JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
SECEPAT ITU?


__ADS_3

Hujan sore itu mengguyur jalanan begitu deras.Elin mengemudikan mobil nya menuju jalan pulang. Ia mengirim pesan pada Risa bahwa rencana ke rumah Echa sore ini


terpaksa ia urungkan karena kondisi hati nya yang buruk.


kurang lebih 30 menit Elin menyusuri jalan raya yang tak pernah sepi itu. lampu-lampu dari kendaraan lain bekelap-kelip bagai kunang-kunang. hari masih terlalu jauh untuk menuju malam, namun karna cuaca yang begitu buruk, langit yang harus nya masih terang benderang, berubah gelap seakan sebentar lagi akan malam saja.


Elin sampai di perkarangan rumah nya saat hujan masih membuncah. namun ia mengernyitkan dahi nya saat melihat mobil pak Bimo sudah terparkir dalam garasi. Elin berpikir, apa mama nya sudah pulang dari rumah sakit? tapi bukan kah kemarin Rey bilang besok? dan di sana juga terparkir mobil milik Rey. kenapa Rey ada di rumah nya?


Elin memasukan mobil nya ke garasi, lalu ia sejenak melihat ke spion setelah keluar dari mobil tersebut.


Elin menggerutu, melihat mata nya yang sedikit sembab karna habis menangis.


Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mama...? " ucap Elin ketika melihat mama nya sudah berada di ruang tamu, dan Rey serta tante Dewi juga di sana.


"Elin.. kamu sudah pulang? " ujar mama nya sambil tersenyum.


"Mama kapan pulang dari rumah sakit? " tanya Elin mendekati mama nya, lalu menyalami tante Dewi.


" Tadi siang. Dokter sudah mengizinkan nya. lagi pula mama sudah merasa sehat, Elin. " jawab mama nya.


"oh, syukur lah ma. " ujar Elin lega sambil mengambil tempat duduk di sebelah mama nya.


"Elin, kamu kenapa? habis menangis? " tanya mama Elin menatap wajah Elin.


"Ah, tidak ma. Mungkin karna cuaca saja. jadi aku sedikit flu. " kilah Elin.


"Tante Dewi kapan sampai? " tanya Elin kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Belum lama Elin, tante juga baru datang. kebetulan kemarin tante tidak sempat menjenguk mama kamu, jadi sekarang tante datang ke sini. " jawab Bu Dewi dengan tersenyum ramah.


"Iya Elin. dan kau tau? sekarang kami sedang membicarakan rencana pernikahan mu dan Rey. " Sela pak Bimo sambil melirik istri nya, bu Anita pun tersenyum mengangguk.


Elin menatap Rey, Rey hanya tersenyum kikuk.


"Secepat itu ma? " tanya Elin menatap mama nya. Mama Elin mengangguk sambil tetap tersenyum.


"Iya Elin, lagi pula... apa lagi yang di tunggu? Rey pun sudah terlalu lama berada di Indonesia. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia selesaikan dari sini, dan menurut tante, niat baik itu jangan di tunda-tunda. " Ujar Bu Dewi menjelaskan.


"Lusa kita gelar sesi lamaran, lalu 15 hari lagi kita laksanakan akad dan resepsi nya. " ujar Pak Bimo.


Elin makin melongo mendengar penuturan itu. Tapi apa yang bisa ia katakan? bukan kah kemarin ia sudah menyetujui rencana pernikahan itu?, dan itu arti nya ia harus menerima segala keputusan ke dua belah pihak itu.


"Tapi bagai mana kuliah ku?." Tanya Elin dengan suara lirih

__ADS_1


"Kamu itu sudah semester akhir, Elin. Lagi pula setelah menikah, Rey tidak keberatan jika kau selesaikan dulu semua nya di sini, baru setelah itu Rey akan membawa mu ke Paris. Bukan begitu Rey? " ujar Mama Elin.


"iya tante. " jawab Rey mengiyakan.


"Kalau begitu, aku permisi mau ke kamar dulu." Ujar Elin bangkit dari duduk nya, dan berjalan menuju tangga.


"Segeralah turun dari kamarmu jika sudah selesai, Elin. Tante Dewi dan Rey akan makan malam bersama kita malam ini. " Ujar Mama Elin tepat ketika Elin akan menaiki anak tangga.


Elin menghentikan langkah tanpa berbalik. lalu kemudian menghela nafas berat.


"Baik lah. " jawab nya dengan suara yang ia buat seiklas mungkin, lalu tanpa menunggu apa-apa lagi, ia segera melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar nya.


Setelah sampai di dalam kamar nya, Elin mengunci kembali pintu kamar itu, lalu berjalan dengan langkah gontai mendekati ranjang, dan kemudian merebahkan diri sesaat di atas kasur berukuran besar itu. Karena begitu lelah, iapun kemudian tertidur.


🍁🍁🍁


Setelah hampir satu jam Elin tertidur di atas ranjang itu, ia terbangun. Sejenak ia mengerjap kan mata nya untuk mengusir kantuk yang masih tersisa.


Elin meraih ponsel dari dalam tas yang masih berada di samping nya, lalu mengusap layar ponsel tersebut, jam sudah menunjukan pukul 17.30. ia baru ingat, bahwa ia harus turun untuk makan malam itu.


Elin berdecak, lalu dengan malas ia bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk, lalu berjalan ke kamar mandi.


Hujan telah berhenti sejak setengah jam yang lalu, hanya menyisakan hawa sejuk yang masih membungkus sore menjelang malam itu.


Elin telah selesai dengan ritual nya di kamar mandi, kini ia telah mengenakan pakain nya. ia memakai gaun selutut berwarna biru muda. menggerai rambut ikal berwarna coklat nya, tidak lupa Elin memolesi wajah nya dengan riasan tipis yang menambah anggun wajah oriental itu.


Terdengar pintu Elin diketuk seseorang dari luar. Kemudian Elin berjalan mendekati pintu tersebut, lalu membuka nya.


Ternyata itu adalah Rey. Untuk beberapa saat tidak ada kata yang terucap. Rey bagai terlena melihat pesona Elin malam itu, gadis di hadapan nya ini benar-benar cantik luar biasa.


"kau mau apa? " tanya Elin.


Rey tersentak mendengar suara Elin, lalu berdehem beberapa kali untuk menghilangkan gugup nya.


"Tante Anita memintaku untuk memanggilmu turun. " Ujar Rey kemudian, dan masih dengan Ekspresi kagum nya yang ia tutupi.


"Baiklah. Kau duluan saja. aku akan menyusul. " jawab Elin dan berniat menutup pintu kamar nya kembali. Namun dengan sigap Rey menghalangi dengan tangan nya.


"Apa lagi? " Tanya Elin kembali membuka pintu.


"Kenapa tidak mengangkat telfonku hari ini? " tanya Rey dengan tatapan mengintimidasi.


Elin memutar mata malas. lalu memghembuskan nafas nya sedikit kasar.


"Maaf, tadi aku sedikit sibuk. " jawab Elin kemudian dengan datar.

__ADS_1


Rey kemudian memaksa masuk ke dalam kamar tersebut. Elin berusaha mendorong nya, namun tenaga Elin kalah kuat. Rey sekarang sukses berada di dalam kamar tersebut.


"Kau mau apa? keluar sekarang juga. !!!" bentak Elin.


"Memangnya kenapa? kau takut aku akan memperkosamu??? " tanya Rey terkekeh, lalu dengan wajah tanpa dosa, ia duduk di ranjang Elin.


Elin mendadak ciut, lalu berjalan mundur mendekati pintu. Namun ketika ingin membuka nya, Rey malah dengan sigap mendekati Elin dan mengunci kembali pintu tersebut, lalu kunci nya ia masukan kedalam kantong celana nya.


Rey menatap wajah Elin yang ketakutan, lalu kemudian terkekeh dan kembali berjalan dan sekarang duduk di atas sebuah sofa di ruangan itu.


" Mendekatlah, aku tidak akan berbuat serendah itu meskipun aku bisa melakukan nya. " Ujar Rey masih dengan senyum jail nya.


Elin tak bergeming. Ia masih terpaku di tempat nya berdiri.


"Apa aku harus menarik tangan mu untuk lebih dekat? " ujar Rey lagi dengan nada sedikit mengancam. Namun itu semata-mata hanya untuk membuat Elin segera mendekat pada nya.


Dan dengan ragu-ragu Elin melangkah mendekati Rey, sekarang ia sudah berdiri satu meter tepat di hadapan Rey.


"Kemana saja kau hari ini? " tanya Rey mencondongkan tubuh nya.


"Bukan urusan mu." jawab Elin singkat.


"Lalu kenapa tidak mengangkat telfon dariku? "


"Aku sudah bilang Rey, aku sibuk"


"Apa tadi kamu mengunjungi Arga? "


Elin terdiam tak menjawab.


"Elin, aku tidak masalah dengan itu. Tapi setidak nya, angkatlah jika aku menelfon mu. aku hanya ingin tau kabarmu. Aku mengkhawatirkan mu jika kau bersikap begitu " Ujar Rey sambil bangkit dari tempat duduk nya, lalu berjalan mendekati pintu.


"Sebentar lagi hari pernikahan kita, aku harap kau tidak mengacaukan niat baik ku, dan tidak mengecewakan orang tua kita. " ujar Rey lagi ketika membuka pintu kamar Elin, hendak keluar.


"oh, iya. Satu lagi. Ayo segera turun ke bawah. orang tua kita sudah menunggu." Tambah Rey lagi, dan sekarang ia benar-benar hilang dari balik pintu itu.


"Aku tau, Rey. Dan aku tidak berhak sedikitpun untuk mengacaukan semua itu, karena aku tau seberapapun kuat aku ingin berlari dari kepahitan, aku akan tetap saja bertemu kepahitan itu. Karna semua nya seperti sudah menjalar dalam nadi, dan bersatu dengan darahku... tidak mungkin aku bisa lari dari nya. "


Ujar Elin lirih dan masih terpaku di tempat nya.


lalu ia mengehembuskam nafas nya yang terasa berat, kemudian setelah ia merasa baik-baik saja... ia pun berjalan menuju pintu, dan menyul Rey menuruni tangga untuk bergabung dengan keluarga nya di meja makan....


🍁🍁🍁🍁🍁


**HAI, TERIMAKASIH TELAH MEMBACA SEJAUH INI. JANGAN LUPA KOMENTAR, LIKE DAN JUGA VOTE NYA YA, SEBAB ITU SEMUA AKAN JADI SEMANGAT BAGI AUTHOR UNTUK MELANJUTKAN CERITA INI.

__ADS_1


SALAM CINTA DARI AUTHOR UNTUK SEMUA😍😍😍


HAPPY READINGπŸ’πŸ’πŸ’**


__ADS_2