
Pagi itu langit tampak mendung, dingin tanpa terik surya, seperti nya hujan akan turun siang ini, atau bisa juga sore nanti.
Namun itu bukan lah soal penting bagi Elin. bukan kan setiap hari dan saat suasana akan sama saja? Ia sudah terlanjur jadi pribadi yang lain dari ketika semua nya masih baik-baik saja.
Semua terasa sama saja bagi gadis itu. Kebahagiaan tak pernah bertahan lama di hidup nya, bahkan ketika ia baru saja bertemu kebahagiaan bersama Arga sekalipun.
Elin terburu-buru menuruni tangga, ia telah bersiap untuk pergi ke kampus. Namun sebelum ke kampus ia akan mampir dulu ke rumah sakit membawakan sarapan untuk mama nya.
"Bi, sarapan untuk mama sudah disiapkan? " Tanya Elin pada Bi Minah ketika sampai di meja makan, seraya meneguk susu coklat hangat yang sudah disediakan Bi Minah.
"Sudah, Non. Yang kotak merah sarapan Ibu, dan yang satu nya lagi untuk Tuan Bimo." jawab Bi minah sambil menyerahkan dua kotak makan.
"Baik lah. terimakasih ya, Bi. "
Ujar Elin lagi dan langsung mengambil kotak itu dan membawa nya.
"Sarapan dulu Non. itu susu nya juga belum habis..?" Tanya Bi Minah.
"Aku buru-buru Bi, takut kesiangan sampai di kampus. Ada kuliah pagi soal nya. " Jawab Elin, kemudian berlalu dari hadapan asisten rumah tangga itu, ke luar dengan mobil yang terbilang jarang ia gunakan meskipun itu mobil dibelikan khusus untuk nya.
Setelah mengemudi lebih kurang 20 menit, kini ia sampai di rumah sakit. Lalu dengan langkah cepat ia masuk ke dalam setelah memarkirkan mobil nya.
"selamat pagi, Ma. " Sapa Elin pada Mama nya.
"Pagi, sayang." Jawab Bu Anita dengan tersenyum.
Elin cukup senang melihat wajah Mama nya yang sepertinya jauh lebih segar dari hari kemarin.
"Ini aku bawakan sarapan. Mama belum sarapan kan? " Ujar Elin sambil meletakan kotak makan yang ia bawa, lalu membuka nya.
"iya, mama belum sarapan. Makanan rumah sakit membuat mama tidak berselera." Jawab Bu Anita sambil bersandar di bagian atas katil.
"Tapi aku harus berangkat ke kampus sekarang Ma, mama tidak apa-apa makan sendiri? "
" Tidak apa-apa Elin, lagi pula di sini ada Om Bimo, dia sedang di kamar mandi."
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku berangkat ya, Ma. "
"O, Elin sudah di sini rupa nya." Ujar Pak Bimo yang baru keluar dari kamar mandi.
"Wah, sudah membawakan sarapan ternyata. Om baru saja akan pergi ke luar mencari sarapan. Terimakasih ya Elin. " Tambah nya lagi setelah melihat ada kotak makan di atas nakas, lalu membuka nya.
Elin tidak menjawab. Wajah munafik dari orang tua itu sungguh membuat nya ingin memaki, tapi itu tidak akan mungkin ia lakukan, sebab laki-laki ini sudah begitu jauh lebih sukses meyakinkan Mama nya.
__ADS_1
Sungguh miris sekali. Selama ini Elin bahkan menyimpan kebencian sendiri pada ayah sambung nya itu. Kejadian beberapa kali ia memergoki orang tua itu mengintip nya di malam hari, masih ia simpan rapi sampai sekarang dari orang tua nya.
Meski sudah bertahun-tahun, tetap saja Elin tak bisa memaafkan laki-laki itu. Apa lagi sekarang ada fakta lain lagi tentang sifat buruk laki-laki munafik yang dipercaya mama nya itu. Kalau saja bukan ingin mama nya hidup lebih lama lagi, sudah pasti ia musnahkan laki-laki itu dengan tangan nya sendiri.
"Aku berangkat sekarang, Ma. " Ujar Elin tanpa sedikit pun peduli dengan kehadiran pak Bimo.
Bu Anita mengangguk, ia sudah tak asing lagi dengan sifat dingin Elin pada suami nya. Memang hubungan anak dan suami nya itu sudah begitu ada nya dari awal ia menikah.
Namun mama Elin hanya menganggap Elin tidak suka pada pak Bimo karna Elin tidak mau ada ayah lain selain dari papa nya. Mama Elin sampai sekarang hanya menganggap Elin belum bisa menerima kepergian papa nya.
Elin melangkah ke luar dari ruangan itu, lalu merogoh tas nya karna ada bunyi panggilan masuk dari ponsel nya.
Elin menghembuskan nafas kasar setelah melihat nama Rey di layar ponsel tersebut. Lalu ia kembali memasukan ponsel itu ke dalam tas selempang nya setelah menolak panggilan tersebut. Kemudian ia buru-buru masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan perkarangan rumah sakit.
Sementara di tempat lain, Rey mendengus. ia menaruh kembali ponsel nya di meja makan. Kemudian kembali menyuap nasi goreng ke mulut nya dan mengunyah nya dengan perasaan kesal.
"Kamu kenapa Rey? " Tanya bu Dewi saat baru sampai di meja makan itu dan melihat wajah cemberut Rey.
"Bukan apa-apa ma. Hanya sedikit jengkel saja sama calon menantu mama itu. " ujar Rey bersungut.
"Elin...??? kenapa memang nya? "
Tanya Bu Dewi terkekeh sambil menaruh nasi goreng ke piring nya.
"Apa??? " bu Dewi tersedat dan langsung meneguk air putih dari dalam gelas yang ada di depan nya.
"hati-hati Ma, kenapa mama sampai tersedat begitu. " ujar Rey langsung nenghampiri mama nya, lalu mengusap-usap punggung wanita itu.
"Rey. apa baru saja mama tidak salah dengar? Elin bersedia menikah denganmu.? " Tanya Bu Dewi lagi.
Rey kembali ke tempat duduk nya, lalu meneguk orange juice dari dalam gelas nya.
"Iya ma, mama tidak salah dengar. Elin menerima lamaran itu. "
"Ahhh... syukurlah. Mama senang sekali. Mama tidak akan takut lagi bertemu papa Elin jika mama mati nanti. " Ujar bu Dewi lega sambil mengusap dada nya.
"Mama kenapa bicara seperti itu? . jangan bahas soal mati-mati ah. Lagi pula, setelah Rey menikah dengan Elin, kita masih punya tanggung jawab lagi Ma. Mama lupa tentang rencana itu? " Ujar Rey.
"Mama sampai lupa soal Om kamu itu. Tapi kamu tenang saja, setelah menikah jangan pikirkan perkara buruk dulu. Soal nya, Mama sudah semakin tua, Mama mau secepat nya kamu memberikan mama cucu." Jawab Bu Dewi sambil tertawa bahagia.
Rey hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ocehan mama nya. Mengingat Elin yang begitu cuek, apa semua itu akan terjadi? Cucu? ah, itu konyol sekali.
Bukan kah ia tau Elin menikah dengan nya hanya karena terpaksa? Apa lagi Arga punya tempat yang begitu besar di hati gadis itu. sungguh pun begitu, ia tidak menampik keinginan bisa saling mencintai satu sama lain dengan Elin.
__ADS_1
Bu Dewi tampak kembali menikmati sarapan nya dengan senyum bahagi, sementara Rey beranjak ke kamar nya, dan menatap lekat foto Elin di layar ponsel nya, yang secara diam-diam ia ambil ketika Elin tengah makan bersama nya di kafe kemarin..
πππ
Elin sampai di kampus setelah beberapa menit menempuh jalan dari rumah sakit. Ia berjalan melewati koridor sebelum sampai di kelas.
"Elin!!! " Seru Rora dari belakang nya.
Mendengar namanya di panggil, Elin menghentikan langkah nya dan berbalik badan.
Ia melihat Rora, Lily, dan Mita berjalan menuju ke arah nya. Elin menghembuskan nafas malas.
'Ya Tuhan... masalah lagi. ' batin Elin sambil menggenggam tali tas nya.
"Heh. Kamu pikir kamu secantik apa, bisa-bisa nya menggoda mas Rey juga? apa Arga kurang cukup untuk memuaskan mu? " Bentak Rora tanpa basa-basi setelah tepat berada di hadapan Elin.
Elin membulatkan mata. menatap tajam pada Rora.
"Jaga ucapan mu, Rora. Apa kau tidak memakai otak mu sebelum berbicara dengan orang lain? " Ujar Elin terkesan dingin, namun dengan tatapan yang masih tajam.
Rora menyipitkan mata nya, lalu mendekatkan wajah nya pada telinga Elin.
"Sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengan sampah seperti, mu. kau sendiri yang meminta nya. Jauhi orang-orang yang seharus nya jadi milik ku, atau kau akan tau akibat nya.!!!" Bisik Rora mengancam.
Tanpa di duga, Elin menyambar wajah Rora dengan sebelah tangan nya. Ia mencengkram pipi gadis itu dengan kuat. Mita dan Lily terkesiap ngeri dengan tindakan Elin yang tidak terduga itu.
"Dengar baik-baik. Jika lain kali kau menghampiriku hanya ingin membahas soal laki-laki, apa lagi seperti Rey, aku tidak akan segan merobek mulut mu. Dan kau hanya perlu tau satu hal, aku bukan dirimu, yang gampang saja tidur dengan laki-laki." Ujar Elin sambil melepaskan cengkraman nya dengan kasar sehingga membuat Rora terhuyung, untung saja tubuh nya langsung di tahan oleh dua teman nya.
Setelah itu Elin berjalan meningalkan tempat itu seperti tak rerjadi apa-apa.
"Awas kau Elin. kau tunggu saja pembalasanku!!!! " Teriak Rora dari belakang sambil memegang pipi nya yang sakit akibat cengkraman Elin.
Elin tak peduli, ia tak menoleh lagi. meneruskan langkah nya menuju kelas.
"Dasar perempuan aneh, gila! aduh... pipiku. Seperti nya aku harus memeriksakan nya ke spesialis kecantikan pribadiku.. "
Ringis Rora sambil berlalu meninggalkan Lily dan Mita yang merasa jadi serba salah....
πππππ
**SEKALI LAGI TERIMAKASIH BAGI YANG SUDAH MAMPIR, JANGAN LUPA KOMENTAR, LIKE DAN VOTE YA, AGAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI UNTUK UP NYA.
LOVE YOU ALLπππ
__ADS_1
HAPPY READINGπππ**