JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
LUAHAN SORE


__ADS_3

"Ayo masuk dulu, " Ujar Elin pada Echa dan Risa saat sampai di perkarangan rumah yang ia tempati bersama Rey.


"Tidak usah Elin, aku akan langsung ke boutique mama setelah mengantar Echa. " Jawab Risa.


"Sayang sekali, ya sudah aku turun dulu ya"


"Okey, bye" balas Echa dan Risa bersamaan.


Elin melambaikan tangan pada dua sahabat nya itu, kemudian mobil Risa melaju dari hadapan nya dan menghilang di tikungan jalan.


Elin melangkahkan kaki nya ke perkarangan rumah, sekilas ia melirik mobil milik Rey terparkir di garasi, lalu ia mempercepat langkah nya nya masuk, tubuh nya tersa sangat lelah, ia ingin segera membersihkan tubuh nya, lalu akan beristirahat, begitu pikir nya.


Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan bagi gadis itu, lelah hati, lelah tubuh, semua terasa menghimpit nya.


Elin berjalan gontai masuk ke dalam kamar nya, ia mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, Elin menduga mungkin Rey sedang berada di dalam, ia amat lelah, membanting tubuh mungil nya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, lalu menghembuskan nafas nya sedikit kasar, dan sebenar nya ada sesak yang tertahan di dadanya.


Ceklek...


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Elin yang baru saja akan memejamkan mata nya langsung terbangun dan duduk di sisi ranjang.


Rey menatap nya sejenak,


"Kau sudah pulang? kenapa tidak menelfonku agar aku bisa menjemputmu?" tanya Rey sambil berjalan menuju ranjang.


Elin tak menjawab, air mata nya mengenang, dan Rey dapat menangkap kesedihan di wajah gadis itu.


"Hei, ada apa denganmu? "


Elin membenamkan wajah pada kedua telapak tangan nya, isak mulai tak terbendung, tiba-tiba seluet pertemuan dengan Arga hari ini, menciptakan pilu di hati nya.


Rey tak mengerti mengapa gadis itu sekarang menangis, apa sesuatu terjadi pada nya? begitu lah dalam pikiran Rey, dengan ragu ia meraih tubuh gadis itu, untuk kemudian ia bawa ke dada nya.


Kali ini Elin tak membantah, ia tak bisa memungkiri bahwa sekarang ia memang butuh seseorang untuk bersandar, ia butuh sosok untuk menenangkan sesak di hati nya.


Rey mengusap rambut ikal Elin, mencoba menenangkan. Saat ini tak perlu menanyakan apapun, ia tau gadis itu butuh ketenangan, biarkan saja ia meluahkan kesedihan nya.


Beberapa saat Elin benar-benar menumpahka. kesedihan nya di dada bidang Rey, kemudian, Elin mengangkat kepala nya dari dada Rey, ia menyapu sisa air mata nya, masih sesenggukan, namun kini hati nya mulai membaik.


"Terimakasih" ucap Elin, Rey menautkan kening nya, entah apa yang terjadi dengan istrinya itu, baru saja ia menangis dan terlihat kacau, tapi sekarang? apa dia membaik? apakah mood nya selalu berubah-ubah seperti ini? tidak.. pasti benar-benar sesuatu yang berat telah ia lalu hari ini.


"Sekarang bisakah kau menceritakan apa masalahmu?" Rey bertanya hati-hati.


"Aku gagal bertemu dosen pembimbing pagi ini, " ucap Elin masih menyapu sisa air mata nya.

__ADS_1


Rey diam, menunggu Elin melanjutkan cerita nya, tidak mungkin hanya karna itu bukan?


"Eumm.. kapan kau akan kembali ke Paris? "


Apa? Rey lagi-lagi menautkan alis nya, gadis ini tidak melanjutkan cerita nya, malah mengalihkan pembicaraan.


Apa dia sengaja menutupi sesuatu? atau ini ada hubungan nya dengan.... Arga? apa tadi ia bertemu Arga?


Ingin sekali Rey menanyakan itu, namun entah kenapa ia mendadak malas untuk menyebut nama pria yang sempat menjadi bagian terindah di hati Elin itu, bukan sempat, bahkan Rey yakin saat ini pun Arga masih menempati ruang terindah di hati gadis itu, mendadak cemburu, pasti.


"Ehem... apa kau ingin aku cepat-cepat terbang ke Paris? " akhir nya hanya itu yang berhasil ia ucapkan.


"Aku hanya bertanya," ucap Elin setelah menyelipkan rambut nya ke belakang telinga.


"Baiklah, mungkin lima atau enam hari lagi. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dulu. "


Elin menatap, pandangan mereka bertemu.


Ah, mata indah ini. Entah yang kali keberapa mata ini menatapku, ia selalu saja membuatku jatuh cinta, jantungku seakan berpacu lebih cepat melihat tatapan nya. Tuhan, terimakasih engkau telah menitipkan satu bidadari di dunia ini untuk ku, hanya saja jika aku boleh meminta lebih, aku ingin engkau jadikan ia seutuh nya untuk ku.


Untuk beberapa saat Rey terdiam menatap gadis itu, berbicara dengan hati nya sendiri.


Laki-laki ini, aku belum mengenal nya. Tapi entah apa yang membuatku percaya untuk menyimpan cerita pada nya. Sekarang dia suamiku, aku tidak tau sampai kapan ia bisa bertahan denganku, bertahan dengan tanpa cinta itu pasti sangatlah susah bukan? sebenarnya sejauh ini aku mengagumi pribadi nya, tapi untuk mencintai nya,...


"Apa ada kaitan nya dengan Om Bimo? " tanya Elin kemudian setelah terjadi percakapan singkat antara hati dan logika nya.


"Kenapa? "


"Ah, sudahlah. Kau tak perlu memikirkan Om Bimo, percayakan semua nya padaku, aku akan mengatasinya. " Rey bengkit dari sisi ranjang, lalu berjalan menuju balkon. Lebih tepat nya ia hanya ingin menghilangkan rasa gugup nya saat berdekatan dengan gadis itu.


Elin menautkan kening nya, kemudian malah menyusul Rey.


Angin bertiup lembut menerpa kedua nya. Untuk sesaat netra mereka menikmati pemandangan serta membiarkan angin di siang menuju sore itu menerpa tubuh mereka.


"Ini nyaman sekali," gumam Elin sambil memejamkan mata nya.


Rey menoleh, menatap kembali wajah gadis yang kini telah menjadi istri nya itu, menatap senyum tipis nya, serta rambut ikal coklat nya yang bergerak lembut tertiup angin.


"I Love you" lirih Rey, dan itu membuyarkan lamunan Elin.


Elin membuka mata nya, menatap.


"Apa? "

__ADS_1


"Euum.. apa kau mau ikut denganku malam ini? "


Ayolah Rey, ini bukan dirimu. Dia sudah jadi istrimu, mengapa kau tiba-tiba gugup seperti ini?


Elin menoleh pada Rey di samping nya. Ia tak bersuara, namun jelas netra nya tersirat tanya.


"Aku akan tunjukan satu tempat yang nyaman yang pernah aku datangi," sambung Rey dengan senyum manis nya.


"Oh, ya? " Elin melebarkan mata nya, tertarik.


Rey menangguk.


"Iya. " Elin menyuguhkan senyum nya.


"Kalau begitu, segeralah bersihkan tubuhmu. Kau terlihat berantakan sekali. " Ujar Rey tertawa kecil.


Elin memperhatikan diri nya sendiri. Ah, dia benar-benar lebih dari sekedar berantakan, wajah yang masih menyisakan air mata, rambut yang kusut masai, sungguh penampilan yang menyedihkan.


"Baik lah, kalau begitu aku akan mandi sekarang. " Ujar Elin setelah tersenyum kikuk pada Rey.


"Apa aku harus ikut memandikanmu? " Rey mulai tersenyum jail.


"Apa kau pikir leluconmu itu lucu? " ujar Elin dengan ekspresi datar, lalu berlalu meninggalkan Rey yang masih mengulum senyum nya di sana.


"Hei... kenapa kau berpikir aku sedang membuat lelucon? Aku suamimu Elina, aku sah saja memandikanmu! " teriak Rey menghilangkan rasa gugup yang maki sedari tadi.


Brak!!!


Pintu kamar mandi terbanting keras, Elin bersungut kesal.


"Huh, apa itu cara nya untuk membuatku lengah, lalu berkata 'iya, aku mau kau memandikanku' " Elin masih begumam kesal saat melepas pakaian nya.


"Astaga... membayangkan nya saja aku sudah merinding" sambung nya lagi, lalu merendam tubuh nya ke dalam bathup yang sudah berisi air hangat serta busa dan aroma terapi.


Sementara Rey masih berdiri di balkon itu, ia tak menyadari bahwa Pak Mun tukang kebun nya menoleh dan tersenyum geli mendengar teriakan nya barusan.


Saat Rey menoleh ke bawah, tepat nya taman yang berada tepat di bawah balkon itu, baru lah ia kembali mengeja kata-kata nya tadi, dan menyadari sesuatu yang memalukan telah ditangakap oleh rungu tukang kebun setengah tua itu.


Rey mengusap wajah nya,


"Pak Mun, anggap saja kau tidak mendengar apapun, itu hanya dengungan kumbang patah sayap yang lewat di kebun bungamu, okey? " berteriak konyol pada Pak Mun.


Pak Mun hanya membungkukan separuh badan nya sembari menyembunyikan senyum geli nya.

__ADS_1


"Apakah pria yang baru menikah akan mendadak konyol sepertiku? Astaga...." Ucap Rey merutuki diri nya sendiri, kemudian berlalu dari balkon itu, lalu ia menghenyakan ****** nya di atas sofa dan memilih menyalakan televisi.....


šŸšŸšŸšŸšŸ


__ADS_2