
Kita beralih ke pemuda yang kini terlihat kusut di salah satu sudut club itu, entah kali ke berapa gelas wine itu turun naik menuang tegukan demi tegukan ke mulut nya, Ia adalah Arga.
"Kenapa dia melakukan semua ini padaku? " gumam Arga setelah meneguk habis isi gelas nya, ia tertunduk, tangan nya mengepal.
Entah berapa lama ia berada di sana, lalu kemudian terlihat seorang gadis dari sudut yang berbeda memandang ke arah nya. Gadis itu menyipitkan mata, untuk kemudian ia meyakini apa yang dilihat netra nya, lalu tersenyum smirk, tanpa membuang waktu ia berjalan menuju Arga.
"Arga, kamu di sini? " Gadis itu menyapa, Arga hanya melirik sebentar lalu kembali beralih pada minuman nya.
Gadis itu tak lain adalah Rora, ia kembali tersenyum, lalu tanpa permisi ia pun mengambil tempat duduk di samping Arga, menuang lagi minuman ke gelas Arga yang sudah kosong.
"Sudah lama sekali kita tidak seperti ini, aku merindukanmu. " Lirih Rora melingkarkan pelukan nya di lengan Arga.
"Elin... " Arga kini menatap wajah Rora yang bersandar di bahu nya.
Awal nya Rora merasa kesal karna yang keluar dari bibir Arga bukan nama nya.
Elin, Elin, Elin! Kenapa sih hanya gadis aneh itu yang selalu di pikiranmu?!
Rora memaki dalam hati, namun detik kemudian ia berubah pikiran, ia menatap Arga yang kini seperti nya sedang mabuk, pikiran jahat mulai menjalar dalam sel otak gadis itu, ia tersenyum licik, lalu kembali ia bersandar di bahu Arga, mengeratkan pelukan nya.
"Elin, jangan tinggalkan aku. Aku mohon tetaplah bersamaku, aku janji akan melindungimu dari siapapun yang akan mencelakaimu, aku juga bisa melakukan itu Elin, percayalah. " Arga terus saja beranggapan bahwa yang di samping nya itu adalah Elin, ia memeluk erat tubuh Rora, mencium beberapa kali pucuk kepala gadis itu.
Rora tampak menikmati kesempatan itu, kemudian ia membantu Arga mengisi lagi gelas yang kosong. Arga dengan sigap kembali meneguk habis minuman itu. Beberapa saat kemudian, karna sudah terlalu banyak menghabiskan minuman haram itu, Arga pun tak bisa lagi duduk tegap di posisi nya, ia hilang kesadaran, lalu kepala nya ia rebahkan di atas meja.
"Arga, bangun Ga... " Rora membangunkan Arga sambil menepuk pelan pipi mantan kekasih nya itu. Tentu saja itu hanya sekedar untuk memastikan apa Arga sudah benar-benar mabuk atau tidak.
Gadis itu mengulum kembali senyum licik nya setelah yakin Arga benar-benar sudah tidak sadarkan diri. Kemudian meminta seorang security untuk membantu nya membopong tubuh Arga ke dalam mobil nya.
Selang beberapa saat kemudian, mesin mobil Rora menderu meninggalkan parkiran club tersebut, membawa Arga pergi dari tempat itu entah ke mana tujuan nya.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit menyusuri jalanan yang mulai pekat, kini mobil yang dikendarai Rora sampai di sebuah bangunan yang mungkin bisa dibilang ini adalah apartemen. Rora berusaha memapah pemuda yang setengah sadar itu masuk ke dalam apartemen tersebut.
Kini Rora dan Arga sudah berada di sebuah kamar yang lumayan luas, Rora melepaskan tubuh atletis Arga di atas ranjang.
"Elin... " Lirih Arga masih setengah sadar.
Rora tak menghiraukan itu, kini ia hanya fokus pada rencana licik yang sedari tadi telah ia susun secantik mungkin di setiap inci otak nya.
Ia telah berhasil melepaskan sepatu Arga, sekarang gadis itu beralih melepaskan kaos yang membalut tubuh kekar itu dengan mahir, kemudian melemparnya ke lantai.
Ia tersenyum saat Arga membuka mata nya. Arga yang memang dalam kondisi mabuk, segera menangkap tubuh gadis itu, yang dalam pandangan nya adalah Elin.
"Sayang... jangan tinggalkan aku lagi." Lirih nya saat mendekap tubuh Rora di dada nya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Arga. " Balas Rora dengan senyum penuh arti.
"Hanya aku yang boleh melakukan nya padamu... " Bisik Arga lagi, kemudian melanjutkan aktifitas mencumbui bibir gadis itu kembali dengan rakus nya.
Rora tak kalah senang dengan perlakuan Arga yang seperti itu terhadapnya, meskipun ia tau Arga melakukan itu tanpa sadar. Tetap saja ini akan ia anggap sebagai jalan kemenangan nya, ia terus mengimbangi ciuman yang diberikan Arga, hinggap ciuman itu makin lama makin memanas, hingga malam itu Arga benar-benar melakukan nya pada Rora.
ššš
Pagi kini mulai beranjak tinggi, Arga terbangun dari tidur nya, kepala nya masih terasa berat, ia mengedarkan netra nya ke seluruh penjuru, suasana kamar ini tampak asing, lalu ia tersadar akan sesuatu, dan sangat terkejut ketika menyadari Rora tidur di samping nya tampak begitu nyenyak. Dan lebih terkejut lagi ketika mendapati ternya diri nya kini sudah tak memakai pakaian sehelai benang pun, kecuali selimut yang menutupi tubuh nya.
Karena gerakan Arga yang dengan kasar bangkit dari tidur nya, Rora akhir nya terbangun. Dengan senyum cantik di wajah nya, ia menyapa Arga.
"Pagi sayang... " Ucapan itu keluar seperti tanpa dosa saja dari bibir nya.
"Rora, apa yang terjadi? kenapa aku sampai berada di sini?" Cecar Arga sambil memakai dengan kilat pakaian nya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah bertanya seperti itu Arga? kamu lupa ya? semalam kamu sendiri yang ingin menginap di sini bersamaku... " Tentu saja ini adalah bagian dari rencana Rora.
"Tidak mungkin!!! kamu pasti menjebak ku! " Sanggah Arga mengusap kasar wajah nya.
"Kamu tega sekali menuduhku seperti itu Ga, baru tadi malam kamu bilang ingin kembali bersama ku saat kita tidak sengaja bertemu di club, kamu sendiri yang bilang pada ku, ingin kembali mengulang masa indah kita dulu,..." Rora terisak tentu saja itu hanya ackting belaka.
"Dan kamu juga yang bilang pada ku, bahwa kau ingin menghabiskan malam denganku... "Sambung nya lagi masih dengan air mata palsu yang entah mengapa sangat berkompromi sekali dengan kebohongan nya.
"Tidak mungkin, ini pasti salah paham!" Gusar Arga, lalu dengan kacau ia menghempaskan tubuh nya duduk di sebuah sofa dalam kamar itu. Sementara Rora masih bersandar di atas ranjang dengan membalut tubuh nya dengam selimut, tidak lupa juga air mata palsu itu.
Arga tertunduk di atas sofa itu, kepala nya masih terasa pusing akibat terlalu banyak minum tadi malam. Dan saat ini ia menyesal kenapa malah lari ke minuman itu untuk menipu diri nya sendiri. Sekarang ia malah terjebak oleh masalah lain yang sama sekali tidak terpikirkan sebelum nya.
"Ini tidak seharus nya terjadi... " Lirih nya kemudian.
"Arga, aku tidak mau tau. Kalau sampai aku hamil, kamu harus tanggung jawab Ga!" Ucap Rora masih memangku lutut nya di atas ranjang.
"Aku sungguh minta maaf Ra, tapi kamu tau aku sudah tak punya perasaan apapun lagi pada mu... " Balas Arga
"Lalu bagaimana dengan perbuatan mu semalam padaku, Ga? Kamu bilang kamu sangat menginginkanku... "
"Aku mabuk Ra, harus nya kamu tau itu! "
"Mabuk katamu? Lalu bagai mana jika aku hamil Ga, " Rora tak kalah meninggi.
Mendengar itu, Arga tak bisa berkata lagi. Ia juga tidak tau harus berbuat apa, saat ini rasa nya ia sudah terperangkap oleh mantan kekasih nya yang licik itu..
Harus kah ia lari dari semua ini? tapi bagai mana kalau nanti Rora benar-benar hamil? rasa nya tidak mungkin ia lari dari tanggung jawab, tapi di sisi lain, ia tidak mencintai gadis di hadapan nya itu, meskipun Rora adalah mantan kekasih nya dan dulu juga ia sangat mencintai gadis itu, tapi cinta itu sudah lama mati, dan telah tercurah pada gadis bernama Elin yang membuat nya bisa kacau seperti ini,
ah.. keadaan Arga benar-benar lebih kacau dari yang orang lain bayangkan, entah akan seperti apa kelanjutan nya nanti.
__ADS_1