
Satu minggu berlalu, dan selama itu juga Elin selalu datang untuk menjenguk Arga ke rumah sakit. ditemani Echa dan juga Risa. Elin juga semakin akrab dengan kedua orang tua Arga.
Siang itu tanpa perkiraan hujan turun mengguyur jalanan. Elin dan dua sahabat nya berlari kecil menuju parkiran. Rencana nya Risa dan Echa akan mengantar Elin dulu menjenguk Arga, baru setelah itu mereka pulang.
Namun ketika tiga gadis itu sampai di parkiran, seorang laki-laki dengan payung hitam telah menunggu di sana dengan senyum tanpa dosa ny, ia adalah Rey.
Elin memasang wajah malas, dan ingin buru-buru masuk ke mobil. Namun hal itu di cegah oleh Rey. Echa dan Risa yang melihat itu kebingungan, karena mereka memang belum mengenal Rey secara langsung.
"Kau akan ke rumah sakit bukan? ayo aku antar." ujar Rey
"Siapa? " Tanya Risa berbisik pada Elin.
"Rey" Elin menjawab singkat
Rey pun mengulurkan tangan pada Risa dan Echa untuk memperkenalkan diri nya.
"Aku calon suami Elin." Pungkas Rey pada Echa dan Risa dengan tatapan jail yang ia lemparkan pada Elin.
"Jaga omongan mu laki-laki aneh. aku bukan calon istri mu! " Elin mendengus kesal.
"Apa ini pangeran dari negeri dongeng? tampan sekali... " Bisik Echa pada Risa. Risa langsung mencubit Echa.
"Aauuu" Pekik Echa menggosok-gosok pangkal lengan nya.
"Aku akan pergi dengan mereka" ujar Elin menolak tawaran Rey.
Namun bukan Rey nama nya bila ia akan mengiyakan begitu saja. ia tetap memaksa Elin agar Elin mau masuk ke mobil nya.
"Ayolah. kedua sahabat mu ini mungkin punya kesibukan lain, jadi biarkan aku yang mengantarmu"
Ujar Rey melirik Risa dan Echa. Namun entah mengapa, Risa dan Echa langsung mengangguk saja mengiyakan, meskipun dengan berat hati.
"Elin, kamu pergi lah bersama Rey, sepertinya dia tidak akan menyerah sebelum kau mengiyakan nya." Bisik Risa meskipun itu masih dapat di tangkap oleh telinga Rey.
Rey tersenyum simpul..
Elin kembali menatap Rey. Rey membalas nya dengan senyum menyebalkan menururut Elin. Lalu dengan Langkah yang dihentakan, Elin masuk kedalam mobil Rey, tentu nya dengan wajah yang sangat kesal.
"Terimakasih... kalau begitu mari mulai hari ini kita menjadi teman juga." Ujar Rey pada Risa dan Echa dengan senyum yang masih awet di bibir nya. Echa dan Risa tersenyum kikuk.
Kemudian Rey berlalu dari hadapan dua gadis itu.
Echa dan Risa melambaikan tangan nya pada Elin yang sudah duduk di sebelah kemudi mobil Rey. Lalu mobil itu ke luar dari parkiran dan membawa Elin ke luar dari gerbang kampus seiring hujan yang kini menyisakan gerimis.
" Apa kau lapar? " Tanya Rey pada Elin yang hanya diam saja di sebelah nya.
__ADS_1
"Tidak. " Jawab Elin pendek tanpa merubah mimik wajah nya.
Rey hanya menggangguk, lalu kembali fokus pada jalan di depan nya. Elin melirik dengan ekor mata nya.
"Kau tau kan, aku ke rumah sakit itu untuk apa? " Tanya Elin kemudian.
"Iya. Untuk menjenguk Arga." Balas Rey dengan santai.
"Kau tidak merasa keberatan sama sekali? "
"Untuk apa? "
"karna kau tau bukan, Arga itu kekasih ku? "
"Tidak masalah, bukan kah ia baru menjadi pacarmu? sementara aku calon suami mu" jawab Rey dengan percaya diri nya.
Elin mendengus dan memutar mata.
"Jangan mimpi" umpat nya kemudian sambil membuang pandangan ke luar jendela mobil.
Sementara Rey langsung terkekeh menyaksikan wajah kesal Elin.
"menggemaskan sekali. " celetuk nya kemudian.
Elin tidak menanggapi. Lalu beralih mengambil ponsel nya yang berdering dari dalam tas. ternyata Mama elin yang menelpon.
"Iya, ma"
"Elin, apa kau masih di kampus?" tanya mama nya dari sebrang telfon.
"Eem... Tidak, ma. " jawab Elin sedikit ragu.
"Lantas?"
"Ini aku sedang di jalan ma... "
"Dengan Risa? "
"Tidak, aku kebetulan sedang bersama Rey" jawab Elin malas
"Wah, bagus kalau begitu, mama senang sekali mendengar nya. ini mama hanya mau memberi tahu mu, kalau mama sama Om Bimo mendadak harus berangkat ke luar kota hari ini. mama pergi agak lama, mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas hari. "
"oh, tidak apa-apa, ma. kalau begitu mama hati-hati ya. "
"Iya. Kau juga jaga diri baik-baik. Mama mau berangkat dulu . Bye... "
__ADS_1
Sambungan pun langsung diputuskan oleh Mama Elin. Elin kembali memasukan ponsel itu ke dalam tas nya, dan kembali menatap ke luar jendela mobil.
Tidak lama setelah itu, mobil pun sampai di sebuah rumah sakit tempat Arga di rawat.
Setelah memarkin kan mobil, Elin dan Rey pun langsung memasuki rumah sakit tersebut.
Kini mereka telah sampai di depan ruang rawat inap Arga. Elin langsung masuk, namun di dalam ruangan itu sudah ada Adit.
"Adit? dari kapan kau di sini? " tanya Elin.
Adit memasukan ponsel ke dalam kantong celana nya. Lalu bangkit dari tempat duduk yang ada di samping brangkar.
" Aku sudah berada di sini dari jam delapan tadi pagi. soal nya orang tua Arga menelfonku. mereka mendadak harus terbang ke Jepang hari ini, karena ada urusan. Mereka memintaku untuk menjaga Arga sampai mereka kembali. Mereka mau mengabari mu, tapi mereka bilang tidak enak hati harus mengganggu mu. " ujar Adit menjelaskan.
Elin hanya mengangguk mengiyakan, lalu mengambil tempat duduk di samping Arga yang terbaring di atas bangsal nya.
"Elin? " ucap Adit lagi. Namun kali ini ia bertanya tentang Rey dengan lirikan mata nya.
"Oh iya. Aku hampir saja lupa. kenalkan ini Rey, dia sepupuku. " Ujar Elin sekena nya.
Adit pun mengulurkan tangan nya pada Rey. yang di sambut hangat oleh Rey. Namun Rey menatap Elin dengan tatapan protes, semenrara Elin tidak menghiraukan sama sekali.
"Elin, karena kau sudah berada di sini, aku ingin ke luar dulu sebentar. " Pamit Adit.
Elin mengangguk mengiyakan, lalu Adit pun berjalan ke luar dari ruangan itu.
Elin menatap tubuh Arga yang terbaring di atas bangsal itu, tangan nya menggenggam jemari Arga. Lalu kemudian ia pindah menoleh ke arah Rey yang berdiri dua meter dari nya.
"Bisakah kau tinggalkan kami berdua saja di sini? " tanya Elin pada Rey, yang sebenarnya kalimat itu adalah pengusiran secara halus terhadap Rey.
Rey mengangkat bahu nya tak keberatan. Lalu ia melangkah ke luar dari ruangan itu. dan berjalan menuju ruang tunggu.
Elin kembali menatap wajah Arga setelah punggung Rey menghilang dari balik pintu.
"Arga, ini aku Elin. kau cepat pulih ya. kau tidak tahu kan, betapa asing nya situasi ini bagi ku?. kapan kau akan menjemputku lagi seperti biasa untuk berangkat ke kampus? kau tahu? aku sangat merindukan itu. "
"Ah.. hari ini dia datang bersamaku ke sini. aku harap, kau tidak marah padaku. Dia memang sedikit menjengkelkan, aku sangat merasakan itu. Tapi aku harus bagai mana sekarang, dia terus saja datang padaku, desakan mama untuk aku segera menerima lamaran nya membuatku sangat frustasi. "
Elin menghela, dan kembali mengatur hati nya untuk kembali bercerita pada Arga yang terbaring di bangsal itu.
"Arga...aku tidak mengerti harus berbuat apa. please jangan biarkan aku sendiri Ga. Aku membutuhkan mu. " Elin terisak, lalu mencium punggung tangan Arga.
Elin tak menyadari ada seseorang yang berdiri di luar sana sedang memperhatikan nya, ya Rey mendengar ucapan Elin pada Arga.
Dan gerimis di luar sana belum seberapa dibanding gerimis di hati Rey saat itu. Ia merasakan hati nya sakit melihat itu, dan benar saja, ternyata saat ini ia benar-benar telah jatuh cinta pada gadis berambut coklat itu.
__ADS_1
ššššš