
Rey terus mengemudikan mobil nya, dan entah angin apa yang membawa nya sampai di depan rumah Elin ketika malam mulai menjelang. tadi ia hanya terus mengemudi tak tau arah, dan tanpa ia sadari, ia malah mengemudikan mobil itu menuju rumah Elin. karna sudah terlanjur sampai di sana, Rey terus masuk dengan mobil nya ke perkarangan rumah itu, dan kemudian ia keluar dari mobil nya, dan berjalan menuju pintu untuk detik kemudian ia menekan bel rumah tersebut.
"Den Rey... silahkan masuk Den... saya panggilkan Non Elin dulu. kebetulan hanya Non Elin yang berada di rumah. " Ujar Bi Minah membuka pintu dan kemudian mempersilahkan Rey masuk dan duduk di ruang tamu.
"memang nya om Bimo dan Tante Nita ke mana Bi? " tanya Rey
"Tuan dan Nyonya dari siang tadi ke luar Den, kata nya mau ke rumah kerabat nya sekalian mengantar undangan pernikahan Den Rey dan Non Elin. " Terang asisten rumah tangga itu.
"oh. baik lah" balas Rey yang kini telah duduk di sofa ruang tamu.
"Permisi ya, Den. Bibi panggilkan Non Elin dulu di kamar nya. " Pamit Bi Minah yang di balas anggukan oleh Rey.
Tidak lama kemudian, Elin pun kini telah sampai di ruang tamu untuk menemui Rey.
"Kamu ada perlu apa ke sini? " tanya Elin datar dan duduk di sofa lain.
"aku juga tidak tau kenapa aku ke sini. " balas Rey sambil tersenyum.
"Kalau begitu pulang lah sekarang. aku ingin istirahat." Ucap Elin Bangkit dari tempat duduk nya. namun Rey dengan cepat menghampiri dan menahan gadis itu.
"Apa kamu habis menangis? " Tanya Rey setelah memperhatikan dengan seksama wajah Elin yang masih basah dengan mata sembab nya.
"Bukan urusan mu. " Jawab Elin membuang muka.
"apa ini karna aku? " tanya Rey lagi.
"aku bilang bukan urusan mu. " Ucap Elin berusaha mendorong tubuh Rey yang begitu dekat dengan nya.
Rey menangkap tangan Elin.
" Mari kita ngobrol di taman" ujar Rey sambil menarik lembut tangan Elin, yang entah kenapa Elin malah lebih menurut saja kali ini. kedua nya ke luar, dan berjalan menuju taman di samping rumah itu.
Kini Rey dan Elin telah duduk di sebuah bangku besi panjang berwarna putih di taman itu. Elin hanya tertunduk menatap rumput yang terpangkas rapi oleh tukang kebun keluarga nya. Rey memperhatikan wajah gadis itu sangat lama.
"Apa hari ini kamu hanya menangis di kamarmu? " Tanya Rey memulai obrolan dengan senyum.
Elin tak menjawab. menurut nya tidak ada jawaban yang harus ia berikan atas pertanyaan tak berbobot itu.
"Kamu sudah makan? " Tanya Rey lagi.
kali ini Elin hanya menjawab nya dengan anggukan kepala. padahal hari ini bahkan ia tidak menyentuh makanan sedikitpun.
__ADS_1
"Elin... apa kamu benar-benar tidak ingin menemui Arga? " Akhir nya pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut Rey.
Elin menghela nafas dalam, lalu kemudian ia menoleh pada Rey sesaat.
"Buat apa? " ucap Elin datar.
"Bukankah dia pacarmu. kenapa kamu malah bertanya seperti itu." Jawab Rey enteng.
"Menurutmu, apakah aku masih pantas menemui nya, sementara aku telah bertunangan denganmu?. Buat apa aku bertemu dengan nya, kalau pada akhir nya aku akan menikah dengan mu juga. " Ujar Elin dengan tatapan tajam pada Rey.
"Karna kamu mencintai nya. " Balas Rey dengan suara datar, namun itu cukup mengena di hati Elin.
Elin kemudian tersenyum sinis. lalu menatap jauh ke depan.
"Apa masih ada cinta untuk ku Rey? apa Cinta itu benar-benar ada?." getir Elin kemudian dengan suara serak nya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu. tentu saja cinta itu ada. bukti nya kamu lahir ke dunia ini karna cinta ayah dan ibu mu." Jawab Rey
Elin terkekeh.
"Menurut ku cinta itu nggak ada Rey. cinta hanya ada di novel-novel yang pengarang nya sengaja membuat pembaca nya berimajinasi bawah cinta itu bisa mengalahkan segala nya. tapi di dunia nyata... semua nya menjadi omong kosong dan cerita penghantar tidur saja. " ujar Elin panjang lebar.
"Apa dia bisa menyakiti? " Tanya Elin menatap Rey.
"Tentu saja. "
"Omong kosong. tau apa kamu tentang tersakiti." decak Elin kembali mengalihkan pandangan nya.
"aku lebih tua dari mu. tentu saja aku tau segala nya. " balas Rey pula.
"Maksud kamu? "
" Sudahlah... nggak usah di lanjutkan. pernikahan kita tinggal menghitung hari. persiapkan saja diri mu untuk itu." Elak Rey mengalihkan pembicaraan
"Apa aku boleh bertanya satu hal padamu? " Tanya Elin.
"Apa? katakan lah. "
"Apa kamu benar-benar tidak mempermasalahkan hubungan ku dengan Arga jika kita nanti menikah? "
Rey kemudian terdiam untuk beberapa saat.
__ADS_1
"apa itu penting bagimu? " tanya Rey kemudian.
"Jawab saja. "
"baiklah. sejujur nya tidak akan ada seorang suami mana pun yang rela istri nya mencintai laki-laki lain. tapi apa aku berhak memintamu untuk tidak mencintai Arga? " jawab Rey pula
Elin kemudian terdiam beberapa saat.
"Satu lagi boleh? " tanya Elin lagi ingin mengajukan pertanyaan lain.
"Katakan lah"
"kenapa kamu begitu ingin membantu ku dan mama? "
"Itu karna aku ingin membalas budi baik papa mu pada aku dan mama. " jawab Rey tanpa ragu.
Elin mengerutkan kening nya.
"maksud kamu? " Tanya Elin tak mengerti.
"Dulu saat perusahaan papaku bangkrut karna ditipu rekan bisnis nya. papamu lah yang dengan murah hati membantu keluarga kami. memberi kan tumpangan di apartemen nya, dan meminjamkan papa modal untuk kembali merintis bisnis nya. aku masih terlalu muda untuk mengingat itu, mama lah yang menceritakan semua nya padaku. " terang Rey panjang lebar.
Elin tak menjawab apa-apa. ia tau papa nya begitu baik pada semua orang. Elin juga tau almarhum papa nya sering membantu rekan bisnis nya. dan Elin baru tau hari ini bahwa salah satu orang yang di bantu papa nya adalah orang tua Rey.
"Elin... jika Om Bimo hanya menginginkan perusahaan papamu saja. aku mungkin tidak akan menerima usulan mama untuk menikahimu. karna aku tidak ingin merusak hubungan mu dengan orang yang kamu sayang. tapi karna Om Bimo berniat ingin balas dendam juga pada papa mu, yaitu dengan menghancurkan kehidupanmu dan tante Nita setelah perusahaan itu jatuh ke tangan nya. " ujar Rey dengan nada rasa bersalah pada Elin.
"aku tidak mengerti...mengapa dia sampai begitu dendam sama papa, bahkan setelah papa meninggal sekalipun? " Lirih Elin.
"karna ia tidak terima selalu kalah oleh papa mu. kata mama, dulu mereka satu sekolah, dan berteman baik, namun Om Bimo selalu iri pada nasib baik yang selalu berpihak pada papa mu. di sekolah selalu menjadi juara kelas. kemampuan nya bermain musik membuat nya di senangi banyak gadis di sekolah, dan bahkan ketika sudah bekerja pun ia langsung mendapatkan posisi bagus di perusahaan tempat nya bekerja ketika itu. Om Bimo tidak menyukai itu. ia iri pada sahabat nya sendiri. rasa iri itu lah yang terus tumbuh dalam hati nya, dan membuat nya gelap mata. " ujar Rey bercerita panjang lebar pada Elin. menurut cerita yang di kisahkan mama nya.
"Dan sayang nya karna kebaikan nya.. papa tidak menyadari hal itu, dan selalu saja menganggap Om Bimo teman baik nya... " sambung Elin mengambil kesimpulan. air mata nya kembali jatuh di wajah putih nya.
"Elin.. kamu tenang saja. aku akan menjaga kamu.kamu jangan nangis lagi ya. aku mohon" Bujuk Rey sambil meraih wajah gadis itu, dan mengahapus air mata Elin dengan jari nya.
Namun entah takdir apa yang membuat cerita ini menjadi rumit serta runyam. Seorang yang tidak sepatut nya melihat kejadian itu tiba-tiba muncul di belakang kedua nya.
ia tak lain adalah Arga. Arga melihat tangan Rey menangkup wajah kekasih nya itu dan menghapus air mata gadis itu. yang menurut nya, hanya dialah yang berhak melakukan itu. tapi kenapa sekarang pria itu berani-berani nya menyentuh Elin. dada Arga terasa sesak melihat itu. sedangkan Elin dan Rey belum menyadari kehadiran nya di sana.
"Elin..!!!" Teriak Arga. dan itu sekaligus ingin menyadarkan dua orang itu bahwa kini ada dia di sana dan melihat semua nya.
Jangan lupa like komen dan vote ya Readers ku sayang... :)
__ADS_1