
Meskipun tidak tau apa yang sedang berusaha Echa sembunyikan, namun Elin dan Risa yakin ada sesuatu yang tidak beres pada sahabat nya itu.
'Ya tuhan, apa lagi ini? ' batin Elin sambil memperhatikan wajah Echa yang terlihat gelisah saat mereka kembali memainkan biola.
'Apa ini ada hubungan nya dengan Echa yang akhir-akhir ini sering terlihat tidak fokus? dan yang kemarin itu...." Batin Risa pula yang juga sedang tidak benar-benar fokus latihan.
Namun Elin dan Risa hanya baru menduga-duga dan bertanya dalam hati saja. sementara Echa tiba-tiba menghentikan tangan nya, lalu mengemas barang-barang nya. Elin dan Risa saling pandang, lalu serentak ikut menghentikan permainan biola nya.
"Echa. kamu mau kemana? " Tanya Risa melihat echa mengemasi barang nya.
"Aku sedang tidak enak badan. maaf, aku harus pulang sekarang." jawab Echa tanpa menatap sahabat nya.
"kenapa tiba-tiba? sebenarnya ada apa? " tambah Elin pula sambil memegang sebelah bahu Echa dari samping kanan nya.
Echa membalikan badan, dan kini ia berdiri berhadap-hadapan dengan dua sahabat nya itu. sementara 3 meter dari tempat mereka Adit masih duduk di sebuah bangku sambil memangku gitar nya, mata nya tak lepas dari tiga gadis itu.
"Maafkan aku. aku belum siap menceritakan semua ini ke kalian. aku terlalu takut untuk.... " Echa menjeda kalimat nya, ia menggit bibir menahan air mata yang telah bersiap-siap meluncur ke pipi nya.
"Hiks... hiks.. hiks... sekali lagi maafkan aku, tapi untuk saat ini aku perlu waktu untuk sendiri dulu... " Sambung Echa dengan tangis yang mulai pecah.
Elin dan Risa semakin bingung, mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk Echa. mereka juga tidak mengerti apa yang terjadi pada Echa saat ini.
"Aku antar kamu pulang ya." Ujar Risa.
"Tidak usah Ris, biar aku saja yang mengantar nya. " Ujar Adit yang tiba-tiba bersuara dari tempat duduk nya.
"Cha, kamu pulang sama Adit ya, kita nggak mau terjadi apa-apa pada mu. " Ujar Elin.
Echa mengangguk pelan.
"Adit, titip Echa ya. " ujar Elin pada Adit.
Adit mengangguk tersenyum. lalu Echa dan Adit berlalu dari ruangan itu meninggalkan Elin dan Risa yang masih bingung dengan situasi ini.
"Ya Tuhan... sepertinya masalah datang silih berganti. " Gumam Elin terhenyak pada sebuah kursi dalam aula kesenian itu.
"Tapi aku masih penasaran dengan Echa yang tiba-tiba seperti ini... bahkan kita sebagai sahabat nya tidak menyadari itu. Dan apakah Rora benar-benar mengetahui sesuatu tentang Echa? tapi apa?" ujar Risa sambil bertopang dagu di sebalah Elin.
"Entahlah, kepalaku mendadak pusing dengan semua masalah ini. " Ujar Elin sambil memijit kepala nya.
"Elin... kamu jangan memikirkan hal lain dulu, fokus saja pada pernikahanmu, karna ini menyangkut keluargamu. masalah Echa, biar aku saja yang mencari tahu, atau aku sendiri yang akan pelan-pelan menanyakan ini pada Echa. " Ujar Risa sambil menenangkan sahabat nya itu.
"Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Echa jika memang dia sedang ada masalah, Ris"
"Lin, aku tau itu. percayalah padaku, aku juga tidak akan membiarkan nya sendiri. "
"Aku merasa jadi sahabat yang buruk"
"Elin...tenangkan dirimu. semua akan baik-baik saja. percayalah. " Ujar Risa meyakinkan Elin.
Elin menghembuskan nafas nya dengan gusar. Risa mengusap pundak Elin sembari menenangkan. Hingga waktu berlalu, Kedua nya menyudahi kegiatan di aula kesenian hari itu. Elin dan Echa berjalan beriringan menuju parkiran.
"Kamu yakin tidak mau aku antar? " Ujar Risa saat akan keluar dari gerbang kampus itu, dan mendapati Elin masih berdiri di sana.
"Iya,Ris. aku naik kendaraan online saja. lagi pula aku tidak langsung pulang ke rumah. aku sudah janji akan fitting baju hari ini. "
Jawab Elin.
__ADS_1
"Oh, begitu. Ya sudah.hati-hati ya. Aku duluan " Ujar Risa sambil perlahan mengemudikan mobil nya menuju jalan raya.
Elin mengeluarkan ponsel nya, ia berniat akan memesan kendaraan online lagi.
Namun belum sempat Elin memesan kendaraan tersebut dari aplikasi ponsel nya, sebuah mobil Ferrari berhenti tepat di hadapan nya. Itu adalah Rey. Rey membuka kaca mobil nya dan tersenyum pada Elin.
"Masuklah" Ujar nya.
Elin tidak menjawab, ia kembali memasukan ponsel ke dalam tas nya, lalu masuk ke dalam mobil Rey. Lalu mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju tempat fitting baju yang telah direkomendasikan orang tua nya.
Hampir satu jam mobil itu membawa Rey dan Elin memecah jalanan, sekarang sampailah mereka di sebuah boutique yang bertuliskan VANYA BOUTIQUE BRIDAL di depan nya.
Elin dan Rey melangkah masuk ke dalam boutique tersebut.
"Selamat siang mas, mba. ada yang bisa kami bantu? " sapa salah seorang karyawan boutique itu ramah.
"Selamat siang mba, saya sudah buat janji dengan tante Vanya. apa beliau ada? " Ucap Rey pada karyawan itu.
"Beliau ada di lantai atas, segera saya panggilkan. mas dan mba nya silahkan duduk dulu di sini. " Ujar karyawan itu lagi sambil mempersilahkan Rey dan Elin duduk di sebuah sofa yang ada di sana.
"Terimakasih" Ujar Rey lagi. lalu karyawan itu pun meninggalkan Rey dan Elin, lalu menaiki tangga menuju lantai atas.
"Duduk lah dulu. " Ujar Rey pada Elin. Elin pun hanya menurut saja tanpa berkata-kata.
Tidak lama setelah itu, muncul lah wanita berpakaian modis dengan di dampingi karyawan tadi mendekat ke arah mereka.
"Rey... apa kabar sayang? " Ujar wanita itu menyapa Rey dan langsung mencium pipi kiri dan kanan Rey.
"Baik tante.. tante apa kabar? " balas Rey pula.
"Sangat baik. Dan apa kah ini yang nama nya Elin? " Ujar wanita itu pula dan sekarang tersenyum pada Elin. Elin membalas senyum wanita itu, dan menjabat tangan nya.
"Aduh sayang, kamu benar-benar cantik. pantas saja mama Rey begitu antusias menceritakan tentangmu." ujar wanita paruh baya bernama Vanya itu.
"Terimakasih tante. " balas Elin sungkan.
"Elin, tante Vanya ini adalah sahabat dekat mama. beliau juga yang punya boutique ini. " Terang Rey pada Elin.
"Oh, senang bertemu dengan tante. " Ujar Elin berusaha tersenyum lebar menginbangi senyum wanita itu.
"kalau begitu kita mulai sekarang? " Ujar wanita itu lagi.
"Baik lah tante." jawab Rey.
"Lulu, Rini, Aya, Mira. " Seru bu Vanya memanggil beberapa anggota nya
"Iya bu, " Jawab para karyawan yang di panggil nama nya itu mendekat.
"Kalian tolong bantu Mba Elin ya. " Ujar Vanya lagi.
"Baik, Bu" Ujar para karyawan yang sudah mengerti dengan tugas mereka.
"Mari mba Elin. " Ajak salah satu dari mereka.
Elin pun bangkit dari duduk nya, lalu mengikuti para karyawan itu. dan meninggalkan Rey dan bu Vanya di sana.
Setelah beberapa saat....
__ADS_1
Elin kembali ke ruangan tempat Rey menunggu. kini ia telah memakai gaun pengantin dengan warna coklat muda, di hiasi payet-payet berwarna emas di beberapa bagian. Rambut Elin tertata rapi, serta sedikit polesan make up di wajah nya yang menambah kesan mewah namun tetap anggun.
Elin berdiri mematung di sana, sementara Rey tanpa bersuara berjalan mendekati Elin.
tak ada sesikitpun senyum dari wajah jelita itu. dalam hati nya, jika saja bukan karena akan mencocokan juga dengan baju Rey, ia tidak akan berdiri di sana dan membiarkan Rey menatap lekat pada nya seperti saat ini.
"Kamu cantik sekali. " Puji Rey saat berdiri kurang satu meter di hadapan Elin.
"Biasa saja mata mu itu. jangan menatapku seperti itu. aku tidak menyukai nya. cepat tetapkan pilihan, yang ini saja agar aku tidak usah bolak-balik mencoba yang lain nya. ini membosankan. " Ujar Elin memelankan suara nya agar tidak terdengar orang-orang yang ada di boutique itu, terutama tante Vanya.
"apa tidak sebaik nya memakai warna abu-abu saja? aku rasa abu-abu lebih cocok untukmu. " Ujar Rey sengaja menggoda Elin.
"Rey!!!! "
"Baiklah baik lah... aku hanya bercanda. kamu cocok memakai warna apa saja. tapi ini membuat mu tampak semakin seksi. " bisik Rey
"Hentikan. dasar mesum!!! " Ujar Elin dengan menyilangkan kedua tangan nya di depan dada nya. Elin tampak sangat kesal oleh Rey. Namun Rey malah terkikik melihat tingkah Elin.
"Bagaimana Rey. apakah ini sudah cocok? " Tanya Bu Vanya yang tiba-tiba mendekati mereka.
"Iya tante, kami memilih model ini saja." Jawab Rey
"baik lah. ini memang terlihat sempurna sekali di tubuh Elin. kalau begitu sisa nya biar anggota tante yang urus, tante ada urusan ke luar. " Ujar Bu Vanya.
"Baiklah tante. terimakasih banyak bantuan nya. "
"Sama-sama Rey. ya sudah, tante jalan dulu ya. bay Elin. "
"Bay Tante."
Lalu setelah selesai dengan urusan di boutique itu, dan setelah Elin melepaskan kembali gaun pengantin yang di coba nya dengan bantuan karyawan di sana, sekarang mereka berjalan ke luar menuju mobil. Hari pun sudah beranjak sore.
"Elin, kamu mau makan apa? " Ujar Rey sambil mengemudikan mobil nya.
"Terserah saja. "Jawab Elin singkat sambil terus menatap jalanan yang seakan berlari mengejar mobil itu.
Lalu Rey menghentikan mobil nya tepat di hadapan sebuah resto.
"Kita makan di sini saja. ayo turun. " ucap Rey
Elin mengikuti langkah Rey memasuki resto tersebut. setelah mendapatkan tempat duduk, mereka pun memesan makanan.
beberapa menit menunggu, kini makanan mereka datang juga. pelayan itu menata makanan di atas meja dengan rapi.
"Silahkan Mba, Mas.. " Ujar Pelayan itu dengan ramah. lalu ia meninggalkan meja itu menuju meja di sebelah nya lagi. kemudian Elin dan Rey mulai menikmati makanan mereka masing-masing.
πππππ
**LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
terimakasih sudah membaca sampai episode ini.
__ADS_1
happy readingπππ**