Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Bola kusut


__ADS_3

"Kamu kebanyakan bertanya. Langsung ke intinya saja," jawab Alvin.


Rina cemberut. Alvin ternya sangat menyebalkan lebih dari dugaannya.


"Jadi, bagaimana tugasmu?" tanya Alvin mengalihkan pembicaraan yang sebenarnya membuat ia sedikit malu.


Rina membuka buku. Memperlihatkan gambar yang baru dibuatnya.


Alvin tercengang. "Apa ini?"


"Rancanganku, Mas," jawab Rina cepat.


"Ini bukan rancangan. Ini bola kusut." Alvin rasa begitu.


Rina memajukan bibirnya satu centimeter ke depan. "Ih, Mas, kalau ngomong suka jujur."


Alvin terdiam. Terkadang Rina bersikap manja, tetapi tak jarang juga bersikap sangat dewasa. Lumayan susah ditebak.


"Rancang yang benar. Mainkan imajinasimu. Jangan cuma diam saja!" tegur Alvin dengan tegas.


"Ya, ya." Rina menganggukkan kepala sampai tiga kali. Meniru kalimat Alvin kembali seperti halnya meledek.


"Ayo, kerjakan. Ingat, saya tidak menerima tugas di luar kelas."


"Ya, Mas Alvinku. " Rina terus bersikap manja. Hal ini sedikit membuat Alvin risih, tetapi juga senang. Setidaknya Rina tetap mempertahankan diri sendiri tanpa perlu menyulap dirinya sesuai keinginan orang lain.


Alvin dan Rina sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tangan keduanya lihai membuat gambar, merancang sebuah busana sesuai imajinasi mereka.


Alvin sendiri perlu membereskan beberapa rancangan yang perlu diselesaikan hari ini. Klient-nya satu ini memang dibilang sangat spesial. Selain sudah lama memesan busana rancangan Alvin, ia juga seorang teman baik kedua orang tuanya. Tentu ia jangan sampai gegabah dalam membuatnya. Perlu disesuaikan dengan keinginan orang tersebut.

__ADS_1


Alvin masih ingat betul ketika dirinya duduk di bangku kuliah. Teman orang tuanya sering membawa anak perempuannya ketika berkunjung ke rumah mereka. Anak yang sangat imut dan masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas.


Alvin sendiri acuh. Apa pun yang dikatakan sang Teman orang tuanya hanya didengar sebentar. Ia tak suka apa pun bentuk perjodohan, memilih mengibarkan benderanya sendiri agar bisa membuat negara sesuai keinginannya. Tentu negara itu pun ia atur sedemikian rupa dengan menggandeng Ibu negara yang ia pilih sendiri.


Alvin tersenyum kecil ketika sedang mencoret-coret kertas. Hal ini ditangkap oleh kedua mata Rina.


"Mas Alvin, kenapa?" tanya Rina penasaran.


Alvin melirik pada Rina. "Kamu mau tau?" Senyum miring diberikan Alvin pada Nina.


Rina tentu mengiyakan. Ia penasaran.


Alvin memberi isyarat dengan tangannya agar Rina mendekat.


Rina menurut. Ia mencondongkan badan ke depan. Wajahnya kini dekat dengan Alvin. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas bulatan kedua bola mata Alvin yang berwarna hitam. Manis sekali.


"Saya lagi bayangin kamu melahirkan," bisik Alvin dengan seringai puas.


"Pasti senang rasanya punya sebelas anak." Alvin terus saja memojokkan Rina. Tujuannya agar perempuan itu bisa marah dan bereaksi.


"Kalau melahirkan, berarti aku sama Mas Alvin?" Rina bertanya dengan mata polos.


Alvin menahan tawa. Terlebih melihat wajah mengenaskan Rina saat ini. "Ya, pasti. Harus."


"Nggak!" Rina berdiri. Menjauh dari Alvin. "Jangan berbelok ke arah lain. Lempeng aja, Mas, jalannya. Nggak usah tengok sana, tengok sini."


Kali ini suara tawa Alvin tak bisa ditahan. Ia terpingkal-pingkal tertawa sampai rasanya perutnya sakit.


***

__ADS_1


Sebuah mobil melaju kencang ke arah kota lain. Malam ini Dani pulang ke kampung menemui orang tuanya. Ia yang baru saja mendapatkan pekerjaan di kota lain itu pun belum mendapatkan tempat tinggal yang benar-benar cocok. Jarak kampung halamannya pun tidak terlalu jauh. Cukup satu jam lebih.


Dani sampai di rumah mewah. Ia memarkiran kendaraan di tempatnya, lalu masuk tanpa mengucap salam.


"Kamu pulang, Sayang?" Seorang Ibu paruh baya menyambut Dani dengan cepat.


Bu Nani, namanya. Wanita itu selalu tersenyum dengan bahagia menghampiri sang Anak yang selalu dimanja. "Ibu, udah masak kesukaanmu. Bagaimana kerjanya?"


Dani memeluk sang Ibu, lalu duduk di sofa ruangan tamu. Rasa lelah mendera, terlebih ia baru saja bertemu dengan seseorang di masa lalu. "Lumayan capek, Bu."


"Sabar, ya. Kamu harus semangat. Ini semua untuk kebaikan kamu. Suatu saat pasti kamu yang bisa dapatkan jabatan itu."


Dani menghela napas. Ia yang perlu susah payah setelah ayahnya bangkrut dan meninggal dunia pun membuat anak yang sering dimana itu merasakan dampak yang berlebihan. Ia tak bisa hura-hura, apalagi hidup dengan tenang seperti dahulu.


"Sampai kapan, Bu? Jodi nggak mau ngalah sama aku." Wajah Dani penuh kekesalan. Ia yang diterima di perusahaan Kakak tirinya tersebut harus rela menjadi karyawan biasa lebih dahulu. "Mana dia songong banget, Bu!"


Bu Nani mengelus punggung anak lelaki satu-satunya itu dengan lembut. "Ingat, semua pasti butuh kerja keras. Kamu sabar dulu, Sayang."


Dani memejamkan mata. Sebuah adegan di kilas masa lalu menariknya kembali ke dunia yang sudah lama ditinggalkan. Ia mengenang beberapa kenangan manis yang membekas.


"Keyla tadi telepon Ibu. katanya kamu susah dihubungi," ucap Bu Nani.


Dani segera membuka mata. Ia lelah. Terlebih perempuan itu sangat berisik. Setiap saat harus selalu dikabari, padahal ia perlu menikmati dunianya sendiri.


"Udahlah, Bu. Aku lagi malas denger suara dia, tau!" Kekesalan Dani kian meningkat tajam. Ia berdiri. Andaikan memiliki banyak uang, sudah pasti ia akan pergi membeli rumah di kota tempat bekerja. Tentu standar rumah untuknya adalah yang berlantai dua.


"Sabar, Sayang. Perempuan memang seperti itu." Tak ada yang bisa dilakukan Bu Nani selain berusaha membuat hati anaknya tetap tegar.


"Ya, ya, Bu." Dani tidak ingin memperpanjang masalah. "Aku ke kamar dulu. Tidur sebentar, ngantuk."

__ADS_1


Bu Nani mengerti. Ia perlu lebih sabar dalam menghadapi anak lelaki yang sejak lahir sudah dimanjakannya itu.


__ADS_2