
Mobil sport berwarna merah itu telah berdiri dari 10 menit yang lalu di pertigaan jalan itu, hari memang masih begitu pagi. Arga memang sengaja cepat sampai di sana karna tak mau terlambat menjemput Elin. ia membuka gawai nya, mengecek WhatsApp dari Elin. tapi belum ada balasan semenjak ia mengabarkan akan berangkat tadi. bahkan Elin sama sekali belum membuka Whatssap nya.
' mungkin masih bersiap-siap' ia membatin.
cukup lama Arga menunggu di sana, sambil memainkan gawai nya. Mungkin sekitar kurang lebih satu jam, mata hari pun mulai terasa panas menembus masuk ke dalam mobil Arga.
tok.. tok.. tok...
seseorang mengetuk kaca mobil nya. itu Elin. Akhir nya muncul juga. Arga bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Elin.
"maaf ya Ga, aku lama ya?" ucap Elin memelas.
"Tidak masalah. jangan meminta maaf begitu. aku yang datang terlalu pagi menjemput mu. soal nya bersemangat banget mau ketemu kamu" ujar Arga dengan senyum sumringah sambil mengemudikan mobil nya.
Elin tersenyum manis, sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga nya. ia menatap lagi ke depan sana, dengan senyuman yang masih melekat di bibir mungil dengan sedikit polesan lip berwarna nude itu.
***
"Waaah.. berangkat bareng nih." celetuk Risa menghampiri Elin dan Arga yang baru keluar dari mobil. Risa dan Echa juga seperti nya baru saja sampai. Itu terlihat ketika mereka juga baru tampak keluar dari mobil Risa.
"Hai Risa, Echa" sapa Elin pada dua sahabat nya itu. Yang di sapa berhamburan ke pelukan Elin.
"hmm, aku juga mau dong di peluk" celetuk Arga mebentangkan tangan nya.
"Eiiitsss.." kata Risa menyetop dengan memberi isyarat telunjuk di depan Arga yang nyaris memeluk Elin.
"Belum waktu nya" ujar nya kemudian
"Ya, ya. kalau begitu suruh sahabatmu ini menyiapkan diri nya sebelum waktu itu datang." ujar Arga menurunkan tangan nya sambil melirik pada Elin.
Elin pun tersenyum, melihat tingkah mereka.
"Arga....!"
perempuan dengan rambut ikal berwarna hitam mendekat ke arah mereka. ia tak sendiri, ada dua perempuan lagi di kiri kanan nya. style mereka hampir sama. Mulau dari pakaian, rambut, tas, apa mereka kembar tiga??? Ah tentu saja jawaban nya adalah tidak. itu lah Rora dan geng nya , Lili dan Mita.
__ADS_1
Rora seorang mahasiswi pindahan dari Paris. Rumor yang beredar, orang tua nya membayar dengan angka yang cukup fantastis untuk ia bisa pindah ke universitas ini. Itu semua karena Rora tidak bersedia mengulang dari semester awal saja, dan beberapa kebijakan soal pindah universitas yang tidak memenuhi syarat. Apa lagi pindah nya saat mendekati tahun akhir. singkat nya, apa yang tidak bisa lancar oleh uang? Ck, ck, ck. miris nya negeri ini.
"aduh... mau apa lagi mereka" gerutu Echa
"Ya mau ke pangeran dambaan hati lah" jawab Risa melirik Arga.
Sementara Elin hanya mengisyaratkan dua sahabat nya itu untuk pergi, tapi Arga menahan nya. Tangan arga menggenggam jemari Elin. mata nya memberi isyarat agar Elin tetap di samping nya. Elin kemudian terpaksa mengiyakan, meski hati nya merasa tidak nyaman. setelah yakin Elin akan tetap di sana, baru lah Arga melepaskan tangan Elin.
"Arga, aku mau kita bicara siang ini. Ini penting. Berdua saja. " ujar Gadis bernama Rora menekan kalimat "Berdua saja" Itu dengan tatapan sinis pada Elin.
" Sorry, aku tidak ada waktu. " jawab Arga datar.
"kamu kenapa sih Ga, sekarang jadi berubah? kamu udah nggak pernah balas chat aku lagi. nggak pernah angkat telfon dari aku. kita perlu bicara, Ga. ini penting. "
"Penting bagimu, tapi bagiku tak ada yang penting lagi segala yang bersangkutan denganmu. "
"Arga! Kamu kenapa jadi begini? "
"Aku kenapa? harus nya kamu tanya ke diri kamu sendiri"
"Arga, kamu udah salah paham Ga, aku bisa jelaskan semua nya."
Entah apa yang terjadi antara Rora dan Arga, semua nya menciptakan tanda tanya dalam benak Elin yang menyaksikan keributan itu. Tapi ia bukan anak kecil yang tidak tahu makna pertengkaran Arga dan Rora, jelas saja itu keributan sepasang kekasih yang tengah terjerat kesalah pahaman.
Ya tuhan, kenapa semua ini. Elin tak tahan lagi mendengar keributan itu, dada nya terasa sesak, apa kah ia yang menyebabkan semua ini? Elin berlari meninggalkan kegaduhan itu, ia benar-brnar ingin beranjak dari situ secepat nya. Entah apa yang terjadi, tapi keributan Arga dan Rora, cukup membuat dada nya penuh sesak.
"Elin...!!! " Echa dan Risa berteriak memanggil Elin, memandang sinis ke arah Arga sebentar, lalu berlari menyusul Elin yang sudah pasti ke ruang kelas. Arga tanpa pikir panjang juga ikut menyusul Elin.
"Arga... kau mau ke mana?! aku belum selesai Ga, kita perlu bicara!!" teriak Rora, namun tak di gubris oleh Arga yang terus berlari menyusul Elin.
"argghhhhh... Arga!!! kenapa jadi begini?!! "
Rora yang kini hanya tinggal dengan dua sahabat nya itu berteriak gusar sambil mengehentakan kaki nya.
"Sabar, Ra, mungkin Arga perlu waktu" ujar Lili
__ADS_1
"ayo kita ke kelas" ajak Mita
"aku ga bisa kuliah hari ini, pikiranku kacau sekali" ucap Rora gusar.
"Apa ini ada hubungan nya dengan gadis itu? siapa nama nya?! " Rora bertanya pada Lili dan Mita.
"Elin. Nama nya Elin. Tapi apa mungkin? Selama ini hampir satu kampus mengenal nya dengan sebutan gadis dingin. Ia tak pernah terlihat dekat dengan laki-laki. " Terang Lily.
"Bahkan ia juga pernah menolak ajakan kencan dari Alfi. Mahasisiwa terkeren di kampus ini. "
Mita menimpali.
"Lalu kenapa tadi ia terlihat begitu akrab dengan Arga? apa seorang Arga sekarang membuatnya tertarik? " Geram Rora.
"Kita tidak bisa mengambil kesimpulan sekarang. Pasal nya Arga selalu ramah pada siapa saja. Jadi mungkin juga Arga seperti itu pada tiga gadis tadi." Asumsi Mita.
Rora mencerna ucapan Mita. berpikir sejenak, lalu menganggukan kepala nya.
"Aku harap begitu" ujar nya kemudian.
Mita dan Lily mengusap pundak nya, menenangkan.
"Jadi bagai mana? apa sekarang kira perlu bersenang-senang untuk merileks kan pikiranmu? " Lily tersenyum penuh arti.
"Ah, aku rasa aku akan muak dengan suasana kampus hari ini." Berjalan kembali menuju mobil yang terparkir.
"Mari kita karaoke?"
"Suara cempreng mu akan membuat telingaku sakit, Ly. "
"Lalu kita akan kemana? "
"Kita ikuti saja ke mana Nona Rora kita ini akan merasa fun. "
"Ah.. kalian memang sahabat aku yang paling mengerti " ujar Rora yang kemudian merangkul pundak Lily dan Mita sebelum masuk ke mobil.
__ADS_1
Lalu mereka pun beralu meninggalkan gedung universitas itu untuk "Bersenang-senang ".
ššššš