
Sementara di tempat lain, Elin menangkupkan wajah nya ke meja. ia duduk di salah satu kursi dalam ruangan yang belum terlalu ramai itu. mata nya terasa panas, hati nya penuh sesak. dan tangislah sebagai tumpahan sesak itu.
"Elin, " suara Risa dan Echa mendekat penuh khawatir. mereka juga tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana, namun satu hal yabg bisa mereka lakukan saat ini adalah berada di samping Elin.
"ada apa sih sebenar nya? aku benar-benar tidak mengerti" isak Elin masih belum mengangkat wajah nya.
"kita sama-sama nggak tau apa yang terjadi Lin, Rora mahasiswi baru di kampus ini. Selama ini yang kita tau Rora selalu mengejar Arga, tapi kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara mereka." Ucap Risa yang diiringi anggukan kepala oleh Echa. kedua nya menarik kursi kosong untuk kemudian duduk di samping Elin.
"Semenjak Rora menjadi mahasiswi di sini, apa yang bisa kita ketahui tentang dia selain dari sifat arogan nya. bertanya pada dua pengawal nya itu tak akan mungkin dapat jawaban, yang ada malah membuat aku emosi saja nanti nya" ujar Echa sambil mengusap-usap punggung Elin.
Tidak lama kemudian, Arga datang. Ia tampak menghela nafas sebentar di depan pintu untuk kemudian melangkah mendekati tiga sahabat itu.
Risa dan Echa menatap sinis. Apapun itu alasan nya, yang jelas hari ini Arga telah membuat Elin menangis. dua gadis itu sudah pasti sangat tidak menyukai nya.
"Elin... aku... " ujar Arga saat tepat berada di hadapan meja Elin.
"Nggak sekarang Ga" jawab Elin masih terisak. Ia tak melihat sedikitpun pada Arga.
Entah lah, rasa nya perlu waktu untuk menyiapkan hati mendengar apapun penjelasan Arga.
Arga menarik nafas dalam, dan menghembuskan nya dengan kasar. mengusap wajah nya yang kebas. Gusar, merasa bersalah, khawatir, bercampur jadi satu dalam guratan wajah itu.
kemudian ia melangkah menjauhi Elin, mengambil tempat di sudut ruangan sana. Mata nya masih melekat pada Elin yang masih tampak lesu dengan mata basah nya.
Hingga mata kuliah yang diajarkan Pak Agung pagi ini selesai, tak ada satupun yang bisa disimak dengan baik oleh Arga, tak terkecuali Elin.
***
Siang itu di aula kesenian...
Elin memainkan biola nya dengan penuh penghayatan. sebuah nada sendu yang dimainkan nya begitu menyentuh. Ini seperti luapan emosi yang ditumpahkan nya pada dawai-dawai biola itu. Echa dan Risa yang juga memainkan biola ditangan nya berhenti, lalu memperhatikan permainan Elin.Elin memejamkan mata nya mengikuti gesekan demi gesekan biola nya.
__ADS_1
setelah merasa puas, Elin menghentikan gerakan tangan nya, lantas membuka mata nya.
"Perfect" seru Echa dan Risa bersamaan dengan tepuk tangan mereka.
" itu sangat indah, Elin." tambah Echa lagi, kagum.
Elin menghembuskan nafas nya. ia mencoba membuat senyuman di wajah nya.
" Terimakasih. Kalian juga bermain dengan sangat bagus." jawab nya kemudian dengan masih menyuguhkan senyum di bibir nya.
Dan ketika itu datanglah Arga dari mulut pintu. ketiga gadis itu menoleh tanpa suara. Arga terus mendekat. Elin kemudian mengemas biola nya, hendak bergegas meninggalkan ruangan itu. namun tangan Arga yang kekar menahan tangan nya.
"Elin, kita perlu bicara. aku mohon." pintaArga.
Elin menatap dua sahabat nya, yang kemudian dibalas anggukan oleh Risa dan Echa.
Arga mengajak Elin meninggalkan Aula kesenian itu, Echa dan risa juga menyusul di belakang. namun saat di parkiran mereka berpisah. Elin masuk ke mobil Arga, sedangkan Risa dan Echa meninggalkan Parkiran dengan mobil Risa menuju arah berbeda.
Setelah beberapa menit di perjalanan, sampailah mereka di sebuah kafe. Tempat ini cukup jauh dari kampus mereka. Tapi Elin pernah ke sini beberapa waktu lalu bersama Arga, Risa, dan Juga Echa.
Setelah turun dari mobil dan meninggalkan parkiran, sekarang mereka sudah berada di sebuah meja dekat jendela kaca kafe itu. Tidak begitu ramai siang ini. Tapi suasana artistik dalam kafe itu memang cukup nyaman untuk sekedar menikmati makanan, bersantai, atau menyelesaikan masalah seperti yang akan dilakukan Arga saat ini.
" Elin... " Suara Arga memulai obrolan setelah seorang pelayan meletakan minuman di meja mereka.
Elin menetap Arga sebentar, lalu kembali mengalihkan nya ke luar jendela.
" Aku tida tau harus memulai dari mana, tapi aku tau, aku harus menyelesaikan ini." Ucap Arga lagi.
"Tentang Rora... Rora dan aku dulu nya berpacaran" Sesaat ia tampak mengambil nafas dalam.
Mendengar penuturan Arga, Elin hanya tersenyum kecut. Ia sudah menduga hal itu. Tidak bersuara, mungkin kali ini ia akan memilih jadi pendengar terbaik saja.
__ADS_1
"Kami berpacaran dari Sebelum kelulusan SMA, setelah lulus, dia memilih meneruskan pendidikan nya di Paris. Sesuai keinginan nya sendiri. Dan aku juga mendukung itu..."
Arga menjeda kalimat nya, mengatur kembali kata-kata dalam otak nya agar menjadi kalimat yang bisa membuat Elin tidak salah paham nanti nya.
"Aku dan dia jadi jarang bertemu, tapi komunikasi tetap berjalan baik. Hingga suatu hari, saat hari ulang tahun nya, aku sengaja datang ke Paris tanpa memberi tahu nya terlebih dahulu untuk memberinya kejutan. Sampai di Paris aku langsung menuju apartemen nya, yang kebetulan alamat itu sudah di beritahu nya saat ia baru memulai studi di kota itu. Namun sampai di apartemen nya, bukan dia saja yang terkejut melihat kedatanganku, aku lah yang justru sangar terkejut." Kali ini bibir Arga tertarik kecut.
"Kau tau apa yang terjadi? "
Elin menatap laki-laki di depan nya itu. Menunggu apa kelanjutan nya.
"Dia tengag asyik bercumbu dengan seseorang dalam apartemen itu. Dengan laki-laki yang sangat aku kenal baik. Dia bahkan berteman baik dengan ku saat SMA"
Arga mengisahkan semua nya dengan mengingat kisah berakhir nya hubungan ia dan Rora. Nada nya datar, tak terdapat gambaran kegeraman dalam kalimat nya, sedikitpun tanda kekesalan nya pada masa silam itu sama sekali tidak terlihat.
Sementara Elin mendengarkan dengan seksama, kata demi kata yang diucapkan Arga. sekarang ia memandang Arga dengan lekat, seperti ingin mencari kesungguhan di wajah itu. dan mungkin sudah ia dapatkan.
"Apa aku bisa mempercayaimu Ga??? " ucap nya kemudian dengan suara hampir tak terdengar
Arga menghela nafas panjang, dan membuang nya. Detik kemudian ia tersenyum pada kekasih nya itu.
"Tentu saja,Elin. aku sangat menyayangimu. Kau harus percaya padaku. Aku tidak akan menyakiti hatimu." Ujar nya kemudian, seraya meraih jemari Elin dengan penuh kasih.
"Jika itu hanya masa lalu, aku tak akan keberatan, Ga. Siapapun juga punya masa lalu." ucap Elin yang disertai senyum lembut nya, tanda bahwa ia benar-benar menerima penjelasan Arga dengan sangat baik.
Waktu berlalu tanpa disadari. Surya telah bergerak jauh ke ufuk barat, lama sekali mereka bercengkrama di sudut kafe itu. Membicarakan banyak hal, berbagi cerita, dan terkadang juga melontorkan candaan satu sama lain. Sesekali tampak mereka tertawa lepas, sesekali juga tampak tersipu, dan bahkan tak jarang beradu pandang.
"Ga, Ini sudah sore. Apa kita bisa pulang sekarang?. " ujar Elin setelah melihat jam di ponsel nya.
"Pulang sekarang? boleh. " Jawab Arga.
Setelah membayar minuman, mereka pun berjalan keluar menuju parkiran. Lalu bergerak melaju meninggalkan kafe itu. Menyusuri jalanan yang entah kenapa sore itu terasa begitu gemerlap, berkelip, dan terasa indah.
__ADS_1