
Elin baru tersadar dengan apa yang baru saja terjadi, kedua nya terbawa suasana. Kini mereka berbalik menatap Rey yang berdiri tak jauh dari mereka, wajah itu tampak sangat kecewa, namun dengan susah payah ia masih berusaha untuk tidak gelap mata.
"Menjauh dari istriku, keparat! " Geram Rey dengan suara tertahan, gigi nya beradu, lalu berjalan perlahan mendekati Elin dan Arga.
"Rey... " Cicit Elin. Meskipun ia tak punya perasaan apa-apa pada laki-laki itu, namun tetap saja ia merasa bersalah karna bagaimanapun juga, Rey adalah suami nya. Dan apa yang baru saja terjadi itu adalah kesalahan.
Suasana mulai memanas, Arga menatap tajam laki-laki yang kini sudah berada tepat di hadapan nya itu.
"Kau lah biang dari semua ini, Rey. Jika saja kau tak..."
"Apa kau ingin menyalahkan takdir Tuhan? lalu membenarkan sikapmu saat ini? " Sela Rey sebelum Arga mengakhiri kalimat nya.
"Rey... " Lirih Elin.
"Elin," Balas Rey menatap Elin tajam.
Arga tersenyum miring.
"Takdir Tuhan? enak sekali mulutmu mengatakan itu setelah kau buat kekacauan ini. Kau memang brengsek, Rey. Kau tak pantas untuk Elin, cukup Naira saja yang kau sakiti, Rey. Elinku jangan. " Cercah Arga sinis.
"Cukup!!! Kau tak tau apa-apa tentang Naira. Jadi jangan sekali-sekali mengungkit nya." Bentak Arga dengan suara meninggi.
"Rey...aku mohon, sudah. " Sela Elin memohon.
"Kuperingatkan kau, jangan pernah dekati Elin lagi. Dia istriku!" Ucap Rey penuh penekanan di wajah Arga.
"Apa kau pernah menanyakan tentang perasaan nya? Dia mencintaiku, MENCINTAIKU. Kau tau itu!!!" Teriak Arga tak mau kalah dengan panas di dada yang membara.
Rey mengepalkan tangan nya, lalu akan melayangkan pada pemuda yang ada di hadapan nya itu. Namun beruntung Elin segera memeluk nya dari belakang.
"Please, hentikan Rey. Aku mohon. " Lirih Elin mendekap punggung suami nya.
Rey terdiam, lalu menggenggam tangan Elin yang melingkar di perut nya. Sebenarnya dalam hati ia juga teramat marah pada istri nya itu, bagai mana tidak, ia melihat sendiri Arga mencium bagian yang ia sendiri belum pernah menyentuh nya. Berkali-kali Rey menghembuskan nafas nya dengan kasar untuk menetralkan pikiran nya.
Sementara itu, Rora datang bersama Adit dan berlari menghampiri Arga.
"Ada apa ini? Arga, kamu baik-baik saja 'kan? " Ucap Rora langsung melingkarkan tangan nya di lengan Arga.
Sedangkan dua sahabat Elin, yaitu Echa dan Risa juga kini sudah berdiri di sana.
"Lepaskan! " Bentak Arga menarik kasar lengan nya dari Rora. Kemudian berlalu dengan perasaan gusar.
"Arga! " Teriak Rora, namun laki-laki itu tak menggubris. Adit memilih berlari menyusul sahabat nya itu.
"Mas Rey, ini pasti ulahmu kan? apa yang telah kamu lakukan pada nya? " Ucap Rora dengan tatapan sinis pada Rey.
"Oh, tampak nya di sini ada yang CLBK ya. Baiklah Rora, ingatkan pada kekasihmu itu untuk jangan pernah lagi mengganggu istriku! " Ucap Rey dengan datar, namun itu mampu menusuk jantung gadis yang bernama Rora itu.
Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Rey menarik tangan Elin dan menjauh dari tempat itu. Sedangkan Echa dan juga Risa mengekor di belakang suami istri itu meski mereka bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Sampai di parkiran, Rey membukakan pintu mobil itu Elin, Elin pun tanpa berkata apa lagi membantah hanya mengikut saja. Rey duduk di belakang kemudi tanpa bicara apapun.
Mobil itu kini berjalan menjauhi parkiran, meninggalkan Echa dan Risa yang saling menatap bingung, tak sempat bertanya duduk perkara nya.
"Apa yang telah terjadi antara Arga dan Elin? tadi aku sempat melihat Arga mengejar langkah Elin saat mereka menuruni panggung."
Tanya Risa sambil menatap mobil Rey sampai tak tampak lagi.
__ADS_1
"Entahlah, tapi mudah-mudahan saja tak terjadi hal yang buruk pada mereka semua. Walau bagaimanapun juga, Arga juga teman kita. Aku juga merasa iba padanya. " Ucap Echa. Risa mengangguk setuju, lalu keduanya memasuki mobil dan berlalu dari parkiran itu.
Sementara itu di dalam mobil yang dikendarai Rey...
Laki-laki itu tak berkata apapun sejak ia masuk kedalam mobil tadi. Sekarang kedua nya hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Hingga akhir nya mereka sampai di rumah.
Elin turun lebih dahulu, di ikuti oleh Rey masuk ke dalam rumah. Kedua nya berjalan menuju kamar.
Langit tampak mulai kembali mendung, membentuk gumpalan hitam yang kian berat, menandakan akan turun hujan sebentar lagi.
Elin menaruh tas serta peralatan biola yang tadi ia bawa, sementara Rey melepas jas yang dipakai nya, kemudian melonggarkan dasi nya.
Elin menoleh gugup, namun Rey berpura-pura acuh.
"Rey... " Akhir nya Elin mulai membuka suara.
Namun Rey hanya menatap sekilas sembari melepaskan dasi nya. Lalu mengambil handuk.
"Aku akan mandi, jika ada yang ingin kau bicarakan, bicarakan nanti saja. " Ucap Rey memaksakan tersenyum pada Elin, lalu ia mengambil beberapa potong pakaian ganti, kemudian berlalu ke kamar mandi.
Elin menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Ia tau betul saat ini Rey pasti sedang memendam kekecewaan pada nya.
Ya Tuhan... apa yang sudah aku lakukan. Bantu aku untuk menyelesaikan kekalutan ini, ya Tuhan...
Ujar Elin dalam hati nya.
Sementara di tempat yang berbeda, yaitu masih di arena kampus, Arga dan Adit sedang duduk di sebuah bangku kantin.
"Sudahlah, Ga. Berkali-kali sudah kuingatkan padamu, Elin itu sudah jadi istri orang. Jangan lagi kau usik dia. " Nasehat Adit.
"Apa aku salah memperjuangkan cintaku, Dit? " Desah Arga seperti patah semangat.
"Tidak salah, Ga. Tidak salah jika Elin masih sendiri, tapi lihatlah sekarang, Elin sudah punya orang lain. Kamu salah besar jika sampai merusak rumah tangga orang." Jawab Adit, mencoba memberi sebuah pemikiran.
Lalu dari arah lain, Rora datang menghampiri mereka. Melihat itu, Arga berdecak. Mengalihkan wajah nya dari gadis itu.
"Hai, aku boleh gabung ya. " Ucap Rora saat tepat berada di sisi meja dua pemuda itu. Arga tak menghiraukan, namun Adit dengan ragu akhir nya mengangguk.
Rora duduk di sebelah Arga.
"Sorry, aku tinggal dulu ya ga, pikirkan perkataanku barusan. " Ucap Adit bangkit dari tempat duduk nya.
"Mau kemana, Dit? " Tanya Rora basa-basi.
"Biasa, latihan band. " Jawab Adit, lalu ia berlalu dari Arga dan Rora.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua di meja itu. Rora berdehem.
"Maksud Adit itu perkataan apa? " tanya Rora tanpa menatap Arga.
"Bukan apa-apa. Sudah, aku pusing. Mau pulang dulu. " Jawab Arga sengaja menghindari gadis itu, kemudian ia bangkit dari tempat duduk nya.
"Arga, tadi kamu ngapain sama Elin di belakang panggung? " Tanya Rora tiba-tiba saat Arga akan melangkah. Arga menarik langkah nya, namun sekarang posisi nya sudah membelakangi Rora.
"Bukan urusanmu! " Ketus Arga, lalu segera berjalan meninggalkan gadis itu sendiri di sana dengan kekesalan nya.
__ADS_1
"Awas kamu, Arga. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati wanita itu lagi, kamu milikku, selama nya akan jadi milikku! " Gumam Rora dengan geram.
Di tempat lain...
Rey dan Elin sudah duduk di meja makan, menikmati makan malam mereka. Di luar hujan telah turun membuncah, langit yang tadi berat oleh awan hitam, kini telah tumpah ruah mengguyur bumi.
Masih dengan suasan canggung yang mengungkung, sedikit sekali pembicaraan, lebih banyak diam. Lagi pula Rey masih belum ingin mendengar kata-kata yang akan diucapkan Elin. Ia tau Elin akan membahas kejadian tadi siang, namun Rey sengaja mengulurnya.
"Makanlah yang banyak, kau perlu tenaga untuk nanti bercerita padaku. " Ucap Rey datar tanpa menoleh, ia terus fokus pada piring nya.
Elin menatap sekilas, memasukan potongan steak ke mulut nya, mengunyah pelan, seperti tak berselera.
Beberapa menit kemudian, makan malam itu berakhir. Kedua nya beranjak menuju kamar.
"Apa aku boleh bicara sekarang? " tanya Elin saat mereka duduk di sofa yang ada di tengah kamar luas itu.
"Ya. " Jawab Rey singkat.
"Rey, aku minta maaf padamu soal itu, aku benar-benar minta maaf. " Ucap Elin bersungguh -sungguh.
"Kenapa kau meminta maaf padaku? bukankah yang dibilang Arga itu benar? aku lah yang salah," ujar Rey sambil menyalakan rokok nya, lalu menghisap nya pelan.
"Rey..." Elin tercekat.
Rey kembali mematikan api rokok nya ke dalam asbak.
"Apa kau sungguh-sungguh merasa bersalah hingga meminta maaf seperti ini?" tanya Rey sambil menatap dalam mata coklat milik Elin.
Elin mengangguk.
"Kenapa kau merasa bersalah? aku ingin kau jelaskan. " Ucap Rey bersungguh-sungguh.
"Entahlah Rey, tapi aku rasa itu karna kau suamiku. Aku seorang istri, dan tidak sepantasnya aku melakukan itu dengan laki-laki lain. " Jawab Elin dengan tertunduk.
Rey terkekeh,
"Sekarang kau mengakuiku sebagai suamimu? sebuah kemajuan yang sangat baik. " Ucap nya.
Elin mengerutkan dahi nya, melihat perubahan sikap yang begitu cepat dari laki-laki yang kini jadi suami nya itu. Ah, benar-benar pria aneh. Begitu yang terlintas dalam benak Elin.
"Kenapa menatapku begitu? " tanya Rey saat pandangan mereka beradu.
Elin mengalihkan pandangan nya, salah tingkah.
"Aku hanya sedang berpikir, kenapa kau seaneh ini? seharus nya kau marah padaku, bukan malah tertawa seperti itu. " Jawab Elin tanpa menoleh.
"Apa aku harus memarahimu? " tanya Rey sambil mendekati sisi wajah Elin dengan wajah nya.
Elin mendadak terkesiap, karna nafas Rey kini sangat terasa menerpa daun telinga nya.
"Rey kamu mau apa? "
Rey tak menjawab, sekarang ia memegang kedua sisi pipi Elin dengan telapak tangan nya yang besar, kemudian...
Cup...
Ia langsung mengecup bibir gadis itu tanpa permisi, Elin membulatkan mata nya saat bibir nya kini dibungkam oleh bibir Rey, sementara Rey terus melakukan aksi nya itu, seiring guyuran hujan di luar sana...
__ADS_1
ššššššš
Bersambung...