
Elin menatap ke luar kaca mobil, sesekali lampu jalan menerpa wajah nya. Sisa gerimis tadi sore masih terlihat dan membekas di kaca mobil itu. Rey terus mengemudi, tidak banyak kata yang terlontar dari nya seperti biasa.
"Terimakasih" demikian satu kata yang terlontar dari Elin di antara keheningan itu.
"Hmm" Hanya itu yang jawaban yang dapat diberikan Rey.
Namun Elin tak menggubris itu. Ia tak begitu memperhatikan sikap Rey. Bahkan mungkin bagi Elin ini adalah hal yang patut ia syukuri. Tidak mendengarkan ocehan Rey di saat hati nya resah memikirkan Arga adalah yang terbaik saat ini.
Rey yang ingin mencoba berharap perhatian Elin merasa gagal sekali. bahkan ini semakin membuat hati nya uring-uringan saja.
"Berapa lama kau akan tinggal di Indonesia? bukan kah di Paris pekerjaan mu begitu banyak? " Tanya Elin.
Rey menghela nafas.
"Soal pekerjaan sudah ada asistenku di sana, dan setiap hari aku juga bisa mengerjakan pekerjaan ku dari sini. Bukan kah sekaran jaman nya sudah serba di permudah? " jawab Rey kemudian menjelaskan.
Elin mengangguk paham.
"Dan tentang berapa lama aku akan tinggal di Indonesia... Belum pasti, mungkin sampai semua ini selesai." sambung Rey melirik sekilas pada Elin.
" Maksud mu? masih soal rencana orang tua kita? " Tanya Elin yang kini menatap Rey tidak percaya.
"Menurutmu, apa lagi urusan ku di Indonesia selain itu? " jawab Rey.
Elin membuang muka. Ia melipat tangan ke dada, dan menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Rey... "
Belum sempat Elin menyelesaikan kalimat nya. Rey menepikan mobil nya di pinggir jalan. lalu menatap Elin lekat-lekat.
"Elin... ayolah. Sebenar nya aku juga tidak ingin memaksakan kehendak pada mu. Aku juga tau kau mencintai Arga. Tapi aku hanya tidak ingin mengecewakan mama, aku harap kau bisa mengerti maksudku. " ucap Rey bersungguh-sungguh.
"Rey. Aku benar-benar tidak bisa, lagi pula kenapa harus aku Rey? kenapa tante Dewi tidak memilih salah satu dari teman perempuan mu yang mungkin jauh lebih baik dari pada aku? "
"karena ada sesuatu di balik semua ini, Elin. Dan kau tidak pernah paham hal itu."
"Apa? "
Rey mengusap rambut nya dengan kasar. Sebenar nya ia tidak ingin Elin tau tentang ini. Namun ia juga tidak mengerti harus bagai mana lagi untuk meyakinkan Elin.
__ADS_1
Rey benar-benar tidak punya cara lain. Lalu ia kembali menatap Elin yang masih memandangi nya menunggu penjelasan.
"Semua ini ada hubungan nya dengan Om ku. " Terang Rey dengan tidak enak hati.
"Aku sudah menduga ini rencana nya, Rey. Dan mama tidak bisa berbuat banyak. Tapi aku masih tidak mengerti mengapa ia berbuat demikian, dan mengapa harus menjodohkan kita? "
"Aku mengetahui rencana nya. Ia ingin mengusai perusahaan mendiang ayah mu seutuh nya melalui aku. Dia mengatakannya sendiri padaku. dan dia mengajakku untuk bekerja sama dalam hal ini dengan cara menikahimu terlebih dahulu. " Rey menjawab dengan tidak enak hati.
Mendengar penuturan Rey. Elin hanya tersenyum kecut. Ia tidak begitu terkejut tentang kebenaran soal ayah tiri nya yang ingin mengusai perusahaan itu.
"Jadi karena itu kau begitu ingin menikah dengan ku? aku akan memberikan perusahaan itu dengan cuma-cuma jika kau mau. dan kau tidak perlu menikahiku. " sinis Elin.
"ya, itu yang membuatku begitu ingin menikahimu. Namun bukan untuk perusahaan itu Elin. Aku benar-benar menyukaimu. selain itu, ada hal penting yang juga kau harus tau."
"Apa??? " Menatap Rey sungguh-sungguh.
"Jika pernikahan kita gagal, Om Bimo sudah menyusun niat yang tidak baik untuk mu dan juga tante Anita. Untuk itulah aku berpura-pura berpihak pada nya di situasi ini. Namun kau boleh mempercayaiku, Elin. "
Kali ini Elin benar-benar tercengang. Ia tau ayah sambung nya itu memang berperilaku buruk pada nya. Namun ia tidak menyangka akan lebih buruk dari pada itu.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa menikah dengan mu Rey. aku mencintai orang lain. Aku takut nanti kau tidak bisa menerima itu. " Ujar Elin yang kini mulai terisak.
Rey menjeda kalimat nya untuk beberapa saat. Lalu menarik nafas dalam.
"Aku akan menceraikan mu." sambung Rey meski hati nya tidak ingin mengucapkan itu.
"benar-benar gila. " Balas Elin sambil bergegas membuka pintu mobil, dan keluar dari nya.
"Elin!!"
"Terimakasih atas niat baik mu. Tapi aku harap lupakan omong kosong itu. aku bisa menyelesaikan ini semua tanpa harus melakukan ide gila itu.!!!" ucap Elin menegaskan di setiap kata-kata nya. Lalu ia berjalan meninggalkan mobil Rey, dan beralih naik taxi yang kebetulan lewat.
Rey menatap taxi yang bergerak membawa Elin menjauh dari pandangan nya. Ia menangkupkan kedua telapak tangan di wajah nya. lalu mengusap wajah kebas itu dengan gusar, tangan nya memukul stir mobil.
Sementara di dalam taxi, Elin menangis tanpa mengeluarkan suara. Air mata sukses membuat wajah itu basah.
"Pak, kita putar balik saja." Ujar nya pada Sopir taxi itu. Ia mengurungkan niat nya untuk pulang ke rumah. Ia menunjukan alamat rumah Risa pada sang sopir.l, dan taxi itu berubah arah menuju rumah Risa.
ššššš
__ADS_1
"Aku tak habis pikir Om Bimo akan berbuat seperti itu." Ujar Risa setelah mendengar cerita Elin.
"iya, aku juga tidak menyangka. soal nya selama ini dia terlihat seperti ayah sambung yang Perfect sekali. Tapi ternyata.... "
Timpal Echa yang kebetulan juga berada di rumah Risa.
"Sekarang aku nggak tau harus gimana. Aku nggak mau mama kenapa-kenapa. kalian tau kan, Mama punya penyakit jantung." keluh Elin
"Kalau menurut Tante, sebaik nya kamu jangan bertindak gegabah Elin. " Sela bu Maya mama nya Risa.
Wanita yang hampir sebaya dengan mama Elin itu meletakan cemilan dan minuman hangat di atas meja.
"Terimakasih tante" ujar Echa
"Sama-sama"
"Maksud tante? " Tanya Elin sembari mnggeser duduk nya memberi ruang untuk mama Risa duduk.
"Tante sebenar nya tidak bermaksud ingin ikut campur, tapi tante sudah menganggap kamu dan Echa sudah seperti anak tante. jadi tante merasa punya tanggung jawab juga dalam hal ini."
Manita itu menjeda kalimat nya. ia tampam memilih dengan teliti kata-kata yang akan di ucapkan nya.
"Tante paham perasaan mu. tapi jika laki-laki yang dijodohkan dengan mu itu berniat baik seperti yang diucapkan nya itu, sebaik nya kamu pertimbangkan dengan baik kata-kata nya. Sebab jika kamu menuruti kata hati mu dan tetap memilih Arga, tante khawatir kamu akan menyesal, Elin."
Elin hanya bisa tertunduk mendengar penuturan mama Risa. Meskipun logika nya menentang itu, tapi hanya tak dapat memungkiri kebenaran akan apa yang di sampaikan oleh wanita itu.
"Tapi ma, Elin dan Arga itu saling mencintai. sekarang Arga sedang koma di rumah sakit. bagaimana Elin bisa melakukan ini terhadap Arga?? " sela Risa
"kadang memang kita dihadapkan pada pilihan yang mustahil kita bisa memilih salah satu diantara nya. Tapi bukan kah kita akhir nya harus memilih juga? diantara dua hal yang baik, pasti ada yang terbaik. " Jawab mama Risa dengan senyum keibuan nya.
Lalu wanita itu mengusap punggung Elin seolah ingin menguatkan gadis itu di situasi ini.
lalu ia bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan meninggalkan tiga sahabat itu di ruang tamu.
"Elin... kalau menurut aku, ucapan mama Risa barusan perlu dipertimbangkan." Ujar Echa berhati-hati sambil berpindah ke sisi Elin.
"Aku takut jika aku salah mengambil keputusan." Jawab Elin lirih.
"Kamu bisa memikirkan itu di lain waktu Elin. Sekarang minum lah dulu, selagi masih hangat. lalu setelah itu kita istirahat." ujar Risa menenangkan.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga meminum coklat hangat yang baru saja di suguhkan mama Risa. setelah itu mengemasi bekas nya, lalu mereka berjalan menuju kamar untuk beristirahat....