JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
RUMAH ELIN


__ADS_3

"Di sini saja. " Ujar Elin saat sampai di pertigaan jalan menuju rumah nya.


Arga menurut, lalu menghentikan laju mobil nya.


"Mengapa setiap kali aku mengantarmu, aku tidak diizinkan sampai depan rumah? aku merasa tidak enak menurunkan atau menjemput mu di sini. Ini terkesan aku seperti laki-laki yang kurang bertanggung jawab saja. " Arga menatap Elin setelah mematikan mesin mobil nya.


"Bukan begitu. hmmm. Ini hanya soal waktu saja. Aku belum siap nanti mama bertanya padaku soal hubungan kita. " Jawab Elin dengan senyum meyakinkan


"Kenapa? apa orang tuamu segalak itu? " Tanya Arga lagi dengan nada menggoda.


Elin tertawa kecil, memperlihatkan gigi nya yang berbaris rapi.


"Kapan-kapan ya. " jawab Elin kemudian dengan nada membujuk.


"Ya sudah, aku akan menunggu kau siap memperkenalkan ku pada mereka." Jawab Arga pula setelah memutar mata sejenak.


"Jangan terburu-buru. Ini tahun terakhir kita kuliah, fokus lah untuk nilai yang bagus saat kelulusan nanti."


"Iya..sayang" Arga mencubit gemas pipi Elin.


"Apa? kamu bilang apa? " Elin bertanya pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan Arga. Arga tersenyum melihat tingkah Elin.


"Aku bilang, iya sayang" jawab Arga memperjelas ucapan nya.


Elin tersenyum geli.


"Kenapa? Apa kau tidak menyukai nya, sayang? " Tanya arga mengangkat lembut dagu Elin.


"Terserah kau saja. Sekarang apa aku bisa turun?" Jawab Elin.


"Cium dulu." Arga menunjuk bibir nya.


"Ayolah, jangan begini. Aku belum siap." Elin tertunduk malu.


"Baik lah, kalau begitu berjanjilah tidak akan ada yang akan mendahuluiku menikmati ini." Arga mengusap bibir Elin dengan jari nya.


Elin tak bisa menahan rasa canggung nya. Arga begitu terlihat terbiasa dengan ini semua.


Apa kau telah sering melakukan nya bersama Rora? atau bahkan kau telah melakukan lebih dari pada itu?

__ADS_1


Eli membatin, Arga tampak tak canggung dengan kalimat fulgar itu.


"Aku turun sekarang. " Ucap Elin bersemu, tanpa menjawab Arga. Ia segera melepas seatbelt nya.


"Elin. " panggil Arga ketika Elin telah membuka pintu mobil.


Elin menoleh.


"Berikan tangan mu."


Elin menatap bingung. Lalu ragu-ragu mengulurkan tangan nya.


Cup


Arga mendaratkan bibir nya di punggung tangan Elin. Elin terpaku.


"Di tangan mu tidak apa kan? " Ujar Arga kemudian dengan senyum lebar nya.


Lagi-lagi untuk ke sekian kali nya Arga membuat pipi Elin bersemu. Entah mengapa dia selalu punya cara untuk menghangatkan hati gadis itu.


Elin mengangguk. Lalu tanpa menunggu lagi, ia segera keluara dari mobil Arga. Melambaikan tangan dengan senyum yang masih merekah diwajah nya. Lalu dengan cepat ia berjalan menjauhi mobil itu. Menyusuri jalanan komplek dengan langkah setengah cepat.


Arga masih tercenung di sana. Di dalam mobil nya. Meski kini Elin telah menjadi kekasih nya, sebenar nya ia belum terlalu banyak mengetahui tentang gadis itu. Elin terbilang sangat tertutup dengan pribadi nya. Hanya Risa yang tau banyak tentang Elin. Akan tetapi Risa juga tak pernah bercerita yang sifat nya terlalu pribadi bagi Elin.


Seperti ada perintah dari hati, Arga tergerak melajukan mobil nya menuju rumah Elin. Dan setelah dua belokan, mobil itu kini telah sampai di depan rumah mewah berpagar putih.


Rumah ini dominan berwarna putih, meski pagar rumah itu tertutup rapat, namun ia masih bisa melihat rumah itu dengan baik. Tampak semua lampu masih menyala. Ada dua mobil terpakir di perkarangan yang terbilang cukup luas itu.


cukup lama Arga menatap rumah Elin, lalu ia mengeluarkan gawai nya. mengirim sebuah pesan pada Elin.


'kamu sedang apa? '


pesan itu terkirim...


Cukup lama ia menunggu balasan, namun seperti nya Elin sedang sibuk. Sebab pesan itu belum dibaca oleh nya.


Hingga gelap menjelang, saat ia akan memutar kemudi nya, ia melihat ada laki-laki paruh baya di dalam sana. perawakan nya tinggi, badan nya tegap untuk seukuran usia nya. laki-laki itu tampak mondar-mandir di teras, lalu masuk kedalam rumah itu.


'siapa laki-laki itu? bukan nya papa Elin sudah meninggal' Arga bergumam

__ADS_1


'ah.. sudahlah. mungkin itu kerabat nya'


Ia melirik lagi layar ponsel nya. Masih belum ada jawaban dari Elin. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia benar-benar beranjak meninggalkan rumah itu. Menjauh, membelah jalanan senja.


***


Sementara dalam rumah bernuansa abu-abu putih itu...


"Aku tidak bisa Ma. please...jangan paksa aku"


Suara Elin terdengar serak, menatap harap pada wanita paruh baya di hadapan nya. Wanita dengan pakaian modis dengan rambut yang tertata rapi seperti layak nya wanita konglomerat itu adalah mama nya.


"Mama cuma ingin yang terbaik buat kamu Elin"


wanita itu mejawab. Ada nada penekanan di sana.


Elin tak menjawab apa-apa lagi. Hanya air mata yang tampak mengalir di pipi nya.


Mama nya kini mendekat, duduk di samping Elin. Tangan nya membelai rambut coklat milik Elin, menarik nafas panjang. Seperti ingin berbicara dari hati ke hati dengan Elin.


"kamu hanya belum mengenal nya Elin. Bulan depan ia akan pulang dari Paris. ia akan menemuimu, cobalah untuk mengenal nya lebih dekat. Mama tau betul keluarga nya dengan baik. Tante Dewi sangat berharap ingin berbesan dengan mama." bujuk wanita paruh baya itu lagi.


"Tapi ma... Aku sudah... "


"Sudah lah Elin.. cobalah sekali ini dengar omongan mama. "


Tak ingin berbantah lagi, wanita itu kini beranjak pergi meninggalkan Elin di kamar nya.


Elin benar-benar tak bisa membendung air mata, ia menumpahkan tangis nya.


Ia berpikir, entah apa yang ada dalam pikiran Mama nya. Apakah semua ini ada kaitan nya dengan laki-laki itu? laki-laki biadab yang harus diakui nya sebagai ayah sambung nya sekarang? entah lah.


Semenjak ada laki-laki itu di rumah ini, semua nya benar-benar terasa berubah. Semua menjadi tidak berjalan semestinya lagi, dan semua nya menjadi serba asing bagi Elin.


Elin menatap nanar pigura berukuran besar di dinding kamar nya. Senyum yang terpancar dari keluarga kecil dalam foto itu seakan memudar. Tampak kabur di balik netra Elin yang kini sempurna menggenang, dan berderai di pipi mulus itu.


Otak nya kembali memutar permintaan mama nya yang tiba-tiba itu.


Apa ini masih jaman nya menjodohkan anak?

__ADS_1


Ma, aku sudah punya pilihan sendiri. Kenapa mama tidak pernah menanyakan soal itu padaku? aku juga ingin didengar. Aku juga ingin menceritakan tentang laki-laki pilihanku pada mama.


__ADS_2