
Meninggalkan cerita tentang kerikil dan berlian dari ketiga gadis yang mungkin telah tertidur itu, kini kita beranjak pada rumah yang sebagian besar penghuni nya juga mungkin sudah tertidur, terlihat dari lampu yang sudah mati di banyak ruangan. Akan tetapi ada satu ruangan yang lampu nya masih menyala terang benderang, sepertinya pemilik ruangan itu belum tertidur seperti penghuni rumah yang lain. Dan itu adalah kamar Arga. Meski sudah dinyatakan sembuh total dan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter satu minggu yang lalu, tapi siapa sangka hati yang luka masih saja membuat nya uring-uringan dan sering menghabiskan waktu mengurung diri di kamar nya. Pribadi nya yang hangat pada siapa saja sekarang seakan berubah, ia sudah tidak banyak bicara dan lebih cenderung pendiam, kecuali jika Adit yang mengajak nya bicara, ia memang lebih terbuka pada sahabat nya itu.
Orang tua nya telah kembali ke luar negri satu hari yang lalu, tapi mereka sudah meminta Adit untuk selalu mendampingi Arga di rumah itu, pikir mereka dengan Adit tinggal di sana, mungkin itu bisa sedikit membantu Arga untuk kembali bersemangat seperti semula. Orang tua Arga sudah mengetahui kisah anak nya itu dari Adit, karna mama Arga selalu memaksa Adit menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mereka tidak tega melihat Arga yang selalu mengigau menyebut nama Elin waktu tidur di brangkar ketika dirawat di rumah sakit.
Arga menimang-nimang kartu undangan berwarna gold yang berpadu dengan warna coklat sambil duduk di depan meja belajar. ia tersenyum kecut melihat nama yang tertera dengan tinta emas di sana. ia menyentuh nama itu dengan lembut, lalu kembali tersenyum hambar. detik kemudian ia menengadahkan wajah nya sambil menghembuskan nafas nya dengan kasar, serta mengedipkan netra nya beberapa kali.
"Sudahlah, ikhlaskan dia. karna cinta itu tidak selalu harus memiliki bukan? " Ujar Adit menghampiri sambil menepuk-nepuk pelan pundak Arga.
Arga kembali menaruh undangan itu di atas meja. lalu mengusap wajah nya, dan kembali menghela nafas nya.
"Ini yang kedua kali nya aku dikhianati gadis yang aku sayangi. tapi ini rasa nya jauh lebih sakit, karna hubungan kami harus berakhir, sementara di sini masih ada cinta yang begitu besar. " Ujar Arga datar sambil menunjuk dadanya.
Adit menarik sebuah kursi ke samping Arga, lalu ikut duduk di sana.
"hm... itu lah yang nama nya cinta, bro. anggap saja selama ini kamu jagain jodoh orang. " Ujar Adit dengan nasehat yang diselingi kelakar nya menghibur sahabat nya itu.
"Dan aku masih belum bisa mengakui kalau dia jodoh orang, Dit. aku masih yakin dia jodohku yang tertunda. harapanku masih besar untuk bersamanya suatu hari nanti. " jawab Arga. suara nya jelas masih menaruh harap yang sangat besar.
Adit menggeleng-gelengkan kepala nya mendengar pengakuan Arga, bibir nya tersungging senyum prihatin pada sahabat nya itu.
"Terserah kamu aja deh. jika itu yang menjadi harapan sahabatku, apa yang mesti aku lakukan selain mendukung nya. tapi pesanku, jangan sampai kamu nekat merusak rumah tangga orang. " Ujar Adit lagi-lagi memberi nasehat.
__ADS_1
"Bukankah Rey yang merebut apa yang seharus nya jadi milikku? jika suatu hari aku mengambil hakku kembali, aku tidak salah kan? " kali ini Arga mendengus, ada penekanan dalam kalimat nya.
"Ingat Ga, Rey hanya ingin membantu Elin dan mama nya. bukan berniat merebut Elin darimu. " peringat Adit.
"Apa pun alasan nya, tetap saja dia telah membuat jarak antara aku dan Elin. omong kosong apa itu. membantu katanya? banyak cara lain bukan, selain dari menikahi kekasihku? " Jawab Arga dengan sorot mata tajam nya pada Adit
"Ya Tuhan... jangan sampai cinta membutakan sahabatku yang baik ini..." Gumam Adit penuh harap.
Arga terkekeh. lalu kembali mata nya menoleh pada kartu undangan di atas meja itu. lagi-lagi ia tersenyum simpul. Namun senyum itu hanya sekedar lalu di bibir saja, tapi lihat lah sorot mata yang penuh kesedihan itu, seperti mengurai banyak kekecewaan, banyak luka, patah hati, dan berbagai rasa yang berkecamuk menjadi satu dalam hati nya.
"Bahkan ia tak memberi undangan padaku. dia hanya memberikan nya untuk mu. " Decak Arga melihat nama yang dituju dalam undangan itu.
"Ini Echa dan Risa yang memberikan nya padaku. dan dimaklumi saja Elin tidak mengundangmu, dia tak akan tega kamu melihat nya di atas pelaminan besok. dia hanya tidak ingin kamu bertambah luka. " Terang Adit memberi pandangan.
"Kalau kamu yakin tidak akan berbuat macam-macam di sana. kamu boleh ikut denganku besok. " Jawab Adit sambil menepuk pundak Arga, lalu bangkit dan berjalan ke tempat tidur.
Arga menatap nanar undangan itu, kembali menimang nya. tawaran Adit barusan membuat nya sedikit berbinar. tentu saja hati nya akan sakit menyaksikan gadis yang ia cintai itu bersanding dengan laki-laki lain. akan tetapi menurut nya ia harus datang, entah apa yang mendorong hati nya untuk yakin akan hal itu.
"Ah. aku hampir lupa, pak Agung memintamu untuk ikut mengisi acara penyambutan mahasiswa baru yang tertunda itu minggu depan. dan kata nya kamu harus mau. karna Dika yang ditunjuk nya memainkan piano tidak bisa hadir pada hari itu. dan tidak ada yang pantas menggantikan permainan nya selain kamu. " Ujar Adit setelah menghenyakan tubuh nya di tempat tidur.
Arga menautkan kening nya sesaat.
__ADS_1
"aku mendampingi permaian biola siapa? " Selidik Arga.
"Aku tidak menanyakan itu. dan Pak Agung juga tidak membahas nya. " Jawab Adit.
Arga ber 'Oh' pendek.
"Kenapa? apa kamu berharap akan mengiringi permainan Elin? " selidik adit.
"Entahlah " Jawab Arga dengan suara berat. Namun memang tak dapat dipungkiri bahwa hati nya memang menginginkan nya. dan tentu saja Adit dapat menangkap itu dengan sangat baik. Namun ia memilih tak berkomentar lagi, lalu memejamkan mata nya, membiarkan Arga menyalami pikiran nya sendiri di samping meja belajar itu.
ššš
Di tempat lain, gadis dengan rambut lurus hitam itu baru saja masuk ke dalam rumah nya setelah jam menunjukan pukul 01.15 dini hari. siapa lagi ia kalau bukan Rora, sudah pasti di jam segini ia baru pulang hura-hura bersama teman-teman nya.
ia membuka heels nya dengan satu tangan, lalu mengganti nya dengan sendal khusus di rumah, kemudian menaruh heels itu di tempat khusus di sudut ruangan sebelum masuk ke ruang tamu.
Hampir seluruh lampu rumah itu sudah dimatikan, terkecuali lampu di dekat meja makan yang masih dibiarkan menyala. Rora berjalan menuju dapur, setelah menekan saklar di sisi kanan pintu masuk dapur yang membuat lampu diruang itu menyala, ia berjalan ke arah kulkas, tenggorokan nya terasa kering, setelah membuka pintu kulkas lebar-lebar, ia mengambil satu minuman kaleng dari dalam nya, kemudian membuka nya langsung di depan kulkas, detik kemudian ia meneguk minuman tersebut beberapa teguk, lalu kembali menutup pintu kulkas.
kemudian ia kembali mematikan lampu dan seterusnya berjalan menuju ruang tengah, yaitu ruang keluarga. setelah sampai, ia duduk di atas sofa. Namun ketika tangan nya hendak meraih remot TV, ia melihat sesuatu di atas meja di hadapan nya. kening nya menaut. kemudian ia meletakan minuman di tangan nya tadi ke atas meja, lalu meraih benda yang menarik perhatian nya itu, yang tak lain adalah sebuah kartu undangan.
"Rey anggara wiguna... Elina sharin gunawan... " Bibir nya mengeja nama yang tertera di kartu undangan tersebut. Ia seperti tak percaya melihat dua nama yang ia kenal itu tertulis di undangan tersebut....
__ADS_1
ššššš
jangan lupa Like, komen, dan vote ya Readers... beri masukan juga di kolam komentar..