
"Elin, kenapa mendorongku?! " Ringis Rey menahan sakit di kepala nya yang terkena besi ranjang.
Elin terkesiap, lalu menghambur menghampiri Rey.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. apa sakit sekali? apa tidak berdarah? " Panik Elin memeriksa semua sisi kepala Rey.
Rey mengulum senyum nya melihat tingkah Elin.
"Apa kau mengkhawatirkan ku? " tanya Rey.
Elin menghentikan aktifitas nya memeriksa kepala Rey. Lalu memundurkan tubuh nya yang tanpa ia sadari hampir tak ada jarak dengan Rey.
"Kau mengerjaiku. " Umpat Elin bangkit dari lantai.
"Kepalaku benar-benar sakit. aku tidak bohong. coba periksa sekali lagi. " Balas Rey.
"Aku tidak akan tertipu. jadi bangunlah dari sana. " Jawab Elin yang kini telah duduk di depan meja rias, mencopot satu persatu aksesoris pernikahan tadi.
Rey lagi-lagi terkekeh. lalu ia bangkit dari sisi ranjang itu dan berjalan menuju Elin.
"Apa kau perlu bantuanku untuk melepasnya? " Kali ini Rey sengaja menggoda.
"Berhenti bermain-main, Rey. Pergilah ke kamar mandi, dan bersihkan dirimu. kau bau sekali. " Teriak Elin kesal.
"Bau? apa tadi kau sempat menciumku? Kau curang sekali, harus nya tadi kau bilang dulu padaku, agar aku juga bisa menciummu. ..."
"Rey...! " kali ini Elin berbalik, mata nya memelototi Rey.
"Oke.. oke... aku Mandi sekarang. Ingat, jangan mengintipku. "
" Jangan mimpi! "
Rey tertawa puas melihat Elin yang kini terlihat kesal. Lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Elin kembali berbalik menghadap cermin, lanjut membersihkan riasan di wajah nya.
"Mengintip mu? Yang benar saja. " Gumam Elin. Lalu ia terpaku melihat pantulan diri nya di cermin itu.
" katakan, kau telah melakukan yang terbaik bukan? Jadi jangan menyesal. " Gumam nya pada diri sendiri.
Rey kini telah keluar dari kamar mandi, ia hanya melingkarkan sehelai handuk di tubuh nya, perut sixpack nya terpampang begitu jelas. seksi sekali.
"Aaaa...kenapa kau tidak memakai pakaian mu? " Teriak Elin histeris menutup mata nya dengan jari-jari nya.
"Aku tidak terbiasa memakai pakaian di kamar mandi. jadi aku akan memakai nya di sini. " Jawab Rey menahan tawa nya.
"Apa kamu sudah gila. sekarang ada perempuan di kamarmu, kau tidak bisa mengganti pakaian mu di depanku. " Celoteh Elin masih menutup mata nya.
"Kalau begitu, tutup saja matamu. aku tetap akan mengganti nya di sini. " Kekeh Rey.
"Dasar mesum. "
"Siapa yang mesum? lagi pula aku hanya mengganti nya di depan istriku, bukan perempuan lain. "
"Dasar. Cepat pakai pakaian mu!!!" Masih berteriak. untung saja kamar itu kedap udara, kalau tidak, para pelayan akan mendengar suara Elin yang menggelikan itu.
__ADS_1
Rey geleng-geleng kepala melihat tingkah Elin. Lalu dengan tersenyum ia segera mengambil pakaian nya di lemari, lalu memakai nya.
"Sudah, sekarang kau bisa membuka matamu. " Ujar Rey setelah memakai pakaian nya.
"Yang benar? " Tanya Elin kurang yakin.
"Sini buka... " Rey menyingkirkan paksa jari Elin nya menutup mata nya.
Elin masih memejamkan mata, lalu dibuka nya sedikit-sedikit untuk memastikan apa Rey benar-benar sudah memakai baju nya apa belum. Lalu setelah melihat Rey benar-benar telah memakai pakaian, baru lah ia benar-benar membuka mata nya.
"Menyebalkan." Sungut Elin berlalu dari hadapan Rey. Ia berjalan ke kamar mandi, namun tidak lama kemudian ia kembali lagi.
"Kenapa? apa kau akan memintaku untuk memandikanmu? " Ujar Rey ketika melihat Elin keluar lagi dari kamar mandi.
"Apa kau benar-benar berpikir aku akan melakukan nya?" Elin balik bertanya, kesal.
Rey tertawa.
"Aku tidak punya baju ganti. ini semua gara-gara kamu. harus nya tadi kita pulang ke rumahku dulu untuk mengambil pakaianku. " Sambung Elin menghentakan kaki nya berjalan menuju ranjang.
"Maksud mu rumah mama Nita? " Rey berjalan menghampiri Elin dengan kedua tangan nya ia selipkan di saku celana.
"Sekarang ini adalah rumah mu.lihatlah ke dalam lemari itu. " Ujar Rey sambil menunjuk lemari berukuran cukup besar.
Elin menatap curiga, lalu ia berjalan menuju lemari tersebut. kemudian ia berbalik lagi menatap Rey setelah sampai tepat di hadapan lemari itu. Rey mengangguk sambil tersenyum.
Elin membuka pintu lemari itu, mata nya menyapu semua pakaian wanita yang tersusun rapi di sana.
"Kau menyiapkan semua ini? " Tanya Elin tak percaya.
Elin tampak tersenyum senang.
Rey menatap senyuman di bibir Elin.
"Cantik sekali" Gumam nya.
Elin berlalu di hadapan nya, kembali ke kamar mandi setelah mengambil pakaian yang dibutuhkan nya.
Namun 10 menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Rey yang sudah merebahkan tubuh nya di atas ranjang, melirik ke pintu kamar mandi.
"Kamu belum mandi? Kenapa masih memakai baju itu?" Tanya Rey ketika melihat Elin masih memakai gaun pernikahan tadi.
Elin tak menjawab, dan masih mematung di pintu kamar mandi.
"Apa kamu begitu menyukai gaun itu? kenapa tidak mengganti nya? "
"Rey... "
"Kenapa? "
"Aku tidak bisa membuka pengait nya. " Suara Elin tercekat, memutar badan nya memperlihatkan pengait gaun itu.
Rey benar-benar tertawa lepas sekarang.
"Rey, berhenti tertawa. " Pekik Elin.
__ADS_1
"Oke. lalu sekarang apa? " Tanya Rey lagi masih menahan tawa nya.
"Bantuin" Suara Elin hampir tak terdengar.
"Apa? Yang jelas dong ngomong nya. " Ujar Rey sengaja menjaili. Lalu turun dari ranjang dan berjalan mendekati Elin.
"Bantuin. " Ulang Elin.
"Minta tolong sama suami bukan gitu cara nya. "
"Lalu harus nya gimana? "
"Coba katakan, suamiku sayang.. tolong lepas kan pengait gaun istri mu ini.. "
Elin membulatkan mata nya.
"Kenapa terdengar menjijikan sekali.? " Protes Elin.
"Ya sudah. Buka sendiri." Rey kembali membalikan badan nya.
"Oke.. oke. " Teriak Elin setuju.
"Katakan" Rey kembali menatap Elin.
"Su... suamiku.. sa... sayang... "
"Iya istriku sayang... " jawab Rey mengulum senyum nya.
"Tolong.. le..paskan..."
"Hmmm"
"Pengait... gaun..is.. istrimu ini. " Elin menghembuskan nafas kesal nya.
Rey tersenyum penuh kemenangan. Lalu menyuruh Elin yang masih kesal memutar membelakangi nya.
Rey mulai melepaskan satu per satu kancing pengait gaun Elin. Sedikit demi sedikit Rey dapat melihat punggung mulus Elin. Rey menelan saliva nya, sementara pipi Elin memerah menahan malu.
Rey terus membuka pengait itu hingga habis, dan kini ia dapat melihat dengan jelas punggung Elin tanpa penutup. Ia tertegun beberapa saat. Naluri laki-laki nya membuat tangan nya terangkat ingin membelai punggung itu.
"Kenapa lama sekali?" Suara Elin menyentakan nya, dan Rey kembali menarik tangan nya yang hampir menyentuh punggung itu.
"Ehem.. sudah." Jawab Rey gugup.
Elin tak berani menatap wajah Rey. ia tak ingin Rey melihat wajah nya yang memerah. Lalu tanpa menoleh ia segera masuk dan cepat-cepat menutup pintu kamar mandi.
Rey mengangkat tangan nya ke dada. merasakan ada yang berdegup kencang di sana.
"Ini baru permulaan, sampai kapan aku bisa bertahan untuk tidak menyentuh nya? " Gumam Rey. Lalu tersenyum dan berjalan kembali ke ranjang sambil terus memegangi dada nya.
ššššš
Jangan lupa dukung author dengan klik Like, komen, dan Vote.
Terimakasih
__ADS_1
happy reading...