
Rora duduk di sofa ruang tamu itu dengan santai. senyum simpul masih tersungging dari bibir nya. lalu ia menyilangkan kaki, serta memangku kedua tangan nya di dada.
Rey tak kalah menatap tajam. ini lah yang paling ingin Rey hindari. yaitu bertemu dengan gadis licik ini. tapi lihat lah sekarang, ia malah berada di rumah gadis itu, dan mengapa juga harus gadis seperti Rora yang menjadi saudara nya Naira.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa sekarang kamu baru sadar kalau aku lebih menarik dibanding dia? " Seru Rora sambil melirik ke pigura yang menggantung di ruang tamu itu.
Rey kemudian dengan tenang berjalan kembali ke tempat duduk nya tadi, ia sekarang memasang wajah datar dan cuek nya.
"Rora, Lama tak bertemu ternyara sikapmu masih sama saja" Ujar Rey dengan tawa ejekan di sudut bibir nya.
"Aku tidak akan tertipu lagi oleh wanita rubah seperti mu. " sambung nya lagi dan merubuh posisi menyandarkan punggung nya ke sandaran sofa.
"Tertipu? Hei mas.. kamu sendiri yang mengajakku ketika itu!! aku sudah berusaha menolak mu. tapi kamu terus memaksaku... "
balas Rora mencondongkan tubuh nya ke depan dan sedikit memelankan suara nya agar tidak terdengar oleh mama nya.
"Berhentilah bersandiwara Rora, kau tidak punya bakat untuk itu. dan naas nya, Naira dengan mudah mempercayai sandiwara murahan mu itu. apa aku harus memberi tahu mama mu soal itu?" sanggah Rey penuh penekanan.
"Apa maksudmu? " Tanya Rora gugup.
"Kau lah yang sebenarnya telah membunuh Naira. kau iri pada nya karna ia lebih di sukai banyak orang di banding dirimu. kamu tidak suka Naira mendapatkan kebahagiaan nya kan? lalu dengan sengaja kamu mendekatiku dengan tujuan agar Naira terluka. kamu sengaja menjebakku malam itu...." Ujar Rey dengan getir lalu ia bangkit dari tempat duduk nya, dan berjalan mendekati pintu utama.
"Rey... kamu mau ke mana? Ini tante sudah membawakan minuman untuk mu" ujar bu Sinta sambil membawa nampan berisi gelas minuman di tangan nya.
"Aku harus pulang sekarang, tante. baru saja mama menelfonku." Kilah Rey sambil tersenyum hambar pada wanita paruh baya itu.
"Permisi. " Ucap nya kemudian. dan berlalu tanpa menunggu wanita itu berucap sekali lagi pada nya.
Bu Sinta hanya menatap punggung laki-laki itu meninggalkan rumah nya, dan berlalu masuk ke dalam mobil. lalu Rora pun tanpa permisi dengan wajah masam nya ia pun meninggalkan ruang tamu itu menuju kamar nya.
Rey menghentikan mobil nya di sisi jalan. ia memukul stir mobil nya dengan gusar. lalu meluapkan kekesalan nya pada Rora di sana. kalau saja bukan karna mama nya yang melarang ia memperpanjang masalah nya dengan gadis itu, tentu ia sudah menghabisi gadis itu sejak lama. atau paling tidak gadis itu akan membusuk dipenjara atas perbuatan nya.
__ADS_1
Meski sudah berjalan dua tahun kepergian Naira... tetap saja ia tidak bisa menerima begitu saja kenyataan itu, apalagi ketika bertemu Rora... bayangan Naira kembali muncul di ingatan nya.
Flashback on
Kota paris...
Naira menghubungi Rey lewat ponsel nya dari pagi itu, namun karna Rey buru-buru ke kantor, ia tak sempat mengangkat telfon nya. sampai siang hari nya, entah berapa kali gadis itu terus mencoba menghubungi Rey, namun tetap saja tak ada jawaban. Sebenar nya ada masalah yang sangat penting yang akan ia sampaikan nya pada Rey. Tapi Rey sepertinya terlalu sibuk dengan pekerjaan nya. membuat gadis itu resah, dan teramat gusar sekali. ia sampai tak masuk bekerja hari itu saking gelisah nya.
Malam hari nya, setelah Rey keluar dari kantor, dan itupun setelah lembur, barulah ia membuka ponsel nya, dan mendapati begitu banyak panggilan Naira yang ia lewatkan. Rey mengusap wajah nya, merasa bersalah sekali pada kekasih nya itu. lalu detik kemudian ia mencoba menghubungi Naira.
tidak butuh waktu lama, terdengar Naira mengangkat telfon nya.
"Apa kau benar-benar sesibuk itu Rey? apa tidak ada waktu sedikit saja untuk ku? " Suara gadis itu langsung menyerbu Rey. Meski begitu, Rey dengan jelas dapat menangkap suara gadis itu sedang menangis.
"Naira sayang, maaf... "
"Sayang??? sayang kata mu? aku kecewa sama kamu Rey. apa yang telah kamu perbuat pada Rora? " sanggah Naira di sela isak nya di sebrang telfon.
"Nai... apa maksud mu? sekarang kamu di mana? aku akan ke sana." tanya Rey.
"iya. kamu berhutang penjelasan padaku. temui aku ditempat biasa. " jawab Naira. lalu memutuskan sambungan telfon nya.
dengan bergegas Rey masuk ke dalam mobil nya, lalu dengan disopiri asisten pribadi nya Rama, Rey menuju taman Trocadero yang berdekatan dengan menara ikonis kota romantis itu.
Rey menemukan gadis itu tengah duduk berpangku lutut di atas rerumputan hijau itu, mata nya nanar menatap air mancur di hadapan nya. Rey mendekat, dan mencium puncak kepala Naira saat ia duduk di sisi gadis itu. gadis itu tersentak dari lamunan nya.
Naira menggeser posisi duduk nya. Rey merasa heran dengan sikap kekasih nya yang menurut nya tidak biasa itu.
" Jangan mendakat. aku sangat jijik padamu!!!" Ujar Naira dengan mata nya yang sembab menatap Rey penuh kebencian.
"Naira... ada apa? aku bingung... "
__ADS_1
"Berhentilah berpura-pura bodoh, Rey. sekarang jelaskan apa ini???!!! " Suara gadis itu makin meninggi.
Rey makin tak mengerti melihat apa yang ada di tangan Naira. ia tak bisa menjawab apa-apa.
"Kenapa diam? ternyata benar apa yang dikatakan Rora. kamu diam-diam mencintai nya kan?!!!"
"Rora??? Nai... aku benar-benar tak mengerti apa tujuan ucapan mu sekarang"
"Rora hamil, Rey... dan itu semua ulahmu....kenapa kamu tega sama aku Rey. kenapa harus Rora? kenapa harus adik ku? jika kamu ingin selingkuh kamu bisa cari wanita lain Rey... kenapa harus adik ku???" Ujar Naira dengan air mata yang terus bercucuran.
"Nai...tunggu dulu. ini pasti salah paham. aku nggak pernah selingkuh dari kamu... apa lagi dengan Rora? aku tidak pernah punya hubungan dengan nya. apa lagi sampai menghamili nya... "
"Stooop.... cukup! aku udah nggak bisa percaya sama kamu Rey. ini apa??? " ujar Naira sambil melemparkan sebuah amplop coklat ke dada Rey. Amplop itu jatuh, dan kemudian Rey memungut nya. dengan ragu ia membuka amplop tersebut, dan ia begitu terkejut dan tak percaya melihat isi amplop itu yang tak lain adalah foto-foto diri nya bersama Rora sedang tidur berpelukan tanpa busana di atas ranjang.
Rey menggeleng tak percaya.
"Naira... ini pasti tipuan Rora. dia mengajak ku bertemu malam itu di sebuah cafe. kata nya kau memintaku menunggu mu. lalu aku pergi ke sana. tapi aku hanya menemukan nya sendiri di sana. saat aku menanyakan dimana dirimu, dia bilang kau akan datang menyusul. aku ingat dia telah memesan minum untuk ku. dan setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba pagi nya aku terbangun di kamar hotel dekat kafe itu... Ini pasti ulah Rora. ..." Ujar Rey berusaha mengingat kejadian ia bertemu Rora malam itu.
"Berhentilah membela diri Rey. Rora tengah mengandung anakmu sekarang. ia sedang ketakutan saat ini. ia bingung jika mama mengetahui ini, ia harus bagaimana. maka temanilah dia. aku akui ini sangat menyakitkan. tapi suka atau tidak, bukan kah sekarang aku dituntut untuk ikhlas kehilanganmu? " ujar Naira menahan sesak di dada nya. lalu gadis itu berjalan mundur, menatap Rey yang tak bisa berkata apa-apa. kemudian ia berlari menjauhi tempat itu. Rey berusaha mengejar nya. namun gadis itu telah berlalu masuk ke dalam taxi dan Rey kehilangam jejak nya.
sejak malam itu Naira tak pernah kembali ke apartemen yang ia tempati bersama Rora. gadis itu bagai hilang di telan bumi. ponsel nya tidak bisa di hubungi. bahkan Rora pun tak bisa ia temukan. padahal ia ingin sekali menemui gadis itu untuk menjelaskan semua kejadian ini. tapi gadis itu pun ikut menghilang entah ke mana. hidup Rey sangat kacau ketika itu. berhari-hari ia tak masuk ke kantor, berhari-hari ia tak bisa makan dan tidur dengan baik karna mengkhawatirkan Naira. sempat ia berpikir bahwa Naira kembali ke Indonesia, pulang ke rumah orang tua nya. Namun ketika Rey mencoba menelfon, Bu Sinta langsung menanyakan kabar Naira pada nya. karna sudah dua minggu ini baik Rora maupun Naira tak pernah menelfon nya. Itu membuat Rey bertambah gelisah. dan sampai minggu ke tiga, ketika polisi mengabarkan Rey tentang penemuan mayat seorang wanita yang di curigai adalah mayat Naira. Rey tak ingin mempercayai itu, ia terus menyuruh polisi agar terus melakukan pencarian terhadap kekasih nya. Tapi polisi meminta nya untuk datang ke rumah sakit untuk memastikan bahwa mayat gadis itu bukanlah Naira. sebab ketika ditemukan, mayat itu memang tak mempunyai satupun identitas.
atas nasehat Rama, asisten pribadi nya. Rey pun dengan berat hati pergi ke rumah sakit untuk melihat mayat yang baru ditemukan oleh polisi itu.
Dan alangkah hancur hati Rey ketika membuka kain penutup gadis itu di kamar mayat. itu benar-benar Naira. awal nya ia tak ingin percaya, ia terus menampik dan mengatakan tidak mengenal gadis itu, namun ketika bibir nya terus mengucap kan bukan, air mata nya malah berkata lain. Rama berusaha menenangkan tuan nya itu. Rey histeris... tidak bisa menerima kenyataan itu....
Flashback off
Rey membenamkan wajah nya pada stir mobil, dan terus memukul stir itu dengan gusar. teringat kembali kisah pilu itu sungguh membuat nya begitu sedih dan merasa geram pada Rora. lalu dengan hati yang kalut, ia kembali mengemudikan mobil nya ke badan jalan.
"Kali ini... tidak lagi Rora. aku tidak akan membiarkan kau melakukan hal yang sama pada Elin... " Gerutu Rey sambik terus menjalankan mobil nya di jalanan sore yang padat di kota itu...
__ADS_1