JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
MAMA, MAAF.


__ADS_3

Satu bulan berlalu sejak hari itu. Kini mama Elin dan pak Bimo sudah kembali berada di rumah.orang tua Arga juga telah mendarat sejak tiga hari yang lalu di tanah air, dan sekarang sedang menunggui anak semata wayang mereka di rumah sakit. Kondisi Arga masih tetap sama, tidak ada perubahan dan angsuran sedikitpun.


Sementara Rey masih berusaha meyakinkan Elin.


Sore itu Elin tidak mengunjungi Arga ke rumah sakit. ia memilih untuk tidak bertemu orang tua Arga dulu untuk saat ini. Entah kenapa, tapi menurut nya ada jarak yang harus tercipta sebelum orang tua Arga menumpangkan harapan lebih pada diri nya. bukan nya Elin tidak menginginkan itu, melainkan ia sendiri tidak berani berharap pada diri nya sendiri dengan keadaan yang terjepit seperti ini.


tok.. tok... tok


terdengar suara ketukan pintu dari luar. Elin tersentak dari lamunan nya. ia sedang duduk di balkon kamar nya. mendengar ketukan pintu, Elin berjalan masuk ke dalam kamar nya, lalu membuka kunci pintu.


"Mama. "


"Mama mau bicara sama kamu. " ujar Mama nya dengan wajah serius.


Elin membiarkan mama nya masuk ke dalam kamar. lalu merapatkan kembali pintu tersebut, dan menyusul mama nya duduk di kursi sebelah nakas.


lalu ia menunggu kata-kata yang akan di ucapkan mama nya.


"Sudah sebulan Elin. apa waktu sebulan masih belum cukup untuk kamu mempertimbangkan semua nya? " Ucap mama Elin mengawali obrolan itu.


Elin yang sudah menunggu bahwa mama nya akan membahas soal ini hanya menarik nafas berat.


"Apa mama harus memohon dan bersujud pada mu agar kamu bisa mengerti Elin? bisakah kamu tidak membuat mama seperti ini? mama sudah tidak tau harus memberi jawaban apa lagi pada Om Bimo saat ia menanyakan ini. "


Wanita paruh baya itu bertutur dengan suara yang mulai parau.


Elin menengadahkan air mata nya agar tidak jatuh. ia mengedipkan mata berkali-kali untuk tidak menangis. sesungguh nya ia tidak ingin melihat tangis di wajah mama nya. tapi entah karna ego nya yang tinggi, dan hati yang sudah biasa membatu sejak tahun kepergian ayah nya, membuat nya sedikit canggung untuk terlihat layu di hadapan mama nya itu.


"Mama dengar Arga berada di rumah sakit, dan sudah satu bulan lebih dalam kondisi koma. Elin, apa kamu berniat menunggu nya? sampai kapan? tidak ada yang bisa menjamin dia bisa pulih. "


"Jangankan satu bulan,ma. sampai matipun aku tidak pernah keberatan untuk menunggu nya. Aku tidak akan menikah kecuali dengan nya." Jawab Elin berharap mama nya mengerti dengan keteguhan hati nya.


"Elin!!! " Suara wanita paruh baya itu mulai meninggi.

__ADS_1


"Ma, aku sudah mencoba nya ma. aku sudah mencoba untuk membuka hati untuk Rey. tapi tetap saja sama. Untuk itu aku mohon dan sampaikan permohonan ku ini oada suami terbaik mama itu untuk berbaik hati melepaskan ku dari jeratan ini." ujar Elin dengan air mata yang tidak berhasil ia bendung.


Mendengar itu, mama Elin terkesiap. ia memegang dada nya yang mendadak begitu sakit. Nafas nya tersengal.


"Mama!!! " pekik Elin yang baru sadar dengan apa yang ia lakukan. Elin menangkap tubuh mama nya yang hampir saja tersungkur ke lantai.


"Bi.... Bi Minah!!!! "


Bi Minah yang berada di lantai bawah terkejut mendengar teriakan Elin. ia langsung tergopoh-gopoh menaiki anak tangga untuk mencapai kamar Elin. Sesampai nya di sana, tanpa menunggu lama, Bi Minah langsung membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


"Non Elin... Ibu kenapa? " Pungkas Bi Minah yang terkejut melihat majikan nya tak berdaya di pangkuan Elin.


"Cepat bantu aku Bi, bantu aku bawa Mama ke mobil. mama harus ke rumah sakit. " ujar Elin dalam kepanikan nya.


Kemudian Elin membawa mama nya ke mobil yang di bantu oleh Bi Mina. kebetulan hari itu Pak Bimo sedang berada di kantor, jadi hanya mereka lah yang ada di rumah itu.


Elin menyetir sendiri mobil nya dengan kecepatan tinggi. ia sesekali melihat wajah mama nya sambil menangis.


"Mama, maafkan aku. Mama harus kuat ya, sebentar lagi kita sampai. " ujar Elin bergumam sambil merutuki diri nya sendiri.


"Suster.... tolong cepat!!!! " Teriak Elin meminta bantuan pada pekerja rumah sakit yang ada di sana. Lalu para perawat dengan sigap membawa brankar dan memindahkan tubuh mama Elin ke brankar tersebut.


"Tolong, mama saya punya penyakit jantung. "


Teriak Elin panik sambil berlari


mengikuti brankar yang membawa mama nya itu dengan cemas serta tangis yang tidak bisa lagi ia tahan seperti waktu tadi ia berbicara dengan mama nya.


Sampai akhir nya para perawat yang tadi mendorong brankar itu memasuki sebuag ruangan yang bertuliskan IGD di depan pintu nya. Elin tidak diperkenankan masuk, da. terpaksa ia harus menunggu di depan ruangan itu sendiri. Lalu Seorang dokter memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa. Elin hanya bisa menangis. mungkin saat ini ia menyesali sesuatu yang ia lakukan. namun Entahlah.


Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki dengan pakaian khas kantoran tergesa-gesa mendekat ke tempat ia berdiri. itu adalah pak Bimo.


laki-laki itu menatap Elin dengan mata penuh amarah.

__ADS_1


"Apa kau baru saja ingin membunuh nya? " Suara laki-laki itu terdengar berat, namun cukup membuat Elin bergidik.


"Keluarga Bu Anita... " Ujar Seorang dokter yang tadi menangani mama Elin.


"Iya dokter. saya suami nya. " Jawab pak Bimo mendekati dokter tersebut.


"pasien sudah melewati masa kritis nya, beruntung ia cepat di larikan ke rumah sakit, karna kalau terlambat sedikit saja, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada istri bapak. "


Ujar dokter itu dengan lega.


Elin yang mendengar hal itu menarik nafas lega. ia terhenyak ke lantai. dan menyandarkan tubuh nya pada tembok.


"Lalu, bagai mana keadaan nya sekarang, dok? " Tanya pak Bimo.


"Sekarang kondisi nya sudah tertangani. pasien akan dipindahka. ke ruang rawat inap. selanjutnya, keluarga dipersilahkan untuk menjenguk nya. " terang sang dokter.


"baik lah. terimakasih banyak, Dokter. " Ucap pak Bimo menyalami dokter tersebut. lalu setelah berpamitan, dokter itu pun berjalan meninggalkan tempat itu.


Setelah di pindahkan ke ruang rawat inap, Pak Bimo langsung mengunjungi istri nya. wanita paruh baya itu kini tampak masih lemas, dengan selang oksigen yang masih harus terpasang di hidung nya.


"Ma, " Ujar Pak Bimo mendekat, dan duduk di samping bangsal.


"Pa, Elin mana pa? " Ujar wanita itu dengan lirih hampir tak terdengar.


"Ssssttt... Mama istirahat saja dulu. Elin ada di luar. nanti juga dia akan ke sini. sekarang Mama istirahat saja dulu." Ujar Pak Bimo lemah lembut.


mama Elin tak menjawab lagi. ia memejamkan mata nya yang entah kenapa begitu berat untuk terbuka.


Sementara Elin hanya tertegun di balik pintu, ia hanya melihat mama nya dari kejauhan. ia tak kuasa membendung kesedihan itu. ia tak henti-henti memaki diri nya sendiri. ia merasa baru saja hampir membunuh mama nya. perasaan yang berkecamuk menyelimuti seluruh sel otak nya, sedangkan kesedihan meremas hati nya dari dalam. namun semua itu hanya bisa ia luapkan dengan tangisan dari balik pintu itu sendiri....


🍁🍁🍁🍁🍁


**HAI... JANGAN LUPA KLIK LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR JIKA KALIAN SUKA DENGAN NOVEL INI.

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR


HAPPY READINGπŸ’πŸ’πŸ’**


__ADS_2