
Elin telah selesai mengenakan pakaian ala rumahan nya. mengeringkan rambut dengan hairdryer, lalu memakaikan pelembab di wajah dan di bibir nya.
Masih dengan kebimbangan yang menjalar dalam hati. masih memikirkan antara pergi menemui Arga atau jangan. semua itu masih belum dapat ia putuskan. jangan ditanya soal kerinduan dalam hati nya, karna sudah pasti jawaban nya ia sangat merindukan laki-laki itu. laki-laki yang mampu membuat hati nya merasa nyaman. meski hubungan kedua nya masih belum bisa terbilang cukup lama, namun Elin telah menumpahkan seluruh cinta nya untuk Arga. Ia telah banyak menaruh harapan bersama Arga, ia telah banyak mengukir mimpi bersama pria itu.
Setelah lama bergelut dengan perasaan nya sendiri, akhir nya Elin memutuskan untuk tidak akan pergi menemui Arga. 'Maafkan aku, Ga. kamu pasti nungguin aku di sana. tapi aku benar-benar tidak siap untuk menemuimu sekarang. Maafkan aku... ' Lirih Elin.
Pagi kini beranjak berganti siang, matahari mulai garang menyinari. dan Arga masih gelisah menunggu kedatangan Elin di brangkar itu.
Adit tidak tega melihat sahabat nya itu, Arga masih menatap terus ke pintu, masih berharap sebentar lagi Elin akan datang menemui nya. Mama nya yang duduk di samping brangkar berkali-kali mengingatkan Arga agar ia sebaik nya istirahat saja. Namun berkali-kali juga Arga menolak nya.
"Ga... Mama kamu benar ga. sebaik nya kamu istirahat, kalau nanti Elin datang, aku akan membangunkanmu. kondisi kamu masih belum stabil Ga." Peringat Adit prihatin.
"Nggak, Dit. aku tidak boleh tidur saat Elin datang. kalau nanti aku tidur, ia pasti tidak akan tega membangunkan aku. aku akan menunggu nya. " tolak Arga sambil tersenyum.
Adit dan mama Arga saling tatap, kedua nya tidak tau lagi harus bagai mana. sementara Elin yang ditunggu tak kunjung datang.
Mama Arga bangkit dari duduk nya, meraih tangan Adit untuk menjauh dari brangkar. lalu duduk di atas sofa yang letak nya tepat di sudut ruangan itu.
"Adit, ada apa dengan Elin. mengapa sampai saat ini dia belum ke sini juga? " tanya mama Arga setengah berbisik pada Adit.
"Adit juga tidak tau tante. " Jawab adit yang tentu nya ia terpaksa berbohong pada orang tua itu.
Sementara Arga, meskipun ia terlihat tenang, tapi dalam hati nya ia mulai bertanya-tanya. ada apa sebenar nya. apa Adit menyembunyikan sesuatu dari nya? hati nya mulai gelisah. "Sayang... apa yang terjadi pada mu? " batin Arga
"Adit... " Panggil Arga sambil berusaha untuk duduk dan bersandar pada sisi kepala brangkar itu. Adit menoleh, lalu dengan langkah cepat berjalan mendekati Arga. sementara Mama Arga hanya bisa terduduk di sana memandangi anak nya penuh iba.
"ada apa Ga? " Ujar Adit saat sampai di samping Arga.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Arga sambil menatap wajah sahabat nya itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja aku tidak menyembunyikan apa-apa dari mu" Jawab Adit berbohong.
__ADS_1
"Aku sudah mengenali mu cukup lama, Dit. kamu tidak bisa berbohong. jadi jangan coba-coba untuk itu. "
Adit terdiam.tentu saja ini membuat nya menjadi serba salah. Arga memang berhak tau tentang ini, tapi apakah Arga harus mengetahui ini dari mulut nya? Karna menurut Adit, sebaik nya Arga mendengar ini langsung dari kekasih nya itu.
"Berikan ponselmu. " Ujar Arga kemudian.
"Untuk apa?"
"Sudah, berikan saja. " pinta Arga sedikit memaksa. Lalu dengan ragu Adit menyerahkan ponsel nya ke tangan Arga.
"Ajak lah mama ke luar, mama mungkin belum makan dari tadi. " Ujar Arga lagi. Adit yang mengerti maksud Arga, langsung berjalan mendekati mama Arga, kemudian mengajak wanita paruh baya itu keluar.
Setelah pintu ruangan itu tertutup kembali setelah Adit dan mama nya ke luar, Arga menekan tombol panggil pada kontak Elin.
berkali-kali Arga mencoba menghubungi, namun tidak ada jawaban. kembali ia mencoba lagi dan lagi, dan akhir nya usaha nya itu membuahkan hasil.
"Iya dit... " terdengar suara Elin di sebrang sana. Seketika darah Arga mendesir, ia merindukan suara lembut itu... kemudian terukir senyum di bibir tipis Arga.
Deg... Elin sontak terkejut mendengar suara itu... air mata nya seketika langsung mengalir, dada nya menjadi sesak.
"Elin.. kamu kenapa? apa sesuatu terjadi pada mu sayang? kenapa kamu tidak mengunjungiku? " Tanya Arga kemudian ketika yang di sebrang sana hanya terdiam.
Elin terisak. ia tak sanggup berkata apa-apa. dada nya terasa sakit, semakin ia ingin menahan nya, semakin deras air mata yang tumpah di pipi nya.
"Sayang, Apa kamu menangis? kamu kenapa? kamu sakit? kalau begitu aku akan meminta Adit mengantarku ke sana ya. " Ujar Arga lagi.
"A... Aku nggak apa-apa Ga. aku cuma sedang flu berat aja. maaf, aku belum bisa ke sana. tapi aku senang kamu udah sembuh. kamu sekarang butuh banyak istirahat kan? Jadi jangan banyak gerak dulu." Jawab Elin berusaha berbicara setenang mungkin. padahal sesungguh nya saat ini ia merasa hancur sekali. ia memegang dada nya yang terasa sesak sambil menggit bibir menahan tangis nya.
"Tapi aku rindu... "
"Arga.. jangan membantah. aku juga sangat merindukan kamu."
__ADS_1
"ya sudah. tapi benar ya sekarang kamu nggak ada masalah apa-apa? "
"Iya Arga. aku baik-baik saja. kamu istirahat ya, aku juga istirahat dulu. "
"Iya deh. kamu jangan lupa minum obat juga ya sayang.. flu nggak boleh disepelekan juga. "
"Iya Arga... aku tutup dulu ya."
Tuuuut..
Sambungan diputuskan Elin tanpa menunggu Arga mengiyakan nya. setelah itu Elin menangis sejadi-jadi nya di kamar itu, sakit yang tidak bisa digambarkan dengan apapun.
"Maafkan aku Arga... maafkan aku... " lirih nya.
sementara di atas brangkar itu, Arga terdiam sambil menimang ponsel milik Adit. ia menautkan kening nya. meskipun ia baru saja mendengar kan penjelasan dari Elin, kenapa Elin tidak menemui nya di rumah sakit, tapi terus terang saja masih ada yang mengganjal di hati nya.
"Elin. tidak mungkin kamu sedang baik-baik saja. pasti ada sesuatu yang aku tidak tau saat ini. aku harus segera keluar dari rumah sakit ini untuk mencari tau jawaban itu. " Ujar Arga.
Detik kemudian, seseorang membuka pintu dan tersenyum saat melihat Arga duduk dan bersandar di atas brangkar. lalu setelah merapatkan pintu, ia berjalan dengan tatapan dan senyuman yang tak lepas dari wajah nya. ia berjalan mendekati Arga..
"Hai Arga... " Sapa nya. siapa lagi itu kalau bukan Rora.
Arga membuang muka.
"Ngapain kamu ke sini" Ujar nya dingin
"Wah, luar biasa. setelah sekian lama koma, ternyata ingatan mu tidak hilang sama sekali. dan kamu masih mengingat aku. itu sungguh kabar yang sangat membahagiakan sekali... " Ujar nya sambil tersenyum dan duduk di sisi brangkar.
ššššš
terimakasih bagi yang setia menunggu up dari author. jangan lupa komen, like, dan Vote ya. author sayang kalian semua :)
__ADS_1