
Hari beranjak semakin sore. Adit, Risa, dan Echa telah dari satu jam yang lalu berpamitan pada orang tua Arga untuk pulang terlebih dahulu.
Namun lain hal nya dengan Elin, meski tadi Echa dan Risa telah menawarkan untuk mengantar nya pulang, ia menolak.
Elin kini berada di samping Arga, mengambil tempat duduk, lalu duduk di sisi bangsal.
Ia menatap Arga yang terbaring lemah, kemudian menggenggam jemari Arga dengan lembut.
"Arga, ini aku, Elin. kau pasti tidak akan membiarkan aku melewati semua ini sendiri bukan? kau sudah berjanji padaku kalau kau akan selalu ada untuk ku, Ga. Untuk itu kamu harus tepati janji itu. kau pasti kuat Ga. dan kau harus kuat demi impian kita. "
Elin menjeda kalimat nya, air mata nya jatuh tanpa perintah. lalu menghela nafas dalam diantara isak nya.
"Arga, Aku tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti, aku sudah menaruh harapan banyak pada mu. please... jangan menyerah. aku membutuhkan mu, Ga" Elin menunduk. membenamkan wajah nya di sisi Arga, menangis tersedu di sana untuk beberapa saat.
Kemuadian pintu terbuka, Elin sontak menoleh, ternyata Mama Arga. Wanita paruh baya itu berjalan ke arah nya. Elin dengan sigap langsung bangkit dari tempat duduk nya. Wanita itu kini sempurna berada di hadapan nya, menatap Elin sejenak, lalu menatap anak nya dengan sendu.
"Kau Elin bukan? " Wanita itu bertanya tanpa mengalihkan pandangan nya dari Arga. Ia membetulkan selimut Arga, lalu duduk di samping nya.
Elin hanya mengangguk, tanpa bersuara.
"Entah kali ke berapa ia bercerita tentang dirimu, aku tak bisa menghitung nya. Tapi aku tau, anak ku sangat mencintai mu. Dia begitu menyanjung mu..."
Wanita itu tampak menarik nafas berat.
"Terus terang, aku pernah memperingatkan nya agar jangan terlalu mencintai seseorang, sebab, jika suatu saat wanita yang dicintai nya itu tidak ditakdirkan untuk nya, ia akan terpuruk lebih dalam melebihi rasa cinta itu sendiri. "
Wanita itu menatap ke luar jendela kaca yang gorden nya dibiarkan terbuka, menampilakn dengan jelas awan di luar sana sudah mulai berwarna jingga.
Sementara Elin hanya berdiri mematung satu meter dari mama Arga, ia hanya terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang di sampaikan wanita itu.
"Sampai hari ini aku bertemu dengan mu, ternyata anak ku benar. Kau benar-benar cantik, bahkan lebih cantik dari yang aku bayangkan. " Wanita itu kini tersenyum lembut menatap ke arah Elin. Elin hanya tersenyum gugup.
"Dan hari ini aku juga yakin, Arga tidak salah telah mencintaimu. Aku percaya dari tatapan matamu, kau perempuan yang pantas untuk dicintai sedalam itu. Aku sebagai Ibu, sangat berharap banyak, untuk kebahagiaan putraku. Tapi lihat lah sekarang kondisi nya. bahkan kita tidak tahu kapan ia akan sembuh?, berapa lama kita akan menunggu? dan apa kamu bisa menunggu ketidak pastian itu? "
Wanita itu kini menangis. Ia tidak bisa membendung kesedihan nya dengan apa yang telah menimpa Arga. Elin yang melihat itu melangkah mendekat, dengan ragu dan gugup, ia mengusap punggung wanita itu dan memeluk nya.
"Aku akan menunggu Arga, tante. Sebagaimana Arga, aku juga sangat menyayangi nya" ujar Elin lirih.
Dua wanita yang tengah rapuh itu saling menguatkan satu sama lain. di pintu masuk tampak Papa Arga mengusap wajah nya. kesedihan tak akan luput dari wajah itu, namun sebagai laki-laki ketegaran tampak lebih menguasai pikiran nya.
__ADS_1
ππππ
Elin melangkah dari rumah sakit itu setelah langit menjadi gelap. ia pamit pada papa dan mama Arga, dan berjanji besok ia akan kembali lagi setelah pulang kuliah. ketika Elin hendak menunggu taxi, tiba-tiba sebuah mobil ferrari berhenti tepat di hadapan nya.
"Masuk lah. aku akan mengantarmu pulang"
Ucap seorang laki-laki dari balik kemudi. laki-laki itu tidak lain adalah Rey.
mengetahui itu, Elin membuang muka. dan memilih berjalan menjauh dari mobil itu tanpa menggubris Rey. Namun Rey tetap mengikuti Elin dengan mobil nya.
"Elin.. masuk" teria Rey lagi dari balik kemudi.
"Aku bisa pulang sendiri" jawab Elin datar.
Namun tanpa berkata-kata lagi, Rey menghentikan mobil nya, lalu keluar dari mobil tersebut. dan tanpa persetujuan Elin, ia menangkap tangan Elin dan memasukan nya dengan paksa ke dalam mobil. Elin memberontak, namun tenaga nya kalah oleh Rey. kini Elin sempurna duduk di samping Rey.
"Kenapa kamu selalu memaksaku huh? " teriak Elin yang kesal dengan sikap Rey.
"Pelankan suara mu, telingaku bisa sakit oleh suara mu yang cempreng itu." Ucap Rey menapat Elin.
"kalau begitu biarkan aku pulang sendiri"
jalanan yang mulai gelap di lintasi oleh mobil itu dengan iringan gerutu dan umpatan Elin atas kekesalan nya. namun Rey dengan sangaja pula meninggikan volume radio di mobil itu dengan cukup keras.
Namun saat mereka lewat di depan sebuah retoran jepang, Rey memilih berhenti dan membelokan mobil nya masuk ke parkiran.
"Hei. kamu bilang kamu akan mengantarku pulang!! " teriak Elin saat Rey akan turun dari mobil itu.
"Pulang dengan perut lapar itu sangat tidak bagus. ayo kita makan dulu. di sini sushi nya enak sekali. kamu harus coba"
"Tapi aku tidak lapar"
"Ayo lah. jangan membohongi nya" balas Rey sambil menujuk perut Elin.
memang benar juga. dari tadi pagi belum ada satu pun makanan yang masuk ke perut Elin. ia benar-benar lapar sekarang. seperti nya kali ini, menuruti laki-laki aneh ini tidak akan ada rugi nya.
Elin turun dari mobil, mengikuti langkah Rey ke dalam restoran.
"Makan lah, menunggui orang sakit seharian itu membuat nafsu makan mu hilang bukan? " Ucap Rey sambil menyuapkan sepotong sushi ke dalam mulut Elin. namun Elin memilih mengabaikan, dan menyuap sendiri sushi dari tangan nya.
__ADS_1
Rey menarik kembali tangan nya, dan memilih memasukan potongan sushi itu ke mulut nya.
"Dari mana kamu tau?" tanya Elin berusaha bersikap tenang. meski dalam hati ia penasaran sekali bagai mana Rey bisa tau ia berada di rumah sakit, dan menunggui orang sakit???
"Aku tidak sengaja melihat mu ke luar dari kampus tadi pagi bersama teman-teman mu itu. lalu aku mengikuti mu. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku juga sempat mendengarkan apa yang dialami Arga. Aku turut prihatin atas hal itu. " jelas Rey yang kemudian kembali menyuap sepotong sushi ke mulut nya.
"Jadi kamu mengikuti ku dari pagi? " ulang Elin setengah tak percaya.
Rey membalas dengan senyum sumringah tanpa berkata apa-apa.
"Dasar aneh" umpat Elin hampir tak terdengar.
"Lalu, kamu sudah tau kan. Arga itu siapa? " lanjut Elin lagi.
"Yah.. dia pacar mu" jawab Rey santai
"Lalu? "
"apa? "
"Lalu, apa kamu sekarang mau membatalkan rencana itu? " Elin menekan kalimat nya.
"Tidak. aku sudah berjanji untuk menikahi mu, Elina sharin Gunawan" Balas Rey tak kalah menekan kalimat nya juga.
"Tapi aku sudah punya Arga. aku sudah berjanji akan menunggu nya. aku mencintai nya. kenapa kamu tidak mengerti? " Teriak Elin sambil meletakan sumpit di atas meja denga. kasar. itu membuat pengunjung restoran yang lain menoleh ke arah nya.
"Jangan mengganggu ketenangan pengunjung lain... ayo kita pulang sekarang" ujar Arga meraih tangan Elin dan beranjak keluar dari restoran itu.
Di dalam mobil. Rey sejenak menarik nafas panjang.
"Elin. aku tau kamu menganggap ku aneh. aku memaksa mu, aku tidak memikirkan perasaan mu. tapi suatu saat kamu akan memahami semua nya" ucap Rey dan kemudian menghidupkan mesin mobil, lalu keluar dari parkiran kembali melanjutkan perjalanan nya ke rumah Elin.
Elin hanya menangis di samping Rey. ia tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja Rey katakan, sebab hati nya sudah terlalu sesak dan juga tidak mempedulikan Rey yang berada di samping nya.
mobil itu terus melaju memecah kesunyian di antara kedua nya. sampai akhir nya 30 menit kemudian, mereka sampai di rumah Elin. tanpa mengucap apa pun, Elin langsung turun dari mobil, dan meninggalkan Rey yang menatap punggung Elin sampai tak terlihat lagi setelah Elin masuk ke dalam rumah nya. lalu Rey pun kembali mengemudikan mobil nya, menjauh meninggalkan rumah itu. ia memilih langsung pulang ke rumah orang tua nya.
**HAI... JIKA KALIAN SUKA CERITA INI, JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR UNTUK TERUS UP CERITA INI YA .DENGAN KLIK LIKE, VOTE, DAN JUGA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN.
THANKS
__ADS_1
HAPPY READINGπππ**