalam rumah menemui orang tua mereka yang kini sudah berada di ruang tamu.


Percakapan ringan terjadi antara dua keluarga itu hingga malam hampir larut. dan akhir nya Rey dan mama nya berpamitan untuk pulang.


Mama Elin, pak Bimo dan juga Elin mengantar mereka sampai ke depan pintu. Setelah Rey dan mama nya masuk ke mobil, Elin berlari menuju kamar nya, mengunci pintu, dan menghempaskan tubuh nya di atas ranjang. malam ini sungguh amat melelahkan.

__ADS_1


Rey... laki-laki itu sangat tidak masuk akal. apa yang sedang dipikirkan nya. Begitu besarkah kasih sayang nya pada mama nya itu? Elin tak punya energi lagi untuk menelaah apa yang akan terjadi. Hingga malam mengantarnya tertidur meringkuk di bawah selimut tebal nya.....


šŸšŸšŸšŸšŸšŸ


__ADS_2