
Elin kembali ke ruangan tempat mama nya di rawat setelah teman-teman nya berpamitan untuk pulang.
Di sana masih ada Rey, tapi Elin tak melihat ayah sambung nya. Elin bisa menebak, laki-laki itu pasti sekarang sudah kembali ke kantor. Karena apa yang lebih penting bagi nya selain dari perusahaan itu?
Brkerja keras untuk mempertahankan perusahaan itu bukan semata untuk menyelamatkan hidup Elin dan mama nya seperti yang sering kali mama nya ucapkan. Ah!!! Elin benar-benar muak apabila harus memikirkan laki-laki biadab itu.
Elin berjalan mendekati ibu nya yang tampak tertidur. Rey beranjak dari tempat duduk nya.
"Beliau baru saja tertidur. Aku sengaja berjaga di sini karena tadi tidak ada yang menemani beliau. Om Bimo harus kembali ke kantor karena ada meeting. " Ujar Rey setengah berbisik, khawatir akan mengganggu istirahat mama Elin.
"Terimakasih" jawab Elin singkat.
"Ayo kita ke luar. kau pasti belum makan. kita cari makan dekat-dekat sini saja. " Ajak Rey
Elin menurut, kebetulan ia memang belum makan apa-apa dari tadi.
Kemudian mereka berjalan ke luar dari ruangan itu, menyusuri lorong demi lorong rumah sakit sebelum sampai di perkarangan nya.
Ketika mereka telah sampai di luar, Rey sejenak mengedarkan pandangan ke depan. Ia mendongak untuk mencari tempat makan yang paling dekat dengan rumah sakit itu.
"Di sana ada resto, dan di sebelah sana ada sebuah kafe." Ujar Elin sambil menunjuk ke arah kiri dan kanan depan jalan raya, ia sudah bisa menebak apa yang di cari Rey.
Rey tersenyum menatap Elin, Elin yang menyadari itu langsung mengalihkan wajah nya ke arah lain. Ia hanya tidak nyaman saja bila Rey menatap nya seperti itu.
"Ternyata kau sudah bisa menebak apa yang ada di pikiranku sekarang. " Ledek Rey sambil terkekeh.
"Jangan sembarangan bicara. Itu hanya karena aku tau kita ke luar untuk makan. " Jawab Elin cuek dan kemudian berjalan mendahului Rey.
"Elin tunggu... kau sensitif sekali. "Ujar Rey sambil berlari kecil menyusul langkah Elin.
"Diam"
"Resto atau kafe? "
"Terserah. "
Elin terus mempercepat langkah nya. menyebrangi jalan raya, lalu menuju kafe yang jarak nya lebih dekat jika di bandingkan Resto.
****
Setelah mendapatkan tempat duduk, seorang pelayan wanita menghampiri mereka.
"Hai mba, mas. mau pesan apa? " ujar pelayan itu ramah sambil memegang sebuah buku nota dan bolpoin.
"Eeem, saya ice capuchino satu, sama... beef steak." Jawab Rey sambil membaca menu.
"Saya apple juice, sama spageti saja. " ujar Elin.
"Baik... silahkan di tunggu ya mba, mas. " ucap pelayan itu masih dengan keramah tamahan nya setelah mencatat pesanan Elin dan Rey.
__ADS_1
Lalu kemudian ia bergegas meninggalkan meja itu.
"Elin, terimakasih." Ucap Rey kemudian dengan senyuman yang entah mengapa terlihat selalu merekah dibibir nya.
"Untuk apa? " tanya Elin yang setia dengan kecuekan nya.
"Terimakasih untuk mempercayaiku. " ujar Rey menyelesaikan kalimat nya.
Elin menyelipkan rambut nya yang tergerai ke belakang daun telinga nya, kemudian ia menghela nafas panjang seolah dengan itu ia ingin melapangkan hati nya.
"Jujur saja ini bukan soal aku mempercayaimu atau tidak, tapi aku melakukan nya untuk mama. Lagi pula bukan kah aku tidak punya pilihan lain? " ujar Elin.
Rey mengangguk paham mendengar penuturan Elin.
"Apa tante Dewi sudah tau? " selidik Elin.
"Aaa... belum. Kebetulan mama sedang di luar kota mengunjungi saudara nya. Itu sebab nya juga mama tidak bisa datang ke sini. Aku yakin mama akan sangat senang mendengar ini. "
jawab Rey yang sedikit terbata.
Elin hanya mengangguk.
"Tadi dokter bilang, lusa mama mu boleh pulang, setelah nya mari kita jalan-jalan. "
Ajak Rey yang berusaha kembali menghangatkan suasana.
"Aku tidak bisa, Rey. Aku akan sibuk di kampus untuk persiapan acara menyambut mahasisa baru. "
"apa akan ada pertunjukan biolamu juga? " imbuh nya lagi.
"Iya. "
"boleh aku datang ?"
"Terserah"
Rey kembali tersenyum puas. Lalu pesanan mereka pun datang dan telah di sajikan di atas meja oleh pelayan yang berbeda dengan yang tadi.
"Silahkan di nikmati.. " ujar pelayan itu tak kalah ramah dengan pelayan yang tadi mencatat pesanan mereka.
"Terimakasih... " Ujar Rey, dan ia langsung meminum ice capuchino pesanan nya.
Kemudian mereka menyantap makanan mereka masing-masing.
πππ
Langit telah gelap saat mereka ke luar dari kafe itu. Kedua nya berjalan mendekati tempat penyebrangan, menunggu beberapa saat untuk lampu merah menyala, lalu mereka segera menyebrang kembali ke rumah sakit.
Ketika mereka sampai di ruangan tempat mama Elin di rawat, mereka melihat pak Bimo sudah kembali, dan kini tengah duduk di samping brangkar tempat mama Elin terbaring sambil menyuapkan sereal pada wanita itu.
__ADS_1
"Om sudah pulang? " Sapa Rey.
"Iya, Om baru saja sampai. " jawab pak Bimo
"Kalian sudah makan belum? " Tanya mama Elin dengan tersenyum lemah.
"Kami baru saja selesai makan tante, apa Om sudah makan?" Ujar Rey lagi. Sementara Elin tak berkomentar apa-apa.
"Om sudah makan tadi di kantor." Jawab pak Bimo sambil meletakan wadah bekas makan istri nya di atas nakas.
"Elin, pulanglah. Biar Om Bimo saja yang jaga mama di sini. Besok Om sengaja tidak akan ke kantor dulu sampai mamamu bisa pulang ke rumah. " Ujar Pak Bimo memberi kesan baik di depan istri nya.
Elin tak menggubris, ia bahkan muak sekali mendengar ucapan sok perhatian itu.
'Ya Tuhan, tahan isi perutku agar tidak termuntahkan.' Desis nya dalam hati
"Iya, Elin. lagi pula besok kamu akan ke kampus, jadi lebih baik kamu istirahat lebih awal malam ini. " Tambah Bu Anita.
"Baik lah ma, kalau begitu aku pulang dulu. " Jawab Elin. Kemudian mencium punggung tangan mama nya.
"Iya. hati-hati sayang. Rey, tolong antar Elin ya. " ucap bu Anita lagi.
"Pasti tante. Kalau begitu Rey juga pamit ya tante, Om. " jawab Rey.
Lalu kedua nya melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Aku bawa mobil, Rey. jadi tidak perlu mengantarku." ucap Elin ketika mereka sampai di parkiran.
"Tidak.. tidak. ini sudah malam Elin. biarkan sopir Om Bimo yang mengantar mobilmu ke rumah. " Bantah Rey sambil menunjuk sopir Pak Bimo yang tengan tertidur di dalam mobil di parkiran itu.
Elin hanya pasrah sambil menghela nafas ketika Rey telah berjalan tergesa menuju mobil Pak Bimo.
Ia paham, berdebat untuk saat ini sungguh akan menguras energi nya. Rey yang hampir selalu memaksa nya itu tak akan bilang 'ya sudah' untuk membiarkan nya pulang sendiri.
"Kalau bukan demi jantung ibuku. aku akan mengibasmu dari hadapanku Rey. " gumam Elin sambil melipat tangan ke dada.
Dari jarak sepuluh meter, Elin bisa melihat dengan jelas tampak Rey membangunkan sopir itu dan berbicara pada nya. Sopir itu terlihat mengangguk, lalu Rey pun kembali ke tempat Elin berdiri.
"Beres. ayo berangkat. " Ujar Rey pada Elin.
kemudian Rey dan Elin pun masuk ke dalam mobil milik Rey.
Mobil perlahan meninggalkan parkiran, berlalu dari perkarangan rumah sakit, dan menelusuri jalanan yang basah tersiram gerimis, tampak syahdu penuh kelap kelip tertimpa lampu kendaraan lain nya.
πππππ
HAI SEMUA NYA. TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA SAMPAI DI EPISODE INI YA. JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR, LIKE, DAN VOTE NYA YA...**AGAR AUTHOR SELALU SEMANGAT UNTUK UP CERITA NYA.
LOVE YOU ALL
__ADS_1
HAPPY READINGπππ**