JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
VILLA 1


__ADS_3

Pov Elin...


Surya pagi menghangat ketika aku memilih duduk dengan secangkir teh hangat di teras vila ini. Ya, tadi memang aku bangun lebih awal dari pada laki-laki aneh yang kini telah resmi menjadi suamiku itu.


Suami? ah, rasa nya aneh bila mengucapkan sebutan itu untuk nya, seaneh tingkah nya ketika pertama kali aku bertemu dengan nya waktu itu. Bagai mana tidak, bahkan sampai pada detik ini aku masih belum bisa menerima pernikahan yang pada hakikat nya sudah sah di mata agama dan negara itu


Aku mengingkari nya? tentu saja tidak. Tapi ada bagian kecil dari sudut hatiku yang masih saja berusaha menganggap bahwa ini tidak nyata. Alasan nya hanya satu, Arga. yah, Arga.


Aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa sampai di helaan nafas saat ini, aku masih saja teramat mencintai laki-laki itu. Sebenar nya aku lelah dengan perasaan ini, selalu saja berharap Arga lah satu-satu laki-laki yang akan memjadi imamku. Aku sadar ini naif sekali.


Arga, sedang apa ia saat ini?, apa dia memikirkanku?, apa dia masih merindukan ku?, atau jangan-jangan ia masih terluka dengan sikapku kemarin?.


Tentang kemarin... , aku sangat membenci kata-kata yang terucap dari bibirku bahwa aku tak lagi mencintai nya. Aku tau dia pasti terluka, kecawa, dan sakit hati terhadapku. Tapi apa yang harus aku ucapkan pada nya selain dari pada kata-kata sialan itu?. Apa aku harus berterus terang tentang perasaan ku pada nya? tentang aku yang masih sangat mencintai nya?, Omong kosong, tentu saja itu tidak akan aku lakukan, sebab itu hanya akan menambah luka jika akhir nya aku kembali tidak menepati janji seperti yang telah aku lakukan saat ini.


Dulu janji itu telah terukir begitu indah nya, tapi akhir nya aku malah mengingkari semua nya, menyakiti orang yang sangat aku cintai. Rey, dia datang dalam situasi sulitku, apa aku akan mengaggap nya sebagai dewa penyelamat?, ku rasa belum, aku tidak tau mengapa, namun yang pasti aku masih dilema dengan semua ini.


Tapi dengan melihat kesungguhan Rey, dan juga ketulusan dari sorot mata nya, tak bisa aku pungkiri bahwa aku telah bertekat untuk menghormati nya sebagai suamiku. Dan bukan kah ia melakukan semua ini untuk aku dan mama?


Berbicara soal mama, mama memang kadang punya sisi egois yang tak bisa aku kisahkan. Tapi bukankah kenyataan nya sekarang aku hanya punya beliau setelah papa pergi?.


Dan aku cukup memahami sikap mama, karna semua itu ia lakukan hanya karna merasa berhutang budi pada suami nya itu. Laki-laki bermuka dua yang aku begitu enggap mengakui nya sebagai ayah sambung mengingat kebiadaban nya terhadapku kala itu.


Angin bersemilir lembut menerpa wajah ku, ku lempar pandangan jauh pada pucuk-pucuk pinus yang berjejer di depan sana, ku sesep teh hangat itu untuk sejenak menikmati nya.


"Kau tidak membangunkan ku... "


Aku segera menoleh pada suara yang tiba-tiba membuyarkan segala lamunanku itu.


Rey, dia kini telah berdiri di ambang pintu.


Aku lembali meletakan cangkir teh itu di atas meja kecil di samping kanan ku.


Rey berjalan mendekat, lalu ikut duduk di sisi ku. Tanpa mengucap sepatah kata, aku menuang teh hangat kedalam cangkir kosong di atas meja itu, kemudian mengangsurkan nya pada Rey.


"Terimakasih istriku, " ucap nya, lalu mengangkat cangkir itu ke tepi bibir nya, lalu kemudian terdengar seruputan halus dari nya.


Dia selalu saja bersikap seperti tanpa beban seperti itu, "Istriku" kata itu cukup membuatku sedikit tak nyaman. Tapi di mana salah nya? sebenar nya tidak ada yang salah, hanya saja aku masih belum bisa mengakrabkan diri dengan panggilan itu.


"Kamu mau makan apa? " Dia kembali bertanya setelah meletakan cangkir teh itu kembali ke atas meja.


"Terserah saja, aku tak keberatan dengan makanan apa pun. " Balasku mengalihkan lagi pandangan pada pucuk cemara di depan sana.

__ADS_1


"Kau bisa memasak?"


Aku menoleh pada nya.


"Eum... aku sudah punya istri sekarang, seperti nya perutku ingin sekali memakan masakan istriku. " Sambung nya lagi dengan senyum yang entah kenapa selalu hadir di wajah nya itu.


" Sejujur nya, aku tidak pernah memasak... " Aku menjawab ragu, tapi memang kenyataan nya aku tidak bisa memasak, karna bi Minah lah yang selalu mengurus semua itu.


Kulihat sejenak ia terkekeh, apa dia menertawakan ku? entahlah, lagi pula aku tidak perduli.


"Tidak mengapa, nanti aku akan mengajarimu. " ucap nya kemudian seraya menatapku dengan mata elang itu.


Aku mengerutkan dahi.


Apa aku tidak salah dengar? dia akan mengajariku? memang nya dia tau apa soal masak?


Aku membatin sedikit kesal.


"Kenapa? tidak percaya aku bisa masak? " Suara nya menyentakanku.


Bagaimana dia tau apa yang sedang aku pikirkan?.


"Kita mau ke mana? " tanya ku saat sudah berada di dalam mobil.


"Istriku ini...apa tadi kau tidak dengar kalau suamimu ini bilang kita akan pergi membeli perlengkapan untuk memasak. " Jawab nya kembali menjelaskan.


Aku tidak berkata lagi, melipat tangan di dada, lalu menikmati saja perjalanan ini. Sampai akhir nya mobil itu berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan. Kami turun dan segera membeli yang kira-kira kami butuhkan untuk memasak.


šŸšŸšŸ


Rey menenteng kantong belanjaan turun dari mobil, aku ingin membantu tapi ia dengan keras melarang nya. ya sudah, aku tidak akan menawarkan bantuan untuk kedua kali nya.


"Waktu nya memasak... " Ujar nya ketika beres meletakan belanjaan di atas meja dapur.


"Tapi Rey, aku benar-benar tidak tau..."


"Ssssttt... tidak perlu memasang wajah tanpa dosa begitu, aku bukan juri seperti di ajang memasak di TV itu, aku akan makan bagaimana pun nanti masakan istriku. " Lagi-lagi senyum itu, apa dia pikir semua masalah akan selesai dengan senyum nya?


"Baiklah, aku anggap kau telah berjanji tidak akan menertawakan ku nanti jika makanan nya tidak enak" Gumam ku, namun aku yakin dia masih dapat mendengar nya.


Dengan ragu aku mengambil ayam dan mulai mencuci nya, aku masih bisa menangkap senyum yang terkulum di bibir itu.

__ADS_1


Apa dia mengerjaiku?


keringat mengucur deras dari dahi ku, entah kali keberapa aku lap dengan lengan baju, sungguh waktu terasa begitu lambat di dapur ini. Rey sesekali membantuku membalikan ayam goreng di atas penggorengan, sungguh aku kagum sekali saat ia dengan santai membalikan ayam itu tanpa menghiraukan cipratan minyak panas yang menurutku mengerikan itu. Kembali ia tersenyum padaku saat menangkap mataku sedang memperhatikan nya.


Hampir dua jam lebih habis hanya untuk memasak sup bayam dan jagung, serta ayam balado. apa itu terlalu lama? aku tidak tau, ya g jelas sekarang aku telah selesai dengan urusan di dapur yang cukup melelahkan itu.


"Enak" Ucap nya setelah mencicipi sedikit masakan itu sebelum di bawa ke meja makan.


Aku tak percaya, dia pasti hanya ingin menyenangkan hatiku saja, pengalaman pertama memasak, aku sudah membayangkan rasa nya. Pasti tidak akan ada selera untuk sekedar mencicipi nya.


"Kenapa menatap seperti itu? tidak percaya? "


Huh, lagi-lagi dia berhasil membaca pikiranku.


"Tidak usah menghibur, kalau tidak enak tinggal bilang saja, aku tau ini pertama kali aku memasak, aku tidak akan berkecil hati jika kau mengatakan yang sebenarnya tentang masakanku. " Aku menjawab datar sambil mencuci tangan.


Walaupun tadi Rey turut membantu menakar ini dan itu nya, tapi tetap saja aku tak yakin.


"Baik lah, buka mulut mu. " Rey menyodorkan sendok ke mulutku, memintaku mencoba nya sendiri. Aku menolak, tetapi bukan Rey nama nya jika tidak memaksaku.


Akhir nya aku mengalah pasrah, beberapa saat aku terdiam sambil merasakan apa yang baru saja aku cicipi itu, menolak percaya, namun ini benar-benar terasa mengenai lidahku.


Aku menatap Rey, laki-laki itu masih menunggu reaksiku.


"Rey.. ini benar? " Aku masih menolak percaya.


"Masih tidak percaya Ini enak?. " pungkas nya


"Yey... aku berhasil... " Aku melompat kegirangan, entah apa yang mendorong ku, aku menghembur memeluk Rey, ada perasaan bangga dalam diriku, juga senang tidak karuan.


Aku tau ini terlalu berlebihan, ketika di luar sana sebagian besar perempuan menganggap memasak itu bagian yang biasa saja, tapi pengalaman pertama ini menurutku benar-benar luar biasa, dan ini adalah ukiran pengalaman dari Rey.


Oh, aku baru tersadar dan cepat-cepat melepaskan pelukanku dari laki-laki itu. Sungguh memalukan sekali, kenapa aku bisa memeluk nya? apa aku sesenang itu hingga tidak sadar menghambur memeluk nya, uh tangan ini jahil sekali.


"Maaf, aku terlalu bersemangat" Ucapku sekena nya, lalu meraih mangkok sup kemudian berlalu menghindari nya.


Entah apa sekarang yang ia pikirkan tentang aku, aku konyol sekali.


Kemudian kami pun makan bersama di meja makan. Aku dengan kegugupan ku, dan dia entah dengan perasaan yang entah bagai mana, yang jelas ia tampak menikmati menu hari ini....


šŸšŸšŸšŸšŸ

__ADS_1


__ADS_2