
Ramai. mungkin itu salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana kantin di siang menjelang sore itu. kantin yang bernuansa seperti kafe lebih tepat nya. karna ini adalah kampus elite, maka kantin nya juga juga terlihat sangat elit.
Elin membawa ransum makan siang di tangan nya. sesaat ia tampak cilingukan mencari tempat di mana Risa dan Echa menunggu nya.
karena memang tadi Risa dan Echa lebih dulu ke kantin, sedangkan Elin ke toilet dulu.
"Elin!!!"
Teriak seseorang dari salah satu pojok ruangan itu. Elin tersenyum lega. Lalu segera menuju suara yang tadi memanggil nya. Di sana sudah ada Echa dan Risa.
"Hai" ucap Elin dengan tersenyum pada dua sahabat nya itu, lalu mengambil kursi di depan Echa dan Risa, kemudian duduk di sana.
Tidak lama setelah itu, Menyusul pula Arga dan Adit yang juga ingin duduk satu meja dengan mereka.
"Wah, Asik. Adit bergabung sekarang. Kau kemana saja tuan gitaris? " Ujar Risa menggoda.
"Biasa Ris, anak muda." Jawab Adit enteng sambil menyendok makanan ke mulut nya.
"Aku dengar kamu sedang sibuk dengan band baru? bagaimana perkembangan nya,Dit?" tanya Elin pula.
"oh, itu." jawab Adit terputus saat ia mengambil minuman, kemudian meneguk nya beberapa teguk.
"kalau perkembangan masih belum apa-apa Lin. Kita masih kurang satu personil untuk keyboard nya. Ini si Arga diajah bergabung jawaban nya tar sok tar sok melulu... " sambung Adit lagi menyikut Arga.
"Aku bukan nya tidak mau bergabung. hanya saja aku lebih tertarik pada biola. " sela Arga pula.
"Tertarik biola atau gadis yang jago biola nya? " Ledek Adit. Arga terkekeh.
Sementara Elin tampak tersenyum sambil terus memakan makanan nya.
"Itu juga termasuk." Jawab Arga tersenyum melirik Elin.
Percakapan itu terus berlanjut hingga jam kuliah berikut nya masuk. Dan mereka pun beranjak meninggalkan kantin itu.
__ADS_1
***
Sementara itu, di rumah Elin....
"Iya, Mas. Aku tau maksud kamu baik. tapi kalau Elin benar-benar tidak menyukai anak itu, kita harus bagaimana? ".
Suara mama Elin menggema di ruang keluarga rumah mewah itu. Di samping nya duduk seorang laki-laki paruh baya, ia tak lain adalah ayah sambung Elin.
Ada sesuatu yang serius yang tengah mereka bincangkan. Itu tergambar dari raut wajah mama Elin yang terlihat sedikit khawatir, atau entah apa lah itu nama nya. Yang jelas, di wajah yang masih terlihat cantik saat usia tak lagi muda itu tampak tak terlihat sedang baik-baik saja.
"Anita, kita ini adalah orang tua. kamu mama nya. Sebagai orang tua kita ingin yang terbaik untuk anak kita. Elin anak satu-satu nya dikeluarga ini. Dia akan meneruskan apa yang keluarga ini punya saat ini. perusahaan, saham, dan lain sebainya. Itu semua butuh seseorang yang tepat berada di samping nya kelak. Aku rasa Rey adalah yang paling tepat untuk Elin. Kamu juga sudah pasti mengenal anak itu dengan baik, bukan?". Tutur Pak Bimo ayah sambung Elin panjang lebar.
"Baik lah. Satu bulan ke depan aku akan mencoba lebih sering mengajak Elin berbicara. mudah-mudahan saja ia sedikit membuka hati nya." Jawab Mama Elin setelah menghela panjang. Ada harapan yang mendalam dalam kalimat nya itu.
"Itu lebih bagus. kalau perlu ajak ia bertemu lebih sering dengan mba Dewi. agar ada pendekatan." jawab pak Bimo lagi.
Wanita paruh baya itu hanya terdiam. Menatap jauh keluar jendela kaca, yang mana di sana terhampar berbagai tanaman hias yang terawat rapi oleh tangan Bi Minah, asisten rumah tangga mereka.
Sementara itu, hari bergerak semakin sore. Langit mulai menguning, burung-burung mulai berterbangan pulang ke sarang masing-masing. Surya pun perlahan jatuh dan tenggelam di ujung cakrawala.
"Aku ingin pulang terlambat hari ini, Ga." Ujar Elin saat mereka duduk disebuah batu besar di pinggir pantai.
Elin telah memutuskan untuk menceritakan perihal perjodohan itu pada Arga.
Sepulang dari kampus tadi, Elin dan Arga memilih untuk ke pantai terlebih dahulu. Elin yang punya ide itu. sementara Risa dan yang lain nya memilih untuk pulang sendiri-sendiri karna ada rencana masing-masing juga. Risa seperti biasa pulang lebih awal karena membantu ibu nya di boutique , sementara Echa yang tampak nya sedang jatuh cinta lagi, sibuk dengan kekasih baru nya. Sedangkan Adit, ia sibuk dengan Band baru nya.
Dan di sini hanya ada Elin dan Arga. mereka duduk berdampingan sambil menikmati suasana laut di sore itu.
"Kau sedang ada masalah? " Tanya Arga menatap wajah Elin.
Elin menarik nafas panjang. lalu meletakan biola yang dari tadi digesek-gesek nya asal.
"Aku rasa, rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk pulang." Ucap Elin sambil menatap lurus pada ombak yabg sesekali menerpa bibir pantai.
__ADS_1
Arga menatap Elin dengan seksama. Dahi nya berkerut tak mengerti.
"Apa maksudmu? " Tanya Arga lagi.
"Aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja kemarin Mama membicarakan soal perjodohan padaku." jawab Elin mulai terisak. Ia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
Arga yang mulai paham maksud pembicaraan Elin berusaha menenangkan hati Elin. Ia meraih tubuh Elin. Lalu menyandarkan kepala gadis itu di bahu nya. Tangan nya mengusap lembut rambut ikal coklat milik Elin.
"Kamu tenang dulu. Coba ceritakan pelan-pelan" .Bujuk Arga menenangkan Elin, meskipun sekarang hati nya mulai gelisah, sesak, dan tidak tenang.
"Mama berniat menjodohkan aku, Ga. Aku bingunh. Aku benar-benar bingung dengan semua rencana yang tiba-tiba itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mama bilang padaku, bulan depan ia akan datang ke Indonesia menemui keluargaku. Aku harus bagaimana, Ga? " ucap Elin dengan air mata yang kini mengalir deras di pipi mulus nya.
"Elin... kamu harus tenang ya. kamu tidak boleh tertekan dulu dengan situasi ini. Kita harus tenang dan mencari jalan keluar nya. "
"Apa kamu percaya pada ku? " Tanha Arga yang masih berbicara dengan tenang, meski ada gemuruh hebat di hati nya.
Ia tidak boleh menunjukan itu pada Elin, ia harus tenang, agar Elin tidak merasa terlalu terpuruk menghadapi masalah ini.
"Tentu saja aku percaya padamu. Aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin kehilanganmu." Ujar Elin mengangkat kepala nya dari bahu Arga, lalu menatap manik mata Arga dengan penuh kesungguhan
Arga kemudian meletakan kedua telapak tangan nya di pipi Elin... balik menatap. dan kemudian mengecup puncak kepala Elin.
"Aku janji, tidak akan membiarkan mu sendiri menghadapi ini" ucap Arga. kemudian memeluk tubuh mungil Elin.
"Terimakasih, Ga. Aku sayang kamu." balas Elin sambil melingkarkan tangan nya ke tubuh Arga.
"Aku juga sayang kamu. Sekarang aku akan mengantarmu pulang. " Ucap Arga pula. Elin pun menggangguk.
Meski masalah nya jauh dari kata selesai, namun setidak nya sekarang ia merasa lega, karna telah menceritakan nya pada Arga. dan Arga pun menanggapi ini dengan sangat dewasa. Dalam hati, Elin sangat bersyukur punya seorang kekasih seperti Arga. dan itu membuat nya semakin yakin bahwa Arga lah yang patut jadi pendamping nya kelak.
ššššš
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah nya.
__ADS_1
terimakasih... :-)