JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
MALAM SURAM


__ADS_3

Elin dan Rey sontak menoleh ke arah suara itu. Lalu dengan spontan ia berdiri dari tempat duduk nya.


"Arga... " Suara Elin tercekat saat mendapati Arga duduk di kursi roda dan menatap tajam padanya. sedangkan di belakang nya Adit berdiri sambil memegangi bagian sandaran kursi roda yang diduduki Arga. sementara Rey hanya menoleh dan sejenak menengadahkan wajah nya.


"Rey..." gumam Arga setelah mengetahui siapa laki-laki yang sedang bersama Elin itu.


Arga mengisyaratkan agar Adit membawa nya lebih dekat ke tempat Elin berdiri.


Elin merasa gugup sekali. bahkan ia tak berani menatap wajah laki-laki yang dicintai nya itu.


bukan soal takut karna Rey memergoki nya sedang berdua dengan laki-laki lain, tapi rasa gugup ini malah lebih dari sekedar itu. dari kemarin ia mencoba menghindari pertemuan dengan Arga, tapi sekarang malah Arga yang datang menemui nya.


"Rey, lama tak bertemu. aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini setelah sekian lama. " Ujar Arga yang malah menyapa Rey terlebih dahulu, bukan Elin.


Elin menautkan kening nya. ' apa? Arga mengenal Rey? ' batin Elin. ia menoleh pada Adit, sorot mata nya jelas tampak ingin bertanya dan meminta penjelasan. namun Adit hanya mengangkat bahu. karna jujur saja, Adit tidak tahu mengapa Arga bisa kenal sama Rey.


"Bagaimana kabarmu? kenapa kau bisa ada di sini? " Lanjut Arga setelah posisi nya benar-benar berjarak satu meter di depan Rey. Rey tersenyum.. lalu bangkit dari tempat duduk nya, dan sejenak menatap lurus ke depan, lalu ia kembali menoleh pada Arga.


"kabarku baik. dan aku punya sedikit urusan di sini. Aku.... "


"Rey. ..!!! " Seru Elin menyela pembicaraan dua orang yang ternyata saling mengenal itu. ia menatap Rey seolah memberi isyarat agar Rey tidak mengatakan nya sekarang.


"Arga... kenapa kamu bisa sampai ke sini? harus nya kamu istirahat karna kondisi kamu... "


"Tidak apa-apa sayang, aku sudah merasa baik setelah melihatmu. tadi aku memaksa Adit untuk mengantarku ke sini. karna aku mengkhawatirkan mu. " Ujar Arga memotong kalimat Elin


Namun mendengar Arga memanggil Elin dengan sebutan sayang, dan mata yang menatap penuh cinta, Rey benar-benar yakin kalau ia merasa cemburu saat ini. tapi ia tak ingin menampakan itu pada Arga apa lagi Elin. hanya saja sekarang kedua tangan nya mengepal erat seperti menahan sesak di dada nya.


"O, iya Rey. kau belum menjawab pertanyaan ku tadi. kenapa kamu bisa sampai di rumah pacar ku? " Tanya Arga lagi...


"Astaga, aku lupa. kamu pasti tidak tau kan, kalau Elin adalah pacarku saat ini." sambung Arga lagi. Elin hanya diam dan tersenyum kikuk saat Arga menatap pada nya.


ia sama sekali tidak tahu, kalau ternyata Arga kenal baik dengan Rey. bahkan Rey tidak pernah menyinggung soal ini sebelum nya. Elin menatap Rey penuh intimidasi. ia ingin menanyakan langsung pada Rey, kenapa selama ini Rey tidak pernah bilang pada nya kalau ia mengenal Arga.


"Aku di sini ada urusan dengan Elin. " Ujar Rey masih dengan style dingin nya sambil sejenak mencuri tatap pada Elin. Elin menyipitkan mata nya kesal karna Rey tidak memperdulikan isyarat mata nya barusan.

__ADS_1


"Soal apa? apa gadisku membuat masalah denganmu? " ujar Arga sambil meraih tangan Elin di sebelah nya, dan memasukan jari- jari nya ke sela jari Elin, dan kemudian menggengam nya dengan lembut. dan itu semakin membuat Rey merasa tidak nyaman. kemudian ia membuang pandangan nya ke tempat lain.


"Apa ini? " Ujar Arga saat ia menyadari ada sesuatu yang melekat di jari yang digenggam nya itu. Elin dengan cepat menarik tangan nya dari genggaman Arga. lalu menggenggam sendiri jari nya, bermaksud menyembunyikan cincin yang kini tersemat di jari manis nya itu.


"Elin... kamu memakai cincin yang sama dengan yang dipakai Rey... " Ucap Arga. ia berhasil melihat cincin itu, juga detail nya sebelum Elin menarik tangan nya.


"Ini bukan apa-apa. " Jawab Elin masih ingin menyembunyikan. namun air mata nya malah jatuh tanpa ia perintahkan.


"Elin. apa Rey.... " Ujar Arga terbata dan seperti mengingat sesuatu. dia baru mengingat nya. dan ia benar-benar mengingat masalah yang ia hadapi bersama Elin sebelum ia kecelakaan dan koma. dada Arga mulai bergemuruh, wajah nya kebas, serta ujung mata nya mulai memanas. ia memaki diri nya sendiri, mengapa ia bisa lupa akan hal itu.


"Elin.. jawab aku. apa yang terjadi selama aku koma? apa orang tuamu masih meneruskan perjodohon itu? dan apakah laki-laki itu..." tanya Arga bertubi-tubi. dan air mata nya mulai luruh tanpa tertahan. Adit yang telah mengetahui itu hanya tertunduk, ia dapat merasakan luka di hati sahabat nya itu. itu lah sebab nya tadi ia sangat berat untuk membawa Arga menemui Elin. walaupun ia juga kebingungan dengan Arga yang terus menanyakan perihal Elin padanya.


Elin tidak bisa menjawab pertanyaan itu. ia hanya menunduduk sambil terisak.


"Maafkan aku... " Akhir nya hanya itu yang dapat ia ucapkan di sela-sela isak nya.


"Nggak mungkin... ini nggak boleh terjadi Elin. kamu sudah berjanji padaku kalau kita akan menghadapi ini sama-sama.. kamu jangan gini Elin." Racau Arga sambil terus menatap wajah gadis itu. ia terduduk di bawah kaki Elin, Elin segera memegang ke dua bahu Arga sambil menangis.


Melihat hal itu, Rey mengusap wajah kebas nya. menghembuskan nafas nya dengan kasar. sebenarnya ia juga merasa kasihan pada dua orang yang saling mencintai itu. Tapi keadaan benar-benar membuat nya harus menikahi Elin. apapun resiko nya, ia memang dituntut untuk harus menikah dengan Elin. karna hanya dengan cara itu ia bisa melindungi Elin serta mama nya dari pak Bimo.


Namun di saat kekacauan situasi itu, Pak Bimo dan bu Nita sekarang juga telah berada di taman itu. mereka baru saja sampai di rumah. karna melihat beberapa orang bersama Elin di taman dan seperti terjadi sesuatu, mereka pun menghampiri untuk mengetahui apa yang terjadi. dan alangkah terkejut nya dua orang tua itu melihat Elin berjongkok di sana sambil menangis bersama laki-laki yang memang sudah mereka kenal sebelum nya. yaitu Arga.


"Ada apa ini? " Suara pak Bimo lantang membuat semua anak muda itu menoleh pada nya.


"Elin... sini. " Ujar bu Nita sambil menarik tangan Elin bangkit dari hadapan Arga dan membawa nya sedikit menjauh.


Lalu Arga pun bangkit dan berdiri dengan di bantu oleh Adit.


"Tante, kenapa tante lakukan ini pada aku dan Elin? padahal tante tau, aku dan Elin saling mencintai. mengapa tante masih saja melanjutkan perjodohan itu?!" Ujar Arga sambil menatap Mama Elin yang sedang merangkul tubuh Elin di sisi nya.


"Berhenti mendesak istriku dengan pertanyaan bodohmu itu!!! " Teriak pak Bimo sambil menunjuk Arga dengan satu jari nya.


"Sekarang angkat kaki dari sini dan jangan pernah datang ataupun mengganggu Elin lagi!!!!" sambung pak Bimo semakin lantang dengan wajah merah padam nya.


"Tante... apa tante tidak memikirkan kebahagiaan Elin? Mengapa tante begitu ingin menikahkan Elin dengan nya?" Ujar Arga menoleh pada Rey tanpa memperdulikan teriakan dan hardikan pak Bimo dan hanya terus berbicara pada mama Elin. dan Itu membuat pak Bimo sangat geram, dan ingin menghampiri Arga, namun Rey menahan tangan nya.

__ADS_1


"Kenapa tante tidak menjawabku?! apa tante sendiri tidak tau bagaimana cara membahagiakan putri tante? atau tante sengaja mencuri kebahagiaan nya untuk meraih kebahagiaan tante sendiri? Sambung Arga makin berapi-api. Adit berusaha menenangkan nya, namun Arga seperti sudah tak peduli.


"Tutup mulut mu! tau apa kau tentang kebahagiaan putriku!!!. " balas bu Nita bergetar.


"Aku bahkan tahu melebihi tante mengetahui nya..."


"Arga cukup!!!" teriak Elin menyela.


"Sudah cukup, hentikan semua nya. Arga pulang lah sekarang. jangan diteruskan lagi. aku mohon. " pinta Elin dengan air mata yang terus mengalir di pipi nya.


"Elin. tenang lah. aku hanya ingin menyadarkan orang tua mu, mereka perlu tau kau hanya akan bahagia bersamaku. kita saling mencintai kan Elin... beri tahu mereka" Jawab Arga dengan suara parau.


Elin melepas tangan mama nya, lalu ia kembali berjalan mendekati Arga dengan wajah bersimbah air mata.


"Arga... aku minta maaf...aku benar-benar minta maaf. aku tidak bisa menepati janjiku. beberapa hari lagi aku akan menikah dengan Rey....." Elin menggantung kalimat nya, menggigit bibir nya. merasakan getir dalam hati nya seiring kata-kata yang keluar dari bibir nya.


"Arga... mulai saat ini, lupakanlah aku.. lupakan semua tentang kita. anggap saja hubungan yang kita jalin selama ini tidak pernah terjadi... aku akan menjalani hidup ku, dan aku juga berharap kau bisa menjalani hidupmu sendiri dengan baik... " Sambung Elin. tangis nya benar-benar pecah ketika mengakhiri kalimat itu. ia merasakan dada nya begitu sakit.


"Elin... tolong jangan begini padaku. apa kamu sudah tak mencintaiku lagi? apa telah hilang aku di hatimu Elin? " Jawab Arga sambil menangkup kedua sisi wajah Elin.


"iya, Ga. aku sudah tak lagi mencintaimu. " Elin mengiyakan pernyataan Arga, dengan berusaha mengucapkan itu setegar mungkin, lalu menjauhkan tangan Arga dari wajah nya. Arga terkesiap, begitu juga dengan Rey yang berdiri di sebelah pak Bimo. tentu saja ia yakin Elin tidak bersungguh -sungguh dengan ucapan itu.


"Kamu bohong Elin. kamu pasti sedang berbohong. " sanggah Arga menolak untuk percaya.


"sekarang pergilah... " Ujar Elin sambil berlalu dan berlari dari taman itu menuju pintu utama rumah nya. Mama Elin pun beranjak menyusul putri nya itu.


Arga masih terpaku di sana. ia tak bisa percaya dengan semua yang terjadi. Mata nya nanar menatap Elin yang telah lenyap masuk ke dalam rumah nya. Adit mencoba mendekati dan menenangkan nya.


"Kamu pastikan dia tidak akan mengacaukan rencana kita. " Ucap pak Bimo bergumam pada Rey, lalu ia pun beranjak meninggalkan Rey.


Rey menghela nafas panjang saat Arga melewati nya dengan di dorong oleh Adit di atas kursi roda nya. setelah berlalu satu meter dari tempat Rey berdiri, Arga mengisyaratkan pada Adit untuk berhenti dan Adit pun menuruti nya.


"kamu menang sekarang. setelah kita sama-sama terlepas dari dua kakak beradik itu, aku tidak menyangka kita akan jatuh cinta pada gadis yang sama. Tuhan memang menyusun skenario ini dengan penuh misteri" Ujar Arga dengan suara pasrah dan seakan menertawakan diri nya sendiri. Lalu kemudian ia benar-benar berlalu, untuk kembali ke rumah sakit.


sementara Rey masih mematung di sana beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja terjadi, dan kemudian ia juga meninggalkan tempat itu, meninggalkan rumah Elin. menelusuri malam yang temeram dengan redup nya rembulan dan persembunyian bintang di atas mega yang senyap.

__ADS_1


šŸšŸšŸšŸšŸ


__ADS_2