Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Bus datang. Rina pergi begitu saja tanpa ingin tahu apa pun lagi. Yang perlu ia lakukan hanyalah pura-pura tak mengungkitnya kembali.


"Itu lebih baik daripada aku harus gila," ujar Rina.


Bus terus melaju ke arah depan meninggalkan halte bus juga orang yang masih ada di sana. Sepasang mata memandangi kepergian Rina dengan senyum miring.


"Dia terlalu percaya diri," ujar orang itu.


***


Rina sampai di sebuah rumah yang sudah disepakati bersama Alvin. Terlihat mobil lelaki itu berada di depan gerbang. Begitu mengetahui kedatangan Rina, Alvin turun dari mobil.


"Kamu terlalu lama?" tanya Alvin. Awalnya lelaki itu ingin lembur, tetapi dibatalkan karena lupa tentang janjinya dengan sang Istri. "Saya menunggu lama."


Rina menunjukkan dua plastik belanjaan yang dibawanya. "Assalamualaikum. Maaf, tadi habis dari belanja dulu."


Mata Alvin memperhatikan belanjaan Rina. "Kamu belanja untuk apa?"


Rina melongo. Sedikit ambigu. "Jelas untuk makan, Pak. Memangnya Pak Alvin nggak mau makan?"


"Bapak lagi!" Alvin kesal.


Rina menghela napas. "Maaf, soalnya belum terbiasa, Mas."


"Yakin mau panggil Mas?"


Pertanyaan Alvin mengundang kekesalan Rina. Ia merasa dipermainkan. Itu salah, ini salah. Menyebalkan!


Tadi siang mereka memang sudah datang ke sini, tetapi hanya sebentar saja. Memastikan keadaan sudah siap tinggal dan semua perabotan pun siap pakai.


"Sebenarnya Pak Alvin itu pengennya Giman? Coba bicarakan dengan jelas. Aku bisa gila kalau kayak gini," tanya Rina yang mendadak kesal. Raganya sudah lelah, belum lagi hal-hal yang terjadi di luar kendalinya hari ini. Benar-benar menguras emosi.


"Kita ke dalam dulu aja," kata Alvin yang kembali ke mobil.


Rina menghentakkan kaki dua kali ke tanash. Kesal. Bahkan saat Alvin menawarinya masuk mobil, perempuan itu memilih berjalan sendiri melewati pagar dan menyapa satpam rumah yang bernama Pak Yono.

__ADS_1


"Selamat malam, Bu," sapa Pak Yono.


"Malam, Pak." Rina tersenyum, lalu segera melangkah. Mobil Alvin sudah lebih dahulu melewatinya.


Rina melangkah cepat. Yang diinginkannya saat ini hanyalah tidur di kasur yang empuk dengan beberapa bantal. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan tak bisa beraktivitas berat lagi. Lelah sekali.


Akhirnya Rina sampai di depan pintu. Mendekati Alvin yang tengah mengeluarkan kunci.


"Kok, kamu ngos-ngosan?" Tanpa merasa dosa, Alvin melontarkan pertanyaan tersebut.


Rina menyimpan kantong belanjaan di atas lantai dengan kasar sambil berkata, "Yang jelas aku ngos-ngosan. Apa Pak Alvin nggak bisa lihat seberapa berat dua kantong belanjaan ini?"


Alvin tertawa kecil, hingga membuat Rina semakin kesal.


"Orang lagi capek, malah ditanya kayak gitu. Lama-lama aku bisa gila beneran." Rina menepuk pundaknya.


"Jangan gila dulu. Kita baru menikah." Alvin berbalik badan, membuka kunci, dan masuk.


Rina tak peduli. Ia mengikuti jejak Alvin yang masuk ke dalam rumah. Letihnya hari ini membuat ia perlu cash tenaga lebih banyak.


Alvin kembali ke lantai bawah. Mendapati Rina sedang memasukkan beberapa sayuran dan lauk ke kulkas. Lelaki itu diam mematung di depan pintu dapur sambil memperhatikan Rina. Tak ada yang salah dengan perempuan itu. Memiliki kebiasaan dan aktivitas semana perempuan pada umumnya.


Alvin mendekat. Rina yang beralih ke arah kompor dan mengeluarkan ayam potong pun segera membumbuinya dengan bumbu ayam goreng instan. Ini bisa jadi lauk ketika ia malas memasak.


"Kamu lagi apa?" Suara Alvin tepat berada di belakang Rina. Dengan kagetnya Rina pun berbalik badan, tangan kanannya sempat mengambil pisau dapur yang berada di meja, lalu mengarahkannya ke wajah Alvin. "Astagfirullah."


Rina tersadar. Ia menurunkan tangan. Ini bisa jadi bentuk perlawanan diri akan bahaya yang akan menimpanya. "Pak Alvin!" Suara Nina dipenuhi rasa kesal yang mendalam. Alvin tiada hentinya mengganggu. "Kalau datang itu, minimal jangan bikin orang kaget!"


Rina berbalik badan lagi. Ia kembali menyelesaikan pekerjaannya, dan menyalakan kompor.


Alvin bergeming. Sikap Rina barusan seolah sudah terlatih dengan handle. Ia seperti seorang wanita yang sudah terbiasa dengan hal yang sangat berbahaya.


"Kenapa kamu terpikirkan membawa pisau?" tanya Alvin ingin tahu.


Rina mengambil wajan. Memindahkan ayam yang sudah dibumbui ke sana dan mencampurnya dengan dua ratus mililiter air "Kenapa harus tanya? Bukannya itu hal biasa."

__ADS_1


"Biasanya, perempuan cukup menjerit saja. Itu reaksi yang awam, tapi kamu seperti sudah terlatih. Apa ada hal yang terjadi?"


Rina terdiam mematung di depan kompor. Tersenyum tipis dan berbalik badan lagi. Pandangannya mengunci mata Alvin. "Bukannya kita sudah sepakat tidak membahas masa lalu masing-masing. Kata Bapak, diam dan lakukanlah peran sendiri. Itu lebih baik."


Mata Alvin menatap balik Rina. Manik-manik perempuan di depannya sedang berbohong. Ada sesuatu yang terjadi. Mungkin saja.


Alvin berjalan dua langkah ke depan. Mengikis jarak di antara mereka. Rina kaget. Tangan kanannya mengulur ke arah pisau kembali. Netra kanan Alvin menangkap basah gerakan itu, lalu berkata, "Jangan pegang pisau. Itu bahaya. Bukan cuma untuk lawanmu, tapi kamu juga."


Rina sontak melepaskan genggamannya pada pisau. Terdiam menunduk tanpa ingin bertemu pandangan dengan sang Suami.


"Katakan, apa ada yang terjadi hari ini?" tanya Alvin.


Rina diam.


"Setidaknya saya tau yang terjadi di masa sekarang," imbuh Alvin lagi.


Rina menghela napas kasar. Mendongakkan kepala ke atas. Memberanikan diri meluruskan pandangannya ke arah Alvin. "Nggak ada. Semua baik-baik aja."


Alis kanan Alvin terangkat ke atas. "Kamu yakin?" Firasatnya mengatakan lain.


Rina mengangguk yakin. "Ya. Memangnya apa yang terjadi? Aku pergi kuliah seperti biasa." Tawa kecil terdengar dari bibir mungil perempuan itu yang kini membalikkan badan lagi. Mengaduk ayam di wajan agar semua bumbunya merata termasuk memberikan bumbu tambahan sesuai arahan di buku panduan memasak yang dibacanya.


Alvin bergeming. Seperdetik kemudian mundur ke belakang tiga langkah. Dalam rumah tangga memang tidak seharusnya saling memaksa, terlebih Alvin dan Rina memiliki kesepakatan yang seharusnya tidak dilanggar.


"Pak Alvin, mau makan apa? Aku capek. Mie instan aja, ya," tanya Rina.


Alvin hening.


"Pak Alvin." Rina kembali memanggil, tetapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya ia pun sadar. "Iya, deh. Mas Alvin, mau makan apa malam ini? Kalau mie instan aja, mau nggak?"


"Boleh." Akhirnya Alvin menjawab. Rupanya lelaki itu diam karena Rina lupa mengganti nama panggilan.


"Jangan salah panggil lagi, kecuali di kampus!" tegas Alvin.


"Ya, ya, Mas Alvinku." Nada bicara Rina sedikit mendayu-dayu. Sengaja.

__ADS_1


***


__ADS_2