
Elin melihat Rey duduk dan bersandar ke kepala ranjang saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Rey menoleh, Elin kembali membuang pandangan nya, dan berjalan menuju meja rias sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk. Rey pun kembali menatap layar laptop yang ada di pangkuan nya.
Elin mengintip Rey dari pantulan cermin.
Ia benar-benar tidak menyangka sama sekali akan menikah dengan orang yang tidak ia cintai sama sekali.
Ini sungguh diluar dugaan nya, selama ini ia hanya berpikir bahwa suatu saat ia akan menikah dan bahagia bersama orang yang benar-benar pilihan hati nya, dan disaat ia bertemu Arga dan menjalin hubungan dengan nya, saat itu juga ia berpikir bahwa Arga lah yang akan menjadi suami nya kelak, namun ternyata....
"Ah, dunia memang kadang suka seenak nya saja. " gumam Elin.
Ia bahkan tidak tau apa dia bisa menjalani rumah tangga ini kedepan nya atau tidak, bagaimana jika selama nya ia tak bisa melupakan Arga? , bagaimana jika ia tak akan pernah bisa membuka hati nya untuk Rey?, apa ia akan terjebak dalam pertikaian dan pergolakan batin selama nya karna harus hidup dengan orang yang sama sekali tidak dicintai nya ini?
Elin tak menampik bahwa laki-laki di hadapan nya ini adalah laki-laki yang baik, ia juga mengakui merasakan kasih sayang Rey untuk nya, namun kalian tau bukan, sebanyak apapun seseorang itu memberikan kasih sayang terhadap kita, namun jika tidak sesuai keinginan hati itu bukan kah terlalu sulit untuk dijalani?
Ini adalah malam pertama nya menjadi istri seorang Rey, dan kalian juga pasti tau bukan, apa yang seharus nya terjadi di malam pertama ini? Ya, pasangan yang saling mencintai lalu menikah, akan menghabiskan malam pertama ini dengan penuh keromantisan dan kasih sayang. Akan tetapi Elin malah sebalik nya, ia merasa malam ini sangat asing bagi nya, berdua dalam satu kamar dan satu ranjang dengan laki-laki asing, bukankah itu menjadi hal yang aneh sekaligus menakutkan?
Elin sebenarnya sudah membahas ini sebelum hari pernikahan mereka, namun Rey sangat pandai mencari alasan agar Elin tetap harus mau satu kamar dengan nya.
Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? kenapa dia masih duduk di situ? kenapa dia belum tidur? apa dia akan meminta hak nya sebagai suami padaku?
Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Tuhan, bantu aku...
Elin menelan saliva nya, gugup dan cemas tampak jelas di wajah itu.
"Kenapa menatapku seperti itu? "
Tanya Rey yang dari tadi memperhatikan Elin dari sudut mata nya.
"Aku tidak menatap mu. " Mengelak namun salah tingkah.
Rey menutup laptop nya, lalu berjalan untuk meletakan nya kembali di atas meja, kemudian ia kembali lagi ke atas ranjang.
"Tidur lah, kau pasti lelah bukan? " Ucap Rey saat merebahkan diri nya di atas ranjang.
Elin menarik nafas panjang, lalu membuang nya.
"Bagai mana aku bisa tidur dengan nyenyak nanti nya, kalau ada seorang laki-laki asing di sebelahku? " Ujar Elin memangku tangan ke dada, lalu melempar pandangan nya ke sembarang arah.
"Apa yang sedang kau pikirkan? tidur lah di sini. Aku akan berbaring saja di sebelah sini, kau tak perlu takut. " Ucap Rey yang seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan Elin.
"Bagai mana aku bisa mempercayaimu?" Tanya Elin ingin memastikan.
"Apa aku terlihat seperti orang yang tidak bisa dipercaya? " Rey balik bertanya.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, dan aku tidak akan memaksamu. " Sambung Rey lagi.
"Apa menurutmu biasa nya kau tidak memaksaku.? "
Rey mengulum senyum nya.
"Tidak untuk yang ini. " Ucap nya kemudian.
Elin menatap, mencari kesungguhan di wajah Rey yang kira-kira bisa membuat nya percaya.
__ADS_1
"Apa lagi yang kau lihat? cepatlah naik ke sini sebelum aku berubah pikiran. " Rey mulai dengan aksi jail nya.
Mendengar itu, Elin langsung berlari ke atas ranjang. Lalu dengan ragu ia berbaring di sana, dan segera menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut.
Rey lagi-lagi manahan tawa melihat tingkah gadis itu.
1 menit, ....
2 menit...
5 menit.....
Hening,
Rey menatap langit-langit kamar, lalu menoleh pada Elin di samping nya.
"Apa dia sudah tidur? " Gumam Rey.
Sementara Elin dari balik selimut nya, tak bisa memejamkan mata nya sedikitpun. Ia masih khawatir kalau Rey akan berbuat yang tidak-tidak pada nya saat ia tengah tertidur.
10 menit berlalu...
Suasana begitu hening, hanya hembusan nafas dari masing-masing mereka yang masih terdengar.
Sementara hujan mulai turun satu persatu di luar sana, lalu tiba-tiba saja listrik menjadi padam.
"Aaa! " Elin menjerit, dan itu sukses membuat Rey terlonjak.
"Elin, kau kenapa? "
"Listrik nya mati, Elin. "
"Aku takut... "
Rey meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur nya.
"Aiisshhh. Di mana ponsel ku, " gumam Rey yang tak bisa menemukan ponsel nya.
"Rey, apa kau masih di sana? jangan pergi, aku takut. " Ucap Elin dengan suara bergetar.
"Iya, aku di sini."
"Aku tidak bisa melihatmu.!" Elin setengah berteriak, meraba-raba dengan tangan nya
Tangan Elin behasil menyentuh Rey, Rey menangkap nya.
"Hei tenang lah, aku di sini. " Rey mendekap tubuh Elin, lalu membawa nya bersandar di dada Rey.
"Kau berkeringat, apa kau setakut itu? ini hanya mati lampu saja." Ucap Rey lagi menenangkan Elin.
Elin tak menjawab, ia membenamkan wajah nya di dada Rey.
"Elin, kau menangis? " Tanya Rey karna mendengar Elin terisak.
__ADS_1
Elin tidak menjawab, tubuh nya berkeringat dingin. Selama ini ia tak pernah berani dalam kegelapan, itu sebab nya di kamar nya selalu terpasang lampu emergency.
Semua itu bukan tanpa alasan, kejadian masa lalu lah yang membuat nya seperti itu. Dimana laki-laki yang dianggap baik oleh mama nya itu akan mematikan lampu setiap kali ia menyusup ke kamar Elin.
Elin terus membenamkan wajah nya di dada Rey, itu menyebabkan Rey sedikit kebingungan, dalam hati nya bertanya, mengapa Elin sebegitu takut nya? apa dia pernah punya pengalaman buruk di masa lalu nya tentang mati lampu?
"Tenang lah, ada aku di sini. " Ujar Rey lagi.
Tidak lama kemudian nafas Elin terdengar tenang dan teratur, Rey dapat merasakan Elin telah tertidur. Rey mengulum senyum nya, lalu ia mulai memejamkan mata, dan akhir nya ia pun ikut tertidur.
ššš
Di tempat lain, Arga menghempaskan tubuh nya di kasur sesaat setalah ia membanting pintu kamar saat masuk ke dalam nya.
Adit mengikuti nya dari belakang dengan rasa prihatin nya.
"Tenang...kamu tidak boleh larut dalam kesedihan seperti ini, kamu harus bisa mengiklaskan nya."
Adit mencoba menenangkan sambil duduk di tepi ranjang.
Arga bangkit dan ikut duduk di sana, ia mengusap wajah nya yang gusar.
"Bagaimana aku bisa tenang, Dit? Orang yang sangat aku cintai dinikahi oleh laki-laki lain. Dia telah merebut Elin dariku," ujar Arga dengan nafas nya yang terdengar sesak.
"Arga, masih banyak perempuan lain. Elin bukan satu-satu nya perempuan di dunia ini!. "
"Kau pikir semudah itu? huh, aku lupa, kau bahkan belum pernah punya pasangan seumur hidup mu, jadi bagai mana kau akan mengerti? " Gusar Arga dengan senyum simpul nya.
"Kau ini, selalu saja menjadikan itu senjata untuk merendahkan ku, aku hanya ingin kau tidak memikirkan gadis yang kini telah jadi istri orang itu. Kenapa kau tidak mengerti? "
kesal Adit.
"Tidak, aku tetap akan memperjuangkan nya, aku pasti bisa merebut nya kembali. "
"Ya Tuhan, aku tidak habis pikir dengan mu. Menurutku, jika kau benar-benar menyayangi Elin, kau harus mengiklaskan kebahagiaan nya. Kau tau bukan, Rey itu menikahi Elin untuk melindungi Elin dari niat jahat ayah tiri nya itu? aku rasa biarkan saja Rey membahagiakan nya, itu jika kau benar-benar mencintai nya. " Ujar Adit memberi pandangan.
Arga menatap Adit sejenak, lalu tersenyum kecut.
"Lagi-lagi kau membahas soal niat Rey, apa kau pikir aku juga tidak bisa melindungi Elin? "
"Bukan begitu Ga, maksud ku... "
"Kau teman ku atau bukan? kau mendukung siapa sebenar nya? " desis Arga.
"Ya tentu saja aku teman mu dan akan mendukung mu, tapi ini masalah nya lain Ga, lagi pula Elin menerima Rey sudah pasti dengan pertimbangan yang cukup sulit, ini juga menyangkut orang tua nya. "
"Ah sudahlah, seperti nya sia-sia saja berbicara dengan mu, kau tidak akan mengerti posisiku. " Dengus Arga sambil bangkit dari sisi ranjang, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Melihat itu, Adit hanya bisa geleng-geleng kepala. Di satu sisi sebenarnya ia tau bagaimana perasaan sahabat nya itu, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin Arga bertindak di luar batas terhadap Elin, ia tak ingin Arga menjadi pribadi yang egois disebabkan rasa cinta nya.
Adit menghembuskan nafas kasar, jika Arga memang berniat membuat Elin kembali pada nya, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa bukan? sebab Arga adalah sahabat nya, suka atau tidak yang pasti nya ia akan selalu ada untuk sahabat nya itu.
ššššš
__ADS_1
Hei, maaf author telat up nya. seperti nya akhir-akhir ini author juga punya pergolakan batin sendiri.. š tapi jangan pernah bosan untuk menunggu up nya ya readers, jangan lupa juga kasih like, komen, vote dan hadiah. yang banyak ya...
Terimakasih, happy reading..