JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
SAHABAT


__ADS_3

"iya Mama, Arga baik-baik saja. Mama sama Papa tidak perlu mengkhawatirkan Arga di sini." Arga berbicara dengan lembut saat menjawab Mama nya di sebrang telfon.


"Iya sayang, Maaf ya...Mama sama Papa mu belum bisa ke sana... Papa mu di sini masih sibuk ngurusin proyek baru nya. Mama belum bisa memastikan kapan akan ke Jakarta lagi. Selama itu, kamu harus bisa jaga diri ya sayang." ujar Mama Arga dari sebrang telfon.


"Iya, ma. Tidak apa-apa. Lagi pula di sini Arga tidak sendiri, ada Mbok Nah sama Pak Gito juga." Jawab Arga sambil memasukan sepotong roti ke mulut nya.


"Ya sudah, mama percaya sama kamu. Kalau begitu Mama tutup dulu ya telfon nya. Ingat, jangan macam-macam di sana. "


"Iya Mama. Tapi satu macam saja boleh ya? " Arga terkikik.


"Jangan sampai kamu merusak nya. Dia seperti nya gadis yang sangat baik. Tidak seperti... siapa itu nama nya? Pacar kamu dulu?. " Wanita di seberang telfon itu terdengar sedang mengingat-ingat.


"Sudah lah Ma. Mama juga tidak perlu mengingat nya. " Potong Arga.


"Pokok nya Elin lebih dari siapapun gadis yang pernah Arga kenal. " Sambung Arga lagi.


"Kamu masih sama saja. kalau sudah mencintai seorang gadis, kau akan mencintai nya dengan berlebihan." Celetuk mama nya.


Arga tertawa kecil.


"Sudahlah, itu bisa kita bicarakan jika kau telah menyelesaikan kuliahmu. "


"Mama... apa aku tidak bisa menikahi nya sekarang saja? " Arga menggoda mama nya, tapi jika mama nya mengiyakan, itu adalah bonus.


"Apa orang tua nya akan mengizinkan anak nya menikah dengan laki-laki yang belum bekerja sepertimu? " Kali ini Mama nya balik bertanya.


"Selesaikan kuliahmu, lalu teruskan lah perusahaan papa. setelah itu kau boleh memilih akan menikahi siapa saja yang kau mau. " Sambung wanita itu lagi penuh penekanan.


"Baik, bos. " Kelakar Arga.


"Kamu ya. Ya sudah sekarang Mama mau tutup telfon nya. Sekali lagi, jaga dirimu, Nak. "


Arga mengiyakan.


Terdengar Mama Arga telah menutus sambungan telfon nya. Arga kemudian melanjutkan sarapan nya, di meja makan. ia sudah bersiap-siap akan berangkat ke kampus hari ini. Meski tidak ada kuliah pagi, tapi nanti ia berencana akan mampir dulu ke rumah Adit, sudah lama ia tak berangkat kuliah bersama dengan anak itu.

__ADS_1


"Mbok Nah, aku berangkat ya. " pamit Arga pada Mbok Nah. Seorang wanita yang sudah terbilang cukup tua. Wanita itu beserta suami nya Pak Gito, sudah lama bekerja dengan keluarga Arga. Bahkan dari Arga masih kecil. Mbok Nah dan Pak Gito sudah seperti orang tua ke dua bagi Arga.


"iya, Den. hati-hati di jalan. " sahut Mbok Nah dari pintu dapur dengan kemoceng yang masih di tangan nya.


"Pak Gito, aku berangkat ya. " ujar Arga pula saat melewati Pak gito sedang membersihkan rumput taman.


"Jangan ngebut-ngebut Den." sahut laki-laki berkulit agak gelap itu dengan senyum ramah.


Arga lalu memasuki mobil nya, Pak Gito bergegas membukakan pagar, kemudian menundukan kepala nya saat Arga keluar. Detik berikut nya laki-laki tua itu kembali menutup pagar dengan gesit.


***


sementara di tempat lain, sebuah toko buku yang mulai sesak pengunjung. Elin, Echa, dan Risa tengah memilah-milah buku di sebuah Rak panjang yang penuh berbagai macam judul.


"Aku sudah mendapatkan nya. "


Ujar Echa memperlihat kan sebuah buku dengan bergambarkan Biola di salah satu bagian cover nya.


"Baik lah. Ayo ke kasir." jawab Risa sambil menaruh kembali buku yang baru saja dilihat nya.


"huh? Sudah? " Elin tersentak.


"Kau kenapa, Elin? dari tadi kita perhartikan melamun terus. Ada apa? " ujar Risa lagi bertanya.


"Bukan apa-apa. ayo, itu Echa seperti nya sudah selesai membayar nya." jawab Elin menarik tangan Risa menyusul Echa ke kasir.


Risa yang sudah bersahabat lama sekali dengan Elin, sangat hafal betul sikap Elin. Dan sekarang, tidak mungkin Elin sedang baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang tengah mengganjal pikiran nya. pikir Risa. Dan ia akan mencari tau soal itu.


"Eh... bukan nya itu Rora? "


Echa menunjuk seorang gadis dengan dress coklat muda di sebrang parkiran saat mereka hendak masuk ke mobil.


Elin dan Risa menoleh ke arah telunjuk Echa.


di sebrang tempat mereka berdiri ada sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar. Tampak Rora sendiri di sana, seperti menunggu seseorang. Ia sendiri saja, tak tampak Mita maupun Lily di dekat nya.

__ADS_1


"Mau apa anak itu di sini? " ujar Risa pula.


" sudah, biarkan saja. Bukan urusan kita. Lagi pula ini tempat umum, semua orang juga bisa datang ke sini. " jawab Elin dengan santai, lalu masuk ke dalam mobil.


"Eh.. tapi itu siapa ya? " ujar Echa lagi saat melihat seorang laki-laki berkaca mata hitam baru saja keluar dari mobil nya, dan menghampiri Rora.


"Iya, seperti nya akrab sekali" Timpal Risa.


"Ayo lah. Bukan urusan kita. Jadi biarkan saja." ujar Elin pada dua sahabat nya. Mendengar itu Echa dan Risa akhir nya masuk ke mobil. Risa duduk di balik kemudi, Echa dan Elin duduk di belakang nya. Kemudian mereka melaju meninggalkan parkiran toko buku ternama itu menuju kampus.


"Ngomong-ngomong soal Rora, jadi ingat Arga, gimana soal Arga, Lin? sudah clear kan? " Risa mulai menanyai Elin sambil terus memperhatikan jalan.


"iya, Arga sudah menceritakan semua nya kemarin. " jawab Elin pula


" Bagaimana cerita nya? " desak Echa tak sabar ingin tau


"Jadi, dulu waktu SMA, Arga sama Rora itu memang berpacaran, mereka satu sekolah. Tapi waktu Rora memilih kuliah di Paris, ia malah ketahuan selingkuh dengan sahabat Arga sendiri yang kebetulan juga kuliah di sana. semenjak itu, Arga tidak lagi menghubungi Rora. Sampai entah kenapa tiba-tiba sekarang Rora pindah lagi ke Indonesia, dan memilih melanjutkan kuliah di kampus kita." Terang Elin menjabarkan pada dua sahabat nya itu.


"Dan sekarang cewek arogan itu kembali mengejar-ngejar Arga? dasar tidam tau malu sekali. " Timpal Echa bersungut kesal.


"Terus, tanggapan kamu gimana.? " Tanya Risa lagi melirik pantulan wajah Elin dari kaca spion.


"Tidak bagaimana -bagaimana.Lagi pula itu masa lalu dia, ya sudah. aku tidak mempermasalahkan nya. " jawab Elin setelah menghela nafas dalam.


"Jadi sudah baikan sekarang? " Ujar Echa dengan nada sedikit menggoda.


Elin tersenyum mengangguk. mengiyakan sahabat nya itu.


"syukur lah kalau begitu. Kita ikut senang mendengar nya, Lin." ucap Risa dari balik kemudi. Ia melihat senyum di wajah Elin dari kaca spion.


Itu berarti sekarang bukan masalah Arga... lalu apa yang membuat Elin tadi terlihat gelisah? mungkin nanti ia akan tau jawaban nya. sabar saja. Batin Risa.


Mobil itu terus membawa mereka melaju mendekati gedung Universitas. Melewati pohon-pohon lindung yang berjejer di kiri kanan jalanan kota besar itu. bagai berlari mengejar mobil mereka yang kian menjauh....


šŸšŸšŸšŸšŸ

__ADS_1


__ADS_2