
Rey mengulurkan sapu tangan ke tangan Elin. Elin menatap Rey, dengan ragu ia raih sapu tangan itu untuk kemudian ia menyapu air mata nya yang tidak bisa ia bendung.
"Tidak enak jika dilihat tamu. " Bisik Rey sambil terus melayangkan senyum pada tamu undangan yang menyapa dan menyalami nya.
Elin tidak menjawab, benar apa kata Rey. Para tamu itu akan berasumsi yang tidak-tidak nanti nya jika melihat Elin menangis di pernikahan nya. kemudian Elin kembali mencoba memasang senyum di bibir nya, Rey tersenyum melihat itu.
"Hai mas Rey. Selamat ya atas pernikahan kamu. wah.. kamu memang cocok nya sama dia ya." Ujar Rora yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dan melempar tatapan sinis pada Elin.
"Mana mama mu? rasa nya kemarin aku hanya mengundang mama mu.." ujar Rey karna memang ia kemarin hanya mengundang bu Sinta, dan tidak mengundang gadis ini.
"Aku menggantikan mama datang ke sini. mama tidak akan sudi menghadiri pernikahan orang yang menyakiti anak nya. " Jawab Rora sinis. Padahal dia sendiri lah yang meminta untuk menggantikan mama nya datang ke acara itu. pandangan nya masih menatap tajam pada Elin
"Tutup mulut mu!." Geram Rey.
"Cih, apa kau takut rahasiamu akan kubongkar di hadapan istrimu ini? " Rora makin melunjak.
Elin yang menyaksikan itu hanya menatap bingung. Seingat nya, ini ke dua kali nya Rora dan Rey berbicara seperti ini di depan nya.
"Sepertinya mereka memang punya hubungan khusus di masa lalu. tapi apa masalah mereka? " batin Elin
"Rahasia apa yang aku takut kan? aku sendiri bahkan tidak tahu. yang ada kamu lah yang harus nya takut kalau suatu waktu aku membongkar kebusukan mu itu. " Balas Rey dengan seringai nya.
"Kita lihat saja. " Cibir Rora.
" Dan kau perempuan aneh. selamat ya atas pernikahan mu. hmh.. haruskah aku berterimakasih padamu karna telah melepaskan Arga untukku? " Sambung Rora dengan sinis menatap Elin.
"Oh iya satu lagi. suatu hari kau akan tau siapa suamimu ini, dan apa yang telah ia lakukan bersamaku.. " Kali ini ia berbisik di telinga Elin. Elin tak menjawab apapun, ia hanya menatap Rey penuh arti.
Kemudian, Rora pun melenggang santai meninggalkan Elin dan Rey, lalu berjalan meninggalkan aula itu.
"Jangan dengarkan dia. " ujar Rey pada Elin setelah kedua nya menatap punggung Rora menghilang di balik pintu besar aula itu.
"Kenapa? jika aku tau semua rahasia masa lalumu pun, aku rasa tidak akan masalah bagiku. lagi pula hubungan kita hanya sebatas ijab qabul saja. " Balas Elin, lalu ia berjalan meninggalkan Rey dan kemudian ia berbaur dengan tamu undangan termasuk Echa dan Risa.
Rey menatap Elin dari kejauhan, ia masih tersenyum atas jawaban yang baru saja dilontarkan Elin.
"Apa aku kalah tampan dibanding Arga? " Gumam nya, kemudian ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
ššš
Malam semakin jauh mengungkung jagad raya. Pesta pernikahan itu pun kini telah usai.
__ADS_1
"Elin, ayo masuk ke mobil. " Ujar Rey saat mereka sepakat akan pulang.
"Elin, itu suami kamu udah ngajak pulang. pulanglah bersama nya ke rumah kalian. " Ujar Bu Anita sambil mengusap lengan Elin.
"Rumah, bukan nya pulang ke rumah kita ma? " Tanya Elin tak mengerti
Rey mengulum senyum nya.
"Elin, sekarang kalian sudah jadi suami istri yang sah. jadi kalian harus menata rumah tangga kalian sendiri. sebab itu Rey telah menyediakan rumah untuk kalian tempati " ujar bu Dewi menjelaskan.
"Tapi ma... "
"Mama pulang dulu ya. jaga diri baik-baik. Rey, jaga Elin ya. "
"Pasti tante. " Jawab Rey.
"Kok masih tante aja sih? panggil mama dong."
ucap bu Anita.
"Eh, iya ma. " Jawab arga sedikit canggung.
"Dan Elin juga mulai sekarang nggak boleh panggil tante lagi sama mama Rey. panggil mama juga. " Sela bu Dewi merangkul pundak Elin. Elin hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.
sekarang tinggal lah Elin dan Rey di sana.
"Ayo. " Ajak Rey.
Elin menghela. Lalu ia mengikuti langkah Rey dari belakang meninggalkan aula itu menuju mobil.
Rey membukakan pintu untuk Elin, namun Elin malah memilih membuka sendiri pintu belakang mobil.
"Kamu mau ngapain? " Tanya Rey.
"Ya mau masuk, memang nya mau ngapain?" Jawab Elin santai dan langsung menghenyakan pantat nya di kursi belakang.
"Elin. pindah ke sebelahku. " Ujar Rey yang masih berdiri membuka pintu depan.
"Aku di sini saja. " Jawab Elin melipat tangan di dada nya.
"Elin... aku bukan sopirmu, jadi duduklah di samping ku. "
__ADS_1
"Aku juga tidak bilang kamu sopir ku. "
Rey kemudian membuang nafas dengan kasar, lalu melangkah ke pintu belakang dan kemudian membuka nya.
"Eh kamu mau apa?" Ucap Elin saat Rey menarik tangan nya dan kemudian menggendong nya ala bridal style ke kursi depan.
"Rey, lepasin. " teriak Elin sambil memukul dada Rey. Rey tak perduli, lalu ia meletakan tubuh Elin di kursi depan. kemudian ia menutup pintu nya dan berlari kecil ke arah pintu sebelah nya lagi untuk duduk di belakang kemudi.
"Kapan sih kamu berhenti memaksaku?!" Teriak Elin kesal.
"Sampai kamu tidak harus dipaksa lagi dan tau sendiri apa yang harus kamu lakukan. " Rey menjawab enteng sambil menyalakan mesin mobil, lalu melajukan nya perlahan menuju jalan raya.
Elin menatap kesal pada Rey yang kini fokus melihat jalan di depan.
Tidur saja, kau pasti lelah. Nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkanmu. " Ujar rey setelah melihat Elin beberapa kali menguap di sebelah nya.
Tanpa menjawab, Elin pun menyandarkan kepala nya ke sandaran kursi itu. Dan tidak menunggu lama ia pun tertidur. Rey tersenyum melihat pemandangan itu.
Jalanan yang mulai sepi membawa mereka memasuki sebuah perumahan Elite. Mobil Rey merangkak perlahan dengan bunyi lembut mesin nya menyusuri jalan itu. Beberapa menit kemudian, ia kini sampai di halaman sebuah rumah lantai tiga yang tampak begitu nyaman.
Halaman rumah itu menyuguhkan pemandangan indah bagi yang melihat nya. bunga-bunga beraneka warna dan ragam tampak berjejer menyambut kedatangan mereka. sayang nya Elin belum melihat semua itu, ia masih saja tertidur pulas di samping Rey.
Rey mematikan mesin mobil nya saat ia sudah sampai di garasi. ia menatap Elin di samping nya, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istri nya itu. Elin tak bergeming.
"Apa kamu begitu lelah? " batin Rey.
Ia merasa tak tega membangunkan Elin. lalu tanpa pikir panjang, ia kembali mengangkat tubuh Elin dan membawa nya masuk ke dalam rumah.
Dua orang pelayan wanita yang memang sudah disiapkan Rey di rumah itu, bernait hendak menghampiri untuk menanyakan apa yang bisa mereka bantu. Namun Rey mengisyaratkan pada mereka agar tidak bersuara, supaya Elin tidak terbangun. Pelayan itu menganggguk.
Lalu Rey membawa Elin menaiki tangga untuk menuju kamar nya.
Di dalam kamar, Rey menidurkan tubuh Elin di atas ranjang.
Ketika akan menarik tangan nya karna tertimpa tubuh Elin, Elin malah terbangun dari tidur nya. mata nya membulat saat mendapati wajah Rey hanya berjarak beberapa senti di depan nya, ia bisa merasakan nafas laki-laki itu mengenai kulit wajah nya.
Untuk beberapa detik pandangan mereka beradu. Lalu dengan cepat Elin mendorong tubuh Rey, membuat Rey terjerembab ke lantai.
" Elin, kenapa mendorong ku?! " Ringis Rey menahan sakit kepala nya yang terkena ke besi ranjang.
ššššš
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen nya. beri author masukan untuk kemajuan novel ini ya. tulis di kolam komentar.