
Pagi itu suasana di rumah Elin tampak sibuk, beberapa orang dari jasa dekorasi pesta sibuk mondar-mandir dengan pekerjaan nya.
Acara lamaran itu akan digelar nanti malam.
Elin tak menghiraukan kesibukan di rumah itu, ia memilih duduk di balkon kamar nya. sesekali ia menghela nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan kasar. pikiran nya tentang Arga tak bisa ia hindari. laki-laki itu sudah pasti akan sangat kecewa dengan keputusan ini, dan bukan itu saja, bahkan mama Arga yang sudah menaruh harapan pada nya juga pasti akan membenci nya.
Lalu kembali terdengar helaan nafas berat Elin.kemudian ia mengangkat cangkir teh yang ada di meja nya, lalu menyeruput teh itu sekali.
Lamunan Elin buyar ketika terdengar pintu kamar nya diketuk dari luar.
Tok.. Tok... Tok...
Elin bangkit dari tempat duduk nya, meninggalkan balkon, lalu berjalan menuju pintu kamar untuk membuka nya.
"Risa...ayo masuk. " Ujar Elin ketika mengetahui yang mengetuk pintu nya adalah Risa.
Lalu Elin mengajak Risa kembali ke balkon, kemudian mereka duduk di sana.
"Gimana kabar tentang Echa? " Tanya Elin
"Aku sudah coba ke rumah nya, tapi sayang nya Echa nggak mau nemuin aku Lin. " ucap Risa.
"Echa nolak ketemu kamu? "
Risa mengangguk mengiyakan.
"Tapi menurut Mba Sri, asisten rumah tangga nya, beberapa hari terakhir memang sikap Echa sedikit berbeda dari biasa nya. "
"Maksud nya? "
"Echa lebih sering mengurung diri di kamar, terus juga sering terdengar nangis sendiri. "
"Aku makin nggak ngerti, Ris. apa jangan-jangan masalah keluarga nya ya.?" ujar Elin menebak-nebak.
"Mungkin juga, secara kata mba Sri, dia pernah tidak sengaja dengar orang tua Echa sedang bertengkar , dan itu masalah perusahaan mereka yang terancam bangkrut. "
"Tapi apa itu ada hubungan nya dengan omongan Rora kemarin? Soal hotel? "
"Bisa jadi, tapi entahlah... kita juga tidak bisa menerka-nerka saja tanpa tau masalah nya. tapi aku benar-benar mengkhawatirkan Echa, Lin"
"Iya, kamu benar. tapi apa yang bisa kita lakukan? "
Tok... tok... tok...
Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar ketukan pintu dari luar.
"Permisi Non..." Ujar Bi Minah dari luar.
"Oh, masuk aja Bi."
Lalu Bi Minah pun masuk ke dalam kamar itu dengan membawa nampan berisi minuman.
__ADS_1
"Terimakasih, Bi" Ucap Risa pada Bi Minah.
"Sama-sama Non. kalau begitu Bibi permisi Non. " jawab Bi Minah lalu meninggalkan tempat itu, dan kembali menutup pintu kamar setelah ia keluar dari sana.
"Aku ingin sekali menemui nya. tapi Mama tidak mengizinkan aku keluar hari ini. " Keluh Elin.
"Sabar saja Elin, kita doakan saja, mudah-mudahan Echa baik-baik saja. fokus saja ke acara nanti malam. lagi pula Echa tidak mau ditemui sekarang.... " ujar Risa.
Lalu ia mengangkat cangkir teh ke bibir nya, dan meneguk nya perlahan.
"Apa kamu mengundang teman-teman di kampus juga?" Tanya Risa kemudian.
"Tidak. paling Mama hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja. lagi pula untuk apa aku mengundang teman-teman di kampus? aku juga tidak merasa ini acara ku, tapi acara mereka. " Jawab Elin
Risa langsung terkekeh mendengar jawaban Elin.
"Kenapa kamu malah tertawa? Aku benar kan? " Ujar Elin lagi.
"Iya.. iya. kamu benar Elin.Tapi kenapa sih kamu kayak nya nggak suka banget sama Rey? tampan iya, tajir iya, dan sepertinya dia juga laki-laki yang baik? "
"Mungkin kamu benar, Ris. dia baik, tampan. tapi kamu tau kan, ini masalah perasaan. dan perasaan itu nggak bisa dipaksa. Aku sudah mencintai Arga, dan di hatiku cuma ada Arga. "
Risa menangkap kesungguhan dalam kalimat yang di ucapkan Elin. ada penekanan di setiap kata-kata nya. Risa tak berkomentar apapun lagi. lalu kedua nya terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
πππ
"Bagai mana penampilan ku? " Ujar pemuda itu sambil merapikan jas nya.
"Kamu sudah terlahir dengan wajah yang rupawan, apapun yang kau pakai.. semua akan tampak sempurna, Rey. " Jawab Willy sambil mengacungkan dua jempol nya.
"Iya, Ma. ini udah siap.nggak sabaran banget sih" Jawab Rey
Lalu semua nya bergegas ke luar rumah, dan masuk ke dalam mobil. ada beberapa mobil yang mengiringi mobil Rey. mobil itu adalah iring-iringan kerabat Bu Dewi.
"Kamu kok nggak ngajak istri kamu sih Wil? " Tanya bu Dewi saat mobil telah bergerak menelusuri jalan raya.
"Sebenarnya dia juga mau ikut, tante. tapi aku melarang nya, takut dia kenapa-napa nanti. soal nya dia sudah hamil tua." jawab Willy dari balik kemudi sambil terus melihat jalan di depan nya.
"Oh iya juga ya. kamu benar Wil. hamil tua begitu sudah pasti susah untuk bergerak juga. " Ujar bu Dewi membenarkan.
"Kamu harus contoh Willy ya Rey, kalau nanti kamu sudah menikah dan Elin lagi hamil, kamu harus ekstra memperhatikan nya. jaga dia dengan baik." Tambah bu Dewi pula.
Rey yang duduk di bangku belakang memilih tidak menjawab mama nya. ia tau tidak ada kata-kata yang bisa menyelamatkan nya selain dari mengiyakan atau mendengarkan saja ocehan mama nya itu.
Mobil pun terus bergerak semakin dekat ke tempat tujuan. dan sekarang mereka benar-benar telah tepat berada di depan rumah Elin. iring-iringan mobil keluarga Rey memasuki halaman rumah mewah itu, kemudian setelah memarkirkan mobil, merekapun segera berjalan memasuki rumah yang mana keluarga Elin sudah menunggu di sana.
Sementara di kamar nya, Elin tampak cantik dengan balutan kebaya panjang berwarna pink muda, yang dipadukan dengan kain batik di bawah nya. wajah nya pun telah selesai di rias dengan riasan Flawles dengan sentuhan lip cream berwarna nude.
"Sahabatku cantik sekali... " Ujar Risa memuji.
"Terimakasih, Ris. tapi aku merasa gugup sekali. " ujar Elin sambil terus menatap ke cermin meja rias milik nya.
__ADS_1
"kamu harus tenang, Elin. semua nya akan baik-baik saja. " Ucap Risa sambil memegang pundak Elin dari belakang.
Elin menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya perlahan. yah... ia berharap semua ini benar-benar akan baik-baik saja. dan itu juga adalah harapan nya.
Tok.. tok.. tok...
terdengar pintu di ketuk dari luar. Risa bergeges membukakan nya.
"Tante... "
ternyata itu adalah mama Elin. wanita paruh baya itu berjalan masuk ke dalam kamar tersebut.
"Elin... kamu sudah siap nak? Semua nya sudah menunggu di bawah." Ujar Bu Anita menghampiri Elin.
"Ah... anak mama, kamu cantik sekali sayang. " Tambah nya lagi saat menatap wajah Elin. Ada keharuan yang terpancar di wajah wanita itu.
"Ayo kita turun sekarang. " Ujar mama Elin lagi
"Baiklah ma. " Jawab Elin sambil beranjak dari kursi nya.
"Ayo Elin" Ujar Risa meraih sebelah tangan Elin, lalu mendampingi nya keluar dari kamar itu, kemudian berjalan menuruni tangga.
Elin di dampingi oleh Risa dan Mama nya menuruni satu demi satu anak tangga. semua tamu yang hadir, menatap Elin penuh takjub. tak terkecuali Rey. ia sangat terkesima melihat gadis yang akan dinikahi nya itu.
"Pilihanmu benar-benar berkelas, Rey. " Bisik Willy yang berada di samping Rey. Rey hanya membalas nya dengan tersenyum bangga.
Kini Elin telah berdiri tepat di samping Rey. Rey tak henti-henti nya menatap wajah Elin dengan takjub, serta senyum yang terus mengambang di wajah maskulin nya. Sementara Elin terus membuang pandangan nya dari laki-laki itu.
Acara lamaran itupun di mulai. setelah beberapa kata pembuka dari perwakilan kedua pihak keluarga, kini tibalah saat nya Rey yang bersuara.
"Terimakasih saya ucapkan pada ke dua pihak keluaraga yang telah memberi restu pada saya. saya juga mengucapkan banyak Terimakasih pada para tamu, yang ikut mendo'akan kelancaran acara ini. dan teristimewa saya ucapkan terimaksih kepada wanita yang ada di samping saya ini.... " Ujar Rey membuka kalimat nya, sedangkan Elin masih tertunduk di sana dengan segudang perasaan yang bercampur aduk dalam benak nya.
semua yang hadir di sana terdiam, menunggu kelanjutan dari kalimat Rey.
"Elina sharin gunawan... malam ini di hadapan orang tua kita, di hadapan keluarga kita, dan di hadapan para tamu yang hadir. Aku datang padamu, memintamu untuk menjadi pendamping hidupku, menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anak ku, dan menjadi teman di hari tua ku... mau kah kamu menikah dengan ku? " Ujar Rey melanjutkan kalimat nya dengan bertekuk lutut sambil memegang sebuah cincin di tangan nya.
Elin gemetar mendengar penuturan yang baru saja di lontarkan Rey pada nya. ia menatap pemuda di hadapan nya itu.. air mata nya mulai menggenang. harus kah ia membohongi semua nya? haruskah ia menjawab 'iya' sementara hati nya berkata tidak? sejauh inikah ia harus berbuat demi ibu nya? ditambah lagi bayangan wajah Arga yang menatap sayu pada nya. serta seluet-seluet saat bersama Arga yang melintas di benak nya.
Untuk beberapa saat Elin masih terdiam di sana. sementara semua orang sudah mulai berbisik-bisik satu sama lain, sedangkan orang tua nya mau pun orang tua Rey mulai gelisah. melihat hal itu, Risa yang berada dekat dengan Elin, mencoba berbicara dengan nya.
"Elin... aku tau apa yang kamu pikirkan, tapi lihatlah di sekeliling mu, orang-orang sedang menunggu jawaban mu. jangan biarkan mereka berasumsi yang aneh-aneh. pikirkan ini baik-baik. " Ujar risa berbisik di telinga Elin.
Elin menatap sekeliling nya, wajah-wajah itu menatap nya penuh tanya. kemudian ia menatap wajah mama nya. Wajah itu menatap nya penuh harap dan cemas. ia teringat kejadian hari itu, saat ia menentang mama nya, kemudian berakhir dengan mama nya dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit jantung nya. Elin bergidik mengingat hal itu. lalu ia menghela nafas dalam, dan membuang nya perlahan. menatap laki-laki yang berlutut di hadapan nya itu, lalu...
"I.. iya. aku mau menikah dengan mu. " Jawab Elin kemudian.
Semua merasa lega... tepuk tangan menggema dalam ruangan itu, air mata bahagia mengalir di pipi bu Anita. ia memeluk pak Bimo dengan perasaan lega. sementara pak Bimo yang baru saja terlihat pasi, sekarang mengulum senyum kemenangan di bibir nya.
Rey bangkit dan berdiri di hadapan Elin. ia tersenyum penuh kebahagiaan menatap wajah Elin. lalu ia memasangkan cincin di jari manis gadis itu, pertanda Elin sudah terikat dengan nya sekarang. dan tinggal satu langkah lagi, Elin akan benar-benar jadi istri nya.
πππππ
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA SAMPAI DI EPISODE INI. SEKALI LAGI AUTHO MINTA DUKUNGAN NYA DENGAN KLIK LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE YA. AGAR AUTHOR LEBIH BERSEMANGAT LAGI UNTUK MELANJUTKAN CERITA NYA.
HAPPY READINGπππ