JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
SEBUAH KENYATAAN


__ADS_3

Elin berjalan memasuki kelas, ketika sampai di kelas, ia sudah mendapati Risa sudah berada di sana. Elin menghampiri dan duduk di sebalah Risa.


"Echa mana? " Tanya Elin yang tidak melihat Echa bersama Risa.


"Entah lah, dari tadi tidak ada kabar sama sekali. Nih lihat saja, pesanku cuma diread. tidak ada balasan. "


Jawab Risa sambil memperlihatkan layar ponsel nya pada Elin.


"ya sudah lah. Paling sebentar lagi juga datang. " Ujar Elin berpikir positif saja.


Risa mengangguk sependapat.


" Bagaimana keadaan mama mu? apa sudah lebih baik? " Tanya Risa.


" Mama sudah membaik. ahhhh... kalau ingat mama, aku benar-benar hampir saja jadi pembunuh, Ris. Aku tida tau harus bagai mana kalau kemarin mama tidak cepat ditangani. " Keluh Elin sembari mengingat ingat hari kemarin.


"Sudahlah, yang penting sekarang beliau tidak apa-apa. kau jangan menyalahkan diri mu sendiri seperti itu." Ujar Risa menepuk-nepuk pelan pundak sebelah kanan Elin.


"Iya, Ris. mungkin ini juga sudah takdirku. Kita bisa apa untuk melawan takdir? hanya saja aku sangat takut untuk menghadapi apa yang akan terjadi kedepan nya. Bagai mana nanti reaksi Arga? bagai mana aku akan menjelaskan nya? apa dia masih akan percaya padaku?" ujar Elin lirih.


"Elin, kau harus percaya takdir Tuhan itu selalu baik, meskipun pada awal nya kita tidak menyukai nya. " Ujar Risa menguatkan hati sahabat nya itu sembari tersenyum.


Elin mengangguk, mungkin ia akan menyetujui kata-kata itu. meski tidak sekarang.


Ia teringat sosok Arga, berat memang untuk melepaskan cinta demi sesuatu yang juga berarti dalam hidup kita. Tapi bukan kah dunia memang selalu begitu? sengaja memberi pilihan-pilihan yang terkadang harus menyakiti diri sendiri ketika memilih nya.


Elin menghela nafas, rasa nya ia ingin kembali ke masa silam, di mana ia bisa bermain sepuas hati, tertawa lepas, tanpa ada beban seperti saat ini. Namun bukan kah itu sebuah keinginan yang berlebihan? ah, menjadi dewasa memang tidak mudah.


"Pulang kuliah, aku akan menjenguk Arga. Apa kau mau menemaniku? . " Ucap Elin sambil mengeluarkan buku dari tas nya dan membolak balik nya asal.


"Tentu saha. "Jawab Risa mengacungkan jempol nya.


"Eh persiapan untuk menyambut mahasiswa baru bagai mana? " Tanya Risa lagi.


"Sejujur nya aku tidak bisa fokus untuk hal itu. tapi mau bagai mana, Pak Agung bersikeras meminta aku ikut tampil. " Jawab Elin sambil menghela pasrah.


"Semangat!!! " ujar Risa sambil tersenyum lebar.


Elin mengangkat bahu, lalu kembali membaca buku yang ada ditangan nya. Sampai akhirnya dosen masuk ke dalam kelas tersebut.


Namun sampai kelas hari itu berakhir, Echa tak menampakan batang hidung nya. Tidak ada kabar sama sekali, anak itu bagai menghilang di telan bumi saja. Bahkan whatsapp nya pun terakhir aktif pukul 7.30 tadi pagi.

__ADS_1


"Kira-kira Echa ke mana ya? Apa kita harus ke rumah nya dulu sekarang? perasaan ku jadi tidak enak. " Ujar Elin yang mulai mengkhawatirkan Echa.


"Apa tidak sebaik nya pulang dari rumah sakit saja? tadi bukan nya kamu bilang akan menjenguk Arga?"


Usul Risa sambil mengemas barang-barang nya dari atas meja, lalu memasukan nya ke dalam tas.


"Ya, sudah. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu Arga, jadi sekarang kita ke rumah sakit dulu. " Ujar Elin menyetujui usulan Risa.


Lalu mereka bergandengan tangan keluar ruangan, menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Dan untuk kemudian beriringan membelah jalan raya dengan mendung yang masih saja bergelantungan hitam di atas sana.


šŸšŸšŸ


Sementara di tempat lain, wanita yang berusia kira-kira lima pulahan tahun itu menatap wajah anak nya dengan sedih. Ia terlihat baru saja membersihkan tubuh Arga, dan mengganti pakaian nya.


Ia adalah mama nya Arga. Sekarang tinggal wanita itu saja yang menunggui Arga di sana, sebab kemarin suami nya harus kembali lagi ke Jepang untuk pekerjaan nya.


"Permisi tante. " Ujar Elin saat membuka pintu ruangan itu dan mendapati mama Arga ada di sana.


Wanita itu tersadar dari lamunan nya, lalu mengusap air mata yang sempat mengalir di pipi nya. Ia mencoba tersenyum menyambut kedatangan Elin dan Risa.


"Elin.. kemari lah. Ajak teman mu juga, ayo duduk di sini." Ujar Mama Arga mempersilahkan Elin dan Risa duduk di kursi samping nakas. Dan itu juga tepat berada di samping tempat duduk nya.


"Terimakasih tante. Ini aku bawakan sedikit cemilan untuk tante. " Ujar Elin sambil menaruh bingkisan di atas nakas.


Elin dan Risa duduk di sebuah Sofa di samping nakas, Elin menatap lekat wajah Arga dari sana. hati nya begiti pilu menyaksikan wajah teduh itu.


Mama Arga tau apa yang sedang di rasakan Elin saat ini. Ia tersenyum kecut, menggit bibir menahan air mata.


"Arga putra saya satu-satu nya. Ia anak yang sangat penurut, aku sangat bangga memiliki nya. " Ujar mama Arga mulai membuka cerita.


"Elin... mungkin ini tidak penting untuk tante kisahkan... Namun, karna kau adalah gadis yang sangat dicintai Arga, tante rasa kau perlu tau banyak hal tentang Arga. "


sambung wanita itu.


Elin hanya menunggu penuturan selanjutnya dari wanita itu.


Mama Arga menatap jauh ke luar jendela


pikiran nya jauh melayang ke masa itu.


"24 tahun lalu, usia pernikahan kami sudah memasuki tahun ke 10. Namun Tuhan belum mempercayakan kami untuk punya keturunan. Sampai suatu hari, di tengah hujan yang mengguyur begitu deras, seorang wanita yang tidak kami kenal sama sekali dengan payung yang lusuh, datang mengetuk pintu,

__ADS_1


di tangan nya ia menggendong bayi mungil yang begitu menggemaskan. " Senyum wanita itu tertarik sesaat.


"Wanita itu menitipkan bayi itu pada saya, ia punya penyakit kanker yang suatu saat bisa menjemput ajal nya, suami wanita itu bahkan telah meninggal setelah kecelakaan. Dengan hati yang penuh syukur, saya menggendong bayi itu dengan tangan saya sendiri, dan menganggap itu adalah jawaban dari doa-doa kami sebelum nya. Kami membesarkan bayi itu dengan penuh kasih sayang, hingga ia tumbuh jadi pemuda yang tampan sekali." Kisah wanita itu sambil berurai air mata.


Elin dan Risa merasa bingung, dua gadis itu tampak masih belum memahami.


"Maksud tante... " Ujar Elin ragu-ragu.


"Iya Elin. "


Elin sejenak terdiam, tidak menyangka dengan apa yang baru saja dikisahkan oleh wanita itu.


"Aaa... maaf tante, apa sekarang ibu kandung Arga masih ada?." tanya Risa


Wanita itu menggeleng.


"Satu tahun setelah hari itu, kami mendapat kabar bahwa dia meninggal dunia karna kangker yang di derita nya selama bertahun-tahun. Sungguh pun Arga bukan darah daging kami, tapi rasa nya cinta dan kasih sayang kami untuk Arga tidak kalah di bandingkan orang tua kandung. " jawab wanita itu sambil mengusap lembut punggung tangan Arga yang dipasang infus.


"Apa Arga mengetehui nya tante? " tanya Elin serak.


"Yah, Arga sudah lama mengetahui nya, bahkan semenjak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi kalian tentu tau sifat dewasa Arga, ia sedikitpun tak menunjukan kekecewaan, ia menerima kenyataan itu tanpa mengurangi rasa cinta nya ke pada kami. " Jawab wanita itu setelah mengambil nafas panjang untuk menghembuskan sesak di dada nya.


"Elin...tante sangat berharap kamu tidak mengecewakan Arga. Percayalah, dia anak yang baik. " Pinta mama Arga dengan menatap Elin penuh harap.


Elin tak bisa berkata apa-apa. apa yang akan di katakan nya? bukan kah saat ini ia sudah menggoreskan kekecewaan itu?.


Elin meremas tepi gaun nya, ia menahan diri nya untuk tidak menangis, mencoba memasang senyuman pada wanita di hadapan nya itu, meski senyum itu tak sempurna ia ciptakan. Risa yang memahami kondisi Elin hanya tertunduk.


"Tante, maaf. Kami harus pulang sekarang. " Ujar Elin tiba-tiba dengan suara tercekat.


"oh, baik lah. Terimakasih sayang. kamu sudah mengunjungi Arga hari ini. "


Ujar Mama Arga, kemudian berdiri dari duduk nya dan merangkul tubuh Elin yang telah lebih dahulu bangkit dari sofa itu.


Elin membalas pelukan mama Arga, ia menyembunyikan tangis nya, dan segera menyapu air mata yang jatuh dari pelupuk mata nya.


"Hati-hati di jalan. " Ujar mama Arga melepas pelukan nya dan tersenyum pada gadis bermata coklat itu.


Risa pun juga ikut berpamitan dan mencium punggung tangan mama Arga. Lalu dengan di antar mama Arga sampai ke depan pintu, dua gadis itu kini berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Kemudian masuk ke dalam mobil mereka masing-masing saat sampai di parkiran.


Elin menekuk wajah nya, ia menangis sejadi-jadi nya di dalam mobil itu. Elin menumpahkan segala tangis yang tadi ia tahan di depan mama Arga.

__ADS_1


Ia menangisi nasib nya, menangisi cinta nya, menangisi apa yang terjadi dalam hidup nya.seiring hujan yang mengguyur saat petang menjelang, Elin membawa mobil itu berjalan meninggalkan rumah sakit dengan perasaan hampa nya.


šŸšŸšŸšŸšŸ


__ADS_2