JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
MASIH CINTA


__ADS_3

Aula kesenian itu sudah dipenuhi oleh mahasiswa -mahasiswi dan para tamu undangan. Tak di sangka, ternyata pak Agung menyiapkan acara yang sempat tertunda ini begitu matang dan terencana sekali.


"Elin, semangat ya nanti. " Ujar Risa menyemangati Elin di ruangan khusus belakang panggung.


"Terimakasih, Ris. " Balas Risa dengan senyum nya.


"Ngmong-ngomong, suamimu hadir kan? " tanya Echa pula.


"Eemm... kata nya sih tadi mau datang," jawab Elin, karna memang tadi setelah mengantar Elin, Rey izin pergi dulu sebentar. Entah kemana, Elin juga tak ingin tahu.


Elin yang didampingi teman-teman nya sudah siap-siap menunggu nama nya dipanggil untuk memulai pertunjukan. Sedang di sudut yang berbeda, Arga terus menatap ke arah mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan jangan lupa, ada Rora juga disamping nya.


"Lin, Arga lihatin kamu terus tuh dari tadi. " Bisik Echa.


"Biarkan saja. " Jawab Elin datar.


"Heran, kenapa sekarang Rora kelihatan akrab ya sama dia? " Celetuk Echa lagi.


"Ah, kenapa harus heran? barangkali CLBK. " Sela Risa pula.


Echa mengangguk. Namun mendengar itu, pikiran Elin mulai tak terkondisikan. Cemburu? pasti ada. Tapi bukankah ia juga sekarang sudah punya suami? malahan rasa nya yang telah ia perbuat pada Arga sudah jauh dari sekedar kata kejam. Ah, bisakah waktu dan keadaan sekali saja berpihak pada nya?.


Sementara di sudut berbeda...


"Arga, kalaupun nanti kamu tampil bersama Elin, ingatlah ini hanya sekedar memenuhi permintaan Pak Agung saja. Aku tidak ingin kau ada perasaan apa-apa pada nya." Ucap Rora pada Arga.


Arga tersenyum kecut.


"Ya Tuhan, begitu besarkah ketakutanmu? apa kau sebegitu takut nya kalah saing oleh Elin. Tapi benar juga, dibanding dia kau memang tak ada apa-apa nya. " Desis Arga sambil berlalu dari gadis itu. Rora ternganga dan menghentakan kaki nya dengan geram.


15 Menit kemudian...


Nama Elin dan juga Arga dipanggil untuk segera ke atas panggung. Elin yang disemangati dua sahabat nya itu, kini berjalan dengan anggun menaiki panggung, dengan biola kesayangan ditangan kanan nya.


Sementara di belakang nya berjalan pula pemuda tampan untuk memainkan piano yang sudah disediakan di atas panggung.


Saat kedua nya tampil diatas panggung, semua bersorak ria memberikan tepuk tangan. Kedua nya saling menatap canggung, lalu Elin segera membuang pandangan nya, seolah tak terjadi apa-apa pada hati nya saat ini. Namun siapa sangka rasa itu tak bisa ia sembunyikan dari pria yang dulu sempat mengukir janji dengan nya itu.

__ADS_1


Kedua nya kini telah mengambil posisi masing-masing. Arga duduk di belakang piano nya, sedangkan Elin berdiri satu meter di sebelah kanan Arga.


Alunan biola mulai mendayu dimainkan gadis berambut coklat itu, denting piano jadi pengiring nya. Semua terpana akan merdu nya permainan itu. Musik yang dimainkan mereka mampu menghipnotis orang-orang yang hadir di sana. Para dosen, mahasiswa lama dan baru, serta para undangan lain nya.


Elin tampak memejamkan mata nya menghayati setiap gesekan yang mengalunkan melodi sendu dari biola nya, sementara Arga dengan jari-jari lincah nya terus mengiringi, bahkan mata nya sesekali tak luput dari gadis yang bersama nya di atas panggung itu.


Segala bayangan tentang kenangan saat bersama muncul di kepala masing-masing. Seakan alunan musik yang mereka mainkan saat ini adalah sebuah pesan perasaan dari mereka berdua. Semua yang hadir pun turut larut mendengarkan nya. Namun lain dengan pria tampan dan gagah yang duduk di paling belakang kursi tamu undangan. Rey, ia menatap dengan cemburu yang bersarang di dada nya.


Setelah beberapa menit, akhir nya pertunjukan dari mereka usai juga. Elin membuka mata nya, menurunkan biola dari bahu kiri nya, kemudian Arga berdiri sejajar di samping Elin, lalu keduanya membungkuk kepada para penonton yang hampir semua nya berdiri memberikan tepuk tangan yang bergemuruh, serta sorak sorai dari teman-teman nya. Setelah itu Elin berjalan ke belakang panggung.


"Elin... " Seru Arga dari belakang Elin.


Elin terus berjalan, berpura-pura tak mendengar panggilan Arga. Namun Arga berhasil menangkap pergelangan tangan nya.


"Lepaskan, Arga. " Ujar Elin sambil berusaha menarik tangan nya dari Arga. Namun cengkraman tangan Arga begitu kuat.


"Sebentar saja, Elin. Aku mau bicara." Pinta Arga dengan suara memohon.


"Bicara apa lagi, sudah tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Semua sudah selesai, Ga." Jawab Elin.


"Sekali saja, Elin. Aku mohon. " Kembali Arga memohon, menatap Elin dalam-dalam.


"Elin, entah ini akan membuatmu bosan ataupun muak. Tapi lagi-lagi aku ingin memastikan, benarkah tidak ada lagi cintamu untuk ku, Elin? walaupun sedikit saja? " Ucap Arga mulai bertanya, mata nya tak lepas dari menatap gadis yang sangat dicintainya itu.


Elin menarik nafas dalam-dalam. Lalu melempar pandangan nya kesembarang arah.


Ada genangan di sudut mata itu yang kini berusaha ia tahan.


"Arga, kamu tau aku sudah menikah. Aku sudah tak mungkin punya perasaan apapun lagi padamu. Harus nya kamu tau itu. " Ujar Elin dengan suara yang berusaha ia buat sedatar mungkin.


"Aku tak peduli kamu sudah menikah, Elin. Yang aku ingin tau hanya cintamu. " Balas Arga.


"Please, Arga. Jangan seperti ini. Kamu bisa cari gadis lain yang lebih baik dari pada aku..."


"Aku tak ingin dengar apapun, Elin. Aku hanya ingin tau isi hatimu saja. " Ucap Arga memotong kalimat Elin.


Elin kembali menarik nafas, lalu membuang nya dengan kasar. Kemudian mengusap wajah nya. Menatap langit-langit.

__ADS_1


"Aku sudah tak mencintaimu, Arga. Aku sudah tak lagi mencintaimu. " Ucap Elin, lalu ia bergegas ingin melangkah dari tempat itu. Namun kembali Arga menahan nya. Kini air mata Elin benar-benar luruh.


"Aku tau kamu berbohong. " Ucap Arga.


"Aku tidak berbohong, aku benar-benar... "


"Kalau begitu tatap mataku, lalu katakan kau tak mencintaiku. " Ucap Arga sambil menggenggam jari Elin. Sementara Elin terus menunduk dan makin terisak.


"Kenapa? kau tak bisa Elin, karna dalam hatimu masih mencintaiku. Aku tau itu. " Ucap Arga menatap wajah yang tertunduk dengan air mata yang kini mengalir deras itu.


"Lupakan Aku, Ga. Lupakan aku. Aku tau ini sulit. Tapi mari kita mulai ini sama-sama. Aku sudah punya Rey. " Ujar Elin kini mengangkat wajah nya, menatap Arga bersungguh -sungguh.


"Rey... Rey... Rey... kenapa laki-laki itu? kenapa harus dia yang merebutmu dariku?!" Seru Arga gusar, melepaskan tangan nya dari Elin. Lalu kaki nya menendang angin saking frustasi nya.


"Tidak, Elin. Bagiku ini belum terlambat. Aku tau kau masih mencintaiku, dan aku juga sangat... sangat...sangat mencintaimu. Kita saling mencintai, Elin. Harus nya kita bisa hidup bersama. Elin, ikut lah denganku. Kita pergi dari semua ini, pergi sejauh mungkin." Imbuh Arga lagi dengan kata-kata nya yang makin membuat Elin terenyuh sekaligus tak habis pikir.


"Arga, aku mohon... sekali ini saja, dengarkan aku. " Ucap Elin bersungguh -sungguh.


"Aku tau kau sangat mencintaiku, aku juga sebenarnya tak ingin semua ini terjadi, tapi tolong mengertilah posisiku, jika kau benar-benar mencintaiku, tolong jangan pernah datang lagi padaku, lupakan aku. " Imbuh Elin dengan wajah basah nya, menatap Arga. Berharap pria itu akan mengerti.


Arga menatap wajah pujaan hati nya itu dengan sendu, mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis itu dengan jari nya. Lalu mendekap wajah itu dengan kedua belah telapak tangan nya yang besar.


Sungguh Arga tak mampu berkata-kata, benar ia sangat mencintai Elin dengan segenap jiwa dan raga nya, namun untuk memenuhi permintaan gadis itu sangatlah mustahil ia lakukan. Kini mata nya juga sudah berkaca-kaca.


Elin memejamkan mata nya, jari Arga mengusap bibir gadis itu. Dengan perasaan yang terombang-ambing, Arga mendekap tubuh gadis itu ke pelukan nya.


"Please... Elin. Jangan meminta itu padaku. Aku tidak akan sanggup. " Lirih nya.


Kedua nya larut dalam perasaan pilu, tangis Elin benar-benar pecah, ia membalas pelukan pria itu, lalu kedua nya saling menumpahkan perasaan, suasana begitu menyita emosi kedua nya. Arga kemudian menatap wajah itu, lalu dengan perasaan yang bercampur aduk, bibir nya kini mengecup bibir milik Elin. Elin tersentak, namun ia tak mampu lagi melakukan penolakan.


Namun tiba-tiba...


"Elin!!!..."


Kedua nya tersentak saat sebuah suara menggelagar muncul dari arah yang berbeda, seoarang pria kini menatap nya penuh amarah. Rey...


šŸšŸšŸšŸšŸšŸšŸšŸ

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2