
Pagi ini Elin datang ke kampus seperti biasa. meliukan pandangan ke segala arah, mencari sosok yang sejak kemarin tidak ada kabar sama sekali. ya Arga. Di mana Arga? mengapa ia tak memberi kabar hingga pagi ini. ini bukan kebiasaan Arga.
Kurang lebih sepuluh menit berlalu, yang di cari pun tak kunjung Elin temukan.
"Elin!! "
Elin menoleh ke arah suara yang memanggil nya, yang tidak lain itu adalah Risa dan Echa. mereka mendekat ke arah Elin dengan berlari.
"Echa, Risa. Ada apa sampai kalian lari-lari begitu? "
Tanya Elin ketika Echa dan Risa sampai di dekat nya.
"Elin, ada kabar buruk"... ujar Echa setelah ia mengatur nafas nya.
" Kabar buruk? kabar buruk apa? " Tanya Elin menautkan kening, tak mengerti. Akan tetapi perasaan nya mulai tidak enak.
"Elin...Arga kecelakaan tadi malam. Aku baru saja di telfon Adit. sekarang mereka sedang berada di rumah sakit C" . Tutur Risa menjelaskan.
Mendengar itu, Elin terpaku. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. kaki nya seakan kehabisan tenaga untuk berdiri. Namun ia berusaha menguatkan hati nya sendiri.
"Ris, Cha. Kita harus ke rumah sakit sekarang"
Ujar Elin di tengah kepanikan nya.
"Ayo. naik mobilku saja. " jawab Risa.
Mereka bertiga tanpa menunggu apa-apa lagi langsung bergegas menuju parkiran. Mereka tak memikirkan lagi jam kuliah pagi ini. terutama Elin. Elin hanya berpikir tentang bagaimana ia cepat sampai ke rumah sakit, dan ingin mengetahui langsung bagaimana kondisi Arga.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Risa yang berada dibalik kemudi, langsung mengemudikan mobil itu ke luar parkiran, dan perlahan keluar dari gedung Universitas. Mobil itu kemudian melaju dengan kecepatan sedikit tinggi ketika mereka telah berada di jalan raya.
__ADS_1
35 menit berada di jalan raya, kini sampailah mereka di depan sebuah rumah sakit yang Adit kabarkan tadi.
Setelah memarkirkan mobil, mereka bergegas masuk ke dalam rumah sakit itu. Tidak perlu bertanya lagi pada petugas rumah sakit itu, karena di sana Adit menungu mereka. Adit langsung membawa mereka ke ruangan tempat Arga di rawat. Yaitu ICU.
"Pihak rumah sakit baru saja memindahkan nya ke sini." ucap Adit ketika mereka sampai di dalam ruangan itu, dan berdiri di samping bangsal tempat Arga terbaring.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Dit? " Tanya Elin dengan berurai air mata melihat kondisi Arga.
" Tadi malam saat aku pulang dari latihan, di perjalanan aku melihat ada kerumunan yang seperti nya baru saja terjadi kecelakaan di sana."
"Jalanan itu ada jurang di salah satu sisi nya. aku menepikan mobilku dan mendekati ke kerumunan itu. Disana sudah ada beberapa orang polisi."
"Aku memberanikan diri bertanya pada salah seorang dari anggota polisi itu. kata nya ada mobil yang masuk ke jurang. karna penasaran, aku menunggu proses evakuasi korban. Dan aku sangat terkejut saat korban kecelakaan itu berhasil dievakuasi. Aku melihat nya lebih dekat untuk meyakinkan. Ternya benar, korban kecelakan itu Arga. mereka membawa Arga ke rumah sakit ini, dan aku mengikiti nya. "
Tutur Adit menjelaskan kronoligi nya panjang lebar.
"Arga...!!! "
"Arga... apa yang terjadi,Nak. kenapa sampai begini.." ucap wanita itu lagi sambil mengusap lembut puncak kepala Arga.
Kemudian dokter yang di dampingi seorang suster di sebelah nya, masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi, saya akan memeriksa kondisi pasien sebentar. saya harap bapak, ibu, dan yang lain nya bisa menunggu di luar" ujar dokter itu dengan ramah.
Tanpa membantah, semua nya meninggalkan Arga dengan dokter dan suster di ruangan itu. Wanita paruh baya itu juga dituntun oleh laki-laki paruh baya tadi untuk berjalan ke luar.
"Adit, terimakasih telah mendampingi Arga hingga kami datang." Ujar laki-laki paruh baya itu pada Adit setelah sampai di luar ruangan.
"Tidak masalah Om, Om tidak perlu berterima kasih seperti itu. Arga sahabat saya, ini sudah jadi kewajiban saya, Om. " Balas Adit.
__ADS_1
Elin masih tertunduk lesu dengan sisa air mata yang masih sukses membuat pipi nya basah.
Tidak ada lagi yang bersuara di antara mereka hingga dokter dan suster tadi ke luar dari ruangan Arga.
"Bagai mana kondisi anak saya, dokter? " tanya Laki-laki tadi segera tanpa membuang waktu.
"Apa anda orang tua dari pasien? " Dokter itu balik bertanya.
"Iya, kami orang tua nya. Bagai mana kondisi anak kami saat ini, dok? " Ujar wanita paruh baya itu menimpali.
"Baik. pasien mendapatkan benturan yang cukup keras di kepala nya. Itu menyebabkan fungsi saraf nya terganggu. Dan dengan berat hati kami menyampaikan ini. bahwa pasien saat ini dinyatakan koma." Tutur dokter itu menjelaskan dengan berhati-hati.
Wanita paruh baya itu yang ternyata adalah mama nya Arga, menangis di bahu suami nya.
"Lalu kira-kira kapan anak saya bisa pulih kembali dokter? " Tanya Papa Arga yang berusaha untuk tegar.
"Tidak diketahui kapan pasien akan pulih. kami telah berusaha yang terbaik. Namun pasien yang mengalami koma, masih bisa merasakan dan mendengar keadaan disekeliling nya. Akan tetapi pasien tidak bisa merespon karena fungsi saraf yang terganggu. Jadi kami sarankan agar menceritakan dan tetap memberi motifasi pada pasien. Dab kita doakan saja yang terbaik untuk pasien. Baik lah, kami permisi dulu"
Ujar dokter itu. berlalu meninggalkan mereka yang shock mendengar apa yang baru saja dijelaskan sang dokter.
Papa Arga memeluk dan menenangkan istri nya yang makin terisak. Sedangkan Elin hampir saja ambruk jika tidak ditahan oleh Risa dan Echa.
"Arga.... kenapa???? " bisik Elin lirih. kembali air mata jatuh di kedua belah pipi nya.
Ia mengintip Arga yang terbaring lemah di bangsal sana dari pintu kaca ruangan itu. Air mata masih mangaburkan pandangan Elin.
Semua yang ada di situ larut dalam kesedihan. tidak ada yang dapat berkata-kata. Hanya bisa hening di antara isak. Tidak menyangka dengan kejadian yang di alami Arga.
Arga, aku mohon. Kamu harus kuat. Aku di sini Arga. Aku tidak akan meninggalkan mu, jadi berjanjilah kau akan bertahan demi aku. Aku menunggu mu. Kau bilang kau akan membawa ku pergi bukan? aku sudah memikirkan kan nya, Arga. Aku akan ikut kemana pun kau pergi. aku mohon...bangun lah....
__ADS_1
Elin terus manangis manatap ke dalam sana. Echa dan Risa berusaha menenangkan nya. Dua gadis itu menatap iba pada Elin.
ššššš