JIKA MASIH ADA CINTA

JIKA MASIH ADA CINTA
TEMPAT TERNYAMAN


__ADS_3

Surya kian berat ke ufuk barat, semburat jingga mulai membayang dan membias di kaki mega. Mobil itu melaju memecah hiruk pikuk nya sore di jalanan kota itu.


Rey terus fokus dengan jalan di depan nya, sedangkan Elin juga memilih diam dalam pikiran nya sendiri.


Mobil itu terus melaju, dan kini mulai mengasingkan diri dari jalur padat, dan merangkak mulus di saat memasuki tol.


Temeram lampu kota sudah berjejer indah bagai bintang gemerlapan.


Rey melambatkan laju mobil nya saat tiba di sebuah resto, masuk ke parkiran, lalu mematikan mesin mobil nya.


Elin menautkan kening nya...


"Apa tempat ternyaman mu adalah bagian mengisi perut di sini? " ucap Elin,


Rey terkekeh, ia melepaskan seetbelt nya sambil memperlihatkan deretan gigi nya yang putih bersih pada Elin, jangan lupakan lesung pipi nya juga.


"Jangan meremehkan ku seperti itu, aku tau kau lapar dan aku juga. Sekarang kita makan dulu, setelah itu kita lanjutkan perjalanan," kata Rey membuka pintu mobil.


Elin masih mematung...


"Apa? melanjutkan perjalanan? hey, kita sudah jauh berjalan, kau bilang masih melanjutkan perjalanan?! " Berteriak kesal.


"Tenanglah Nona, tempat itu tidak jauh dari sini. Sekarang ayo turun, kau juga perlu tenaga untuk menikmati pemandangan itu bukan? " jawab Rey sambil membukakan pintu untuk Elin.


Elin menghembuskan nafas nya dengan kasar, melangkah keluar, dan menghentakan kaki nya.


"Haha, kau terlihat jelek sekali" Rey malah tertawa melihat Elin yang tampak kesal.


"Jangan menertawakanku! "


" Kau malah terlihat menggemaskan sekali "


"kalau begitu aku pulang," rajuk Elin.


"Jangan, kenapa kau begitu sensitif? " kata Rey sambil menuntun tangan Elin berjalan masuk ke resto itu.


šŸšŸšŸ


Setelah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan, tentu nya tak luput dari wajah cemberut Elin yang mulai bosan dengan jalanan yang menurut nya begitu jauh itu. Tentu saja, karna tempat ini sudah berada di luar kebisingan kota.


15 menit menyusuri jalan selepas dari resto itu....


Kini netra gadis itu sempurna membulat saat ia turun dari mobil, pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Dari bukit kecil ini hamparan lampu-lampu kota terlihat bagai jamur yang bermekaran saat musim hujan, eh bukan... lebih tepat nya seperti kau melihat langit dengan jutaan bintang yang bertebaran, berkelap-kelip. Bukankah sama saja? entah lah, tapi ini sungguh indah.


"Kau menyukai nya? " tanya Rey mendekat.


Elin mengangguk tanpa mengalihkan pandangan nya, senyum masih saja awet menghias wajah nya. Elin memejamkan mata, sesaat ingin merasakan kenyamanan yang merasuk ke sel-sel otak nya, benar-benar terasa damai.


"Perjalanan yang melelahkan terbayarkan dengan kenyamanan ini. " Ucap nya tanpa membuka netra.


Rey tersenyum, ia melepas lipatan tangan yang dari tadi menggantung di dada nya.


"Kalau begitu kau harus berterimakasih pada suami mu ini," kata Rey sambil terus menatap ke depan.


"Terimakasih," ucap Elin tanpa menunggu.


"Berterimakasih lah dengan baik. "


Elin menoleh pada laki-laki di samping nya itu,

__ADS_1


"Jadi kau tidak iklas membawaku ke sini? sekarang kau minta aku berterimakasih dengan cara apa? " mulai meninggikan suara nya.


"Ya Tuhan... kenapa kau begitu pemarah? " sungut Rey.


"Baik lah, kalau begitu nikmati saja ini sepuasmu, kau tak perlu berterimakasih Nona. " tambah Rey mengalah.


Elin melengos, kembali mengalihkan pandangan nya pada lukisan Tuhan di depan sana.


"Apa kau sering datang ke sini? " tanya Elin setelah beberapa saat mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Dulu, " jawab Rey singkat.


Elin kembali menatap Rey, sekarang mereka telah duduk berselonjor di atas rerumputan yang terhampar hijau dan rapi di atas bukit itu.


" Waktu masih SMA," sambung Rey kemudian.


"Dengan kekasihmu? " tanya Elin masih menatap.


Rey mengangguk setelah berbalik menatap Elin.


"Oh, " hanya itu yang keluar dari mulut Elin, dan kembali menatap ke depan.


Terus terang saja ia tidak cemburu sedikitpun, bahkan dalam hati nya malah tengah membayangkan bagai mana gadis itu? apa selama menjalin hubungan dengan Rey gadis itu bahagia? apa Rey sangat menyayangi nya? dan bermacam pertanyaan lain yang berhubungan dengan bagai mana masa lalu Rey dengan kekasih nya itu.


"Kau cemburu? " pertanyaan itu sempurna membuat Elin terkekeh.


"Aku? cemburu padamu? yang benar saja," ujar Elin masih tertawa.


Rey tidak memperhatikan jawaban Elin, ia malah tertarik dengan tawa gadis itu. Ada kebahagiaan tersendiri bagi nya saat melihat Elin tertawa seperti sekarang ini.


"Ehem," Elin berdehem, kembali memasang wajah serius nya saat menyadari Rey menatap nya.


"Kenapa?" Elin mengangkat alis nya.


"Aku cemburu karna istriku mencintai orang lain. " Jawab Rey dengan suara parau.


Deg...


Elin bagai tersengat listrik mendengar penuturan suami nya itu, wajah nya seketika tertunduk.


"Kau sudah membahas ini sebelum kita menikah. " Ujar nya kemudian dengan mimik masih datar.


"Ya, aku tau. Dan aku tidak menyalahkan mu, aku hanya mengatakan aku cemburu, karna.... "


Rey menjeda kalimat nya, menghela nafas dalam,


"Elin, aku hanya ingin kau tau, aku benar-benar telah jatuh cinta pada mu. " Sambung Rey lagi, kali ini mengukir senyum di bibir nya.


Elin kembali menoleh, dan menatap wajah Rey.


Ia tak bisa menjawab, Rey sudah tau jawaban nya.


"Ah, lihat itu. " Seru Rey menunjuk sebuah cahaya yang melesat jauh di ujung sana.


Elin kembali takjub dengan hal itu,


"Buatlah, permohonan. " Ucap Rey sambil memejamkan ke dua mata nya, serta menundukan kepala.


Elin tak berbuat sama, ia hanya menoleh pada Rey, menatap laki-laki yang hampir selalu terlihat ceria itu dengan rasa yang bercampur aduk dalam hati nya. Ada rasa kagum, kesal, serta mungkin juga kasihan.

__ADS_1


Kagum karna laki-laki ini selalu tersenyum dan berbuat baik pada nya meskipun ia selalu bersikap jutek, kesal karna laki-laki ini selalu saja memaksakan kehendak nya, serta kasihan karna dalam pikiran nya, laki-laki yang kini berstatus suami nya itu, harus rela menikah dengan nya meski ia tak mendapatkan cinta dari diri nya.


Rey membuka mata nya, lalu menoleh pada Elin.


"Kenapa kau malah menatapku? apa kau baru menyadari bahwa suami mu ini terlalu tampan? "


Apa-apaan, itu sangat membuat Elin jengkel, lalu menghembuskan nafas kasar nya, mengalihkan pandangan nya ke depan sana.


"Kenapa kau tidak membuat permohonan? " Rey bertanya lagi.


"Aku tidak menyangka kau percaya dengan hal konyol itu." Decak Elin tanpa menoleh.


"Setidak nya aku punya sedikit harapan, meskipun itu terlihat konyol. " Balas Rey.


"Entahlah, tapi aku ragu apa aky masih pantas berharap atau tidak.. " Ucap Elin datar.


"Elin... "


Elin menoleh, manik mata mereka kembali bertemu.


"Selama aku di sampingmu, buatlah harapan sebanyak-banyak nya, aku akan berusaha untuk mewujudkan semua harapan mu semampuku. " Rey bersungguh-sungguh.


Elin terkekeh...


"Jangan terlalu baik padaku, aku tidak bisa membalasmu. "


"Aish... apa kau pikir aku menawarkan pinjaman padamu yang harus kau bayar? " Kesal Rey.


"Sudahlah, ini sudah larut. Kita akan pulang kemalaman jika masih di sini. " Ujar Elin menghindari perdebatan dengan laki-laki ini.


"Kita tidak akan pulang ke rumah malam ini. " Ucap Rey dengan wajah tanpa dosa nya.


"Apa? "


"Iya. "


"Apa sampai pagi kita akan terus di sini? "


"Kenapa? bukankah kau bilang ini menyenangkan? " Rey mengulum senyum nya melihat Ekspektasi terkejut Elin.


"Yang benar saja Tuan aneh! " Elin setengah berteriak.


"Kenapa kau begitu panik? tidak, kita akan menginap di vilaku dua hari ini. " Terang Rey kemudian sambil tertawa.


"Kau bahkan tidak memberi tahuku terlebih dahulu, aku tidak punya persiapan apapun, baju, pakaianku..."


"Hei. kau hanya perlu menyiapkan tubuhmu saja. " Rey lagi-lagi menggoda dengan menaik turunkan alis nya.


Elin membulatkan mata nya, laki-laki ini selalu saja membuatnya merasa jengkel. Memang benar, sah saja ia mengungkapkan itu, bahkan melakukan nya pun tidak akan ada yang menyalahkan nya, tapi ia masih merasa asing dengan kata-kata yang menurut terlalu vulgar itu.


"Jangan macam-macam!" kesal nya kemudian seraya bangkit dari tempat duduk nya, lalu berjalan meninggalkan Rey.


"Kau mau kemana? " Rey setengah berlari menyusul langkah Elin.


"Jangan mengikuti ku! "


"Okey, tapi apa kau tau akan melangkahkan kakimu ke mana?"


"Dasar menyebalkan! " Elin memukul bahu kanan Rey, Rey menyambut tangan itu, kemudian membawa Elin merapat ke sisi nya, mengungkung dan terus membawa Elin berjalan di sisi nya dengan terpaksa.

__ADS_1


šŸšŸšŸšŸšŸ


__ADS_2