
Perjalanan sore menjelang senja ini begitu terasa hening, mobil itu terus memecah jalanan padat. Cuaca mendukung dengan hawa yang meneduhkan. Ya, seperti pinta Elin. Kini mereka sudah berada di jalan pulang, dan tidak lama lagi akan sampai.
10 menit kemudian, mobil yang dikemudi Rey itu kini sudah memasuki pelataran rumah mewah yang dibeli Rey untuk mereka berdua. Tepat nya ketika gelap sudah mulai mengungkung kota.
Tampak dua orang pelayan menyambut di depan pintu, siap dengan segala perintah yang nanti akan dititahkan tuan mereka.
Tepat ketika Rey dan Elin melewati mereka, dengan takzim mereka serempak membungkukan setengah badan. Tak ada perintah, arti nya mereka boleh kembali pada pekerjaan yang tadi mungkin mereka tinggalkan.
Elin setengah berlari menaiki anak tangga, ia tampak lelah sekali dengan perjalanan yang lumayan jauh itu. Mungkin mandi dengan air hangat sebelum beranjak tidur akan lebih menyenangkan. Setidak nya itulah yang ada dalam pikiran gadis berambut coklat itu saat ini.
Tak ada suara, tak ada cengkrama, juga tidak ada drama terlebih dahulu seperti biasa nya. Mungkin Rey juga merasa lelah sepanjang perjalanan.
Elin sudah masuk ke dalam kamar mandi setelah sebelum nya mengambil pakaian dari lemari.
Rey menghembuskan nafas panjang. Duduk di sofa yang berada di salah satu sisi kamar itu, menyandarkan kepala nya, lalu netra nya tampak terpejam. Bukan, ia bukan tertidur. Ada sesuatu yang kini tengah ia pikirkan. Bahkan pikiran itu muncul sejak ia dan Elin berada di villa tadi.
"Aku sungguh tidak sanggup menahan diri lagi." Gumam nya dengan mata masih terpejam.
Percikan air dari kamar mandi itu terus mengusik pendengaran nya.
"Ya Tuhan.. apa aku sudah gila? bagaimana aku bisa mengusir keinginan ini? " kembali ia bergumam, kali ini disertai hembusan nafas kasar nya.
Entah berapa lama ia bergumam seorang diri di sana. Sampai akhir nya pintu kamar mandi terbuka, lalu Elin muncul dengan piyama tidur berwarna biru langit dari sana.
Mata Rey kini tertuju pada istri nya itu. Rambut yang basah, wajah yang segar, serta aroma sabun dan shampo yang menusuk rongga penciuman nya. Semua itu semakin membuat Rey tak menentu. Lalu seolah didorong oleh sesuatu yang entah apapun itu, kini Rey bangkit dari sofa, berjalan menuju Elin yang tengah mengeringkan rambut nya di depan meja rias. Semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Kini ia benar-benar sudah berada persis kurang dari satu meter di belakang Elin.
"Kau kenapa? " Tanya Elin yang bingung melihat tatapan Rey dari pantulan cermin.
"Elin... " Suara Rey serak.
"Bolehkan aku meminta hak ku sekarang? " Lanjut nya. Gugup, tapi itu cukup membuat mata coklat Elin membulat.
__ADS_1
"Apa maksudmu?! " Elin sontak berdiri, lalu berbalik dengan tatapan siaga nya.
"Elin, aku tau..."
"Rey, aku mohon. Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan memaksaku? "
"Elin... "
"Rey, please... aku belum siap. " Elin menatap penuh harap.
Rey menghela nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Sementara Elin kini memilih duduk di pinggir ranjang ukuran big size itu.
"Elin, aku tidak ingin kehilanganmu. Maaf karna aku terlalu egois, tapi perlu kukatakan ini. " Rey kini menghenyakan tubuh nya di samping Elin, sementara Elin tertunduk dengan genangan air mata yang kini hampir jebol dari pertahanan itu.
"Maaf untuk yang satu ini aku mengingkari kata-kataku, aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu. Aku salah, aku egois karna saat ini pikiran untuk memilikimu selama nya muncul begitu saja. Semakin aku dekat denganmu, ternyata seiring itu aku juga semakin tak rela jika suatu saat kau pergi dariku. " Ucap Rey lagi bersungguh-sungguh.
Elin kini benar-benar sudah tak bisa menahan air mata nya. Tangis itu kini pecah juga, meski ia tak bersuara. Namun rasa sesak dari penuturan Rey yang menyatakan perasaan nya itu membuat nya terasa makin tertekan begitu dalam. Merasa bersalah pada Rey, namun juga belum siap menerima keadaan yang ada saat ini. Semua membuat nya berada dalam dilema.
"Rey... " Elin mulai membuka suara.
"Tidak Elin, kamu jangan merasa bersalah. Aku mengerti situasimu. Setidak nya kau tau sekarang tentang isi hatiku sebenar nya. Bahwa aku ingin memilikimu seutuh nya. " Ucap Rey sambil tersenyum kecut pada istri nya itu.
"Maaf... "
"Elin... Aku mencintaimu, dan aku rasa aku sangat mencintai mu. "
Elin makin terisak, ia tidak tau harus berkata apa pada laki-laki ini. Laki-laki yang sekarang sudah berstatus sebagai suami nya itu begitu penuh kejutan.
"Jika tidak boleh yang itu, apa aku juga tidak boleh memelukmu? " Rey kini mulai lagi dengan tingkah jail nya, ia mengangkat sudut bibir nya, tersenyum menggoda. Laki-laki itu begitu bisa cepat menyembunyikan suasana hati nya. Konyol.
Jika dilihat dari cara nya bertingkah seperti itu, rasa nya orang tidak akan percaya bahwa ia adalah seorang pemimpin perusahaan ternama di negeri dengan icon menara yang megah nan indah itu.
__ADS_1
Elin mengulum senyum di sela isak nya, ia tak mampu untuk tidak tersenyum melihat tingkah laki-laki itu. Lalu dengan sekedip mata, kini ia memeluk Rey. Entah mengapa air mata itu malah makin deras mengalir, serta isak itu kini makin menjadi saja.
"Aku benci kekonyolanmu. " Ucap Elin sambil memukul pelan punggung Rey.
Rey mengeratkan pelukan nya, setidak nya ia bahagia sekali telah mengutarakan perasaan nya pada gadis yang kini amat dicintai nya itu. Meski sampai detik ini perasaan itu masih betepuk sebelah tangan saja. Tak berbunyi.
"I Love You" Ucap nya lirih sambil mengusap lembut puncak kepala Elin.
Lama sekali mereka berpelukan, lalu...
"Kau bau sekali " Ucap Elin sambil mendorong tubuh Rey menjauh dari nya, membuat Rey mengendus-endus tubuh nya sendiri.
"Ah, masih wangi." Ucap nya kemudian.
"Wangi apa, wangi kuburan baru? segera bersihkan dirimu, aku sudah mengantuk. Besok mau ke kampus." Ujar Elin sambil naik ke atas ranjang, lalu mengambil posisi tidur.
"Masih jam delapan,"
"Tapi aku lelah sekali, Rey. "
" Ya sudah, aku mandi sekarang. " Rey mengalah, lalu berjalan menuju pintu kamar mandi.
"Ingat bawa baju ganti, Rey. " Ucap Elin lagi dari balik selimut nya, ia tau kebiasaan Rey yang selalu lupa membawa baju ganti ke kamar mandi. Dan ia tidak mau nanti Rey malah mengganti pakaian di ruangan itu. Elin bergidik membayangkan nya.
"Sudah sah kok." Jawab Rey masih berniat mengerjai Elin.
"Rey...!!!! " Suara Elin meninggi.
"Baiklah, kau akan selalu benar istriku. " Ucap Rey sambil mengulum senyum nya setelah mengambil pakaian dari lemari, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
šššššš
__ADS_1
Hai readers, udah part 54 aja nih. Jadi pengen tau deh, readers kesayanganku dari mana aja. yuk komen di kolam komentar. Jangan lupa like, vote, dan hadiah ya.