JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
MENAHAN


__ADS_3

Rey sudah tak bisa lagi mengendalikan hasrat nya. Ia seperti tak ingin melepaskan ciuman di bibir istri nya itu. Sekarang tangan nya mulai tak terkendalikan, ia mulai menyentuh bagian dada Elin, Elin hendak berontak, namun tangan Rey cukup kuat menahan nya.


Sekarang Rey melepaskan ciuman nya, memberi ruang untuk kedua nya mengambil nafas. Elin mengusap bibir nya, terasa sedikit perih.Ia tertunduk. Namun sekarang Rey malah makin menjadi, ia mulai berani menurunkan ciuman nya leher Elin.


"Rey... " Lirih Elin.


"Aku mencintaimu, Elin. " Ucap Rey dengan suara serak nya di ceruk leher Elin.


Kemudian ia kembali memagut bibir Elin sebelum gadis itu mengatakan apapun.


Sementara di luar sana hujuan makin membuncah. Kini Rey mengangkat tubuh Elin ala bridal style ke atas ranjang, tanpa melepaskan ciuman nya di bibir Elin.


Sampai di ranjang, Rey perlahan menidurkan Elin di sana, kemudian tubuh nya ia posisikan di samping Elin.


Ia terus memeluk tubuh istri nya itu, memperdalam ciuman nya, membuat Elin yang tadi ingin melakukan penolakan, kini terbawa oleh suasana panas akibat sentuhan-sentuhan tangan Rey yang berhasil menemukan sisi sensitif nya.


Perlahan kini tangan Rey melepas kancing piyama Elin, lalu tangan nya menyusup dan mulai bergerilya di bagian terlarang itu. Membelai, merem*s , dan memperikan sentuhan di bagian put**g Elin, hingga membuat tubuh gadis itu menggeliat tak menentu.


Elin menitikan air mata, menahan sesuatu yang kini menyesak di dada nya. Bayangan masa lalu perlahan muncul, bayangan kelam yang selama ini berusaha dengan susah payah ia kubur sendiri.


Kini tubuh Elin sudah tak mengenakan apa-apa lagi. Rey berhasil melepaskan semua nya.


Gairah nya bertambah setelah melihat tubuh mulus istri nya itu. Namun saat ia melihat Ekin meneteskan air mata, Rey menghentikan aktifitas nya.


"Kenapa, sayang? " tanya nya lembut.


"Please... jangan sekarang. " Lirih Elin.


Rey menarik nafas dalam-dalam, lalu memghembuskan nya. Ada kekecewaan di sana. Namun ia juga tak ingin egois, Rey juga tak ingin melakukan semua nya jika Elin merasa terpaksa.


Setelah gairah nya tadi sempat memuncak, akhir nya kini ia terpaksa kembali menahan hasrat nya.


Dengan sabar, kembali ia tutupi tubuh Elin dengan selimut, kemudian ia berbaring di samping gadis itu.


"Maafkan aku. " Pinta Elin menatap suami nya.


"Aku mengerti." Ucap Rey sambil membelai pucuk kepala Elin.


"Kau marah?" tanya Elin lagi.

__ADS_1


Rey kembali menarik nafas panjang.


"Kenapa? apa kau masih belum bisa menerimaku? " tanya nya kemudian.


"Aku tidak bisa membantah kalau kau adalah suamiku saat ini. Tapi untuk saat ini, aku masih belum siap melakukan nya. " Papar Elin dengan wajah yang memerah. Terang saja, karna tadi Rey sudah melihat semua yang ada pada diri nya.


"Tidurlah, besok pagi-pagi sekali aku harus datang ke perusahaan papamu. Om Bimo mengundangku. " Ucap Rey mengalihkan pembicaraan.


Elin tak lagi menjawab. Perlahan ia memejamkam mata nya. Tak lama kemudian mereka benar-benar tertidur.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Rey, keponakanku yang tertampan. Mari, silahkan duduk." Ucap Pak Bimo menyambut kedatangan Rey di balik kursi kebesaran nya. Lalu ia berjalan menuntun Rey untuk duduk di sofa dalam ruangan itu.


"Sehat, Om? " Ucap Rey sambil menyalami Pak Bimo sebelum ia duduk di hadapan laki-laki paruh baya itu.


"Seperti yang kamu lihat." Jawab nya dengan senyum lebar.


"Bagaimana, apa kau sudah menikmati gadis itu? " tanya Pak Bimo dengan senyum smirk nya.


Rey tak menjawab, sebenarnya ia tak senang dengan pertanyaan itu. Tapi demi terlihat bahwa ia tidak benar-benar menyukai Elin, maka terpaksa ia harus berpura-pura di depan tua bangka ini.


"Om tenang saja, itu bagianku." Ucap Rey dengan senyum nya. Namun dalam hati, ia sangat menugutuk sekali pada sikap Om nya itu.


"Harus itu, Om saja kalau melihat nya serasa ingin untuk... " Ia tak meneruskan kalimat nya, melainkan tersenyum-senyum mesum.


"Maksud Om? " ujar Rey tak mengerti.


"Om sudah pernah menyentuhnya, tapi sial nya belum sempat merasakan gadis itu. " Jawab Pak Bimo dengan mengusap dagu nya, seraya mengangkat alis nya ke arah Rey.


Rey benar-benar jijik melihat tingkah tua bangka ini. Tangan nya mengepal menahan amarah. Berarti bisa jadi Elin seperti menyimpan trauma saat ia sentuh itu, adalah akibat perbuatan dari si tua bangka ini. Kurang ajar.


"Permisi Tuan, Bimo. Ini kopi pesanan anda " Ucap seorang wanita berpakaian seksi masuk setelah mengetuk pintu.


"Terimakasih Friska, sayang. " Jawab Pak Bimo setelah wanita itu meletakan dua cangkir kopi di hadapan mereka. Sekilas ia tampak mengedipkan sebelah mata nya ke perempuan itu.


"Sama-sama, Tuan. Saya permisi. " Ucap wanita itu dengan ramah, serta lenggok gemulai nya Ia berlalu dari ruangan itu.


"Itu sekretaris Om? " tanya Rey.

__ADS_1


"Iya, sekaligus teman ranjangku saat melakukan perjalanan bisnis ke luar kota." Jawab Pak Bimo dengan percaya diri nya.


Rey hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan tua bangka itu.


"Oh iya, Om. Jadi bagai mana rencana selanjut nya? " Tanya Rey.


"Hahaha, kau tampak sudah tak sabar sekali dengan permainan ini. " Kekeh Pak Bimo.


Rey ikut tertawa.


"Tentu saja, Om. Bukan kah ini tujuan utama kita? " Ucap nya kemudian.


"Baik, mulailah dengan membuat gadis itu cacat terlebih dahulu, dengan begitu ia akan dengan terpaksa menyerahkan perusahaan ini untuk kau tangani. "


"Apa? cacat Om? maksud nya? " tanya Rey sedikit terkejut.


"Ya, jika bisa buat ia lumpuh sekalian. " Ucap Pak Bimo pasti dengan wajah bringas nya.


Ya Tuhan... sepicik itu kah pemikiran orang tua ini, sampai-sampai dengan santai nya ia menyuruhku untuk mencelakai Elin.


"Bagaimana? " Ucap Pak Bimo dengan suara berat nya.


Rey masih belum bisa menjawab, bagaimana mungkin ia melakukan itu pada istri yang ia cintai.


"Sebab itu jauh-jauh hari telah kuperingatkan padamu, agar jangan sampai kau menaruh hati pada anak Guwan itu. Kau menikahi nya hanya untuk membalaskan sakit hatiku, dan mengambil semua yang seharus nya jadi milik keluarga Gunawan!" Bentak Pak Bimo.


"Baiklah, Om. Demi rencana awal kita, aku akan melakukan nya. Tapi beri aku waktu hingga aku kembali dari Paris. " Jawab Rey.


Pak Bimo tersenyum puas, akhir nya tidak akan lama lagi dendam berkarat yang ia simpan semenjak di bangku sekolah itu akan terbalaskan juga.


"Baik, kapan kau akan ke Paris, dan berapa lama kau di sana? "


"Besok aku akan berangkat, Om. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan dulu di sana. Mungkin kurang lebih dua minggu. Setelah itu aku akan kembali ke Indonesia." Papar Rey.


Pak Bimo mengangguk-angguk. Hingga beberapa saat kemudian, Rey berpamitan untuk pulang,meninggalkan Pak Bimo dengan senyum licik yang terus mengambang di wajah nya.


"Sebentar lagi, Gunawan. Kau benar-benar akan hancur. bahkan lebih hancur dari tulang belulangmu yang mungkin kini sudah membusuk di alam sana!" Ucap nya sembari mengepalkan jari nya di atas meja.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2