
Dua belas hari berlalu setelah kejadian itu, suka atau tidak hari itu pasti akan datang juga. Dan
besok adalah hari pernikahan itu.
Malam ini Risa dan Echa sengaja menginap di rumah Elin, agar besok mereka bisa berangkat sama-sama bersama Keluarga Elin ke tempat acara. Lagi pula menurut mereka, ini mungkin akan jadi malam terakhir mereka bisa tidur bersama, karna mulai besok Elin akan menjadi seorang istri, dan sebagaimana orang yang sudah menikah dan berumah tangga, tentu saja Elin tidak bisa lagi bebas bersama mereka sepeti sebelum nya.
"hmh, ini terasa aneh sekali. " Decak Elin menyandarkan punggung nya ke sisi ranjang, dan duduk di atas lantai kamar nya malam itu.
"Orang lain mungkin akan bersuka cita untuk menghadapi pernikahan nya. sementara aku harus berperang dengan diri sendiri, dan merasa aku sedang bermimpi, dan entah kenapa mimpiku amat terasa nyata sekali. " Sambung Elin lagi memangku kedua lutut nya.
"Elin, Tuhan telah mengatur semua ini untuk mu, kamu jangan sedih ya. Kamu harus berlapang dada menerima takdir ini. Kita tidak pernah tau apa yang Tuhan rencanakan dibalik ini semua. kamu hanya perlu menanamkan dalam hatimu bahwa ini adalah yang terbaik." Ujar Risa yang duduk di samping Elin.
"Risa benar, kadang kerikil yang kita temui di perjalanan hidup itu memang akan membuat kita sesekali tersandung dan bahkan jatuh, tapi bukan kah kita harus bangkit lagi untuk melanjutkan perjalanan, jika terus meratapi dan terus menyalahkan kerikil itu, kita tidak akan tau apa yang berada di ujung jalan yang kita tempuh." Ujar Echa pula sambil merangkul pundak Elin yang tepat berada di tengah-tengah mereka.
Risa menoleh mengulum tawa nya.
"Tumben benar. " Celetuk nya menggoda Echa.
"Mulai deh. " Balas Echa mengerutkan bibir nya serta memutar malas mata nya.
Elin terkekeh melihat tingkah dua sahabat nya itu.
"Echa lagi lurus sekarang" Kelakar Risa terus menggoda Echa di sebelah Elin.
"Emang kapan aku bengkok?! " protes Echa tak terima.
"Kemarin. Pake nggak mau ketemu kita lagi. " Balas Risa memanyunkan bibir nya ke Echa.
"Sudah, kenapa jadi ribut sih? tapi Cha, kamu jangan gitu lagi ya. kita ini kan sahabat kamu, kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri ya Cha." Lerai Elin
"Iya, Cha. tau nggak, aku pikir kemarin itu kamu benar-benar nekat berbuat sesuatu di luar batas. Nggak tau nya di hotel mergokin ayang Bram selingkuh " timpal Risa masih belum berhenti menggoda sahabat nya itu.
"Ih tega benar deh, kan aku jadi ingat lagi si kunyuk itu. " Ujar Echa sambil membuat mimik sedih dan membenamkan wajah nya sebentar di bahu Elin.
__ADS_1
"Udah, nggak usah ditangisin laki-laki kayak gitu. tapi gimana dengan perusahaan papa kamu?" Ujar Risa.
"Kalau perusahaan papa udah aman kok, lagi pula rekan bisnis yang nipu papa udah ketangkap, dan dia udah ganti rugi juga. "
"Syukurlah kalau begitu. kita ikut senang mendengar nya. " Ucap Elin sambil mengusap lembut pundak Echa.
"Sekarang kita jangan bahas yang sedih-sesih lagi dong. Ini mungkin akan jadi malam terakhir kita bisa tidur bareng Elin. " Ucap Risa
"Kok malam terakhir? memang nya aku akan mati besok? " tanya Elin sembari protes.
" ya besok dan seterusnya kamu kan udah tidur sama mas Rey. jadi nggak mungkin bisa tidur sama kita berdua lagi. " Terang Risa setengah berteriak dan mencubit gemas pipi Elin.
" Apa Rey itu kerikil kecil nya? " Tanya Elin melirik Echa.
Echa terkekeh mengingat kata-kata yang ia ucapkan tadi.
"kalau mas Rey itu mungkin berlian." Jawab nya kemudian sambil mengetuk-ngetuk telunjuk nya di dagu layak nya seperti berpikir.
"siapa bilang? kamu mungkin hanya belum menyadari saja, Elin. kamu anggap dia kerikil, tapi kenyataan nya dialah berlian yang dengan sinar nya menuntun kamu keluar dari ruang gelap yang kamu sendiri tidak tahu apa yang akan menerkammu dalam kegelapan itu. " Ujar Echa mantap seraya bangkit dari duduk nya lalu mondar-mandir di hadapan Elin dan Risa seperti guru yang menerangkan pelajaran pada murid nya.
Elin dan Risa saling tatap, dan menahan tawa mereka.
"Kenapa? aku benarkan? " ujar Echa membungkukan badan nya ke arah Elin dan Risa yang masih duduk bersandar pada sisi ranjang.
"Ya, ya. mungkin kamu benar. " jawab Risa sambil mengacungkan dua jempol nya pada Echa.
"Tapi aku masih memikirkan Arga, aku yakin dia sangat membenci ku sekarang. dia mungkin lebih hancur dari aku.. " Lirih Elin menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan lalu membungkuk ke dua lutut nya.
Lalu Risa merangkul pundak Elin, kemudian Echa kembali mengambil duduk di tempat nya tadi.
"Jangankan kamu Lin, kita aja yang hanya teman nya juga ikut merasakan apa yang dirasakan Arga sekarang. " Ujar Echa dengan wajah tertekuk.
"Aku ingin sekali berada di dekat nya saat ini. Cha, Ris, apa aku salah jika aku masih mencintai nya? " Lirih Elin lagi dan bertanya pada dua sahabat baik nya itu.
__ADS_1
"Ini bukan tentang salah atau tidak Elin, siapa pun yang berada di posisimu pasti akan merasakan hal yang sama. karna menghapus perasaan pada orang yang amat dicintai itu tidak semudah membalikan telapak tangan. apa lagi Arga adalah cinta pertamamu. bukan satu atau dua bulan, bahkan sampai punya anak cucu sekalipun, masih saja ada orang yang tidak bisa melupakan cinta pertama nya. " Ucap Risa panjang lebar sambil menatap lurus ke depan.
" Apa itu juga yang menyebabkan kamu sampai sekarang belum membuka hati untuk laki-laki lain?" Tanya Elin menoleh oada Risa.
"Hmmm... mungkin. " Jawab Risa datar dengan sedikit mengangkat ujung bibir nya.
"Aku jadi penasaran dengan rupa mantan terindah mu itu..." Sela Echa sambil memutar mata nya ke arah Risa.
"Sudah lama sekali, mungkin dia sudah banyak berubah sekarang. " kenang Risa sambil mengangkat dua bahu nya.
"Berarti laki-laki itu sudah jadi kerikil dalam perjalananmu, yang membuat kamu terjatuh. dan naif nya kamu, tidak berusaha bangkit lagi setelah terjatuh. kira-kira itu kerikil apa berlian ya? " Lagi-lagi Echa membuat perumpamaan yang sama.
Risa terdiam beberapa saat.
"Ah sudahlah, kenapa kita jadi membahas mantanku. lihat sekarang sudah larut. Ayo segera tidur, aku tidak mau karna kita ngobrol terus, calon pengantin ini gagal nikah besok karna bangun kesiangan. " ucap Risa kemudian buru-buru bangkit dan naik ke tempat tidur dan langsung merebahkan diri di sana sambil menutup wajah nya dengan selimut.
"Bukan kah itu baik, kalau begitu kita bangun siang aja besok. " ujar Elin menyusul Risa ke tempat tidur.
"Jangan konyol. apa kamu lupa tentang mamamu?" Seru Risa tanpa membuka selimut nya.
"Ah, lagi-lagi mengungkit kelemahanku. " Gerutu Elin
"Hei, apa kalian hanya ingin tidur berdua saja? "
Timpal Echa karna melihat Risa dan Elin tidur dengan posisi kaki mereka melintang sembarangan di atas ranjang.
"Ya ampun, sensi banget. sini tidur. " Jawab Risa sambil meluangkan tempat di samping nya.
Dan akhir nya pembahasan tentang kerikil dan berlian itu tak terdengar lagi setelah mereka memilih diam dalam selimut masing-masing, untuk kemudian ketiganya pun tertidur.
šššššš
Readers tersayang, terimakasih telah membaca sampai di episode ini, author harap readers suka cerita yang author buat, jangan lupa komentar di bawah ya, mungkin ada masukan demi kebaikan novel ini. Author sangat menanti masukan dan komentar dari kalian. jangan lupa telan tombol like jika kalian suka ya. terimakasih... :-)
__ADS_1