
Niken keluar dari ruangan melewati Alvin.
Alvin sendiri masih saja berdiam diri. Bergerak ke arah meja khusus dosen. Berdiri di depannya, lalu berkata, "Kamu bisa keluar!"
Tak berapa lama istrinya itu keluar tanpa memperlihatkan wajah. Keputusan gila yang dilakukan Rina memang salah besar.
"Tunggu saya di rumah!" Alvin berbalik badan. Sepertinya marah.
Rina tak membahas apa pun tentang apa yang didengar. Mencari waktu yang tepat agar semuanya bisa dibicarakan secara kepala dingin.
###
Alvin salat Magrib di jalan. Belum sampai rumah, azan Magrib sudah berkumandang. Jelas lebih baik menepi ke masjid terdekat. Setelah itu ia pun pulang ke rumah. Sesampainya di sana, Alvin memarkirkan mobil ke garasi.
"Assalamualaikum," kata Alvin sambil masuk rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab Rina yang sudah menunggu.
Keduanya berdiri di dekat pintu dengan saling bertatapan.
"Saya mandi dulu. Kita bicarakan setelah itu," ujar Alvin.
__ADS_1
"Iya." Hanya jawaban singkat yang diberikan Rina untuk Alvin.
Alvin bergerak masuk ke dalam. Rina sendiri merasakan aura berbeda dari tubuh suaminya. Seakan sosok lain tengah menggantikan Alvin saat ini.
Rumah ini mungkin tenang karena tidak ada Dani. Namun, suasananya berubah menegangkan berlaku untuk malam ini. Semua terjadi karena kejadian tadi.
Rina menyusul Alvin ke kamar. Menyiapkan pakaian tidur suaminya dan menunggu Alvin keluar. Tak hanya itu, perempuan yang kini tidak memakai hijab tersebut pun membuatkan teh manis hangat ke dapur.
Dingin malam ini menusuk tulang. Udaranya bahkan bisa membunuh seseorang. Berbahaya.
Segelas teh manis hangat datang sekitar lima menit selanjutnya. Ketika Rina kembali ke kamar, Alvin sudah memakai baju. Perempuan itu mendekat. "Minum dulu teh manis hangatnya, Mas. Udaranya dingin banget."
"Mas, mau makan dulu?" tanya Rina.
Gelas itu masih ada di tangan Alvin. Pandangan lelaki itu lekat pada Rina. "Kamu nggak mau tanyakan soal tadi?"
Rina diam.
"Kamu sengaja nunggu di bawah meja karena mau tau bukan?" Alvin terus meluncurkan pertanyaan.
Tatapan Rina tenang. "Pastinya mau, tapi aku rasa Mas Alvin belum siap. Mungkin ceritanya lebih menarik kalau didengar pas hati Mas Alvin benar-benar siap."
__ADS_1
Jawaban Rina menyentuh sanubari Alvin.
"Kamu yakin?" Alvin ingin memastikan.
Kening Rina mengerut kencang. "Memangnya hal apa yang buat aku nggak yakin? Mas Alvin itu suamiku. Jadi ... aku harus sabar menunggu atau mungkin nggak perlu cari tau. Masa lalu kan sudah lewat."
"Kita bukan lagi bercanda." Alvin kurang suka.
"Loh, kita memang lagi nggak bercanda, Mas."
Pandangan Alvin lurus tajam melucuti Rina. Sinar mata perempuan manis itu penuh misteri. Di sana bersembunyi banyak hal-hal yang bahkan sulit tertebak.
Rina tertawa kecil. "Jangan tegang, Mas. Ini bukan lagi sidang." Wajahnya dipenuhi senyum seolah tidak ada beban. "Aku ke dapur sebentar, ya. Mau ngangetin lauk."
Rina berbalik badan. Mengayunkan kedua langkah kakinya ke depan. Senyum itu sirna, sekejap saja datang.
Tiba-tiba Rina berhenti hanya dua meter dari depan Alvin. "Oh, ya, Mas. Niken itu cantik, ya? Baik juga. Aku tau dari beberapa teman kalau dia punya kembaran. Katanya nggak kalah cantik. Jadi pengen lihat."
Alvin diam. Rina pintar mengolah kalimat menjadi lebih menarik, walaupun sederhana.
"Ada yang pernah lihat juga," tambah Rina tersenyum kecil.
__ADS_1